Re [Life] : Incarnation

Re [Life] : Incarnation
Apalagi Selain Serangan!?


__ADS_3

Beberapa prajurit yang tidak bertugas segera berlari ke sumber suara. Beberapa warga didekat sana juga ikut menyusul. Para pengungsi hanya terdiam menghentikan seluruh aktifitasnya.


Suasana menjadi ramai. Para pengungsi saling angkat berbicara. Para warga desa sepenuhnya keluar dari desa dan membicarakan sesuatu kepada komandan. Yu dan Sera juga berada di dekat mereka. Aku dapat melihat mereka dengan baik dari jauh tetapi aku tidak mendengar pembicaraan mereka.


"Apa yang terjadi?"


Zena yang mendengar suara itu juga ikut tertarik. Dia juga telah menghentikan aktifitasnya dan melihat pada arah desa itu. Meli masih tetap dalam kondisi yang sama seperti sebelumnya.


"Aku tidak tahu, tapi... Agak aneh..."


Aku sedikit bergumam. Lalu bayangan muncul dan menjadi wujud sosok Nina.


"Sepertinya Pasukan goblin menyerang."


Ucapnya.


"Lagi-lagi? Hah... Rasanya seperti mimpi buruk..."


Zena menanggapinya dengan mengeluh.


"Papa... Goblin akan menyerang dalam waktu singkat..."


Meli ikut berbicara mengenai masalah ini.


"Hm? Apa maksudmu?"


Meli kemudian melirik ke arah hutan lalu menundukkan kepalanya dengan hening.


"Hm? Ada apa?"


Aku bertanya kepadanya karena hanya melirik pada sisi hutan yang berada di sebelah tenda kami. Tetapi jawabannya tetap terdiam dan melirik kan sedikit matanya


"Luke, sepertinya ada yang aneh dengan hutan itu."


Zena kemudian dia dengan sigap menjadi waspada. Tangan kanannya siap menyerang.


"Groarghh!!!!"


Terdengar suara nyaring dari sisi hutan itu. Suara itu juga disertai getaran yang hebat. Saking hebatnya, angin kuat sedikit berhembus.


"Oi, oi... Apa itu...?"


Yu dan Sera telah berada di dekatku sambil memperhatikan sisi hutan tersebut.


"Kawanan goblin?"


"Hm... Goblin, ya..."


Dia merespon gumaman ku.


Benar, seperti yang aku rasakan dengan sihir [Search], sekelompok goblin, mereka berjalan mendekati kami.


"Kalau begitu ayo lakukan pembasmian tanpa menunggu lagi!"


Sera dengan semangat tinggi mengangkat pedangnya yang besar dengan bangga.


"Oi, tunggu. Jangan bertindak gegabah."


Yang kemudian dilanjutkan memukul kepala Sera dengan tangannya.


*Plak!


"Ouch, awawa... Sakit..."


Karena merasa pukulan Yu sedikit lebih keras, dia menurunkan pedang besarnya dan kehilangan semangatnya tadi lalu mengusap kepalanya yang dipukul oleh Yu.


"Hm.. Ngomong-ngomong Yu, ada apa dengan desanya?"


Karena teriakan sebelumnya aku tidak mengetahui apa yang terjadi aku bertanya kepada Yu.


"Oh, uhm. Perempuan itu sepertinya sedang diserang goblin. Untungnya dia dengan cepat berteriak. Kami jadi bisa membunuh goblin itu."


Ucap Yu dengan nada terbata-bata.


Hm. Aku mengerti.


"Huft tetapi goblin ini lebih banyak dari waktu itu..."

__ADS_1


Ucapku.


"Oii!!!"


Dari kejauhan tampak ada yang memanggil. Ketika aku menengok ke sumber suara, 3 orang pantherian mendekat. 1 Laki laki 2 perempuan.


"Oh! Heis, Shion, dan Stella. Kalian ternyata."


Ucapku membalas teriakan mereka.


Serangan goblin kali ini tidak disertai shadow wolf, jadi mungkin ini lebih mudah dibandingkan waktu itu.


"Yah... Aku mencarimu kemana-mana loh.."


Heis mengucapkannya lalu menghembuskan nafasnya.


"Hm? Ada apa?"


"Kita berada di satu rombongan kenapa aku tidak pernah melihatmu. Walaupun aku juga mencarimu."


Aku sedikit merenung.


Benar juga... Aku dan mereka satu kelompok... Aku juga tidak ingat aku menyapa mereka...


"Ah... Saat itu aku sedang sibuk dengan macam macam..."


Hanya alasan sih...


"Yah, sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Ngomong-ngomong, aku mendengar bahwa goblin akan menyerang?"


Dia dengan ringan mengganti topiknya menjadi serangan goblin.


"Eh, mereka memang menyerang. Tapi sepertinya lebih mudah dari yang waktu itu."


Ucapku.


"Waktu itu ya..."


Hm? Dia sedikit menyeringai saat aku mengatakannya dna mengulangi kata 'waktu itu' dengan ekspresi sedikit seram.


Aku lelah... Aku ingin pulang ke rumah... Kenapa aku harus berhadapan dengan pertempuran... Merepotkan!!


Atu itulah yang ingin aku sampaikan kepada pasukan goblin.


"Sebelum mulai, mari kita makan siang."


Zena yang telah selesai mengobrol bersama kemudian menyuarakan suaranya. Karena hari ini Zena membuat banyak dia menawarkannya.


"Oh.. Boleh juga."


Heis dengan semangat menerimanya bersama kedua perempuan pantherian lainnya. Sera dan Yu hanya mengangguk sementara Nina menjawab "Ya!" dengan semangat tinggi. Karena alasan tertentu Meli juga menyuarakan suaranya dengan sedikit takut seperti dari sebelumnya.


.


.


.


.


Kami semua telah bersiap. Para prajurit telah berbaris. Para petualang sisa dalam rombongan juga berada di belakang barisan prajurit. Itu juga termasuk aku dan yang lainnya.


Setelah makan siang tadi, selurih warga di evakuasi. Baik itu pengungsi maupun pemilik desa bersama dengan ternak mereka.


"Kepada seluruh pasukan! Siapkan senjatamu! Angkat senjatamu! Persiapkan hidupmu!"


Sang komandang berteriak seolah memberikan semangat.


Apa-apaan itu.. mereka memberi semangat atau menakuti...


""Ha!!""


Para prajurit bergerak menghentakkan senjata mereka serentak. Sedangkan para petualang sisa dibelakannya hanya terdiam seolah mereka tidak mengerti apa yang mereka lakukan.


Beberapa saat setelahnya, pasukan goblin satu persatu keluar dari balik hutan dan menuju ke arah barisan dengan liar. Sedikit informasi. Barisan paling depan prajurit adalah pembawa perisai, dan barisan kedua adalah tombak.


Formasinya adalah, ketika musuh datang, perisai akan membuat barisan tanpa celah, dan tombak akan berada di bagian yang tidak terisi.

__ADS_1


"Musuh datang!!"


Setelah kapten mengatakannya, seluruh pasukan membuat formasinya. Para goblin yang menyerang menabrak perisai dengan keras menimbulkan luka dalam. Beberapa dari mereka yang melompak ditangkis dengan tombak. Darah mereka bercucuran dimana-mana.


"Uh.. Pembantaian..."


Ucap Heis.


Para petualang hanya tercengang dengan cara bertempur mereka melawan monster. Ya, bagaimanapun mereka juga memiliki jumlah yang lumayan ketimbang petualang yang hanya memiliki 4 orang dalam 1 party. Tentunya akan merepotkan jika 1 party melawan begitu banyak monster. Apalagi goblin, keperawanan anggota perempuan harus dijaga dengan baik.


Singkirkan pemikiran tadi. Beberapa goblin yang menyadari bahwa serangannya tidak berpengaruh kemudian berhenti menyerang dan sedikit mundur. Beberapa goblin yang baru datang dari dalam hutan kemudian berbaris. Dari yang paling depan membawa sebuah club atau tongkat pemukul, dan yang di belakangnya membawa busur dan panah yang sedikit berkarat.


Seketika salah satu dari goblin itu maju diantara mereka, dan berteriak.


"Gigi!! Gigi gii!! Giiii!!"


Atau itulah yang dikatakannya. Aku tidak mengerti maksud mereka tapi, para pemanah mulai menarik busurnya dan membidik pada kami yang ada dibelakang.


"Gii!!"


Busur dilepas dan anak panah meluncur di udara mengarah ke belakang perisai.


"Wahai angin yang menyejukkan, lindungi kami dari bahaya! [Shield]!!"


Seseorang mengucapkan sebuah mantra sebelum anak panah dapat menyentuh kami. [Shield]? Yang jika diartikan adalah perisai? Apakah ada sihir seperti itu di WWO?


Atau itulah yang aku pikirkan. Aku memang tidak menyamakannya dengan game, tetapi dunia ini tampak mirip bahkan ras dari dunia ini sendiri mirip.


"Sihir...?"


Beberapa orang yang takjub melihatnya berbicara pada masing-masing dari mereka.


"Tetap Fokus! Kita sedang berada di medan perang!"


Sang kapten berteriak kepada mereka semua dengan tegas memperingatkan.


Seluruh prajurit bahkan petualang ikut terdiam.


Setelah panah selesai ditembakkan, sihir [Shield] mulai menghilang dan dilanjutkan goblin dengan membawa club menyerang.


Karena mereka membawa sebuah club yang bahkan tidak dapat menghancurkan perisai, para tentara meremehkan mereka. Dengan enggan tombak menusuk mereka.


Beberapa saat kemudian, muncul dari samping barisan, sekumpulan goblin tanpa membawa apapun berlari dengan cepat layaknya mereka menemukan mangsanya.


"Para petualang! Serang!!"


Dengan dimulainya ucapan itu, kami mulai menyerang dengan membabi buta, seluruh pasukan habis dalam setengah hari.


.


.


.


.


"Huwah..... Melelahkan.."


Ucap Heis yang telah selesai dengan tugasnya dan kembali ke tenda milikku bersama kedua perempuan di sampinya.


"Istirahatlah dahulu. Aku akan menyiapkan makanan."


Dengan mengatakan itu, Shion dan Stella berjalan menuju Zena yang sedang memasak. Aku melihat mereka sedang berdiskusi tentang sesuatu.


"Apa yang mereka bicarakan?"


Tanya Heis kepadaku.


"Entahlah."


Sambil mengucapkannya, aku menaikkan kedua bahuku.


Setelah sedikit berbicara, Stella kemudian mengarah ke Meli yang sedang beristirahat.


Tampaknya dia disuruh menjaga Meli?


Continue....

__ADS_1


__ADS_2