Re [Life] : Incarnation

Re [Life] : Incarnation
Kota Yuma


__ADS_3

Kota Yuma adalah kota yang aman dan damai. Kota itu sangat makmur dan terkenal akan hasil panennya yang melimpah. Penghasilan utama mereka adalah produk beer dari susu kambing, gandum, dan daging sapinya. Dari apa yang terlihat kota ini adalah yang paling damai.


"Oh... Akhirnya kita sampai..."


Heis mengucapkannya dengan nada lega setelah melihat gerbang kota Yuma yang terbuka secara keseluruhan.


Dia mengucapkannya sambil mengintip dari belakang paman Kai yang sedang mengemudi.


...****************...


Kami masuk melewati gerbang itu dan berhenti di dekat sebuah penginapan.


"Aku akan mengirim beberapa barang ke orang jadi, Luke, sebaiknya kamu tunggulah aku di penginapan dekat gerbang, ok?"


Paman Kai mengucapkannya lalu dia segera mengibaskan tali yang terikat di kedua kudanya dan bergegas berangkat.


"Baiklah, aku menunggumu."


Sambil mengucapkannya aku melihatnya hingga paman Kai menghilang dalam kerumunan orang-orang.


"Kalau begitu, kalian boleh saja meninggalkanku. Aku akan berada di penginapan itu."


"Kalau begitu, Kami bertiga akan kembali ke guild untuk melaporkan kejadiannya."


Ucap Heis yang mewakili partynya.


"Kami berdua akan melaksanakan sesuai perintah, dan terima kasih telah menyelamatkan kami."


"kami sangat berhutang padamu."


Yu dan kesatria wanita Sera menundukkan kepalanya untuk kedua kalinya.


"Ah, tidak perlu berterima kasih, ini hanya kebetulan."


Karena rasanya sedikit berlebihan aku menegur mereka.


"Tidak, kami tetap akan berhutang budi padamu."


Dia tetap keras kepala dengan ucapannya dan segera berpisah setelah mengucapkan terima kasih yang berlebihan.


Pria yang keras kepala...


Mereka berlima kemudian segera berjalan dengan party masing masing menuju jalan yang sama dan segera hilang dalam kerumunan.


tersisa Zena sang elf. Dia terus terdiam sembari menatap kebawah. Kedua tangannya dilipat kebawah.


"Ada apa?"


Aku menyapanya. Dia terkejut seketika.


"Eh!? ah...."


"Apakah kamu tidak akan berpisah? Aku sudah memberi sedikit jarahan itu kan?"


Aku membalasnya dengan nada dingin. Walaupun aku sempat mengatakan sesuatu yang hangat, mungkin?


"Ah... Itu cukup, tapi aku ingin ikut bersamamu."


"Ha!? Kamu ingin ikut? Apakah kamu tidak memiliki Party?"


"Tidak..."


"Uh...."


Aku menghela nafasku mendengar jawabannya.


"Kenapa kamu tidak membuatnya?"


"Karena banyak orang yang menginginkanku... Aku telah menolak seluruh ajakan party. Mereka jelas hanya ingin aku berada di party mereka, dan memanfaatkan kecantikanku.."


Dia mengucapkannya dengan Suara yang semakin mengecil.


Aku menjadi bingung untuk menjawabnya. Tentu saja dia sangat cantik. Dia sempurna, maka tidak heran banyak orang mengincarnya.


"Bahkan ada seorang anak bangsawan yang mengajakku berkencan... aku menolaknya tapi dia malah marah dan mengancam ku katanya, 'Aku ini anak bangsawan! beraninya kau demi-human!' dengan kasar, lalu dia mengacungkan pedangnya. Tentu saja aku melawannya, dan aku menang.. dia segera berlari karena ketakutan dan sepertinya mereka sudah mengejar ku. Hanya kamu satu-satunya yang menganggap ku biasa. Jadi aku memutuskan untuk mengikutimu."


"...."


Aku terdiam mendengarnya berbicara panjang lebar. Lalu sedikit merenung.

__ADS_1


"...Baiklah, aku mengerti. Kamu boleh ikut."


Aku menghela nafasku dan menjawabnya dengan pasrah.


Mendengar jawabanku dia tersenyum lebar lalu mengikutiku yang masuk ke penginapan. Sebuah meja resepsionis kayu dengan seorang manusia yang duduk di belakangnya.


"Selamat datang di penginapan Bulan emas."


Sang resepsionis menyapa kami dengan ramah.


"Uhm... satu kamar untuk dua orang."


"Ohoho... Begitu ya... Baiklah. berapa malam kamu ingin menginap?"


Sepertinya sang resepsionis dan Zena salah sangka. Sang resepsionis tersenyum mencurigakan, sedangkan Zena memerah.


Kemungkinan, paman Kai akan sedikit lama...


"Tujuh hari enam malam."


sambil menyerahkan uang yang diberi oleh orang tuaku.


"Hm... baiklah, ini cukup. Jika kalian ingin sarapan kalian bisa menuju bar sebelah. bar itu milik ibuku."


"Baiklah."


Sambil menghitung uang tersebut, dia menyerahkan kunci kamarnya kepada ku.


"Uhuhu... banyak juga..."


Aku meninggalkan sang resepsionis yang bergumam sambil menghitung uang menuju kamar.


*Kreeek....


Pintu berbunyi ketika terbuka. Seketika aku berlari menuju ranjang.


*Whuggg...


"Huft.. Melelahkan..."


Sambil menenggelamkan diriku sendiri ke dalam ranjang yang sedikit keras namun cukup untuk 2 orang.


Zena tersipu malu melihat ranjang ini lalu berusaha untuk menenangkan pikirannya sembari menutup pintu yang telah aku buka.


"Uhm.. Apakah aku akan tidur di sana juga?"


"Hum? Ya."


Aku hanya menjawabnya dengan singkat. Lalu duduk di pinggir ranjang itu.


"Maaf tapi, uangku hanya cukup untuk 1 kamar, Kamu tidak keberatan, kan? Aku janji tidak melakukan apapun selama kamu tertidur."


Setelah mengatakan itu aku menaruh tasku di samping ranjang.


"Uhm.. ya aku percaya itu."


"Baiklah, kalau begitu antarkan aku ke guild, aku ingin mendaftar."


"Ah! Serahkan kepadaku."


Sambil mengucapkannya, kami akhirnya segera berangkat ke guild petualang.


...****************...


Dalam perjalanan, banyak sekali kerumunan orang. Mulai dari manusia, Phanterian, Dwarf, dan beastman lainnya.


Sungguh kota yang hidup.


"Hm..."


"Lihat! Luke! ada beberapa perhiasan yang bagus!"


Zena, sambil memegang tanganku dia menunjuk ke seorang pedagang penjual perhiasan. Sekarang ini Zena sedang menggunakan penyamaran untuk menyenbunyikan identitas elfnya. Jujur saja aku melakukan ini saat sebelum keluar.


"Uwah..! Indah.."


Matanya berbinar melihatnya.


Sisa uangku akan habis seketika hanya untuk barang ini...

__ADS_1


"Hm... Kamu ingin yang mana?"


"Eh? Boleh?"


"Boleh, pilih mana yang menurutmu kamu suka, aku akan membayarnya untukmu."


"Hm... kalau begitu aku pilih yang ini!"


Heh... sebuah cincin ya...


Cincin dengan sebuah batu sihir yang mengkilap. Warnanya transparan sehingga terlihat seperti berlian.


"Berapa harganya pak?"


"Ah, itu hanya 2 koin bronze. Lalu ambilah ini, ini tidak laku di sini."


"Apa itu pak?"


Sebuah benda berbentuk telur yang berwarna hitam.


"Aku tidak tahu, Tapi sepertinya tidak terlalu penting. Aku menemukannya tadi malam."


"Kalau begitu akan aku ambil."


Aku menyerahkan 2 koin bronze dan kemudian menerima telur hitam tadi.


"Hm? Apa itu, Luke?"


Zena memandangi telur hitam tersebut dan menatapnya secara seksama.


"Entahlah, aku diberi oleh pedagang itu, katanya dia menemukannya tadi malam."


"Hm... Aku lihat-lihat seperti telur naga hitam...?"


Matanya menyipit kearah telur hitam ini lalu sedikit mendekat.


"Ah sudahlah, ayo kita segera ke guild."


"Hm.... Oke."


Aku segera mengalihkan topik karena akan merepotkan jika orang orang memandangi kami berdua.


...****************...


"Jadi ini guild nya."


Di depanku terdapat bangunan besar yang dipanggil "Guild." oleh orang-orang.


"Baiklah, ayo masuk."


Zena menarik tanganku yang tidak memegang telur hitam tadi menuju ke dalam bangunan itu.


*Kreeek *Kring *Kring


Suara pintu terbuka dan sebuah bell berbunyi.


"Selamat kembali!"


Sang resepsionis tersenyum kepada kami berdua. Tampak seorang Phanterian di meja itu, dan ukuran payudaranya terlalu besar!


"Aku k-mn!"


Aku segera menutup mulut Zena yang hendak dengan cerobohnya berkata "Aku kembali!" dengan keras.


"Diamlah.. Identitasmu akan terbongkar bila berkata begitu."


Aku membisikkannya, lalu dia mengangguk pelan menandakan mengerti. Dengan lembut aku melepaskannya.


"Ahaha kami hanya ingin mendaftar."


"?"


Sang resepsionis bingung dengan kejadian barusan.


Hampir saja...


Kami segera mendekat kearahnya lalu berbicara sebentar mengenai Zena yang menjadi buronan orang. menurut informasi yang aku dapat dari resepsionis, mereka akan membayar 10 koin emas jika menemukannya. Tentu saja hadiah yang menggiurkan. Sementara Zena tampak kacau dengan situasinya.


Sang resepsionis sepertinya merupakan pihak netral yang tidak akan memberitahukan di mana Zena berada, jadi aku memberikan identitas orang disebelah ku yang merupakan Zena sendiri. Walaupun dia dengan cepat mengerti tanpa harus melihat wujudnya.

__ADS_1


Continue...


__ADS_2