Re [Life] : Incarnation

Re [Life] : Incarnation
Malam Penuh Kesunyian dan Percobaan Sihir


__ADS_3

"Huah!! Mama!! Papa!!"


Disaat kami sampai di dekat kereta, Meli keluar dari kereta lalu berlari memeluk kami berdua dengan menangis.


"Ah, kami kembali."


Sambil mengelus kepala Meli yang telah menenggelamkan wajahnya ke kami berdua.


"Ah, syukurlah kalian baik-baik saja. Meli sangat khawatir hingga dia menangis seharian."


"Ah... Maafkan kami merepotkan lagi..."


Zena meminta maaf atas tindakannya yang seenaknya sendiri.


"Tidak perlu meminta maaf, lagipula naga itu sudah di selesaikan."


Paman Kai tersenyum hangat seolah dia iklhas menjaga Meli seperti cucunya.


Dilihat dari usianya, paman Kai berusia 40 tahun. Dia telah menjadi pedagang saat masih berusia 17 tahun. Dia menekuni pekerjaannya menjadi pedagang.


"Kalian pasti lelah, kan? Ini Aku sudah membuat beberapa masakan bersama Meli."


"Ah... Terima kasih..."


Zena menerima semangkuk Sup dari paman Kai. Aku juga menerimanya.


Aku dan Zena duduk berdampingan lalu memakannya. Asap keluar dari sup karena masih hangat. Sepertinya paman Kai membujuk Meli supaya tidak menangis.


"Bagaimana rasanya? Pasti aneh ya...? Aku tidak ahli dalam memasak.."


Paman Kai menggaruk kepalanya lalu duduk di dekat api unggun. Meli menyandarkan kepalanya ke paha Zena yang sedang memakan sup itu.


"Tidak, ini sangat enak."


Zena mengatakannya kepada paman Kai sebagai ucapan terima kasih karena telah menjaga Meli dengan baik.


"Yah... Itu karena Meli yang membantuku jadi itu mungkin pujian untuk Meli."


"Tidak, ini juga bantuan dari paman Kai jadi aku harus berterima kasih."


Zena mengucapkan terima kasih karena telah membantu merawat Meli sekali lagi.


Dan akhirnya Aku dan Zena sedikit mengobrol bersama paman Kai. Walaupun tidak banyak yang bisa di bicarakan, tapi dia senang dapat berbicara dnegan anak muda seperti kami. Yah, aku tidak membencinya. Suasananya tenang jadi aku menyukainya.


"Ah, aku mengantuk..."


Paman Kai mengakhiri pembicaraan dengan ucapan itu lalu menguap.


"Kalau begitu serahkan berjaga malam kepada kami berdua, paman Kai istirahatlah."

__ADS_1


"Ah tapi..."


"Tidak apa, aku dan Zena akan berjaga."


Aku membujuk paman Kai supaya segera tidur. Tidak lupa membawa Meli ke dalam kereta. Dia telah tertidur lelap dengan wajah tidurnya yang imut.


"Ah, baiklah. Aku akan membawa Meli ke dalam...."


Paman Kai menggendong Meli dan membawanya ke dalam kereta. Paman Kai juga kemudian tertidur lelap setelah beberapa saat.


Kini hanya tinggal Kami berdua. Ditemani api unggun yang masih menyala besar. Suara hewan malam terdengar seperti jangkrik, suara daun yang bergerak karena angin, dan binatang kecil yang aktif di malam hari.


Sejak kejadian itu, para warga desa yang mengungsi memutuskan untuk tinggal di kota Yuma. Beberapa warga memilih menjadi petualang, dan sisanya menjadi petani di kota itu. Desa itu telah ditinggalkan, mungkin akan bagus membangun rumah di sekitar desa itu walaupun akan sulit ketika membutuhkan bantuan.


"Ano... Tentang tadi siang, maafkan aku..."


Zena memulai topik dengan membahas siang tadi. Mungkin dia merasa tidak enak?


"Hm? Tidak masalah."


Aku menjawabnya dengan santai. Lalu sedikit mengalihkan pandanganku.


"Sebenarnya..."


Zena mengatakannya dengan ragu-ragu seakan dia enggan mengucapkannya.


"....."


Dia kemudian terdiam dalam keheningan lalu menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskan nya.


"Kejadian itu, karena aku takut akan kembalinya itu...."


"hm? "Itu"? Apa maksudmu?"


Aku menanyakannya tanpa memikirkan perasaannya.


"Ah, tidak ada, Aku akan tidur duluan... Luke tolong jaga kami selagi tidur."


Zena dengan tergesa-gesa pergi ke dalam kereta. Aku hanya memasang wajah bingung saat dia bertingkah aneh seperti itu...


"Selamat beristirahat."


Dia sempat mengucapkannya sebelum masuk ke dalam kereta yang didalamnya ada Meli. Paman Kai hanya tidur di tempat kusir kah...


"Apa yang dia maksud dengan "Itu."?"


Aku melempar beberapa kerikil ke api unggun itu sambil bergumam.


'Dia pasti menyembunyikan sesuatu dariku.' pikirku sambil kemudian menyerah sambil mendesah kesal. Yang kemudian mulai berangan-angan tentang masa lalu Zena yang masih misterius.

__ADS_1


'Ahh!!! Percuma! Aku hanya mempersulit pikiranku!!' Ucapku dalam benakku. Aku kemudian hanya mendesahkan nafas kesal.


"Untuk sekarang sepertinya aku akan merasa sedikit bosan..."


Aku bergumam pada diriku sendiri karena hanya ada aku sendirian.


"Mungkin bereksperimen akan sedikit lebih bagus?"


Lanjutku karena sekarang ini aku memiliki banyak waktu luang. Sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang monster di sekitar karena sihir [Mapping] sudah memberikan perannya. Ngomong-ngomong siang tadi aku lupa memakai sihir itu untuk mengecek keadaan desa, jadi aku memeriksanya dengan manual dan malah berakhir dibantu oleh petualang lain.


"Aku rasa levelku ini sedikit meningkat walaupun tidak dapat melawan naga hitam itu."


Seperti yang diharapkan dari naga... Levelnya mungkin melebihi level milikku. Saat itu levelku sudah ditentukan dari game jadi saat ini mungkin levelku belum meningkat sama sekali. Dan kemungkinan naga itu berada sedikit di atas levelku. Walaupun begitu, skill miliknya itu sangat merepotkan.


Dalam Game WWO hanya mahkluk iblis yang memiliki skill. Skill adalah kemampuan seperti sihir tetapi tanpa mantra. Seperti contohnya Sihir [Fireball], kalian harus menyebut mantranya yaitu nama sihir itu sendiri. Dengan begitu, tubuh akan merespon lalu akan mengeluarkannya menggunakan MP.


"Huft.. Aku akan mencoba apa ya..."


Berbeda untuk sihir [Mapping], sihir ini hanya bisa diaktifkan ketika pengguna memejamkan matanya lalu fokus dengan menyebarkan energi sihirnya atau yang kita sebut MP. Metodenya, ketika sihir itu bertabrakan dengan sihir milik orang lain atau makhluk lain, itu akan bereaksi yang kemudian mengirim sebuah sinyal singkat kepada pemilik sihir itu.


"Ah, akan aku coba sihir 'itu.' kepada mahkluk iblis disini."


Aku kemudian berdiri dan mengurung seekor kelinci bertanduk menggunakan sihir [Prison].


Sihir [Prison] adalah sihir pengekang dengan dinding transparan membatasi area. Sihir ini hanya memberi batasan kepada target. Biasanya hanya untuk makhluk iblis sih... Tapi sering di salah gunakan oleh pedagang budak sebagai alat pengekang agar budak tidak melarikan diri. Memang benar cara kerjanya sama. Kesampingkan itu.


Saat ini aku tengah mencoba hal baru.


"Oke... Kalau begitu. [Earth Bullet.]!!"


Aku mengacungkan jariku ke arah prison, lalu memusatkan MP ku ke jari ku. Sebuah batu kecil tercipta. Aku melemparnya dengan pelan. Kemudian kerikil itu memantul dengan pelan.


"Oh, jadi bisa ya..."


Aku bergumam lalu kemudian mengulanginya. Aku mencoba dnegan kecepatan tinggi. Kerikil itu dengan cepat menabrak dinding prison itu, lalu memantul ke arah lain.


"Begitu ya... Jadi ini bisa dibuat pelindung..."


Aku kemudian sedikit memikirkan rencana yang seharusnya aku gunakan sebelumnya.


Sial! Seharusnya sadarlah lebih cepat, jika memang dinding sihir ini sangat kuat, seharusnya semua petualang itu bisa selamat... Argh!!


"Huft.. Sudahlah, itu sudah berlalu..."


Aku kemudian meredam amarahku lalu meghembuskan nya.


Pada akhirnya, Hari ini aku hanya bisa menyesali perbuatan ku.


Continue.....

__ADS_1


__ADS_2