![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
Aku memakan masakan buatan Zena dan Meli. Beberapa saat sebelumnya air mata secara tidak sengaja mengalir. Bukan tentang kesedihan tetapi kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan. Mereka berdua sempat panik melihatku menangis, aku memperingatkan mereka berdua bahwa aku hanya terlalu bahagia hingga terbawa suasana. Mereka dengan cepat mengerti dan kemudian tersenyum senang.
"Papa, hari ini aku membantu mama membuat makan malam!"
Meli membuka sebuah topik.
"Oh, benarkah? Lalu? Apakah sulit membantu mama?"
"Sangat sulit! Tapi karena Meli adalah anak baik, Meli tidak menyerah dan tetap membantu mama!"
Dengan bangga mengangkat garpu miliknya.
"Haha, kamu bersemangat ya."
Aku dengan santai mengelus kepalanya.
"Dia ini... Sudah dibilang untuk bermain saja, tetapi dia tidak ingin."
"Haha, sifatnya itu memang keras kepala jadi, biarkan saja."
Aku menenangkan Zena yang sedang sedikit kesal.
"Apa boleh buat."
Aku dengan ringan tersenyum kepadanya dan dia membalas senyumanku.
"Kalau begitu Meli akan membersihkan piring Meli sendiri!"
Dia dengan cepat berjalan menuju dapur dan segera bunyi air terdengar.
"Dia mulai lagi, haha.."
Aku mengucapkannya.
"Tidak apa, aku akan membantunya."
Dengan segera Zena mengambil piring kotor milikku sekaligus miliknya dan berjalan ke dapur.
"Ha... Sudah lama tidak merasakan ini.."
Mungkin sudah puluhan tahun berlalu. Masa itu... Ah... Benar benar...
Aku memejamkan mataku dan merilekskan punggungku menikmati suasana damai ini. Terdengar suara jankrik yang berbunyi di luar. Bintang bertebaran di langit malam ditemani bulan. Sungguh..
"Ups, Aku juga harus membuat sesuatu."
Aku berdiri meninggalkan kedamaianku dan segera menuju ke dapur. Terdapat tungku api yang telah padam. Di dekatnya, Zena dan Meli yang mencuci bersama.
"Zena, bisakah aku menghidupkan tungkunya kenbali?"
Aku berkata kepada Zena yang tengah sibuk membantu Meli.
"Eh? Ada apa? Apakah masih kurang?"
Zena yang tengah sibuk menengok untuk memastikan.
"Ah, tidak, hanya saja aku berpikir untuk membuat sesuatu."
"Hm? Aku tidak masalah."
"Terima kasih."
Aku kemudian merapalkan sihir [Fire] dan kemudian api kecil mulai membakar kayu bakar yang sudah ada didalamnya.
__ADS_1
Aku kemudian meracik beberapa bumbu, seperti susu, tepung maizena, tidak lupa bubuk untuk membuat puding juga aku campurkan, gula secukupnya lalu mengaduknya hingga sedikit mengental. Setelah itu aku merapalkan sihir [Freeze] ke adonan itu.
Adonan membeku seketika. Sihir sehari hari memang praktis. Setelah itu aku menyerut adonan itu, menggabungkannya di satu tempat, dan mencampur beberapa vanilla yang aku temukan di kota. Sebenarnya bukan vanilla namanya, itu lebih seperti nama yang sulit diucapkan. Karena namanya yang merepotkan, mari sebut saja vanilla karena rasanya yang sama.
Aku mencampurkan beberapa buah untuk campuran rasa lainnya agar tidak hanya rasa vanilla. Lalu mengaduknya dengan manual hingga merata. Karena di dunia ini tidak ada yang namanya mixer.
Tanganku sangat lelah...
"Papa? Apa yang kamu buat?"
Meli yang selesai dengan pekerjaannya mengintip dari bawah meja. Karena tingginya belum setinggi meja, dia hanya bisa melihat sebagian kecil.
"hm? Ah, hanya sedikit berkreasi."
Ucapku yang lalu mengelusnya.
"Sayang, apa yang akan kamu buat?"
Zena yang penasaran juga bertanya.
"Ah, ini. Mungkin aku beri nama ice cream?"
"Hm? Aku tidak pernah mendengarnya selain puding..."
Oh? Jadi dia tahu hubungan antara puding dan Ice cream? Yah mari biarkan dia berfantasi.
"Selanjutnya tinggal bekukan sedikit."
Sambil mengatakannya aku mengucapkan [Freeze] dan seketika membeku.
"Dan jadi."
Ucapku.
"Ingin mencobanya?"
Aku berkata kepada Meli yang telah penasaran sedari tadi.
"Ya! Tolong!"
Dia mengangkat tangannya dengab semangat tinggi.
"Baiklah, papa akan bawakan satu."
Aku kemudian berjalan mengambil 3 gelas kosong yang telah kering dan kemudian mengisi beberapa dari mereka dengan ice cream buatanku.
"Ini dia."
Aku memberikan gelas yang telah terisi dengan ice cream kepada Meli dan Zena.
"Apa ini? Dingin?"
Zena dengan ragu melihat isinya.
"Haha, maaf jika kurang bagus dan kurang enak... Itu hanya hasil dari percobaanku..."
Atu mungkin keinginanku untuk membuatnya karena aku teringat resep itu dari ibuku sebelum aku bereinkarnasi.
"Ah, tidak aku akan mencobanya.."
Sementara Zena dengan ragu memakannya, Meli tanpa ragu sedikitpun melahapnya dengan cepat.
"Hm! Lezat! Apa ini..? Aku belum pernah memakannya!"
__ADS_1
Dengan semangat tinggi memilih untuk mangambilkannya kembali.
"Benar benar enak... Sensai lembutnya... Dinginnya dan manisnya..."
Sambil menikmati rasanya Zena tanpa ragu mengucapkannya seolah dia tidka memikirkan sesuatu bahwa ada anak yang melihat sikap kekanak kanakannya itu.
Yang pada akhirnya, aku hanya memakan sedikit dari mereka....
.
.
.
.
Kini Meli telah tertidur di kamarnya sendiri. Dan kini tersisa kami berdua yang seakan terjaga.
"Ah.. Seakan aku tidak pernah merasa sebahagia ini..."
Zena mengucapkannya dari sebelahku. Dia terbaring dengan hanya pakaian tipis yang menutupinya.
"Hm... Aku juga sama haha, tetapi aku tidak mengerti apa yang membuatku menjadi sebahagia ini..."
Aku seolah bergumam pada diriku sendiri. Seakan hanya akulah yang tidak bahagia selama ini. Ah...
"Apa yang kamu katakan, setiap kali kamu memandangi kami dengan ekspresi bahagia, tidak mungkin begitu bukan?"
Seakan membantah perkataanku Zena membawa bukti bahwa aku memang bahagia hanya aku saja yang tidak mengetahuinya.
"Haha, mungkin kamu benar..."
Aku tertawa menanggapinya.
"Mwu! Tanggapi dengan serius!"
Dia dengan keras mengucapkannya. Tampak dari samping aku dapat melihat dia menggembungkan pipinya layaknya anak kecil.
"Haha, baiklah aku mengerti."
Aku kembali menanggapinya dengan tertawa.
"Mwu!"
Dengan cepat dia duduk dan kemudian membuat posisi merangkak di atas badanku.
"Hm?"
Seketika dia menciumku dan meletakkan tubuhnya diatas tubuhku.
Panas..?
Dia melepaskannya.
"Kamu yakin?"
Aku berkata dengannya.
"Ya, aku ingin melakukannya..."
"..."
Dan dengan segera malam itu.....
__ADS_1
Continue....