Re [Life] : Incarnation

Re [Life] : Incarnation
Perjalanan yang Melelahkan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Aku terbangun masih di sebuah pangkuan. Aku kemudian mencoba untuk duduk dan melihat sekeliling. Seseorang yang meletakkan kepalaku di pangkuannya sedang tertidur dengan posisi duduk.


"Uh... Badanku sudah kembali..."


Sambil bergumam, aku kemudian duduk dan meninggalkan pangkuan Zena sang elf.


Sepertinya paman Kai sudah mendengarnya dari orang orang ini, aku tidak perlu menjelaskannya.


"Uhm...?"


Zena sang elf terbangun karena sebuah beban dari pahanya menghilang.


"pagi Zena. Tidurmu terganggu karena aku ya? Maaf ya."


"Tidak tidak tidak, tidurmu sangat lelap loh. Wajah tidurmu bahkan terlihat bahagia."


Dia mengucapkannya dengan suara yang semakin mengecil. Wajahnya menjadi merah padam, dan sikapnya menjadi malu.


"Ahaha, tidak, tapi terima kasih. Pangkuan mu adalah yang terbaik kedua setelah ibuku."


Wajahnya semakin merah setelah aku mengucapkannya. Ah... imutnya...


Suasana makin canggung karena ucapan ku. Yang lainnya masih tertidur, hawa dingin sedikit menusuk kulitku. Matahari mulai terbit sedikit demi sedikit.


"A-Ah! Terima kasih..."


Dia tiba-tiba membalas perkataan ku tadi setelah terdiam selama beberapa menit. Suaranya jelas terlihat menurun.


"humu.."


Sambil mengucapkannya, aku sedikit mengangguk. Suasana kembali canggung.


Aku harus bagaimana? Cara mencari topik dengan perempuan bagaimana? Berbagai pertanyaan keluar di pikiranku.


"Luke."


Dia memanggil namaku. Zena sang elf menunduk setelah mengatakannya.


"Hm?"


Aku menanggapinya, lalu menoleh kearahnya.


"Luke."


Dia mengucapkan kembali namaku. Aku semakin penasaran apa yang ingin dia ucapkan.


"Apakah kebetulan kami semua bertemu denganmu?"


"Ya, aku juga sedang dalam perjalanan ke kota Yuma."


"Oh."

__ADS_1


Jawabannya singkat, tetapi wajahnya menjadi tampak bahagia. Senyumannya sangat manis, dengan pipinya yang sedikit memerah.


"Berarti ini pertemuan oleh takdir....?"


Sambil menggumamkannya, wajahnya kembali menjadi merah padam.


Walaupun aku tidak mendengarnya dengan jelas tapi gumaman nya itu terlihat seperti sebuah pertanyaan.


"Zena, kenapa kamu tertangkap oleh penculik itu?"


"Eh!? A-ah.. It-it-itu karena aku berjalan sendirian di hutan dan tiba-tiba sekelompok orang datang menyerang ku...."


Dia segera menjadi tegang mendengar ucapan ku, lalu dengan refleks menjawabnya.


"Ahaha..."


Aku tertawa mendengar jawabannya.


"Eh!? Kenapa? Apanya yang lucu? Kenapa tertawa?"


Dia menjadi bingung melihatku tertawa.


"Tentu saja! siapa yang tidak akan tertawa jika seorang petualang yang keluar untuk menyelesaikan quest malah berakhir diserang sekelompok pencuri! ahahaha."


"Uuu.. Aku sudah berusaha melawan... Tapi aku kalah jumlah... Mereka sangat banyak, hingga aku kewalahan...."


Dia menyerah dengan suaranya menjadi kecil, dan malu malu, mengatakannya sambil melipat tangannya.


"Baik baik, aku tahu. Jadi? sekarang bagaimana? Quest akan dibatalkan dalam berapa hari?"


Dia menjawabnya dengan putus asa. Nada suaranya menjadi tidak bersemangat menjawabnya.


"Lalu? sejak kapan kamu tertangkap?"


"Tiga hari yang lalu..."


Dia mengatakannya dengan Nada putus asa. Matanya bahkan hanya melihat ke bawah.


"Baiklah... Maafkan aku. Aku yang salah."


Sambil mengangkat tanganku, aku mengucapkannya.


"Tidak, tidak apa kok."


Dia tersenyum mendengarnya.


"Lalu? Apakah kamu punya uang yang cukup untuk makan di kota?"


"Ugh.... Uangku dicuri oleh mereka... aku mengambil quest mencari obat karena aku sedang mengumpulkan uang untuk membeli pedang yang baru... pedangku ini sudah hampir rusak..."


Sambil menunjukkan sebuah rapier yang panjang dan tipis. Beberapa bagian dari pedang itu sedikit berkarat.


Ngomong-ngomong, Rapier adalah nama pedang. Rapier biasanya memiliki bentuk panjang dan kecil. Karena bentuknya yang panjang dan kecil, pedang ini sangat ringan dan lentur. Bentuknya seperti pedang eropa. Sangat efektif pada pertempuran jarak menengah, dan akan kesulitan dalam jarak dekat. Tetapi karena keringanan pedang itu, sangat mudah untuk mencari jarak.

__ADS_1


"hm... Begitu ya.. Sepertinya aku harus membagi hasil jarahan para pencuri itu kepada mereka semua juga."


Ucapku bergumam.


Sementara aku bergumam, paman Kai sedikit terbangun.


"Uh... Sudah pagi ya..."


Dia mengusap usap matanya setelah duduk.


pada akhirnya hari ini, aku membagi hasil jarahan ke semua orang, dan kemudian melanjutkan perjalanan.


Perjalanan hari keempat.


Tidak ada yang terjadi. Jalanan Hutan terlihat sepi, Keberadaan hewan di sekitar sini sangat banyak muncul. Mungkin karena skill milikku? Aku ingat pernah memiliki skill [Mapping] saat bermain WWO.


Skill [Mapping] adalah skill untuk mendeteksi keberadaan semua yang ada disekitar map. Skill ini merupakan jenis sihir yang simpel. Dengan menyebarkan sedikit sihir ke seluruh badanmu, maka sihir itu akan menerima tanggapan sihir dari sekitarnya. Skill [Mapping] sangat berguna untuk perjalanan entah di Dungeon atau perjalanan antar kota. Walaupun kebanyakan player akan lebih memilih teleport sih...


Perjalanan hari kelima.


Hari ini kami menerima serangan dari kelompok monster. Monster itu sepertinya adalah Shadow Wolf. Mereka biasanya berkelompok untuk mencari makannya. Tergolong monster karena memiliki skill [Shadow Walk]. Skill yang memudahkan berjalan dalam bayangan. Skill ini begitu merepotkan saat aku masih bermain WWO, apalagi level mereka itu berada pada level 100. Kelincahan mereka juga cepat, disertai dengan serangan mereka.


"Wouuuuuuuuuu....."


Shadow wolf itu melolong saat mereka hendak menyerang.


"Sial! Mereka meminta bantuan yang lainnya!"


Sambil Mengambil pedang pada saku ku, aku bergegas menuju depan kereta dan melindungi kuda yang menarik kereta.


Untuk 3 Phanterian, mereka mengambil dagger mereka masing-masing dan mengambil sisi belakang kereta. Zena sang elf, mengambil pedangnya dan bersiap untuk bertarung mengambil sisi kanan kereta. Kesatria kerajaan dan mata mata kerajaan juga mengambil senjata mereka masing masing melindungi bagian kiri kereta.


Mereka menyerang saat malam. Padahal ini hari terakhir, dan besok seharusnya sampai di gerbang kota Yuma, tetapi kenapa malah begini!?


Sementara terus bertarung, beberapa goblin juga ikut campur dalam pertempuran. Goblin adalah makhluk hijau yang memiliki tubuh mirip manusia, tetapi ukurannya sebesar anak manusia berusia 6 tahun.


Mereka suka menculik lalu memperkosa perempuan itu. Mereka tidak suka membunuh mereka tetapi memainkan mereka hingga ***** mereka puas. Berbeda jika seorang laki-laki yang muncul, mereka akan menjadi buas dan membunuh dia.


Mereka digolongkan monster lemah. Tetapi ada kalanya disebut sebagai penakluk karena dia belajar dari hal hal yang baru. Lebih mengerikan bahkan ketika mereka menjadi sekawanan atau mungkin menjadi desa goblin. Mereka memakan apapun yang mereka temui. Rakus, kotor, *****, dan sombong menjadikan sifat mereka sangat-sangat menjijikkan.


"Tch! Goblin!"


Sambil mendecakkan lidahnya, kesatria wanita Sera, mengucapkannya dengan nada kesal.


"Goblin!? Aku harus membalaskan dendam adikku!"


Ucap salah satu perempuan Phanterian. Sepertinya dia menanam dendam pada goblin. Suara itu terdengar dari pacar Heis, sepertinya adiknya dibunuh oleh goblin.


"Goblin ya..."


Sedangkan Zena sang elf bergumam seolah dia Jijik dengan nama itu.


Aku menghiraukan semua perkataan atau gumaman yang mereka sebutkan satu-persatu dan terus melawan Shadow wolf bersamaan dengan goblin. Paman Kai bersembunyi di keretanya yang berisi berbagai barang dagangannya. walaupun muat untuk kami semua sih...

__ADS_1


continue...


__ADS_2