![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
Aku membuka kedua mataku. Dengan sedikit mengantuk melihat sekeliling. Seolah masih malam, aku melihat ke segala arah. Rasa kantuk ku tahan demi melihat situasi. Jendela yang tertutup menambah kesan menyeramkan pada rumah ini.
"Hm...."
Aku duduk termenung diatas tempat tidur yang berantakan. Disebelahku Zena tergeletak lemah dan belum terbangun dari tidurnya. Aku memutuskan untuk berdiri dan mengecek pedangku.
"Hilang?"
Aku mengusap mataku seolah tidak percaya apa yang terjadi. Dengan segera melihatnya kembali dan benar-benar hilang. Lalu dengan segera berlari dan membangunkan Zena yang masih tertidur.
"Zena, bangunlah."
"Hm...?"
Dengan perlahan kesadaran Zena membali. Dia membuka matanya perlahan dan mengusapnya lalu menguap. Dia duduk di tempat tidur dan melihatku yang membangunkannya.
"Ada apa sayangku...?"
Dengan nada sedikit malas dia bertanya.
"Dimana pedangku? Aku ingat disini terakhir aku menaruhnya."
Ucapku.
"Hm..?"
Dengan perlahan dia turun dari tempat tidur dan melihat sekitarnya dengan mata yang lesu. Rambut birunya terurai karena tidak diikat.
"Oh, Rapierku juga menghilang?"
Ucapnya terkejut tetapi dengan nada sedikit malas.
"Hah?"
Aku kemudian membalas perkataan Zena dengan sebuah pertanyaan singkat.
"Aku juga menaruhnya disini.."
Ucapnya yang kemudian mulai sedikit panik.
"Sigh, sepertinya desa ini memang sudah aneh, kita lengah."
Dengan segera aku sedikit membuka pintu secara perlahan dan melihat sekeliling menggunakan celah pintu. Tidak ada orang di sana. Bahkan ladangnya kering.
"...."
Aku terdiam sejenak melihatnya.
"Kewaspadaan kalian memanglah kurang ya.~"
Ucap seseorang dengan nada aneh dari belakang kami.
"Siapa itu?!"
Dengan cepat Zena berpindah dari belakang menuju dekatku.
"Oh, hanya aku."
Ucapnya dengan nada angkuh. Matanya yang merah menyala tampil keluar dari bayangan kegelapan. Dengan sarung tangan hitam yang dia pakai dan pakaian berjas hitam sambil mengenakan topi sulap berwarna hitam.
"Hehe, santapan lezat telah ditemukan."
Ucapnya meringis sambil mengeluarkan gigi taringnya.
'Vampire' Salah satu ras Demon yang licik. Mereka meminum darah manusia atau ras lain untuk bersenang-senang. Makanan kesukaan mereka adalah daging segar tanpa dimasak dan bumbu sedikitpun. Mereka sangat jarang ditemui jadi, sulit membedakan mereka dengan orang lain tanpa melihat taringnya.
"Vampire! Jadi selama ini kamu adalah Vampire..."
Ucapku sambil terus waspada.
'Vampire' yang kulitnya pucat dan dingin berarti mereka tidak meminum darah selama beberapa hari. Bisa dibilang mereka adalah maniak darah. Namun yang ini sepertinya sudah memakan banyak korban, tidak salah lagi disini ada ras lain yang hidup.
Mereka lemah terhadap cahaya karena matanya yang mirip dengan kelelawar. Mereka sangat sensitif bila bertemu cahaya jadi mereka menghindari kontak langsung dengan cahaya matahari.
"Tanpa senjata, bisa apa kau? Tidak ada cahaya matahari, bahkan hanya ada kalian berdua dan rakyatku!! Kuhahahhahhahaha!!"
Sambil terus tertawa dia dengan angkuh berjalan sedikit demi sedikit sambil menjilat bibirnya dengan taring yang sedikit dikeluarkan.
'Vampire' memiliki beberapa kasta. Kasta tertinggi bernama 'Viscount'. Dalam kasta ini mereka merupakan Demon tingkat atas yang memiliki kekuatan paling besar. Berikutnya ada di bawahnya 'Arch duke' Memiliki ketahanan sihir yang hampir sama dengan 'Viscount' namun kekuatan sihirnya berada di bawahnya. Dan yang terakhir adalah kasta 'Rakyat' Mereka hanya vampire biasa yang memiliki kekuatan sihir lebih besar daripada manusia namun lebih kecil dibandingkan dengan 'Arch duke' mereka biasanya dipimpin oleh 1 'Arch duke'. Kelemahan dari Kasta 'Ach duke' dan 'Rakyat' adalah lemah terhadap cahaya matahari karena matanya yang sensitif. Berbeda dengan 'Viscount' mereka bisa menyesuaikan mata mereka dengan baik bahkan ketika terkena sinar matahari.
"Tcih!"
Dengan cepat tanganku menghantamnya namun digagalkan dengan satu tangkisan tangannya.
__ADS_1
"Hyat!"
Zena menendang ke arah pinggangnya. Namun juga digagalkannya dengan satu tangkisan.
"Hm... Sangat lemah. Santapan seharusnya tidak boleh melawan. Hanya cukup diam dan menunggu giliran.~"
Ucapnya dengan nada aneh itu.
Setelah digagalkan, kami berdua segera mengatur jarakku dari Vampire itu.
"Oya? Mencoba untuk menghindar?"
Dia terus memprovokasi kami berdua.
"...."
Aku dan Zena terus waspada sambil mengawasi celah untuk kabur. Saat ini, keselamatan jauh lebih penting daripada senjata. Vampire ini sedang mempermainkan kami berdua.
"Hei, para rakyat, ada makanan di sini loh.~"
Ucapnya.
Pintu mulai berdobrakan, beberapa vampire mencoba mendobrak masuk.
"Haha, situasi kalian tidak menguntungkan yah.~ Aku akan senang bila kalian ingin aku santap."
Ucapnya yang kemudian menjadi sangat senang.
"Hah...! Hah..! Darah segar..! Milikku..! Kuhahahhahaa!!"
Dia dengan suaranya yang mulai terdengar menjijikkan berteriak sekuat tenaga seolah menemukan sesuatu yang lezat.
*Brak!!
Pintu telah terbuka dengan paksa. Namun, bukan para vampire Rakyat yang datang. Sebuah busur meluncur.
*Spratt!
Dan menusuk bagian bahu kanan milik vampire itu.
"Ugh!?"
Dia kemudian mundur sejenak.
Dengan cepat dia berubah menjadi bayangan dan menghilang.
"Seperti yang aku duga... Kalian berhasil lolos darinya!?"
Seorang beastman?
Aku dan Zena yang lega kembali terkejut.
"Oh, uh... Ya..."
Jawabku.
Seorang Orang tua dengan rambut dan kumis yang agak panjang keluar dengan telinga rubah dan ekor rubahnya berwarna pirang. Badannya sedikit tinggi dan gagah dengan satu penutup mata pada mata kirinya. Menggunakan sebuah busur dan anak panah di punggungnya.
"Hm... Seorang pemuda manusia dan elf ya..."
Ucapnya. Di dekatnya terdapat sebuah pedang dan rapier lengkap dengan sarungnya.
"Oh!? Paman! Pedang itu!!"
Aku menunjuk kedua pedang itu.
"Oh? Aku menemukannya ketika sedang berburu vampire."
"Anu... Itu pedang kami..."
Zena menjawabnya dengan nada kecil.
"Oh? Benarkah? ini, ambilah. Lain kali berhati hatilah, di sini merupakan wilayah Vampire."
Bagi Vampire 'Arch duke' Dan 'Viscount' mereka dapat menghilang meggunakan bayangan ketika mereka merasa terancam. Teknik itu hanya digunakan untuk kabur dan ketika terpojok. Teknik itu tidak dapat digunakan semena-mena karena hanya bisa digunakan satu kali sehari.
"Ah... Terima kasih paman!"
Ucapku menerima kedua pedang itu. Aku kemudian memberi rapier itu kepada Zena.
"Apa yang dilakukan kalian di wilayah vampire ini?"
Ucapnya bertanya.
__ADS_1
"Uh... Untuk rinciannya akan kami jelaskan saat dijalan. Jadi bisakah kami ikut ke desa terdekat?"
Ucapku kepada paman itu.
"Ouh, tentu saja. Aku juga akan menceritakan beberapa tentang suku'ku."
Paman itu seolah tidak keberatan dan kamj berjalan bersama.
Dengan begitu perjalan menuju ras beastman tercapai.
.
.
.
.
"Jadi begitu... Kalian sudah menikah... Tetapi untuk kasus Half elf... Ini agak langka.."
Ucap paman itu.
Ngomong-ngomong nama paman ini adalah Url. Dia adalah seorang pemburu Vampire. Ini merupakan Job yang mirip seperti petualang. Namun berbeda pada jenis buruan. Petualang merupakan individu yang tunduk pada guild atau serikat untuk memenuhi beberapa quest yang akan dibayar nantinya ketika quest itu diselesaikan. Mereka biasanya menawarkan perburuan monster atau pengambilan tanaman herbal untuk dijadikan bahan material yang akan menjadikan senjata, potion, dan item lain. Sedangkan pemburu vampire adalah individu yang memburu vampire untuk mengontrol vampire supaya tidak melebihi batas dan merusak tatanan yang sudah ditata.
Bagi mereka pemburu vampire, mereka cenderung berparty atau berkelompok. Biasanya terdiri dari 4 orang. Satu sebagai assasin, Satu sebagai pemanah, Satu sebagai penyihir, dan Satu lainnya bisa menjadi support seperti healer atau penjinak atau tamer. Ketika suatu kelompok atau party menemukan gerombolan vampire mereka akan secara pasif menghabisi mereka secara tak kasat mata.
"Hm? Apa paman pernah mendengar kejadian yang sama?"
Aku bertanya kepadanya yang tengah mengingat-ingat kembali.
"Seingatku, Elf dan manusia bisa memiliki anak dan anak itu akan memiliki sebagian sihir dari ayahnya dan sebagian lagi dari ibunya. Mereka biasa disebut half-elf. ras tersebut masih tergolong ras human tetapi juga elf. Mereka spesial karena dilahirkan dengan sihir yang dapat mewakili antara manusia dan elf itu sendiri."
Ucapnya.
"Ciri dari half-elf adalah Telinganya yang runcing tetapi tidak seruncing milik elf."
Lanjut paman Url.
"Hm..."
Aku sedikit berpikir, ada yang aneh dengan anak itu. Ketika awal aku nertemu dengannya, seolah dia seperti anak hilang.
"Anu... mereka bukan anak kami, tapi anak angkat.."
Ucap Zena yang sedikit malu.
"Hm... Kasus yang langka..."
Ucap paman Url.
"Sepertinya ada yang sudah merencanakannya... Di awal aku bertemu, dia mengatakan bahwa ibunya berpindah menjadi manusia..."
Ucapku.
"Hah!?"
Paman Url yang mendengarnya terkejut.
"Dimana kamu mendengarnya!?"
Dia dengan serius bertanya.
"Ugh... Saat pertama aku bertemu..."
"Hm... Sepertinya ada beberapa ritual aneh yang dilaksanakan... dimana kaliam pertama kali bertemu?"
Paman Url bertanya sekali lagi kepada kami.
"Kota Yuma..."
Ucap Zena perlahan.
"Hm... Kota itu.... Kabarnya kota itu membuat beberapa ritual tapi tidak kusangka mereka berbuat demikian..."
Ucap paman Url sambil mendesah pelan.
"Hm? Kabar?"
Karena penasaran aku bertanya.
"Ya... "
Continue.....
__ADS_1