Re [Life] : Incarnation

Re [Life] : Incarnation
Penyerangan di Malam Hari dan Ungkapan Cinta?


__ADS_3

"Hiyat!!"


Sembari mengayunkan pedangku, aku mengkombinasikan gaya bertarung ku seperti di dalam game.


"Tch! Ini terlalu banyak!"


Heis berteriak kesal kepada rekannya. Sepertinya dia sedikit kelelahan. Aku menghiraukannya dan terus melanjutkan serangan ku.


Musuh terus berdatangan. Rapier milik Zena sudah mencapai batasnya. Rapier tersebut patah pada saat menusukkannya kepada Goblin.


"Ah! Gawat! Senjataku hancur."


Dia kemudian dengan sigap menghindar dengan tubuh lentur nya.


"Ah... Melelahkan..."


Stella juga sudah mulai kelelahan. Seperti dugaanku, kami semua akhirnya akan kelelahan sementara para monster terus menyerang.


"Tch! Ini bahkan lebih seperti neraka dibandingkan melawan monster!"


Yu sang mata-mata kerajaan mengatakannya dengan kesal, Sera terlihat terengah-engah berusaha mengambil nafas. Armor nya penuh dengan darah monster.


"Hyat!"


Heis terus menebaskan daggernya tidak peduli seberapa lelahnya dia. Sementara Stella beristirahat. Shion juga membantu Heis, mereka seperti anggota keluarga yang melindungi seorang anak. Ekor mereka panjang tetapi tidak mengganggu gerakannya, telinganya yang terlihat seperti telinga kucing membantunya dalam mendengar suara, dan matanya menyala dalam kegelapan menambah ketajaman penglihatan mereka.


"Mereka sangat banyak... Aku kehabisan tenagaku.."


Shion mulai melemah. Tubuhnya sudah mulai sempoyongan. Dia kemudian mundur dan beristirahat bersama Stella.


"Uh.. Aku tidak bisa terus menghindar... [Explosion]! [Explosion]!"


Sedangkan Zena, dia terus menghindari serangan mereka. Karena terdesak, dia akhirnya menggunakan sihirnya. Sihir [Explosion] memiliki atribut api. Seperti namanya, sihir ini adalah jenis ledakan. Dapat meledakkan sesuatu sesuai keinginan sang pemakai. Sihir ini lumayan menghabiskan Mp atau biasa disebut Magic point. Kerusakan yang dihasilkan adalah kerusakan area.


"[Explosion]! [Explosion]! [Expl-] Ugh! Mp ku habis...."


Zena telah menghabiskan seluruh Mp nya. Wajahnya menjadi pucat.


"Hyat!! Heit!!"


Aku menghiraukannya dan terus menyerang. Zena yang kehabisan Mp akhirnya terus menghindar. Tetapi karena dampak dari kehabisan Mp itu sendiri akan membuatmu pingsan seketika, dia menahan rasa sakit itu dengan menggigit bibirnya hingga berdarah dan terus fokus menghindar.


"Mereka tidak ada habisnya.."


Heis telah mengeluh sepenuhnya, Sera dan Yu kehabisan tenaga. Zena kehabisan Mp dan tidak memiliki senjata.


Aku sebenarnya juga sudah mulai lelah, kapan ini berakhir?


...****************...


"Kuh..."


Setelah beberapa jam, jumlah mereka berkurang. Sekarang ini untuk Goblin, mereka tampak kehabisan pasukan dan tersisa 3 Goblin, untuk Shadow wolf mereka sudah musnah tanpa sisa.


Jalanan yang tadinya bersih tanpa ada noda darah, rumput hijau tumbuh di sekitarnya, pohon hijau dan kayunya yang coklat sekarang berubah menjadi penuh dengan mayat goblin dan Shadow wolf. sepertinya mereka tidak mengaktifkan skill ketika mereka menyerang dengan begitu banyaknya.


"Akhirnya selesai juga ya..."


Heis segera menjatuhkan daggernya, lalu memeluk Stella dan Shion dengan bahagia. Yu dan Sera bernafas lega. Zena pingsan karena kehabisan Mp, dan aku pingsan karena kelelahan.


...****************...


Aku membuka mataku. Rasa yang sama pada waktu itu. Sebuah paha yang lembut berada di bawah kepalaku berbaring. Seorang wanita dengan rambut biru duduk di pinggir kereta.


"Hm..."

__ADS_1


"Luke, kamu sudah bangun lagi ya?"


Zena sang elf memandang wajahku.


"Ah... Begitulah. Apakah kita sudah berangkat menuju kota Yuma?"


Sambil mengucapkannya aku memejamkan mataku sejenak.


Suasana hening, dengan suara api unggun. Aku menebak bahwa malam belum juga berakhir.


"Belum, ini masih malam kok. Lagipula, kita semua kelelahan setelah bertarung selama itu.."


Aku mencoba untuk melepaskan kepalaku dari paha Zena, lalu duduk.


"Yah.. setidaknya aku harus banyak melatih tubuhku..."


Sambil mengatakannya aku memutar-mutar lenganku.


Tubuh ini walaupun sama seperti di game, tetapi aku seperti mengulang pada level satu. Tubuhku tidak seperti di game yang tidak akan kelelahan karena bertarung. Tubuh ini sangat realistis seperti asli, perlu latihan fisik untuk menguasai teknik serangan dalam game.


"?"


Zena hanya memiringkan kepalanya karena bingung dengan kata-kataku.


"Huft... Zena, bisakah aku bertanya satu hal?"


"hm? boleh, apa itu?"


"Mantra [Explosion], bukankah mantra itu terlalu banyak memakan Mp? kenapa kamu melakukannya dengan gegabah?"


"Eh!? Ah.. Itu... Karena aku hanya mengetahui mantra itu..."


Dia terkejut lalu segera mengecilkan suaranya sembari menundukkan kepalanya.


Sambil mengatakannya, aku segera turun dari kereta. Aku melihat paman Kai dari jauh yang duduk menyendiri di dekat api unggun.


"Paman Kai, maaf membuatmu khawatir."


Dia terkejut karena mendengar ucapan ku lalu menoleh.


"Ah Luke. Tapi syukurlah kamu baik-baik saja."


Dia segera tersenyum setelah melihat sosokku.


Zena segera turun dan menghampiri kami berdua.


"Kalian berdua, Cepatlah istirahat seperti yang lainnya."


dia mengucapkannya sambil melipat tangannya di dadanya.


"Ah, paman Kai. Anda istirahatlah dahulu aku akan menyusul."


"Baiklah, jangan tidur terlalu larut, ok?"


"ok."


Setelah mendengar jawabanku dia segera berdiri dan masuk ke dalam kereta barang miliknya. Sementara itu Zena memelototi ku sambil menggembungkan pipinya. Tangannya masih dilipatkan di dadanya.


"Ada apa? Kalau ingin duduk silahkan."


Sambil menepuk bagian batang pohon yang kosong aku mengucapkannya.


"Huft..."


Dia menghela nafasnya lalu duduk di sebelahku.

__ADS_1


"...."


Kami berdua saling terdiam. Pipinya sedikit merah, dan tangannya diletakkan di bangku batang kayu itu. Lalu dia menoleh ke arahku.


"Luke, kamu tahu, bulan dan matahari tidak dapat bersama, kan?"


"Ya, karena matahari hanya bersinar di siang hari sedangkan bulan hanya bersinar di malam hari."


"Tetapi menurutku bulan dan matahari adalah pasangan yang ideal loh......"


Dia mengatakannya lalu mengarahkan pandangannya ke langit.


".....Bulan itu menggantikan matahari ketika matahari sedang tertidur, dan matahari menggantikan bulan saat sedang tertidur."


"Hm?"


Aku memiringkan kepalaku lalu menghadapnya.


"Yang artinya, walaupun mereka tidak dapat bertemu tetapi mereka dapat saling melengkapi bukan?"


Setelah mengatakannya dia segera melemaskan tubuhnya dan menyandarkannya di bahuku.


"Aku menyukaimu..."


Dengan nada berbisik lalu dia tertidur.


"..."


"Ya.. aku juga kok."


Aku membalasnya lalu memegang tangannya yang masih tergeletak di atas bangku batang pohon, dan tanpa sadar aku ikut tertidur dengan posisi kepalaku menyandar ke kepala Zena.


...****************...


Perjalanan hari terakhir.


Aku terbangun dari tidurku, pahaku terasa berat. Aku membuka sedikit mataku untuk mengintip. Seorang perempuan tertidur di pangkuanku.


"Ah..."


Sang perempuan itu adalah Zena, wajah tidurnya terlalu imut.


Karena aku tidak tahan dengan wajah tidurnya, aku akhirnya menyentuhkan jari telunjukku ke pipinya dengan perlahan.


"Oh..."


Teksturnya sedikit kenyal dan halus. Setelah itu aku mencoba mengelus rambutnya.


"Ah..."


Sangat halus! Dan pada akhirnya aku mengelus kepalanya hingga akhirnya dia terbangun.


"Hm....? Ah!"


Mataku bertemu dengan mata Zena, dia terlihat menegang.


"pagi Zena, maaf menyentuhmu tanpa izin."


"Uhm... Pagi juga Luke, tidak perlu izin. Kamu boleh menyentuhnya sepuasnya..."


Wajahnya memerah. Terlalu imut....


Setelah kejadian itu, semua orang terbangun dan mulai bersiap. Pada akhirnya kami melanjutkan perjalanan hingga akhirnya mencapai gerbang kota Yuma.


Continue....

__ADS_1


__ADS_2