Re [Life] : Incarnation

Re [Life] : Incarnation
Sebuah Kebetulan yang Direncanakan?


__ADS_3

Sambil meminum teh buatan Zena, kami berdua melihat Meli yang bersenang-senang di taman bersama kelinci-kelinci liar.


"Hm.. Lebih baik begini..."


Aku mengucapkannya kepada Zena yang berada di sebelahku.


"Benar ya... Aku juga ingin sedikit beristirahat..."


Dia menghela nafasnya lalu kembali meminum tehnya.


"Kalau begitu, aku lanjutkan lagi."


Aku menaruh tehku, lalu segera menuju ke arah Meli yang sedang bermain dengan kelinci liar itu.


"Baiklah, sekarang tinggal menanam biji pohonnya."


"Hm?"


Meli kembali melihat kearah ku dengan mata penasaran. Aku kemudian mengeluarkan sebuah biji pohon dari saku ku.


"Hm... Dimana ya..."


Aku kemudian berjongkok sambil mencari tempat yang cocok untuk menumbuhkan sebuah pohon.


Bagian depan mungkin cocok? Tidak, mungkin dekat dengan kolam? Tidak, Harusnya di tempat yang sedikit lebih lebar.


sambil berpikir aku melihat posisi dimana aku memikirkannya.


"Hm?"


Meli semakin penasaran dan ikut melihat bagian yang aku lihat.


"Oke, disini mungkin cocok."


Aku kemudian mendekat ke arah tempat yang sedikit lebih lebar lalu mulai menggali lubang untuk mengubur biji pohon yang aku temukan di hutan waktu itu. Semoga tidak perlu waktu lama untuk tumbuh.


"Dengan begini, tinggal kita siram sedikit dengan air, maka akan tumbuh dengan subur."


"Yey!"


Meli melompat kegirangan dan kemudian mengamati tempat dimana biji pohon ditanam.


Aku mengelus kepalanya lalu kembali ke tempat Zena.


"Ah.... Lelahnya..."


Aku menjatuhkan badanku ke kursi dengan perlahan dan mengambil teh yang masih hangat di atas meja lalu meminumnya.


"Aku akan membantunya tumbuh dengan sihir ku."


Ucap Zena dengan senang, lalu berdiri mendekat ke arah biji itu ditanam lalu membacakan sebuah mantra.


"Kehidupan yang tidak abadi, berikan mahkluk kecil ini. Biarkan dia tumbuh lebih cepat dari makhluk lainnya. Agar dia dapat bermanfaat bagi makhluk lain. [Arise]!"


Sebuah cahaya hijau muncul di telapak tangan Zena. Perlahan-lahan biji itu kemudian tumbuh dari biji menjadi tunas, tunas menjadi tanaman kecil, dan akhirnya menjadi pohon.


"Wah... Mama hebat!"


Meli menatap Zena dengan mata berbinar.


"Yah.. Tapi sihir ini benar-benar sulit, jadi kalau Meli ingin belajar sihir ini, tunggu hingga dewasa ya?"


"Ya!"


"Kalau begitu, Ayo kita ke teras. Susunya akan dingin jika tidak diminum loh."

__ADS_1


Dia kemudian menggandeng Meli dan menuju ke arahku. Zena duduk di kursi, dan Meli duduk di pangkuanku sambil meminum susunya. Aku kemudian meletakkan tanganku ke atas kepalanya setelah meletakkan cangkir ku.


"Itu tadi sihir apa?"


"Ah, itu adalah sihir pribadi. Contohnya, untuk beberapa elf mereka mempunyai sihir tadi, tetapi ada juga yang tidak bisa. Walaupun ini sihir pribadi, tetapi jika kamu memiliki sebuah bakat, maka kamu akan bisa."


"Jadi begitu..."


Sihir [Arise], itu adalah sihir pribadi milik elf. Biasanya bangsa lain tidak akan bisa memakainya tanpa bakat. Itu juga berlaku bagi elf. Sihir itu sendiri adalah sihir untuk menumbuhkan tanaman dengan cepat. Tidak bisa untuk langsung menumbuhkan buah, sihir ini hanya membantu tanaman tersebut sampai pada fase dewasa, dan tidak membantu pembuahan terjadi.


"Walaupun begitu, sihir itu harus menggunakan mantra. Jika tidak, maka tidak akan berhasil..."


"Heh... Begitu ya.."


Setelah aku lihat-lihat memang begitu adanya.


"Mama seperti mama dulu. Dia juga bisa menggunakannya. Katanya suatu hari nanti Meli juga bisa menggunakannya."


Meli mengucapkannya setelah menghabiskan susunya lalu menaruh gelasnya di atas meja.


"Eh?"


Zena dan aku terkejut dengan fakta itu.


"Mama daulu juga adalah elf. Tapi sekarang dia menikah dengan papa lalu merubah penampilannya menjadi manusia secara permanen."


Zena kemudian terdiam.


"Hm.. Begitu ya.."


Aku mengelus kepalanya kembali, dan dia tampak senang dengan usapan kepala itu.


Di dunia baru ini aku tidak tahu tentang sihir yang mengubah penampilan secara permanen ataupun sihir milik Zena tadi, ini tidak ada pada WWO yang aku mainkan dulu. Ada apa ini?


"Hah... Ayo segera masuk. Makanannya akan mama siapkan loh."


"Ya! Aku tidak sabar dengan makanan itu!"


Dan akhirnya kami masuk ke rumah, sedikit mengobrol lalu setelah hari mulai gelap, kami bertiga segera menuju ke kamar. Hanya ada satu kamar di rumah ini dan dua ranjang.


Kami bertiga tidur di satu ranjang dengan Meli membatasi Aku dan Zena.


"Luke, kamu sudah tidur?"


"Tidak, belum, ada apa?"


"Aku hanya berpikir tentang anak ini."


Zena membalikkan posisi tidurnya dan menatap Meli yang tidur dengan bahagia. Dia lalu meletakkan tangannya ke pipi anak itu dan kemudian melepaskannya.


"Kupikir mungkin dia half-elf?"


Walaupun di dalam game tidak terdapat ras yang memiliki darah setengah elf.


"Aku juga menyangka bahwa dia adalah half-elf..."


Zena mengucapkannya dengan khawatir lalu duduk dengan selimut yang masih berada di atasnya. Aku juga kemudian duduk dengan selikut yang sedikit terangkat.


Kebetulan macam apa ini? Kenapa jadi begini? dia anak angkat bukan?


Pikiranku menjadi kacau saat memikirkannya. Tapi di saat itu, sebuah tangan menyentuh tanganku. tangan yang halus dan hangat. Pikiranku menjadi sedikit tenang karena sentuhan itu.


"Ah... Padahal aku belum melakukan apapun denganmu.."


Pipinya memerah saat mengucapkannya. Hanya sinar bulan yang menerangi kami. Cahayanya menembus atap kaca yang sengaja dipasang agar tidak terlalu gelap.

__ADS_1


"A-Ah! Aku akan melakukannya saat Meli tidak disini..."


Aku kemudian menjawabnya dengan gugup karena ucapan Zena yang secara langsung mengucapkannya.


"Tetapi ini sungguh kebetulan yang direncanakan ya..."


Zena kemudian mengatakannya seperti kejadian ini sudah diatur oleh seseorang.


"Tenanglah, aku bersamamu kok, pasti."


"Ya, aku senang akan hal itu..."


Kami berdua saling bertatapan dan kemudian tersenyum.


...****************...


"Uhm...."


Aku mengerang dan membuka mataku lalu duduk dan mengusap mataku. Sambil mengembalikan kesadaranku kembali, aku menoleh pada sudut-sudut kamar. Cahaya matahari sudah terlihat walaupun terhalang dinding kota di belakang rumah.


"Sudah pagi ya..."


Sambil mengucapkannya aku berdiri dan kemudian membangunkan Zena yang masih tertidur.


"Zena, bangunlah, Tolong buatkan aku sarapan... Aku lapar..."


"Uhm..? Pagi, Luke...."


Dia kemudian membuka matanya lalu duduk di ranjangnya.


"Ah... Pagi Zena...."


Aku menyapanya kembali. Dia kemudian berdiri dan mendekat kearah ku. mendekat ke wajahku dan sebuah ciuman pagi terjadi.


"I-It-Itu hanya ciuman selamat pagi... Aku... -Ak-Aku akan membuat sarapan lalu mandi!"


*Kreeeek.....


Dia dengan gugup meninggalkanku yang masih terkejut menuju ke luar kamar.


"...."


"Uahm... Pagi papa... Hm?"


Meli kemudian terbangun, lalu melihatku dengan heran.


"Eh-Ah! Pagi, Meli. Pagi ini sepertinya hari yang cerah ya... Ahaha.."


"Hm? Ada apa papa?"


"Tidak ada kok..."


Sementara Meli penasaran aku memalingkan wajahku.


"Mama dimana?"


"Ah, di dapur sedang memasak sarapan kok."


Meli kemudian Turun dari ranjangnya dan menuju keluar kamar. Aku menyusulnya dan menuju ke dapur.


"Ah, pagi mama!"


Meli menyapa Zena yang sedang memasak sebuah daging. Zena kemudian membalas salam Meli.


Ah... Sisa kemarin ya...

__ADS_1


Continue....


__ADS_2