Re [Life] : Incarnation

Re [Life] : Incarnation
Bantuan dan Kalahnya Sang Naga


__ADS_3

Aku segera menghindari gerakan ekornya dengan cepat.


"Oi, oi, sampai kapan kamu akan menghindar?"


Naga itu mengatakannya dengan angkuh. Matanya terlihat seperti dia sedang bersenang-senang.


"Sial, kulitnya terlalu keras..."


*Whumppp... *Brak!!!


Ekornya telah dikibaskan kembali. Kemudian dia menyemburkan apinya dengan *Mfussss!!! Dan lalu kembali mengibaskan ekornya.


*Brakk!!!


"Apakah tidak bisa menyerang ku? Manusia lemah?"


Dia terus memprovokasi ku sambil mengibaskan ekornya. Terkadang dia menyemburkan apinya yang juga disertai angin.


Aku meloncat ke belakang untuk menjauh dari naga itu. Dia telah benar-benar menjadi senang dengan menghancurkan desa.


"Oi! Kenapa kamu mundur!?"


*Mfussssss!!!


Dia kemudian kembali meniupkan apinya kearahku. Aku segera menuju ke sisi tembok untuk berlindung. Angin yang disertai api menerjang deras sisa tembok.


Kalau begini, aku bisa-bisa terbunuh....


Api terus menyembur hingga tembok menjadi retak dan runtuh sedikit demi sedikit. Melihat itu, Aku menjadi sedikit panik. Kemudian aku memiliki sebuah ide.


Jika sisik naga itu keras, maka bagian dekat ekornya mungkin akan sangat lunak... Lalu tinggal kita tusuk dengan senjata milik Zena yang merupakan tipe tusukan.


"Zena!! Sihirmu!"


Aku berteriak tanpa mengerti arah dan kemudian semburan berhenti.


*Brakkk!!! *Krekkk!!


Sebuah bunyi seperti tulang yang terpukul keras terdengar keras bersamaan dengan berhentinya semburan itu.


Ketika aku sedikit mengintip aku melihat sebuah batu besar jatuh dari pipi naga itu.


Siapa yang melemparnya?


Pertanyaan itu muncul ketika aku melihat pemandangan itu. Jelas itu bukan perbuatan Zena.


"Luke! Bantuan tiba!!"


Suara seorang perempuan mendekat dan seketika memelukku.


"Syukurlah... Masih sempat..."


Dia dengan erat memelukku bersamaan dengan tetesab air mata yang mengalir.


"Ya, aku masih selamat."


Aku membalas pelukannya yang hangat. Ternyata batu itu berasal dari petualang S-rank yang berhasil dipanggil oleh Zena. Mereka telah bertarung dengan naga hitam itu dengan serius.


Aku tidak mengetahui bahwa ada petualang S-rank di dekat sini. Mungkin sihir Zena mengetahuinya? Jadi saat aku sibuk mengulur waktu, dia mendekat ke arah petualang itu dan meminta bantuan kepada mereka tanpa menjelaskan keadaannya.


"Arghh!!! Manusia lemah telah bertambah!"


Naga itu sedikit menggeram lalu kembali menyapu ekornya.

__ADS_1


"Jika kami memang benar benar lemah maka hadapilah jumlah kami yang banyak!"


Sang ketua party petualang itu memprovokasi naga itu.


Party itu berisi 2 orang S-rank dan 2 orang A-rank. Ketuanya adalah seorang perempuan mage yang sedikit montok dengan bajunya yang mencolok serta menggunakan topi penyihir.


"Manusia memang merepotkan!!"


*Mfussss!!


Dia kembali terprovokasi oleh ucapan perempuan itu. satu orang di party nya yang merupakan A-rank adalah perempuan dengan job healer. Bajunya seperti seorang gadis kuil. Dia membawa tingkatnya dan sedikit menjauh dari kelompok itu.


"Ah... Syukurlah, apakah kamu tidak terluka?"


"Ah, tidak. Berkat kalian yang tepat waktu sepertinya hanya goresan karena kerikil."


Sambil membiarkan Zena yang memelukku.


"Pacarmu sangat panik saat meminta bantuan, jadi kami semua berusaha secepat mungkin, dan untunglah masih sempat..."


"Ahaha, terima kasih... Dia ini memang sedikit ceroboh. Maafkan kami yang meminta bantuan sembarangan..."


"Tidak, tidak, tidak.. Justru kami yang merasa berterima kasih."


Gadis Healer itu sedikit tertawa.


"Hm? Tapi kami sudah merepotkan party kalian ke dalam pertempuran naga ini loh."


"Justru itulah, lagipula kalian sudah menahan naga ini walaupun desa ini hancur dan banyak korban berjatuhan. lagipula dua orang laki-laki itu juga maniak bertarung. Mereka telah mengeluh karena tidak ada yang bisa mengimbangi kemampuan mereka..."


Dia kemudian tertawa canggung setelah mengucapkannya.


Maniak bertarung ya.... Memang merepotkan yah...


"Setidaknya kalian beristirahatlah, biar kami yang mengatasinya."


"Zena... Bisakah lepaskan...? Ada orang yang melihat loh..."


Aku menggapai pundaknya. Bukannya melemas dan lepas tetapi justru bertambah kuat.


"Aku tidak akan melepaskannya..."


Sambil menenggelamkan wajahnya ke pundak ku.


...****************...


"Ah... Selesai juga.... Merepotkan."


Ucap laki-laki dengan job tank badannya penuh dengan armor dan besar. Membawa tameng besar di kedua tangannya.


"Tapi lumayan menyenangkan. Dia begitu kuat! Aku menyukainya!"


Pira itu menunjuk mayat naga hitam itu dengan santai. Dia seperti menikmati pertarungan dengan naga itu. Bahkan dia memujinya karena hampir seimbang dengannya.


"Hm... Jadi ini kekuatan dari naga..."


Sang ketua party, perempuan mage, dia sepertinya juga senang dengan hasil tangkapannya.


"Ah kalian berdua! Ups... Apakah aku mengganggu?"


Sang tank datang lalu kemudian mengatakannya.


"Ah, tidak perlu dipikirkan... Dia memang selalu seperti ini.."

__ADS_1


"Ahaha! Begitu ya... Tapi syukurlah ya.. Pacarmu itu menemui kami dan meminta tolong pada kami..."


"Ah.. maafkan kami, kami hanya petualang pemula... Maafkan kami sudah merepotkan kalian semua."


Aku mengucapkannya dengan sedikit panik.


"Tidak perlu meminta maaf, lagipula aku juga sudah menghilangkan semua kebosanan ku, justru akulah yang berterima kasih!"


Pria dengan otot yang besar, dengan pedang yang besar di punggungnya mendekat.


"Yah.. Itu menyenangkan sekali..."


Sang perempuan mage mengucapkannya dengan sedikit terengah-engah.


"Ah... Maafkan kami, ketua kami memang agak mesum..."


"Ah.. tidak perlu dipikirkan... Namaku Luke, ini pacarku Zena, kami berdua satu party."


"Kami dari party maniak, senang bertemu denganmu. Namaku Vani, pemimpin party. Seorang penyihir.


Sang pemimpin party, tidak, Vani memperkenalkan dirinya dengan serius. Suara anehnya telah hilang dan berganti menjadi serius.


"Fin, tank."


"Luca, pendekar pedang besar. Mungkin kamu bisa menyebutnya...? Ahahaha."


"Ah, sebelumnya maaf belum memperkenalkan diri, namaku Mei, seorang healer."


Mereka masing-masing akhirnya memperkenalkan diri mereka. Setelah itu Zena melepaskan pelukannya dan menggenggam tanganku. Air matanya telah dia hapus dan sekarang dia hanya diam sambil sedikit tersenyum.


"Senang bertemu dengan kalian. Ngomong-ngomong, apakah kalian semua tidak dari kota Yuma?"


Aku kemudian menanyakannya. Aku penasaran kenapa mereka tidak memilih quest ini...


"Ah... Kami juga dari Yuma, tapi kami mengambil misi sebelum quest ini ada. Dan kami sengaja berjalan-jalan setelah menyelesaikan quest itu di dekat hutan ini."


Luca, sang pendekar pedang, tidak terlalu panjang. Luca mengatakannya dengan sedikit bersantai.


"Yah... Akhir-akhir ini kami sedikit berlibur bersama party jadi ya..."


Jadi begitu...


"Maafkan kami... Kami mengganggu liburan kalian."


"Ahaha! Santai lah bocah! Pentingkan keselamatan mu, jika tidak pacarmu akan sedih loh..."


Luca sedikit menggodaku.


"Kalau begitu, kami permisi."


Mereka meninggalkan aku dan Zena sendirian diantara puing-puing.


"Tidak aku sangka kalau melawan naga masih mustahil ya..."


"Ah, Jangan memaksakan diri dong! Aku jadi panik! Hmph!!"


Zena kemudian menggembungkan pipinya sambil memalingkan wajahnya dan memejamkan matanya.


"Tapi, itukan kamu sendiri yang mendekat..."


"Pokoknya, jangan sampai terjadi lagi!"


"Eh..."

__ADS_1


Dan pada akhirnya kami berdua berjalan hingga sampai dimana kereta paman Kai dan Meli menunggu. Hari mulai gelap saat sampai, jadi kami memutuskan untuk bermalam di jalanan itu hingga pagi tiba.


Continue....


__ADS_2