![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
Demon tersebut keluar dari kabut hitam itu dan kemudian mengaum dengan keras. Tanah bergetar karena aumannya. Dua orang prajurit tersebut gemetar saat berhadapan dengannya.
"Gharrghhhhh!!!!"
Bahkan aumannya membuat warga ketakutan dan lari berhamburan. Jalanan yang tadinya ramai dan tertib, kini telah berubah menjadi sepi. Hanya tersisa dua orang prajurit itu.
"Hm...? Apakah sudah berhasil ya..?"
Sang makhluk iblis berbicara seolah dia baru bangun dari tidur panjangnya. Dia kemudian melirik kepada dua orang prajurit di depannya.
"Oi, katakanlah, di mana sekarang ini?"
Dia dengan santai berbicara kepada prajurit itu. Prajurit itu gemetar karena ketakutan. Tidak mendengar jawaban, sang makhluk iblis akhirnya mengaum untuk kedua kalinya dan kembali mengancamnya.
"Goargghhhh!!!"
"Katakan!! Dimana ini!!"
Kedua prajurit itu kemudian menjawabnya dengan gugup. Perasaan takut dan marah bercampur dalam dirinya.
"I-Ini, i-ini berada di jalan dekat alun-alun..."
Karena frustasi, sang prajurit mengatakannya. Dia tidak memiliki pilihan lain selain mengatakannya. Berharap diberi ampunan oleh makhluk iblis.
"Hm.. Begitu ya... Jadi dia hampir gagal huh?..."
Sang makhluk iblis bergumam lalu melihat ke arah dua prajurit itu. Tampak matanya menatap tajam kepada mereka dan kemudian menunjukkan jarinya kearah mereka. Dengan kuku panjang pada jarinya, sebuah lingkaran sihir terbentuk. Sebuah bola ungu muncul pada tengahnya.
"Hi!?"
"Ampuni kami!!! Ka-Kami tidak ingin mati!! Kami mohon!!"
Kedua prajurit itu kemudian segera hormat kepada mahkluk iblis itu.
"Hm...? Bawahan? Tidak berguna! Matilah!!"
Merasa diejek, makhluk iblis itu meluncurkan bola sihir berwarna ungu yang sudah diciptakannya dari tadi. Bola sihir meluncur dengan kecepatan penuh dan menabrak dua prajurit itu.
"Buagh!?"
"Ugh!?"
Keduanya terlempar kesebuah gedung dan mengancurkan sebagian dindingnya.
*Gradak!! *Kratak....
"Ugh..."
__ADS_1
Darah telah mengalir dari setiap bagian tubuhnya, beberapa tulangnya patah. Prajurit yang satunya terlempar melewati gedung. Dia hanya menabrak tipis dinding gedung dan kemudian melanjutkannya di gedung berikutnya.
*Bugh!! *Csik....
Armor prajurit itu jatuh bersamaan dengan tubuhnya. Luka prajurit ini bisa dibilang lebih parah karena menabrak tipis dinding gedung dan dilanjutkan ke dinding lainnya.
"Kuhahahaha!!! Tuanku!! Ini kemenangan kita!!"
Setelah mengalahkan mereka dia berteriak ke udara dengan lantang.
...****************...
Disisi lain kota sebelum kejadian itu, aku menyusul Zena dan Meli yang sudah berjalan cukup jauh. Ha.... Biarkan aku sedikit beristirahat...
"Hm..?"
Aku merasakan sensasi aneh. Terasa seperti getaran mengalir dari kakiku.
Tanahnya bergetar? Pikirku.
Banyak orang juga menghentikan aktifitasnya dan merasakan sebuah getaran itu. Tidak lama kemudian, sebuah raungan menggema di seluruh gang.
"!? Suara itu!? Jangan-jangan!"
Aku segera berlari ketika mendengarnya. Sambil mencari keberadaan suara itu, aku terus berlari. Seketika itu juga aku melihat Zena dan Meli yang bergandengan tangan. Tepat di sebelahnya terdapat pertigaan dan sesuatu tampak menghantam gedung itu.
Aku terlambat mengatakannya. Bangunan telah runtuh dan asap debu berterbangan. penglihatan menjadi terganggu dan tidak dapat melihat Zena dan Meli.
Aku segera bergegas mendekat kearah itu. Asap debu yang berterbangan telah menghilang, tampak Zena yang menutupi kepala Meli dan berusaha memeluknya. Sepertinya sebelum bangunan mengenai Meli dia sudah berinisiatif melindunginya.
"Oi!! Apakah kalian baik-baik saja!?"
Aku segera mengangkat Zena yang tengah kesulitan untuk berdiri.
"Ugh.. Uhuk! Uhuk....!"
Mata kiri di sipitkan dan tampak wajahnya menahan rasa sakit. Meli kemudian sedikit membuka matanya dan melihat Zena yang memiliki banyak luka gores. Luka itu disebabkan karena banyaknya batu yang melewatinya dan menggores kulitnya.
"Mama!"
Terlihat Meli yang memasang wajah khawatir mendekati Zena dan melihat beberapa lukanya.
"Maafkan aku... Aku tidak tahu akan jadi seperti ini..."
Wajahnya telah berubah menjadi sedih. Air mata yang tidak tertampung menetes menuju pipinya. matanya berkaca-kaca.
"Papa... Meli minta maaf karena Meli, mama terluka..."
__ADS_1
Dia sedikit menjauh dariku dan Zena. Tampaknya dia merasa bersalah yang amat dalam. Tetapi dalam kondisi ini...
"Papa tidak marah, hanya saja jangan bertindak seperti ini, oke?"
Aku tersenyum tulus kepadanya.
"Hwa!!! Papa!!!"
Sebuah tangisan bocor dan memeluk perutku. Aku yang sedang merangkul Zena sedikit terpental karena pelukan Meli yang kuat.
Tidak lama kemudian, Para prajurit datang beserta petualang. Salah satu petualang mendekati kami dan menanyai kami.
"Apakah kalian tidak apa-apa? Dari yang aku lihat kalian satu keluarga ya? Aku akan mengantar kalian, ikutlah aku."
Setelah berkata demikian dia kemudian berbalik menuju arah yang berlawanan. Aku mengikutinya sambil merangkul Zena, Meli mengikuti di belakangku tampak seperti anak kecil yang takut akan orang lain.
Dia berjalan ke salah satu tenda yang telah didirikan di tengah lapanhan itu. Banyak tenda tersebut berisikan obat dan makanan untuk prajurit dan petualang.
Walaupun begitu, sejak kapan kota ini memiliki lapangan?Pertanyaan itu muncul dari benakku. Seolah mengiharukannya aku masuk ke tenda itu. terdapat seorang healer disana.
"Oh, padahal belum dimulai loh... Sudah ada satu orang terluka ya..?"
Healer itu memakai kacamata dan menggunakan jubah layaknya penyihir.
"Aku juga barusan berangkat dan aku disuruh untuk mengantarkannya."
"Hm..? Baiklah, tolong dudukkan dia di kursi itu."
Sesuai perintahnya aku menaruhnya ke kursi yang menghadap langsung ke healer itu.
"Oke, kalau begitu akan aku mulai.."
Dia kemudian mendekat dan menaruh tangannya tepat diatas tangan Zena. Dia kemudian memejamkan matanya dan berkata.
"[Heal]."
Tepat setelah itu, sebuah cahaya kuning keemasan bersinar. Tubuh Zena kemudian kembali sehat, tetapi dia tampak kelelahan.
"Ok, dengan begini selesai. Sekarang bawa dia ke tempat yang tenang agar staminanya pulih."
"Apakah tidak apa-apa?"
Aku bertanya khawatir pada healer itu. Dalam game, matra [Heal] hanya akan menambahkan darah dan menghilangkan beberapa luka. Tidak membuat stamina habis atau bahkan tidak memiliki efek samping pada targetnya. Efek samping hanya akan diterima oleh sang pengguna yaitu mengambil beberapa MP.
"Dia hanya kelelahan. Sihir [Heal] hanya mempercepat pemulihan, jadi karena itu staminanya terkuras habis."
Dia kemudian keluar dari tenda dan memastikan keadaan di luar sana. Tampaknya pertempuran di tengah kota itu hanya umpan semata. Karena tidak seluruh prajurit dan petualang ditarik, beberapa ada yang berjaga di luar gerbang. Para warga juga sepertinya ketakutan di tenda pengungsian ini.
__ADS_1
Continue....