![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
Dia tampak seperti ahli. Dia memiliki sifat yang menerima apa adanya dengan cepat. Tetapi kelemahannya adalah jika sesuatu yang berat dia akan sulit melupakannya.
Dia sangat teliti dalam membersihkan luka. Dia bahkan bersungguh sungguh tanpa menghiraukannya.
"Dengan ini sudah bersih, selanjutnya aku akan mengobatinya."
Dia segera mencari sebuah rumput yang berada di dekat kami, lalu memutarnya dengan telapak tangannya yang halus.
"Tahan sedikit, oke?"
Dia mengoleskan sedikit demi sedikit rumput yang telah diputar dalam telapak tangannya.
"Ah.."
Aku mengerang sedikit kesakitan karena rasa olesan itu. Aku menahannya agar tidak bergerak.
"Dengan ini selesai. Untung tidak terlalu dalam sampai menyentuh matamu."
Dia bernafas lega setelah mengobatinya lalu menutup mataku dengan kain yang baru.
"Terima kasih.. Ini lebih baik.."
Sambil mengucapkannya, aku tersenyum kepadanya.
"Tidak perlu, lagipula aku yang membuat masalah itu."
"Tidak, aku memang berniat menyelamatkanmu. Luka ini tidaklah penting."
"Itu penting tahu, tubuhmu bukan lah besi yang akan tahan dengan luka."
"Huh... Terserah kamu berbicara apa tapi, aku akan tetap keras kepala menyelamatkan mu loh."
"..."
Dia hanya terdiam lalu kemudian berdiri. Lalu mendekat ke arah Meli yang tertidur pulas.
"Kalau begitu aku akan mencari makanan untuk makan siang dan malam ini."
"Hati-hati saat berburu, ok? Jangan memaksakan diri."
"Aku tahu kok, tolong jaga Meli sampai aku kembali."
"Baiklah."
Setelah mendengar jawabannya aku segera berbalik dan segera berjalan menuju lebatnya hutan. Mengesampingkan Zena yang menemani Meli tidur, aku terus mencari hewan buruan yang besar sekalian mencoba teknik dalam game yang bernama [Aura]. Teknik ini mengumpulkan sebuah aura, hampir sama dengan mana tetapi jika mana hanya akan menjadi [Mapping]. Skill ini digunakan untuk menumpuk damage hingga 3 kali.
"Ah... Tidak ada hewan di sekitar sini..."
Aku beralih sedikit lebih dalam dari sini.
"Oh.."
Dan akhirnya aku menemukan seekor rusa. Dia sedang meminum air di danau. Aku melihatnya dengan tajam dan hati-hati supaya rusa itu tidak lari karena ketakutan.
"Ah.. pedang terlalu berlebihan."
Aku mengucapkannya dengan bisikan kepada diriku sendiri. Kemudian aku mengambil sebuah pisau yang lumayan besar dari pinggangku. Setelah mengambilnya, aku segera meluncur lalu menusuk bagian perutnya hingga rusa itu terjatuh.
*Screk... *Bugh!
"Gawat.. Terlalu ringan..."
Sambil mencabut pisau itu, aku mengatakannya. Karena aku terbiasa menggunakan pedang Mithril yang berat menggunakan dash sangatlah sulit karena bebannya yang berat. Sedangkan memakai pisau begitu ringan hingga sulit dikendalikan juga.
Karena gerakan itu menimbulkan angin di sekitarnya, 3 orang berlari mendekatiku.
__ADS_1
"Ada yang menyerang!"
"Hati-hati kak, dia mungkin sangat kuat."
Aku dapat mendengarnya dari jarak yang lumayan jauh. Mereka seperti suara yang aku kenal. Karena aku tidak merasakan bahaya, jadi aku memutuskan untuk menghiraukannya dan mengeluarkan darahnya hingga habis.
"Oh! Luke!"
Suara pria berteriak ke arahku. Aku menengok ke arah suara tadi.
"Hm? Oh! Heis, sedang apa kamu di sini?"
"Tidak hanya aku, adikku dan pacarku juga kok."
Ucapnya sambil menunjuk. Dua orang dibelakangnya keluar dari kegelapan, tiga phanterian sedang berada di hadapanku.
"Oh, kalian berdua juga ya?"
"Hai."
Stella menyapaku.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
"Kami menghindari perang saudara itu. Apakah kamu juga?"
"Ya, tentu saja, aku bukan warga kota Yuma. Dan aku kerepotan karena bangsawan itu, jadi mungkin aku akan sedikit marah karena mengganggu kegiatanku."
Aku dengan kesal mengucapkannya sambil mengangkat seekor rusa yang sudah bersih dari darahnya.
"Huh... Rumah kami bertiga bahkan hancur.."
Shion mengeluh dengan menekuk tangannya di pinggang.
"Aku akan membantumu."
"Terima kasih, aku terbantu. Lalu kalian akan bagaimana?"
"..."
Mereka berdua (Stella dan Shion) terdiam dan memandangi satu sama lain.
"Ngomong-ngomong, Luke, kenapa mata kirimu tertutup?"
"Hm? Ah, ini? Aku baru saja mendapat luka baru. Ahaha."
Aku menjawab pertanyaan Shion lalu sedikit tertawa.
"Jadi bagaimana? Apakah kalian berniat berkeliaran di hutan?"
"Tidak mungkin kami begitu. Kami belum memutuskannya mungkin kami akan membuat kemah hingga perang mereda?"
Heis menjawab pertanyaanku sebelumnya dengan sebuah pertanyaan.
"Oh. Kalau begitu kenapa tidak ikut aku saja?"
"Ide bagus."
Shion dengan cepat menjawabnya dengan semangat. Hasil buruanku lumayan besar. Mungkin cukup untuk 6 orang.
"Ah, Stella, jika kamu tidak keberatan bisakah kamu mencari sayuran?"
"Baiklah."
Dia menyetujui saranku dan segera menjauh.
__ADS_1
Aku mendengar bahwa banyak tumbuh sayuran di hutan ini. Salah satunya Bayam, namanya sama seperti saat aku di bumi. Bahkan bentuknya sama, tumbuh dengan liar di hutan ini. Sepertinya tidak sulit menjumpai sayuran itu di lebatnya hutan. Apalagi dia seorang phanterian yang memiliki penciuman, penglihatan, dan pendengaran yang tajam.
Setelah selesai menguliti, aku segera membungkusnya dengan daun yang sudah aku cuci bersih dekat danau kecil itu.
"Hua... ini pertama kalinya aku menguliti..."
Heis mengelap keringatnya dengan tangannya.
"Aku kira akan semudah melihatnya... Ternyata sesulit ini..."
Shion juga mengelap keringatnya dengan tangannya. Lalu Stella yang telah selesai membawa beberapa ikat bayam.
"Aku sudah kembal~i. Ini aku bawa banyak loh."
Sambil mengucapkannya dia mendarat dekat Shion. Dia memberikan nada pada akhir kalimatnya.
"Oh, banyak juga."
"Hebat!"
"Ehehe puji aku!"
Ketiga phanterian itu saling bersenang senang. Aku kembali memalingkan badanku dan bergerak maju.
"Kalau begitu, ayo segera ikut aku."
"Baiklah, Ayo!"
Stella terlihat sangat gembira. Suasana sudah mulai sore ya... Apakah terlalu lama ya? Sambil memikirkannya aku melewati hutan itu dan segera terlihat goa sebelumnya.
"Aku kembali Zena."
"Ah, selamat kembali. Uhm.. Luke, sepertinya Meli terkena demam..."
"Apakah sudah diobati?"
"Aku tidak memilik bahannya..."
"..."
Aku terdiam karena ucapan Zena. Dia juga tampak khawatir.
"Aku membawa beberapa obat sebelum aku kembali bersama kalian loh?"
Sang phanterian Stella menyela keheningan kami berdua dan memberikan sebuah red rose.
"Oh! Terima kasih, aku akan segera membuat obatnya."
Zena dengan cepat menerimanya dan segera membuat sebuah gelas simpel menggunakan sihirnya. Lalu mulai memeras bunga itu dengan sekuat tenaga.
Biasanya memeras bunga itu adalah cara yang tidak efektif karena akan sulit dan lama, apalagi harus sekuat tenaga agar air perasannya menetes. Warnanya merah bening.
Pembuatannya biasanya menggunakan tumbuk lalu kemudian di tekan hingga air dari kelopak red rose itu menetes.
"Biar aku yang memerasnya, ini daging hasil buruan buatlah makanan dengan sayuran ini juga."
Aku mengucapkannya dan memegang bahunya, lalu menyerahkan daging yang dibungkus oleh daun.
"Ah.. Terima kasih, kalau begitu aku akan membuat makan malam hari ini."
Setelah itu dia menyerahkannya kepadaku. Sihir milik Zena kebanyakan adalah sihir sehari-hari. Namun sepertinya dia banyak belajar dalam bidang medis jadi dia bisa memanfaatkan sihirnya pada saat darurat.
"Aku akan membantu Zena, Kakak bantu Luke memeras red rose itu satu persatu."
Stella yang melihatku memeras red rose, kemudian memerintahkan Heis untuk membantuku. Stella kemudian menarik tangan Shion dan menuju ke arah Zena yang sedang membuat api.
__ADS_1
Pada akhirnya aku dan Heis berhasil membuat obatnya, Zena dan kelompoknya membuat makanan, entah apa namanya karena temuan baru. Setelah itu Zena segera meminumkan obatnya kepada Meli. Dia sangat khawatir.
Continue...