Re [Life] : Incarnation

Re [Life] : Incarnation
Perjalanan Setelah Penyerangan Menuju Kampung Halaman


__ADS_3

Beberapa hari setelah penyerangan, Nina dan Yuu berpamitan kepada kami untuk kembali ke kerajaan dengan cepat untuk melaporkan. Karena akan cepat jika hanya mereka berdua, Sera diputuskan untuk tetap tinggal bersama kami.


Selama pertempuran, kami menitipkan Meli bersama Sefi sang healer. Sekarang ini kami tengah bersiap untuk menuju kota Yahoo dan kemudian kami akan berpisah dengan pasukan kerajaan.


Tugas mereka hanya mengawal warga kota Yuma menuju kota Yahoo. Aku pikir mereka juga akan sedikit membantu seperti mengurus beberapa dokumen. Mereka hanya memberikan informasi dan meminta tolong pada pemerintah di sana untuk mempekerjakan dan memberikan sedikit sarana layaknya penghuni baru.


"Papa, Meli ingin melihat rumah nenek, apakah boleh?"


Kepalanya sedikit mendongak saat berbicara kepadaku. Matanya berusaha untuk bertemu dengan mataku. Tangan kanannya menggenggam tangan Zena dengan erat.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita langsung saja?"


Ucapku kepadanya.


"Eh!? Bolehkah?"


Dia dengan terkejut menjawabnya dengan bahagia.


"Tentu saja, Lagipula... Papa belum mengenalkan mama, bukan?"


Ucapku sedikit menurunkan suaraku.


"Hm? Apakah harus seperti itu papa?"


Karena melihat reaksiku dia kemudian sedikit memiringkan kepalanya dengan banyak tanda tanya di wajahnya.


"Tentu saja, tapi itu tidak penting. Benarkah ingin ke sana?"


Aku menanyai Meli kembali.


"Ya! Tentu! Aku ingin ke sana!"


"Yosh! Kalau begitu ayo kita minta ijin!"


Ucapku sambil mengelus kepalanya.


Zena hanya tersenyum sepetti biasanya. Orang-orang di sekitarnya sedikit kacau dengan senyuman Zena yang menghancurkan. Mereka semua berdebar kencang seakan sesuatu yang berlebihan terjadi.


"Pemimpin, saya ada sesuatu yang harus disampaikan."


Ucapku yang sudah berada di dekat kapten.


"Ya, apakah itu?"


"Aku dan dua orang ini akan keluar dari rombongan dan melanjutkan perjalanan kami."


"Hm? Kemana arahnya?"


"Desa Halm."


"Baiklah, apakah kalian memiliki persediaan?"


"Cukup."


"Baiklah, kalau begitu jaga diri mu."


Dengan itu aku kemudian mundur dan keluar dari barisan bersama Meli yang sedang di gendong oleh Zena.


"Hm.. Kalau begitu ayo kita lanjutkan."


Dalam perjalan ini, kami tidak menggunakan kereta, seperti halnya rombongan. Mereka berjalan kaki bukan? Walaupun begitu, Kami juga menjaga kesehatan kami. Sesekali Meli berjalan dengan kakinya sendiri, tetapi ketika sudah mulai lelah, maka aku akan menggendongnya, ketika giliran berikutnya aku akan menyerahkannya kepada Zena.


.


.


.


.


Beberapa hari berlalu. Kami melewati jalan memutar supaya tidak bertemu dengan monster ataupun pencuri. Jalur yang memutar biasanya tidak disukai oleh pedagang, maka akan sangat sulit untuk merampok atau mencuri di jalur ini. Jika monster maka, tidak masalah, karena kita berada di tengah padang rumput yang luas.


Kami menghabiskan beberapa hari untuk berjalan dan akhirnya aku melihat dari jauh sebuah desa kecil.


Ah.. Pemandangannya membuatku bernostalgia...


Tatapan hangat tercipta dari arah Zena yang melihat tatapan rinduku dari samping.


"Desa yang tenang ya..."


Ucap Zena.


"Eh!? Ah, yah, Kalau begitu ayo kita lanjutkan sebelum hari mulai gelap."

__ADS_1


Aku yang malu dengan segera menjawab.


"Uhm...?"


Meli yang meringkuk di punggung Zena terbangun dan mengusap matanya.


"Pagi mama..."


Dia dengan santai mengucapkannya. Atau sebenarnya ini sudah hampir sore sih..


"Uhm, Kamu terbangun ya. Kita sudah hampir sampai, loh."


Karena ucapan Zena dia kemudian meluruskan pandangannya.


"Uwah..! Kampung halaman papa?"


Ucap Meli yang kemudian menoleh kearah ku.


"Tepat sekali, rumah nenek ada di sana."


Sambil tersenyum aku mengucapkannya.


Selama perjalanan menuju ke desa, Meli yang telah bangun di punggung Zena bertanya tentang berbagai hal. Seperti, makanan apa saja yang dapat dibuat ibuku, seperti apa tempatnya dan lain lain.


.


.


.


.


Saat aku hendak melangkahkan kaki menuju ke dalam gerbang aku melihat seseorang sedang tertidur dalam posisi duduk di bawah pohon dekat pagar.


"Tidur yang nyenyak ya..."


Ucapku melihat orang itu. Orang itu adalah Tetangga sebelah rumahku. Namanya Huse. Dia sudah menikah dan mempunyai 1 anak perempuan yang sekarang berusia 10 tahun.


"Apakah kamu kenal dia?"


Ucap Zena yang melihat dia tertidur.


"Dia tetanggaku, Huse, dia hanya menjaga lahannya hingga tertidur seperti biasa."


Dia adalah petani lahan, setiap harinya setelah selesai menanam bibit, dia akan menjaga lahan hingga tertidur pulas. Biasanya seorang laki-laki muda akan datang membangunkannya, Laki-laki muda bernama Dorm yang merupakan tetangga dekat lahan milik Huse. Dia sering berkunjung untuk ikut berjaga sambil membaca buku di bawah pohon.


"Oh! Luke!"


Karena dia lebih tua dariku, dia tidak memanggilku dengan sebutan 'kak'. Dia menyapaku.


"Sejak kapan kamu kembali? Lagipula apa-apaan ini.. Kamu membawa 1 wanita cantik dan 1 anak kecil?"


Sambil terlihat tidak percaya dia memandangi Zena dan Meli dengan tatapan bingung.


"Ah, namaku Zena, Ehm.. Calon istri Luke..."


Sambil terlihat malu, dia kemudian menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajah malunya.


"Oh! Ah, namaku Dorm, teman Luke. Kalau begitu, aku akan mengantar kalian ke rumahnya."


Ucapnya dengan ramah.


Dan dengan cepat memimpin kami.


"Luke, bagaimana bisa kamu mendapat wanita secantik itu?"


"Hm?"


"Ah! Tentu saja aku tidak akan mengira bahwa kamu memaksanya, bukan? Hahahaha...."


Apa yang kamu katakan? Setelah berpisah dengan temanmu selama ini...


"Tidak, aku benar benar mencintainya. Lagipula aku juga tidak memaksanya."


"Oh, kalau begitu, bisakah aku meminta cara agar aku dapat mendapat istri yang cantik?"


Istri yang cantik belum tentu bisa memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah bukan?


"Hm... Mungkinkah harus seorang petualang?"


Ucapnya melanjutkan.


"Tidak, aku hanya menyelamatkannya saja?"

__ADS_1


Karena aku tidak mengerti caranya aku mengatakannya.


"Tidak mungkin hanya dengan itu akan membuatnya menyukaimu bukan?"


Ucapannya ada benarnya tapi..


"Entahlah, mungkin ini kekuatan cinta?"


"Mustahil...."


Dia kemudian menggerutu selama perjalanan. Zena hanya tersenyum seperti biasa. Para warga desa menyapaku dengan ramah seperti biasanya. Sepertinya populasi desa ini sedikit meningkat..


Bisa dilihat dari jumlah rumah yang bertambah 2 bangunan. Sepertinya ada yang sudah berkeluarga mendahuluiku.


"Kita sampai! Bibi Lucia!!! Aku membawakan seseorang yang ingin bertemu denganmu!!"


Ucapnya dari depan rumah. Pintu rumah terbuka lebar, Tampak Seseorang berjalan kemari.


"Dorm, Sudah aku bilang untuk mengetuk pintu masih saja tetap berteriak, kamu ini sudah dewasa loh?"


Ibu memarahi Dorm yang dengan keras mengucapkannya.


"Ah, maaf, tapi dia ingin bertemu denganmu."


"Hm? Oh! Luke!"


Dengan cepat dia memelukku dengan erat.


"Kalau begitu aku pamit dulu bibi Lucia."


Dengan itu dia kemudian segera pergi menuju lahan milik Huse.


"Astaga, kamu sudah tumbuh ya...."


Dia kemudian melepas pelukannya dan mengelap air mata yang sedikit keluar.


"Oh? Mereka?"


Sambil bertanya demikian dia melihat mereka berdua dengan seksama.


"Ah, Calon istriku, namanya Zena."


"Perkenalkan, nama saya Zena."


Dia kemudian mengulang ucapanku.


"Ah, Kamu Cantik ya... Apalagi rambut biru itu jarang, kamu unik."


Ucap ibu dengan bahagia.


"Lalu anak kecil ini putriku. Meli."


.


"Nenek!! Nenek lebih cantik dari yang aku bayangkan."


Ups! Dia mengatakannya.


"Oh, begitukah? Kalau begitu, ingin nenek gendong berkeliling?"


"Mau!!"


Dia dengan cepat meminta turun dari Zena dan berpindah ke ibu.


"Maaf, bu. Meli sedikit bersemangat..."


Ucap Zena.


"Tidak apa, Namanya juga anak kecil. Bahkan ini juga terjadi pada Luke saat dia kecil. Haha."


"Hentikan itu bu, itu memalukan..."


"Oh? Dia malu."


Sambil tertawa dia kemudian menggendong Meli dengan mudahnya. Karena ibuku dulunya seorang petualang, dia dapat dengan sudah mengangkatnya. Usia ibuku hari ini adalah 39 tahun, dan untuk ayahku 40 tahun. Mereka selisih 1 tahun sedangkan aku sekarang 15 tahun Zena juga berusia sama. Dalam dunia ini, Hanya dragonkin dan beastmen yang dapat berumur panjang.


Umur rata-rata mereka bisa mencapai 5000 tahun. Sedangkan untuk elf, mereka biasanya hanya dapat bertahan hingga 500 tahun paling lama. Aku iri dengan mereka yang memiliki umur panjang.


"Kalau begitu ibu akan mengantar Meli berkeliling. Kalian berdua masuklah dulu."


Sambil berjalan meninggalkan kami berdua, dia menggandeng tangan Meli dengan bahagia.


Continue...

__ADS_1


__ADS_2