![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
Tak terasa malam berlalu, aku terbangun dengan seorang sosok yang tengah duduk sambil seperti mengatur sesuatu di layarnya, Dia bergumam "Nasib yang malang...". Aku melihat sekeliling seolah aku tidak mendengar perkataannya. Hanya beberapa angin yang menerpa ditemani cahaya pagi yang cerah.
Tanpa berpikir dengan suasana disekitar yang hening, aku berdiri dan merenggangkan tubuhku. Terlihat Zena yang tertidur pulas membuatku menjadi sedikit tertarik untuk melihatnya dari dekat.
"....."
Satou melihatku dengan tatapan iri. Ugh... Biarlah apa yang dipikirkannya...
"Hm, Pagi, cukup awal kau bangun."
Aku menyapa Satou yang terhenti karena menatapku.
"Yaah, aku cukup terbiasa dengan bangun pagi.. Itu mengingatkanku pada pekerjaanku..."
Hm? Aku ingat lagi dia seorang raja iblis... Pasti berat untuk berpikir seperti itu.
"Sementara mereka belum bangun, apa yang akan kau lakukan?"
Dia bertanya sambil meneruskan kegiatannya.
"Uh? Aku mungkin akan mencari beberapa ranting dan batu untuk api unggun?"
"Baiklah, kalau begitu cepat siapkanlah... Aku sedikit lapar karena menunggu."
Dia mengusirku sambil terus melakukan kegiatannya yang entah apa yang dia lakukan.
"Hah... Baiklah, aku pergi... Jaga sekitar, segera kirimkan ledakan ketika ada musuh mendekat."
"Aye, aye... Akan segera kulakukan tanpa kau suruh..."
Dia melambaikan tangannya sambil berkata demikian...
Hah.. Cukup menyebalkan untuk seorang yang kuat... Apa boleh buat...
Dengan sedikit kesal kepada Satou, aku berjalan menuju hutan di dekat tempatku berkemah.
"Hm..?"
Aku melihat beberapa kejanggalan di hutan itu, seperti bekas cakaran yang ada di batang pohon.
"Hm..."
Aku menyentuh bekas cakar itu dan sepertinya cakar itu baru, Apa yang terjadi semalam?
Tanpa memikirkan itu, aku segera mengumpulkan ranting untuk membuat api unggun. Setelah api jadi, Zena memasak makanan, aku dan Satou sedikit berbincang bintang mengenai serangan tadi, menurutnya kekaisaran sedang mencari keberadaan seseorang yang dianggapnya penting, walau dari informasi yang dia terima bahwa kekaisaran adalah kerajaan yang memiliki raja dengan sifat baik, ramah, dan suka membantu sebenarnya tidak juga, bahkan kekaisaran sekarang ini sudah sedikit melenceng dengan menyembah dewa chronos atau bisa dibilang mungkin kaisar mereka yang baru adalah penganut sekte Chronos. Sangat disayangkan begitu pula untuk kami yang diserang.
"Okeh, setelah kenyang, aku akan berpisah dengan kalian, yah... Ini berhubungan dengan seseorang."
Ucapnya yang lalu berdiri.
"Sisanya terserah kalian mau apa."
"Baiklah, jika kamu memang ingin pergi, lagipula aku tidak terlalu mempermasalahkannya, justru kami yang membuatmu repot bukan?"
Ucapku sambil menaruh sebuah piring kayu.
__ADS_1
"Tidak, menurutku tidak merepotkan, justru aku mendapatkan buruanku ketika aku menolong kalian. Sedikit petunjuk untuk itu jadi terima kasih."
Ucapnya berjalan menjauh sambil melambaikan tangannya tanpa memandang searahpun ke kami. Orang yang aneh...
Setelah perpisahan itu, kami pun segera kembali ke kerajaan untuk mengecek keadaannya. Semoga menjadi lebih aman dan tidak perlu sesuatu yang merepotkan.
Akhirnya kami memutuskan kembali ke kerajaan namun ketika kami kembali, salah seorang prajurit kerajaan mendekati kami dan berkata, "Apakah anda kenal dengan seseorang yang bernama Meli?"
Seketika aku terdiam dan teringat, Ah! Nama itu..? Darimana mereka tahu nama itu?
"Ya kami mengetahuinya tetapi, mengapa pihak Kerajaan mengetahui nama itu?"
Zena seketika menyaut dengan cepat memeluk Meli.
"Ah, kalau begitu kami harus ikut—"
"Tidak perlu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Mama! Papa! Aku baik baik saja kok!"
Sang prajurit terkejut bahwa orang yang dicarinya didepan mata.
"Tidak, tapi apa yang akan mereka perbuat?"
Ucapku membela Zena.
"Meli yang terhormat, bisakah anda ikut dengan saya ke istana?"
"Mhm! Tentu. Mama, papa, bisakah kalian menunggu? Aku mungkin akan lama."
Lalu dengan berat hati kami memperbolehkan dia pergi bersama prajurit itu. Sangat sepi di sini tanpa kehadirannya, yah.. Inilah hidup mari kita terima apa adanya.
Ucapku sedikit menggoda.
"Terlalu lambat untuk itu tapi mari kita coba lupakan hal ini."
Yang kemudian dia menarik tanganku dan menggandengnya. Ah.. Kapan lagi akan seperti ini bukan?
Hari itu, kami berdua menghabiskan waktu hanya berdua, dengan berkeliling kota, membeli makanan di kota, berkunjung ke panti asuhan dan kemudian sore hari, kami duduk di sebuah air mancur yang sedikit hancur karena peperangan kemarin. Hari yang damai...
Namun tidak lama setelah itu, terdengar beberapa teriakan dari arah luar gerbang, para penduduk yang tadinya santai dan tenang, berubah menjadi panik dan berlarian, di sisi lain, tentara kekaisaran datang dengan pasukan lengkap dengan armor tebal.
Mereka dengan mudahnya membunuh para warga sipil. Kekacauan terus berlanjut dengan pasukan kekaisaran yang semakin banyak masuk kedalam kota.
Sialan! Kekaisaran apa yang mereka pikirkan?
Salah seorang prajurit yang tengah melawan beberapa pasukan terlihat kewalahan.
*Ctang!
"Hei, apa yang terjadi!?"
Ucapku membantu prajurit itu.
"Pasukan kekaisaran mengepung kita, kita tidak bisa melakukan apapun!"
Hah? Kamu ini gila? Secepat apa mereka bersiap!? Apa pasukan Kerajaan tidak melihat tanda tanda invasi sebelumnya!?
__ADS_1
"Tch! Keadaan ini... Cepat lapor pada raja! Aku akan mengurus ini!"
Ucapku yang kemudian mengambil alihpertarungan.
"Zena! Bantu evakuasi penduduk lewat jalan itu!"
Bisa dibilang jalan rahasia yang ditunjukkan Meli ketika serangan pertama, aku tidak mengerti mengapa dia begitu familiar dengan tempat ini?
Ketika aku tengah melakukan pertahanan, tiba tiba sang jendral datang dan menyerang. Zena yang tengah mengevakuasi dengan segera mencegat sang jendral untuk membunuh orang yang tengah dia selamatkan dan bertekad untuk bertarung melawan jendral. perlawanan yang sia-siamembuat dia kemudian dengan mudahnya memojokkan Zena.
"Hahaha! Matilah kau dasar elf pengganggu! Walaupun sepertinya bagus menjadi budak, tapi kamu sangat mengganggu!"
*Shut!
Sebuah serangan tepat mengenai jantungnya.
"Khk! Zena!??"
Seketika aku berlari tanpa peduli dengan serangan apapun dan mendekat. Darah yang mengalir deras tanpa henti, sudah jelas dia mati bukan? Aku mendekap tubuhnya yang sudah tak bernyawa bersimbah darah. Dengan rasa kesal yang tak termaafkan. Seluruh rasa kesedihan, rasa putus asa, amarah, dendam yang membara bergejolak dalam diriku. Seolah merajalela dan mengendalikan tubuhku, aku berteriak kencang frustasi karena perintahku sebelumnya membuatnya terbunuh.
Ah.. Dunia ini menyebalkan, orang tuaku meninggal karena serangan satu arah, sekarang Meli juga tidak disini, Zena sudah tak bernyawa... Apa yang harus kulakukan? Pedang hitam kutarik dari sarungnya, seolah semua rasa yang merajalela, menghilang dan hanya bayangan gelap. Kemudian muncul suara seperti "Karenamu aku mati!" "Hahaha! Lemah!" "Woi, kamu jangan terlalu percaya diri" suara suara itu membuat mental ku menjadi sedikit hancur. Walau sedikit saja rasanya sangat menyakitkan..
Aku melepas dekapanku dan tersenyum menyeringai seperti seorang yang kehilangan akal.
"Ahahaha... Pasukan kekaisaran..? Semua milikku sudah kau renggut.. Ahahaha!"
Sang jendral yang melihat perubahan mentalku pun terkejut.
"Haha! Apa apaan mentalmu? Lemah sekali!"
Seolah dia merasa bahwa akulah yang terlemah, Entahlah saat ini aku hanya dikendalikan oleh hawa nafsu..
"Ahahaha? Benarkah begitu...?"
Ucapku yang kemudian meluncur dengan kekuatan 6 kali lipat dari sebelumnya.
*Ctang!
"Ughk!? Kekuatan apa yang kamu pakai!?"
Sang jendral yang menahan serangan itu pun sedikit terkejut tapi kemudian dia mulai menjadi tenang kembali.
"Ahaha, heyat!"
Pedangku yang sebelumnya hanya sebuah pedang hitam kini memiliki nyala sedikit ungu. Pedang itu mampu menebas area belakang sehingga separuh dari kota hancur karena tebasanku.
Sang jendral yang berhasil menahannya terkejut karena kehilangan pasukannya.
Dalam pikiranku yang kosong tertulis 'Limit break' seakan menyuruhku untuk membacanya.
Limit break?
"Limit Break!"
Continue...
__ADS_1