![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
Karena luka yang diderita hanya goresan, dia dengan cepat pulih dari lelahnya dan membuka matanya sedikit demi sedikit.
"Hmng..?"
Dia mengerang lalu kemudian melihat sekitarnya. Meli seketika memeluknya dan berkata "Mama!" dengan suara riang.
"Ini.... Tempat ini.... Dimana...?"
Ucapnya yang baru pulih dari keadaannya.
"Syukurlah... Kamu baik-baik saja, kan?"
"Ya..."
Dia menjawabnya dengan lemah lalu membalas pelukan Meli yang dari tadi memeluknya.
"Dimana ini?"
Sebelum aku sempat menjawabnya, sang healer menjawabnya sambil berjalan masuk.
"Ini adalah tempat pengungsian."
"Eh!? Jangan bilang..."
Sang healer melirik ke arah Zena yang tidak percaya dengan ucapan sang healer.
"Ya, perang telah dimulai. Kamu sangat beruntung hanya menerima luka gores di beberapa bagian tubuhmu."
Sang healer itu kemudian duduk di kursi yang berada di tengah tenda itu dengan meja berlaci di depannya. Dia kemudian menulis sesuatu dengan menggunakan sebuah bulu yang telah dicelupkan dalam cairan hitam.
Apakah itu tinta? Pikirku sambil melihatnya.
"Sepertinya sampai saat ini belum ada korban ya..."
Sang healer kemudian memakai sebuah kacamata yang berada di depannya.
"Ano... Yang anda tulis?"
Zena menanyakannya kepada sang healer yang sedang sibuk menulis yang terkadang menyangga kacamatanya yang hampir jatuh.
"Hm? Buku harianku."
Ucapnya. Dia kemudian menunjukkan sebuah buku besar dari atas mejanya.
"Oh, ngomong-ngomong, kamu ini seorang elf ya?"
Ucap sang healer yang tengah menulis. Dia bahkan tidak melirikkan matanya sekalipun dari catatan hariannya.
"Eh? Ya, aku seorang elf.."
Zena kemudian menjawabnya dengan ragu.
"Hah.... Seharusnya kamu itu memakai sesuatu untuk menutupi kepalamu itu..."
Dia kemudian mendesah kesal dan menghentikan gerakan tangannya yang terus menulis.
"Apakah ada hubungannya dengan semuanya?"
Aku kemudian menyela percakapan mereka berdua.
"Tentu saja untuk menutupi identitasnya bahwa dia elf."
Dia kemudian dengan kesal menghela nafasnya kembali.
"Tetapi selama ini kami baik-baik saja.."
"Hah... Kamu ini..."
Ah, sepertinya dia mencoba mengatakan bahwa ras elf adalah yang paling sering menjadi budak. Karena ras elf tidak hanya kuat, mereka juga cantik, dan proporsi tubuhnya yang bagus membuat ras lain menjadi tertarik untuk memilikinya. Kebanyakan mereka akan menyerbu mereka demi mendapatkan elf. Mereka akan membunuh elf pria dengan kejam.
Aku kemudian memotong sang healer yang hendak berbicara.
__ADS_1
"Ah, aku sudah paham."
Sang healer kembali menghela nafasnya kemudian kembali menulis. Dia kemudian kembali melirik lalu berkata.
"Ngomong-ngomong, namaku Sefi. Namam-!?"
Sebelum sempat mengatakannya, telinga elfnya yang mencolok telah berubah menjadi telinga manusia.
"Eh!? Manusia!?"
Dia kemudian meletakkan alat tulisnya dan mendekat. Dia lalu hendak memegangnya tetapi aku menghentikannya.
"Oi, hentikan itu.. Kamu menakutinya."
"Ah!!"
Sambil menarik kembali tangannya dia dengan panik menenangkan dirinya.
"Apa itu!? Kenapa!? Berubah!?"
Dia kemudian mulai panik kembali.
"Itu hanya sihir..."
Aku menghela nafasku lalu kemudian berjongkok dan menyentuhkan tanganku dengan batu.
"Itu hanyalah sihir..."
"Eh!?"
"Lihatlah...."
Aku kemudian kembali berdiri dan menggenggam sebuah batu yang tadi aku ambil.
"[Mirage]."
Seketika tanganku bersinar kuning keemasan lalu menghilang dalam sekejap.
Aku menghela nafasku lalu mengacungkan kepalan tanganku dan membukanya dengan posisi telapak tangan menghadap ke atas.
Di tengahnya terdapat sebuah kepingan mithril. Seketika mata Sefi terbelalak melihat sebuah logam yang pali g terkenal mahal di tanganku.
"Eh!? Ini bukan asli, kan?"
Dia dengan panik melihatnya. Hm...? Dimana martabatnya dan ketenangan tadi?
"Ini hanyalah ilusi."
"Eh!?"
Karena ucapannya terlalu keras, Meli yang tertidur di pangkuan Zena terbangun.
"Hmng....?"
"Ah..."
Zena kemudian kembali mengelus kepala Meli yang tidak sengaja terbangun.
"Dengan sihir ini kita bisa mengelabuhi penampilan."
Jelasku kepada Sefi yang tengah melihat batu yang telah berubah menjadi mithril.
"Itu hanya bertahan selama 1 hari, jadi tidak disarankan untuk mengubah sesuatu menjadi uang atau barang berharga."
Aku melanjutkan penjelasanku kepada Sefi yang masih saja melihatnya.
"Andaikan aku bukan seorang healer..."
Dia kemudian sedikit kecewa pada dirinya karena jobnya. Job healer hanya bisa menggunakan sihir penyembuh dan sihir pendukung, sedangkan sihir [Mirage] adalah sihir pelengkap.
"Yah, itu namanya takdir sih..."
__ADS_1
"Oh iya, ngomong-ngomong pedangmu itu mithril kan?"
Hm? Matanya tajam...
"Eh? Ah... itu hanyalah besi kau tahu?"
"Pembohong... Ya sudahlah, kalau begitu nama kalian?"
Dia kemudian mengalihkan topik itu dan kembali ke pertanyaan awalnya. Sifatnya yang bermartabat dan tenang kembali kepadanya. Dia telah menjadi wanita anggun!!
"Namaku Luke. Dia ini Zena, dan anak ini Meli."
Ucapku sambil menunjuk orang di belakangku.
"Heh.. Tetapi rambut birumu itu sangatlah cantik ya.."
Sefi yang melihat itu kemudian menatap pada rambut Zena.
Karena ucapannya itu aku ingin mengucapkan 'Geh!? Dari tadi kamu itu kenapa!? Bukanya dari awal kamu sudah melihatnya!?' tetapi aku menahannya karena Meli akan terbangun.
"Ah, Terima kasih pujiannya, tapi rambut ini juga agak menyebalkan."
Dia tersenyum kaku karena pujiannya itu.
"Eh? Apa maksudmu? Itu sangatlah indah loh..."
"Sebenarnya rambut ini akan berubah warnanya jika aku memberikan sihir yang berlebihan."
"Eh? Hebat..."
Hm? Berubah? Aku berusaha mengucapkannya tetapi aku tetap menahannya.
"Terima kasih."
Ucapnya tersenyum tulus karena pujian Sefi yang terus menerus disampaikannya dengan tulus.
"Uwa.... Walaupun sudah seperti manusia kamu tetap sangat cantik...."
"Fufu.."
Zena sedikit menutupi mulutnya yang terbuka karena tertawa.
Setelah berbicara sedikit dengan Sefi kami kemudian keluar untuk mencari tenda pengungsi yang masih sepi. Korban jiwanya masih belum ada ya...?
Terlihat sebuah asap dari arah dekat alun-alun tampaknya sebagian prajurit dan petualang sedang bertarung melawan makhluk iblis itu.
...****************...
Disisi lain, Sang raja iblis misterius beserta penasihatnya tengah dalam perjalanan menuju kota Yuma. Mereka yelah mengutus satu Makhluk iblis bernama Greole. Makhluk iblis itu adalah yang paling berbeda dari yang lainnya. Bisa disebut monster tetapi dia memiliki kecerdasannya sendiri.
"Hm... Rencananya berhasil ya...?"
"Ya, sepertinya orang sialan itu dan Greole telah berhasil menyusup."
Ucap sang penasihat sambil berjalan di dekat singgasana sang raja iblis misterius. Singgasana itu diangkat oleh beberapa makhluk iblis lainnya dan berjalan dengan perlahan.
Derap langkah mereka terdengar jelas sampai area sekitarnya. Rencana mereka telah berhasil dan kini tengah menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.
"Raja iblisku, ijinkan kami membunuh manusia yang berada di sekitar hutan ini."
"Hm? Lakukan sesukamu."
Dia menjawabnya dengan acuh tak acuh lalu melihat kembali ke depan dengan tangan kirinya menyangga kepalanya.
"Sepertinya tinggal masalah waktu ya... Hm... Apakah akan terjadi kemenangan...? Sepertinya kemenangan akan menjadi milikku."
Dia kemudian tertawa jahat setelah mengatakan semua itu. Dia dengan segala rencananya telah berhasil menyerang salah satu kota besar, kota Yuma.
Tetapi dia tidak menyadari bahwa ancaman yang sesungguhnya ada di kota itu. Benar, seorang dengan kemampuan pedang yang sangat hebat.
Continue....
__ADS_1