Re [Life] : Incarnation

Re [Life] : Incarnation
Sebuah Pertemuan dan Sebuah Jebakan


__ADS_3

Ketika aku sedang berjalan, dengan Zena berada di samping, seorang tentara dari kekaisaran melihat kami berjalan menuju kota. Kupikir sekali lagi, seperti seseorang yang kukenal lewat di dekatku. Entah apa yang ku rasakan, hawa keberadaannya seperti familiar.


"Sesuatu yang aneh terasa..."


Aku bergumam, terlihat tidak tenang, melihat sekeliling jalan yang ramai akan orang-orang yang mayoritas adalah Elf. Suasana yang ramai menambahkan bumbu kewaspadaan akan sesuatu yang buruk akan terjadi.


Suara derapan kuda terdengar, getaran yang disebabkan semakin terasa. Angin dingin bertiup membuat bulu kuduk berdiri.


"Luke... Ada yang salah dengan kota ini."


Bisik Zena yang berjalan disampingku dan memperhatikan sekitar. Tidak butuh waktu lama teriakan terdengar.


"Kyaaa!!"


Sekilas setelah mendengarnya, aku melihat beberapa elf yang kemudian berlarian dan hingga akhirnya kerumunan pun hancur. Beberapa anak kecil yang juga berlarian terlihat terinjak-injak karena banyaknya orang yang mementingkan keselamatannya.


Aku dengan Zena yang melihatnya segera menyelamatkan anak-anak yang terlindas karena kerumunan yang hancur.


"Huaaaaa!!" "Waaaa!!! Mamaa!!!"


Beberapa dari mereka ada yang menangis kesakitan, beberapa juga terluka cukup berat tetapi berhasil menahan pecahnya tangis. Beberapa orang tua yang merasa kehilangan anaknya mendekat dan dengan cepat segera mengambil, berterima kasih, lalu pergi dnegan menggendong mereka.


*Syuut!


Sebuah panah melesat, dengan gerakan reflek, aku menangkisnya menggunakan pedang sehingga anak panah tersebut terpental.


"Tch! Jaga anak-anak itu, akan ku atasi beberapa prajurit itu."


"Baik!"


Dengan segera aku bersiaga dengan pedang yang kupegang, sementara Zena tengah menjaga anak-anak itu.


"...."


*Syuuut! *Ctang!


Serangan kedua muncul, dengan cepat aku menangkisnya dan kembali ke posisi awal. Kabut tebal seolah menutupi pasukan kekaisaran. Ketika tengah bersiap, serangan tiga muncul.


*Syuuuut!


Ketika hendak menangkis, anak panah dalam sekejak berubah menjadi seorang kesatria dan dengan segera mengganti serangannya menjadi horizontal.


"Ugh!?"


Karena perubahan anak panah itu membuat terkejut, aku dengan segera mundur. Walau sudah berusaha sekuat mungkin, tetapi tetap saja gerakan itu sulit untuk dihindari apalagi dengan jarak sedekat itu. Entah skill apa yang dia pakai tapi itu cukup mengejutkanku.


*Crrik!


Suara derit armor terdengar ketika kesatria itu mendarat, disertai debu yang muncul karena hentakan keras dan beratnya armor itu.


"Heh! Boleh juga! Melindungi Demi-human seperti elf? Bodohnya!"


Sang kesatria mengejekku dengan kemudian dia segera menyerang dengan kecepatan penuh.


*Ctang!


"Guh! Kuat juga kau, belum lagi, pedang berat itu... Hah! Jangan belagu karena pedangmu bagus! itu mengurangi agilitymu sehingga membuatmu sulit menghindar!"


Dia kemudian kembali mundur dan segera berlari menyerang.


*Ctang!


"Tch, keras kepala."


Dia kemudian melanjutkannya dengan serangan bertubi-tubi sehingga menbuatku sedikit terpojok.


"Hah! Kubilang apa! Pedang berat adalah kelemahan!"


"..."


"Heh! Sepertinya sudah cukup bagimu, akan ku akhiri sekarang juga."


Dia berhenti menyerang dan kemudian dia mundur beberapa langkah.


"Hyat!!"


Dengan segera dia melesat bagai anak panah yang dilepas dari busurnya, dia meletakkan pedangnya di dekat bahunya lalu dia mengayunkannya menuju kebawah.

__ADS_1


"!?"


.


.


.


.


"Sepertinya serangannya sudah dimulai."


Jorga berkata kepada temannya yang tengah duduk termenung melihat makanannya yang bergetar.


"Ah, aku tahu."


Suasana menjadi sedikit hening san kemudian beberapa orang berlarian menyelamatkan diri.


"Eh? Eh...?"


Meli yang kebingungan tengah mencerna situasinya.


"Manusia menyerang, jita harus segera pergi sebelum kita tertangkap..."


Alvin dengan serius segera menghabiskan makanannya dan kemudian segera berdiri.


"Invasi dimulai, saatnya kita pergi. Ayo Meli!"


Jorga kemudian menarik tangan Meli, tetapi dia menolak.


"Ada apa? Ayo pergi, disini berbahaya bagi kita!"


"Jorga benar, kita harus segera pergi."


"Tapi, aku yakin orang tuaku sekarang sedang mencariku..."


Dengan sedikit murung Meli mencoba untuk tetap tinggal.


"Aghhh! Sudahlah! Pikirkan dirjmu sendiri! Orang tua mu mungkin sudah pergi atau dia mungkin tidak di kota ini!"


"Itu mustahil! Orang tuaku adalah orang yang hebat! Mereka kuat! Tidak mungkin mereka akan menyerah!"


Setetes air mata turun.


"Hey, Jorga, kau terlalu keras untuk gadis ini..."


Alvin berkata dan menenangkan Meli.


"Aku paham itu tapi, kita harus segera mengungsi..."


Lanjutnya, tetapi Meli menjawab,


"Aku akan tetap mencari. Kalian pergi lah, aku harus tetap mencari."


"Ha.... Gadis yang merepotkan..."


"Baiklah, akan kubantu."


Jorga mengeluh, sementara itu Alvin dengan sabar menerimanya. mereka segera berangkat menuju beberapa gang kecil dan kembali ke tujuan mereka walau invasi dimulai.


.


.


.


.


Serangan secara tiba tiba berganti dan targetnya adalah anak-anak di belakang.


'Gawat!!'


"Haaat!"


Zena membelokkan serangannya menggunakan rapiernya yang tipis.


*Sringg...

__ADS_1


"Gh!?"


Karena serangannya yang berbelok, si kesatria pun terhempas. sementara itu prajurit lainnya hanya melihat kami bertarung.


Guh! Sialann mereka mencari bahan tontonan!


"Ha... Kukira kau juga manusia, ternyata elf... Hah! Tapi lumayan juga..."


Dia melirik di berbagai tempat!? Hahhh!? Itu milikku dasar kesatria maniak bertarung!!!


"..."


"Hohou, aku paham... tapi aku tak peduli dengan elf! Kubunuh kau!"


Dengan segera dia melesat seperti sebelumnya, tetapi dia dengan cepat mengincar organ vitalnya.


"Tch!"


Aku dengan cepat bergerak menangkis serangannya.


*Ctang!


"Hm... Tidak buruk untuk pedang berat, konbinasi yang buruk bukan?"


"Banyak omong!"


Aku dengan cepat membanting serangannya. Dia terhempas sedikit lebih jauh, namun, dia kemudian kembali menyerang.


"Aku datang!"


Sekilas aku teringat sesuatu yang kumasukkan dalam [storage] saat terjadi penyerangan di kota Yuma.


"..."


Aku mengambilnya cepat dan melemparnya tepat ke mata kesatria itu.


"Gah!? Mataku!?"


Dia membatalkan serangan dan mundur.


Apa yang kulemparkan adalah lumpur yang kugunakan untuk membuat peralatan sewaktu di kita Yuma, mungkin itu konyol namun, [Storage] dapat menyimpan sesuatu tanpa mengubah bentuk dan wujudnya, waktu dan ruang di [Storage] tidak akan berjalan atau bisa dibilang waktu tidak berjalan didalamnya. Itu sebabnya lumpur yang kulempar tetap basah dan tidak mengering.


*Whus!


Aku dengan kecepatan tinggi menyerangnya.


*Ctang!


Suara pedang yang membentur terdengar nyaring.


"Boleh juga kau pedang berat!"


Dengan matanya yang tertutup karena sakit, dia berhasil menangkisnya menggunakan perasaannya. Dia berbahaya.


Untuk beberapa saat, aku ingat. Cara untuk memanfaatkan kekuatan dari pedang yang berat adalah dengan melemaskan tanganmu ketika pedang tersebut menebas atau membentur. Karena beratnya, kekuatannya akan menjadi lebih cepat karena kita tidak mendorongnya.


Ibaratnya seperti kamu menjatuhkan barang dengan kamu memukulkan barang. Maka kekuatannya akan jelas berbeda. Ketika kamu menjatuhkan barang, barang itu akan terlihat lemah, tetali ketika kamu memukulkannya itu akan jauh lebih menyakitkan. Lalu dengan kombinasi mereka, jadilah serangan ini.


Caranya adalah dengan mengayunkannya sekuat tenaga lalu kemudian dilemaskan. Itu efektif untuk menambah daya serang pedang yang relatif berat seperti pedang ini.


Aku mempelajarinya secara tak sengaja. Yaah walaupun itu berkat ingatanku bermain game..


"Haaaaa!"


Aku menambah tenagaku kedalam serangan itu, tegapi sepertinya dengan enteng kesatria itu mencegahku dan mendorongku kembali ke belakang.


"Heh, Kau kira itu akan berhasil? Aku akui, seranganmu sangat hebat, namun benarkah itu dapat menghabiskku?"


'Sialan...'


Anak-anak yang kulindungi bersama Zena tengah khawatir.


Sekarang apa yang harus aku lakukan?


Tenagaku sudah hampir habis tetapi kesatria itu tampak tenang. Persetan dengan ini!


Continue....

__ADS_1


__ADS_2