![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
Setelah selesai berbicara kami diantar pada tempat dimana kuda diikat dan dibersihkan. Mereka meminjamkan kami 2 kuda tetapi Zena dengan cepat menolak dan hanya meminta 1 ekor kuda.
"Kalau begitu, saya permisi dulu."
Sambil menunduk sedikit dia meninggalkan kami.
Aku kemudian segera menaiki kuda terlebih dahulu, kemudian aku mengulurkan tanganku untuk membantu Zena naik. Dia duduk di depanku. Sambil bertingkah senang, kami berangkat menuju arah mereka pergi. Mereka menuju ke barat dimana ada kota bernama kota Erefu.
Dengan suara kaki kuda berjalan, kami mulai keluar dari bekas desa dan menuju ke kota Erefu. Menurut cerita, kota itu adalah kota elf. Rumor yang berkata bahwa di kota itu ada banyak rumah yang menempel dengan pohon atau bahkan menggunakan pohon sebagai rumah. Ras elf sendiri juga merupakan ras milik Zena. Beberapa elf memiliki kepribadian yang baik walaupun ada juga yang memiliki kepribadian buruk.
Untuk sampai dengan kuda, kami perlu 11 hari dari desa halm. Untuk beberapa saat kami diberikan juga tas yang berisi makanan yang cukup untuk mencapai kota. Kota erefu merupakan kota yang dibangun oleh high elf. Dikatakan bahwa high elf tersebut bersama beberapa temannya membuat daerah hutan yang berbahaya menjadi sebuah kota yang saat ini menjadi bagian dari kerajaan Asma.
"Luke, mulai sekarang kita akan tinggal dimana?"
Sambil melihat ke depan dia bertanya padaku.
"Hm.. Untuk sementara pikirkan itu nanti, aku juga tengah bingung. Para warga yang mati terkena serangan juga telah terkubur dengan layak. Mungkin kita akan lihat di kota Erefu."
Ucapku yang tengah mengendalikan kuda. Setidaknya hari ini sangat merepotkan... untuk sementara aku akan melakukan ini, dan untuk selanjutnya aku akan tidur sepuasku setelah menyewa penginapan untuk bermalam...
.
.
.
.
Sementara itu di sisi lain kota Erefu, terdapat seorang elf muda yang memiliki rambut hitam, walaupun dia terlihat seperti perempuan, dia sebenarnya adalah laki-laki. Dia berkata pada teman dwarfnya yang secara harfiah, hubungan antara elf dan dwarf tidak pernah berhenti bermusuhan.
"Hey kalian tahu? Aku dapat kabar dari beberapa prajurit jika kita kedatangan manusia."
Ucap elf berambut hitam itu dengan nada sedikit bermasalah.
"Hm? Apa mereka pengungsi? Aku dengar desa bernama Halm diserang oleh kekaisaran?"
Balas dwarf yang tengah duduk di sebuah jembatan.
"Ha.... entah sampai kapan manusia akan berhenti egois dan hidup damai..."
Elf itu mendengus kesal dan kemudian duduk di sebelah dwarf yang tengah duduk di bibir jempatan tanpa takut jatuh.
"Itu seperti mimpi yang mustahil tercapai lho! Hahaha!"
Sang dwarf tertawa mendapati ucapan elf itu dengan riang sambil memukul punggungnya dengan keras.
"Aw!! Itu sakit kau tahu!?"
Mereka berdua pun tertawa. sambil ditemani sinar mentari yang hampir tenggelam di bibir jembatan. Sesaat mereka berhenti tertawa dan kemudian melihat kearah air jenih yang berada di bawahnya.
"Bagai ikan yang tenang, aku tidak tahu kapan ketenangan akan terus ada di kota ini..."
Sang elf mendahului dwarf yang tengah merenung.
"Haha, jika kekaisaran sudah menempatkan langkah seperti itu, aku pikir tidak lama lagi mereka akan memperluas jangkauan dan kota ini akan jadi target keduanya... Aku harap pemerintah segera bertindak atas invasi ini..."
__ADS_1
Tidak terduga, mereka berdua adalah jenius? Mereka misterius.
"Ah... Uhm... Permisi... Bolehkah aku bertanya?"
Suara kecil yang terdengar itu membuat mereka berhenti bergumam tentang pemerintahan.
"Hm? Apa yang bisa kami bantu?"
Sang elf melihat sebaliknya dan kemudian dengan spontan mengatakan,
"Manusia?"
Dengan terkejut mereka kemudian terdiam beberapa saat dengan tatapan kosong.
"Ada apa dengan aku yang manusia?"
Ucap anak perempuan itu memecahkan keheningan.
"Eh? Uhm.. Tidak ada, hanya sedikit terkejut karena kau tiba-tiba menyapa.."
Ucap dwarf yang ada di sebelahnya menjelaskan.
"Ah, pastinya bukan..."
Sambil tersenyum tipis dia kembali bertanya,
"Aku ingin mencari orang tuaku, apa kamu tahu tempat-tempat disini? dan bisakah kamu temani aku mencari orang tuaku?"
"Ee... Kami tidak keberatan sih...?"
"Mengapa kamu bertanya tentang itu? apa kamu pengunjung?"
Sang dwarf yang penasaran menanyakannya tetapi sang elf berbisik,
"Hey, berhentilah bertanya yang aneh-aneh, dia mungkin terlalu sulit menghafal tempat disini!"
Sambil memukulnya agar segera diam.
Sementara itu, sang perempuan menjawab,
"Yap, Aku bukan dari kota ini, aku kehilangan orang tuaku ketika aku berada di tempat sebelumnya, aku pikir mereka sudah sampai di sini jadi aku butuh bantuan kalian."
"....."
Mereka berdua terdiam dan kemudian mengangguk. serta sang elf menjawab,
"Baiklah, akan ku antar ke setiap tempat di kota ini..."
"Terima kasih! Aku berhutang pada kalian! Ngomong-ngomong, namaku Meli! Senang bertemu kalian!"
Dia dengan senyuman tipis memperkenalkan diri.
"Ah, Aku Alvin... Dwarf disamping, Jorga... Senang bertemu denganmu juga..."
Dengan sedikit gugup sang elf memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo hantar aku ke setiap tempat!"
dengan begitu semangat, dia menarik kedua tangan mereka untuk segera berdiri.
"ya, ya... kamu sangat bersemangat untuk seorang perempuan kecil..."
Ucap Alvin yang mengejek Meli.
"Hehe, aku sangat bersemangat karena aku tahu aku akan bertemu mereka!"
Balas Meli yang melompat sambil menaikkan tangan kanannya setinggi mungkin.
"Haha, itu bagus untuk bersemangat, tapi setidaknya jangan buat perutmu lapar karena semangatmu... Kami juga tidak mempunyai uang jadi..."
Ucap Jorga yang sedikit bermasalah dengan Meli.
"Oh? Kalian tidak diberi uang?"
Meli kemudian bertanya smabil berjalan mundur karena memimpin mereka berdua.
"Uh... Sebenarnya kami yatim piatu... Kami tinggal di gereja dan sister mengurusi kami dengan baik..."
Jawab Alvin dengan sedikit gelisah.
"Ah.. maaf, membuatmu membahas sesuatu yang tidak kalian ingin bahas..."
"Tidak perlu bersimpati! Yang terpenting kita akan hantar kamu ke orang tuamu dan beres!"
Ucap Jorga yang menghibur Meli.
"Ahaha... Kalian sangat santai ya... mengingatkanku pada ayahku..."
Sedikit mengingat sifat Luke yang sangat santai menghadapi hari tetapi juga serius ketika bahaya mengancam. Sifat itulah yang membuat Meli dapat tenang sekaligus dekat dengan sosoknya.
"Ahahaha, itu terlalu spesial bahkan untuk kami yang yatim piatu.."
Alvin dengan sedikit malu menjawabnya.
"Kalau begitu bagaimana dengan ibumu? Ceritakan padaku!"
Jorga yang begitu penasaran berteriak semangat.
"Oh? Ibu selalu energik dan selalu serius... Aku pikir terlalu serius? Erm.. Dia lemah terhadap ayah... Eeem.. Berambut biru dan berhati lembut? Aku selalu menginginkan rambut birunya yang lembut itu..."
"Oh.. Aku paham apa yang kau rasakan... Aku juga sedikit iri kamu memiliki pengalaman yang berbeda dengan kami... Ah! Tapi jangan dipikirkan.. Kami terbiasa dengan ini jadi santai lah."
Ucap Alvin yang dengan khawatir menjelaskan.
"Hahahaha, lihat wajahmu sedikit kesal Alvin!"
Jorga yang melihatnya menggodanya.
"Ugh... Diamlah!! Hmph!"
Dan mereka pun tertawa bersama... Sambil terus mencari di setiap tempat yang mungkin.
__ADS_1
Continue....