![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
Beberapa dari mereka terus menatap badan milik Zena. Aku harus segera kembali! Aku tidak ingin keinginan terakhir ayah dan ibu sia-sia!
Beberapa saat setelah bertatapan mata, Zena mulai meluncur.
"Hou?"
Dan lalu, *Duar!! Tanah kembali berlubang. Debu menutupi area yang terhantam oleh palu besar milik jendral gila. Beberapa saat setelah itu, Zena keluar dan membuat pada pijakan palu besar. Melompat keatas dan menusukkan pedangnya dengan kecepatan angin. Sang jendral yang mengetahuinya, segera melepaskan senjatanya dan mundur ke belakang.
Pedang yang dengan cepat hampir menyentuh tanah dengan cepat berganti haluan. Kaki Zena segera menyentuh tanah dan kembali mendekat ke arahku.
"..."
Dia terus terdiam tanpa mengalihkan penglihatannya. Tampak serius dengan tangannya yang bersiap untuk terus menusukkan pedangnya.
"Hyat!"
Dia kembali berlari. Setelah sedikit dekat dengan jarak pedangnya, dia menusukkan beberapa kali serangan tetapi sepertinya jenderal gila itu masih dapat menghindar. Kecepatan menghindarnya sangat cepat, seolah dia tidak mengedipkan kedua matanya dan terus melihat arah serangan yang datang sambil terus menkaga jarak.
"Sigh! Menyusahkan!"
Dia dengan segera berbalik menyerang. Pipi kanannya terkena gesekan dari serangan Zena tetapi dia menghiraukannya dan kemudian menyerang. Pedang pendek diambilnya dari pinggangnya dan melemparkannya pada Zena yang terus memberikan serangan.
"!?"
Melihat sang jenderal yang terlihat seperti melempar sesuatu, Zena segera waspada dan ketika serangan diluncurkan, Zena berhenti menyerang dan menghindari serangan pisau terbang itu.
"Heh!"
Dengan memanfaatkan jeda waktu yang diberikan, sang jenderal dengan cepat menyerang kembali, mengarah pada leher Zena dan mengangkatnya dengan satu tangan.
"Gakh!"
Dengan cepat aku berdiri dan membuat kuda kuda aneh, dengan tangan kanan lebih maju dari tangan kiriku.
"Hm..? Kuda-kuda apa itu?"
Jenderal gila yang tertarik melepaskan genggaman tangannya pada leher Zena. Zena dengan cepat terjatuh dan kemudian memegang leher bekas genggaman jenderal itu sambil batuk.
"Heh... Kuda-kuda yang aneh ya.. Mari kita tes dengan palu besar ini..."
Sambil mengangkat palu besarnya dia kemudian bersiap.
Tanpa banyak bicara, aku segera berlari kearahnya. Dia yang tahu arah seranganku dengan cepat tersenyum. Dia mengerahkan seluruh tenaganya dan menghentakkannya ke tanah.
*Dumm!!
Debu kembali terbuat, aku dengan cepat menghindari palu yang sudah menyentuh tanah itu lalu kembali berlari menuju jendral itu, kali ini ditemani matahari panas yang menyengat aku harus bisa.
__ADS_1
Siang itu cuaca tidak begitu berawan, cuaca panas menambah beberapa kesan sengit pada pertempuran. Keringat bercucuran, dan tanah sedikit kering. Pohon-pohon yang tadinya rindang ditemani rumput di sekitarnya, kini rusak akibat beberapa serangan dari jenderal gila ini.
Saat setelah aku menghindari palu itu, belum sempat aku menyadarinya, sebuah anak panah meluncur dari balik debu.
"!?"
Aku yang terkejut segera beralih menepis anak panah itu menggunakan pedang dan terus melaju. Dan ketika target sudah dekat, aku menebasnya.
"Hyatt!!"
Dengan bunyi 'Ctank!' pedang tertahan. Debu segera menghilang terkena angin, terlihat jenderal menahan seranganku menggunakan dua belati.
"Sigh!"
Aku segera mundur untuk menjaga jarak.
"Haha, kamu sangat lihai dalam menyerang."
Tidak, ini bukan game. Aku tidak bisa kalah dengannya, hanya ada satu nyawa di sini... Tetap fokus... Dari dalam hati ketakutan menyebar sedikit demi sedikit.
"Teruslah menyerang! Aku tidak memiliki celah!"
Ucap sang jenderal dengan arogan.
"Namaku Hurtain Welderban, jenderal pasukan kekaksaran. Atas perintah Kaisar, aku akan mengambil wanita itu dan membunuhmu!"
Teriaknya yang lalu dilanjutkan dengan beberapa sorakan seperti "Whoa!!" atau "Hidup kekaisaran!" dari para prajurit yang menunggu seakan dia diperintahkan untuk melihat pertempurannya.
Dengan cepat aku mengambil batu itu dan menggenggamnya dengan erat, menyarungkan pedangku di punggung dan berlari menuju Zena yang tengah kesakitan.
"Hm? Terlalu gegabah!"
Dengan cepat dia mencegahku, tetapi kakinya terbuka lebar, aku dengan cepat melewatinya dibawah kakinya.
"Ap-!?"
Aku kemudian berdiri dengan cepat kembali berlari, Segera setelah mendekat, aku segera duduk disamping Zena.
"Luke..!?"
Sambil terlihat kesakitan.
"Teleport!!"
Aku memegang Zena dan kemudian cahaya silau terpancar.
"Apa!? Apa ini!? Sihir!? Sial!!"
__ADS_1
.
.
.
.
Dengan cepat dia berlari kearahku. Tetapi itu terlambat, dengan segera kami lenyap. Pandangan kami pudar dan kemudian sedikit demi sedikit pandangan mulai kembali.
"Uh..."
Zena kemudian membuka matanya, dia kemudian terbangun dengan mata yang sedikit berkunang-kunang. Aku yang membuka mataku sedikit demi sedikit, melihat kami berada di tengah hutan.
"Sepertinya koordinatnya acak.."
Ucapku.
Batu teleportasi. Itu adalah item untuk berpindah tempat dengan mengucapkan mantra [Teleport] yang kemudian akan secara acak memindahkan kita ke lokasi lain. Ini tidak terlalu berguna ketika di game tapi ini berguna untuk para pemula yang kesulitan melawan boss dan sekarat, mereka biasanya melakukan ini untuk melarikan diri dari boss yang tidak sanggup mereka lawan. Aku menemukan batu ini secara tidak sengaja ketika sedang menjelajah hutan waktu itu.
"Dimana ini...?"
Tanya Zena yang sepertinya masih kesakitan.
"Aku tidak tahu pasti dimana ini.."
Sambil mengelus kepala Zena. Hanya ada kami berdua di sini, dengan ditemani suara hutan yang hening dan nhembusan angin yang bertiup.
"Hah... Aku ingin istirahat sebentar..."
Ucap Zena yang kemudian tergerletak di tanah dengan pahaku sebagai bantal. Ah, pasti melelahkan bukan bertarung dengan serius..
"Aku akan menjagamu, tidurlah sebentar."
Aku kembaki mengelusnya dengan lembut. Tidak ada tanda kehadiran monster di dekat kami. Begitupun pedang kami berdua juga ikut terbawa. Dengan ini kami tidak akan kesulitan untuk mencari sumber daya seperti makanan.
"Hah..."
Aku menyandarkan tubuhku dengan tangan menyangga tubuhku agar tidak terjatuh ke tanah.
"Meli... Dimana dia...?"
Aku dengan pasrah mengucapkannya. Sebelum terjadi peperangan, ada beberapa warga yang lolos. Kemungkinan, Zena menitipkannya bersama warga yang lolos itu...
Setelah aku pikir tentang jenderal gila itu, aku teringat dia berbicara tentang kaisar. Apakah kerajaan sedang berperang? Atau mungkin kekaisaran sedang ingin memperluas daerah kekuasaannya dengan menjarah bagian paling terpencil dari kerajaan? Aku belum tahu alasan dibalik semuanya.
Yang jelas, aku mendengar rumor bahwa, demi human diperlakukan seperti budak di kekaisaran, itulah mengapa kerajaan tidak menerima tawaran dari kekaisaran. Walaupun sebenarnya hubungan diantara mereka itu tidak begitu kompetitif, dan kerajaan tidak meminta perang atau apapun terkait wilayahnya. Apa yang akan dilakukan raja ketika dia mengetahui hal ini yah...
__ADS_1
Seolah pikiranku melayang kemana-mana dengan tangan yang masih saja mengelus rambut Zena.
Continue....