![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
"Kalau begitu, aku menyerah...."
Karena aku kalah dengan Zena, akhirnya aku mengalah dan membiarkan mereka berdua ikut. Walaupun itu keputusan Zena. Meli juga senang karena boleh ikut bersamaku jadi ya, aku tidak masalah.
...****************...
Kami dalam perjalan ke desa Baruma. Dikatakan jika naga jahat telah menyerang. Quest ini juga memiliki kesulitannya tersendiri, Yaitu jangan biarkan naga membakar hutan. Hutan itu sendiri adalah tempat para warga bekerja. Penghasilan desa itu sebagian besar adalah kayu, jadi warga di sana kebanyakan adalah penebang kayu.
"Paman.... Kita akan sampai kapan?"
"Hm? Mungkin dalam 5 jam perjalanan?"
Dia menjawab ku di tempat duduk kusir sambil mengemudikan Kudanya.
Sebelumnya kami memutuskan untuk berjalan. Tetapi saat dalam perjalanan kami kebetulan bertemu paman Kai yang juga sedang ke desa itu. Awalnya dia terkejut bahwa elf berambut biru telah menjadi pacarku, dan seorang anak ku adopsi. Sekarang dia sudah tidak terkejut lagi tentang itu dan bersikap seperti biasa.
"Pak Kai, apakah anda memiliki urusan di desa itu?"
"Tidak perlu formal nona. Bersikaplah seperti aku ini teman Luke. Alasanku pergi ke sana karena katanya mereka sepertinya sedang kesusahan. Aku ke sana untuk memastikan sekaligus menjual dagangan ku dengan harga rendah supaya mereka membeli dagangan ku."
Paman Kai menjawab Zena sambil mengemudikan kudanya.
Seperti yang diharapkan dari pedagang!
Walaupun di sana sedang terjadi keresahan, para pedagang sepertinya sedang bolak-balik pergi dari desa itu. Mungkin alasannya sama seperti paman Kai. Mengambil laba dari beberapa kerusakan. Kami semua melihat beberapa pedagang yang pergi dari arah sebaliknya. Mereka terlihat tergesa-gesa bersama beberapa petualang.
"Ada apa dengan mereka?"
Aku kemudian bertanya dengan paman Kai yang juga terlihat bingung lalu kemudian mencegat salah satu pedagang yang lewat.
"Ada apa kenapa kalian terlihat ketakutan?"
Paman Kai yang turun dari kertanya dan bertanya kepada pedagang yang lainnya.
"Desa itu sudah diserang oleh naga jahat! Kalian seharusnya segera berbalik!"
Atau itulah yang aku dengar.
"Apa!? Desa telah diserang!?"
Paman Kai yang mendengarnya kemudian terkejut. Sontak membuat Aku dan Zena segera keluar dari dalam.
"Ada apa! Paman! Kau tidak apa-apa kan!?"
"Ah.. Aku tidak... Tetapi desanya telah diserang..."
Paman Kai mengucapkannya dengan pasrah.
"Tidak mungkin..."
Zena Kemudian menutup mulutnya yang menganga karena ucapan paman Kai. Dia kemudian segera berlari kearah desa itu.
"O-Oi!! Apa yang ka-!? Tcih! Paman Kai! Tolong jaga Meli! Aku akan menyusul Zena!"
"Baiklah..."
"Berapa jarak dari sini sampai ke desa itu!?"
"1 Km dari sini..."
"Yosh...!"
Aku kemudian segera menyusul Zena yang sudah berlari sedari awal.
"Sial!"
Walaupun aku masih bisa melihat dia berlari, tetapi aku sudah sangat tertinggal.
__ADS_1
Terlihat dari jauh asap hitam mengepul dari sana. Sepasang sayap naga terluhat dari jauh.
"Tidak mungkin..."
Aku yang telah berhasil mendekati Zena yang berhenti mendengar ucapannya. Dia terlihat tidak percaya apa yang terjadi. Sambil menutup mulutnya dia telah putus asa.
Naga tersebut telah menginjak rumah, membakar, menyapunya dengan ekornya yang panjang dan besar. Dia terlihat puas dengan pemandangan itu. Zena terlihat seperti trauma. Wajahnya telah ketakutan dan tampak ngeri. Jeritan para warga terdengar dari jauh. Bahkan teriakan naga itu juga terdengar.
Sebenarnya masa lalu apa yang dialaminya hingga trauma?
Sepanjang dia ketakutan, aku kemudian mencengkram tangannya.
"Tenangkan dirimu.... Aku disini..."
Dia terkejut dengan sentuhanku lalu segera menabrak dadaku dan menagis.
"...."
Aku harus bagaimana!
Aku telah menjadi panik karena itu dilakukan di tempat umum. Terlebuh lagi sedang darurat.
"Uhm.. Zena, Em... Aku sulit bergerak jika seperti ini..."
"Aku takut... Aku takut kejadian itu akan terulang padamu..."
Dia mengucapkannya dengan terbata-bata.
"Aku tidak akan kalah dengan naga itu, lagipula penduduk juga masih aman..."
Aku kemudian berusaha menenangkannya. Dia telah tenang dan kini hanya wajah ketakutan yang dia tunjukkan.
"Mari selamatkan mereka, Aku yakin jika kita bersama pasti bisa."
"Ah..."
Dia kemudian mengubah raut wajahnya menjadi sedikit tenang.
"Benar, Ayo kita basmi!"
Kami berdua memutuskan untuk mendekat dan menyerang naga itu. Terdengar dari dekat, naga itu sepertinya berbicara.
"Oi oi oi, Apakah manusia selemah ini hingga tidak bisa menyerang ku?"
Atau begitulah yang dia ucapkan. Desa itu sudah seperti lautan api, ada beberapa mayat yang aku temui semuanya terbakar karena api. Pemandangan ngeri ini bahkan hanya dilakukan dalam sekali serang. Beberapa warga yang telah selamat telah di evakuasi dna sekarang ini beberapa petualang sedang menghadang api milik sang naga dnegan tameng besi.
"Grua!!!!!!"
"Ugh...! Semuanya tahan serangannya!"
"Hah! Dasar manusia Lemah! Grua!!!!!!"
Percakapan itu dilakukan oleh petualang dan naga itu. Naga hitam yang angkuh. Dia kemudian terlihat seperti sedang menyedot udara dan menahannya.
*Mbfossssssss!!!
Semburan api kedua diluncurkan oleh sang naga. Sang petualang yang telah mencapai batasannya kemudian terlempar serta terbakar karena hembusan api itu juga disertai dengan angin.
*Brak!!!
Sebuah tembok hancur karena hentakan kuat dari petualang itu. Tamengnya telah hancur dan kemudian terjatuh.
"Ugh...."
"Zena! Cepat obati dia! Aku akan menahan naga ini!"
"Tapi!"
__ADS_1
"Cepatlah!"
"Baiklah!"
Zena dengan cepat menjauh dariku dan segera mengobati petualang itu.
"Tidak perlu mengobati ku kok nona, Hidupku sudah tidak lama lagi. Biarkan aku mengucapkan terima kasih kepadamu dan temanmu yang sudah berusaha melindungi desa ini..."
*Cough! *Cough!
Dia batuk lalu kemudian memuntahkan darah dari mulutnya. Matanya telah berubah seperti ikan mati yang sudah pasrah untuk mati.
"Tidak! Aku akan mengobatimu!"
"Ucapkan maaf pada putriku saja sudah cukup......."
Detak jantung telah sirna dan badannya menjadi lemas tanpa adanya sebuah gerakan.
"Tidak mungkin...."
Zena kemudian meneteskan air matanya dan segera mendekat ke arahku yang sedang bersembunyi di balik puing-puing. Para petualang lainnya juga sedang bertarung.
"Mustahil...."
Zena mengucapkannya dengan air mata yang terus mengucur.
"Tidak perlu merasa bersalah... Mungkin dia memang sudah tidak bisa tertolong..."
Aku memegang tangannya yang basah karena air mata lalu menenangkannya.
"Mari akhiri semua ini bersama."
Lanjutku lalu tersenyum. Air matanya telah berhenti melihat senyumanku.
"Ya..."
Dia kemudian mengelap air matanya dan mengangguk pelan.
"Oke, kalau begitu...."
Aku kemudian keluar dari persembunyianku dan berteriak.
"Oi!! naga busuk!!! sebelah sini lawanmu!!"
Sang naga berbalik menghadapku.
"Oh... Gorengan kecil berani menghinaku, matilah!!"
*Mfbussssss!!!
Nafas api keluar dan aku segera menghindar. Serangan yang berbeda dari monster lainnya. Naga ini sanat kuat!
"Oi oi, apakah kamu menghindarinya? Kalau begitu rasakan ini!"
Sang naga menyapukan ekornya kearahku dengan cepat.
*Gruduk! *Gruduk!
Semua bangunan menjadi bersih tersapu ekornya. Sangat cepat dan berat, tidak mungkin untuk menahannya. Bahkan menang darinya itu saja hanyalah kecil.
"Sial! Kalau begini terus aku tidak akan bisa mendekat!"
"Hahaha ada apa gorengan kecil? Masih belum menyerah? Kalau begitu, aku tunjukkan Seberapa lemahnya dirimu!"
Dia kemudian kembali manyapu ekornya dengan kuat hingga benar benar menghancurkan dan meratakan bangunan bahkan pohon disekitarnya ikut hancur.
"Ahahhahaaha!"
__ADS_1
Dia tertawa jahat setelah menyapu semuanya hingga bersih. Sekarang hanya terisa aku dan Zena. Semua petualang telah mati. Korban semakin berjatuhan di sini.
Continue....