![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
Setelah kejadian itu, Zena menjadi sedikit menempel denganku. Pagi ini contohnya, dia terus menggenggam tanganku hingga kami sampai di ruang makan.
"Sekarang kita akan membuat sarapan!"
Dengan cepat Zena melepas tanganku, dan pergi ke depan tungku api. Dengan sigap membuat makanan layaknya seorang ibu rumah tangga. Aku dengan spontan duduk di meja ruang makan sambil menunggu Zena memasak.
"Huam..."
Aku menguap karena mataku masih berat. Tidak tahu apa yang sebenarnya aku pikirkan, aku meletakkan kepalaku penuh kemalasan diatas meja. Perlahan aku memejamkan mataku.
"Sayang.. Bangunlah."
Zena yang melihatku tertidur kembali meletakkan sebuah gelas dengan air panas didalamnya.
"Hm...?"
Aku mengangkat kepalaku dan melihat kearah Zena. Dengan segera dia memelukku.
"Hmph!?"
Geh!! Kenapa kepalaku yang dipeluk!?
Lalu kemudian melepaskannya.
"Fuah..."
Aku bernafas lega ketika dia melepaskan dekapannya. Ah, mungkin lebih tepat kalau dekapan?
"Ada apa?"
Aku berkata sambil melihat kearah Zena yang sepertinya terlihat khawatir.
"Perasaanku tidak enak.."
Ucapnya.
"Hm?"
Aku yang mengantuk segera bangun dan mendekat kearah Zena yang barusan memelukku.
"Sini..."
Aku merentangkan tanganku dengan lebar seolah aku mengajaknya.
"Hm..."
Dengan sedikit malu-malu dia mendekat. Lalu dengan lembut memeluknya.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.. Tenanglah..."
Sambil menepuk punggungnya yang sedikit kaku. Beberapa saat kemudian, terdengar suara panik orang-orang.
Dengan bunyi 'Jdor!' dan kmeudian bunyi sebuah dinding roboh terdengar. Karena bunyi itu, aku segera waspada dan melepaskan pelukanku.
"Zena!"
Dengan cepat aku berlari dan mengambil salah satu pedangku yang tergeletak diatas meja. Zena yang terkejut segera bergerak mengambil pedangnya di dalam kamar serta mengecek ruangan Meli.
"Ap-!?"
Sebuah serangan mendadak!?
"Tcih!"
Aku segera membuka pedangku dan bergerak menuju asap debu yang tebal.
"!?"
Sebuah anak panah meluncur tepat di samping kepalaku saat aku sedang berlari. Aku berganti ke mode waspada, di sana aku merasakan ratusan, tidak, ribuan pasukan. Apa yang terjadi!?
"Sigh."
Aku dengan berhati-hati berjalan kembali melewati beberapa debu tebal untuk menghindari ketahuan.
"Hyatt!!"
Aku mendengar suara teriakan. Itu suara ayah dan ibu!? Apa yang mereka pikirkan!?
"Heit!"
*Ctang! *Cteng!! *Syuut!
__ADS_1
Suara anak panah yang ditepis dengan pedang membuat bunyi decitan. Percikan api muncul akibat gesekan yang cepat.
"Ayah!! Ibu!!"
"Luke!?"
Seketika mendengar suaraku, mereka berdua sempat tidak terfokus. Dan akibatnya, ayah terkena anak panah pada pundak kanannya.
"Gigh."
Pedang yang ia pegang terjatuh, sambil menahan rasa sakit, dia mencabut anak panah itu dengan cepat dan menekannya dengan tangan kirinya sehingga tidak terjadi pendarahan.
"Ayah!"
Aku dengan segera membantu mereka. Sementara itu, Ayah beristirahat di belakangku yang sedang menangkis anak panah yang terus datang.
"Sigh! Ada apa ini sebenarnya?"
Sambil terus mengayunkan pedangku melindungi ayah yang duduk terdiam. Ibu juga tidka menjawab dan terus menangkis serangannya dengan pedang. Walaupun ibuku hebat dalam sihir, dia juga bisa menggunakan pedang yang membuatnya menjadi sebuah job baru bernama Magic Swordman.
"Ugh!"
Tenagaku mulai habis. Walaupun kekuatanku memang besar, tenagaku tidaklah besar seperti mereka berdua yabg telah menghadapi banyak pertempuran.
"Haha, biar ayah yang lanjutkan."
Dengan segera dia mengambil pedangnya yang terjatuh dan berdiri tegak. Terdiam secara beberapa detik dan melepaskan sebuah tenaga yang snagat besar. Dengan cepat angin mengisi bilah pedang milik ayah.
Dan kemudian aku kehabisan tenagaku sepenuhnya. Beberapa musuh masih menembakkan panah yang tak henti-hentinya turun layaknya hujan.
"Ha... Ha... Ha..."
Aku terengah-engah sambil mengambil nafas. Nafasku tidak beraturan. Sial, tenagaku masih kurang!
"Nak."
Sambil mengatur nafasku aku terkejut dengan ucapan yang satu ini. Terdengar tenang yang membuatku melihat sebuah ruangan putih tanpa apapun. Ruang hampa dengan hanya ada kedua orang tuaku di kedua sisi yang berada di depanku seolah menengok ke arahku dan kemudian dari belakang aku melihat mereka berdua tersenyum.
"Terima kasih selama ini.."
Dan seketika aku mengedipkan mataku, kedua orang tuaku telah terkena panah dan hampir mati. Darah terus tumpah dan mengalir. Aku yang melihatnya segera mendekat dan berteriak.
Dan segera aku memegang tangan keduanya. Tangannya mulai dingin.
"Nak...."
Ayah berkata dengan nada lemah. Serangan panah seolah berhenti menghujani dan teriakan "Huwoo!!" terdengar secara kencang. Derap langkah semakin banyak menambah kesan kengerian.
"Jagalah Mereka..."
Dan kemudian, Ibu menyela.
"Lalu... Bahagiakan... *Cough! *Cough!! Mereka...."
Dan diakhir mereka tersenyum dengan bahagia.
"Ayah... Ibu..."
Seketika detak jantung terhenti. Seolah-olah rasa bersalah, amarah, dan dendam terus meluap. Aku menggenggam kedua tangan mereka yang telah menjadi dingin. Kulit pucat dan mata yang telah tertutup, detak jantung yang berhenti, suara derap langkah yang mengerikan, Kehampaan yang luar biasa terjadi.
Air mata mengalir dari kedua mata, suara isakan tangis bahkan tidak keluar. Aku melepas kedua tangan mereka dengan pasrah. Berdiri tanpa keyakinan, dan kemudian membuka pedangku. Pedang hitam yang kubawa menambahkan beberapa cahaya ungu redup.
Ah.. Inikah yang namanya kehampaan...
[Efek khusus Kehampaan.
Kondisi aktif : terpenuhi.
Memberikan bonus serangan kepada siapapun yang diserang sebanyak 15%].
Tampak sebuah layar di depanku, sekelilingnya gelap dan hanya aku, ketika aku mengedipkan mata, semuanya berubah. Pandangan kosong dengan keyakinan balas dendam yang meluap-luap. Seolah kekuatanku terus berlipat ganda, Ketika asap debu mulai menjadi tipis, aku melihat beberapa warga yang mati terpanah. Dendam terus meluap.
"Hargh.... Grahhh!!!!!!!!!!"
Dengan sekuat tenaga aku berteriak. Prajurit yang datang seketika menjadi gentar. 'Pedang kehampaan' begitulah aku menyebutnya. Pedang ini menyala ungu gelap dengan sedikit efek angin pada bilahnya.
Aku telah kehilangan pandanganku kedalam sebuah ruang hitam kosong. Seperti saat aku menemukan pedang ini dan kemudian kembali memunculkan sebuah layar. Seketika layar menghilang, aku terjatuh tanpa ada gravitasi, aku terus tenggelam dalam jurang tanpa batas.
Mataku hampir tertutup untuk pasrah. Tetapi seketika aku melihat sebuah tangan menjulur. Aku kemudian melihatnya dengan terkejut.
Zena....
__ADS_1
seketika itu juga layar kembali muncul dihadapanku dan dalam kondisi seolah melayang tanpa arah, aku membacanya.
[Efek khusus Kehampaan.
Kondisi aktif : Tidak terpenuhi.
Memberikan bonus serangan kepada siapapun yang diserang sebanyak 15% (dibatalkan)].
Nama itu secara cepat menyadarkanku. Aku menggenggam tangannya dengan erat. Wajahnya yang tersenyum semakin terang. Secercah cahaya yang membuatku tersadar. apakah aku sempat kehilangan kewarasanku?
"!? Ukh!"
Aku jatuh berlutut seolah tenagaku hilang tanpa aku sadari. Pedang kehampaan terjatuh ke tanah. Secara cepat aku memegang kepalaku dan memejamkan kedua mataku, seolah menyesal apa yang aku lakukan oleh kedua orang tuaku.
Namun aku lebih terkejut ketika aku melihat kedepan. Pasukan musuh tersapu sekitar seratus pasukan? apa yang aku lakukan...?
Seolah mulai kehabisan nafas, aku kembali terengah-engah.
Penampilanku yang semula pakaian kerjaku, sekarang menjadi jubah hitam pekat dengan sarung pedang kehampaan yang terletak di punggungku.
"Heh.. Disini ada monster yang telah kelelahan ya...?"
Seseorang maju mendekat kearahku yang telah kehilangan keseimbangan.
Sial! Aku tidak bisa bergerak.
"Hm.. Hm.. Kamu layak untuk mati.."
"Apa masalahmu!!"
Aku berusaha menjawab dengan dingin. Mengatur kembali nafasku.
"Apa yang bisa dilakukan oleh monster yang kelelahan?"
Kemudian dia mendekat dan tangannya seperti mengarah ke tenggorokanku.
Dia..!
"Jangan sentuh dia!"
Dengan kecepatan seperti angin dia seolah menebas tangan jendral itu. Tetapi tampaknya gagal, dia dengan cepat menghindar. Mendarat dengan posisi waspada terhadap mereka.
"Waw, waw, datang satu lagi rekan dari seorang monster."
Dia dengan arogan melihat kepada Zena.
"Hou, seorang elf... Tidak jusangka seorang mosnter mempunyai teman elf..."
Matanya menjijikkan. Zena tetap tidak gentar walaupun dia sepertinya tidak akan dapat melawannya. Kekuatanya jauh di atas Zena saat ini.
"Jangan pernah kau dekati Dia!!"
Dengan menyilangkan pedangnya dan menciptakan gaya kuda-kuda.
"Hou, sepertinya aku harus melawanmu ya.. tetapi tampaknya akan sia-sia jika melawanmu dna membunuhmu... Tubuhmu masih cantik ya.."
Sial! Jenderal genit!! Aku akan menghabisimu!! Atau hanya itu yang bisa aku ucapkan.
"Dasar menjijikkan."
Dengan cepat berlari dan menyerang layaknya angin yang berhembus tenang. Sang jendral menghindari seluruh serangan itu dengan ahli. Bahkan dengan kemampuan terkuat milik Zena, orang ini tidak akan bisa kalah hanya dengan Zena.
"Hou, hou.. Boleh juga untuk seorang wanita... Tetapi!"
"!?"
Dengan cepat Zena menyadarinya dan mundur.
"Hmng!!"
*Dung!!!
Tanah berlubang. Hentakannya terlalu keras, itu fatal jika tadi Zena tidak menyadarinya.
Jendral ini gila...
Tetap memasang wajah serius dan mata yang tajam. Pertandingan beralih menjadi adu tatap mata. Seluruh pasukan melihat dengan serius. Aku terus mengatur nafas. Akibat yang diterima karena mengamuk tanpa kendali sangatlah besar.
Beberapa pasukan ada juga yang memiliki tatapan genit dan ingin melecehkan, aku harus bergergas berdiri!
Continue....
__ADS_1