![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
"Limit break!"
Seketika itu juga aku membabi buta sedangkan sang jenderal hanya menangkis seranganku. Seluruh pasukan yang berada dibelakangnya ikut menghilang bersamaan dengan ayunan pedangku. Seolah kekuatan pedang ini menguat seiring besarnya rasa negatif padaku.
"Ugh.. Kekuatan ini... Bahkan kehilangan banyak pasukan untuk ini...?"
Sang jendral hanya berkata remeh dan ketika tebasan terakhir berhasil melukai pinggang jendral dia berkata, "Hou? Berhasil juga kamu walaupun hanya goresan."
"Mari kutunjukkan kekuatan sebenarnya dari kekaisaran!"
Lanjutnya sambil mengangkat pedangnya. Seolah badannya membersar dan membiru, ototnya semakin besar hingga baju Zirahnya tak muat dan robek. Dia tertawa dengan kencang setelahnya segera meluncurkan serangan.
*Bugh!
Serangan mengenai perutku dan seketika aku terpental jauh kebelakang dengan mempertahankan kuda kudaku.
"Ahahaha.... Semakin seru..."
Ucapku yang tak dapat mengendalikan diriku sendiri.
"Hm? Dalam keadaan ini masih bisa berkata seperti itu, Haha! Memang benar katamu! Mari nikmati akhir darimu!"
Sang jendral melepas pedang ditangannya dan melanjutkannya dengan serangan tangan kosong.
*Bugh!
Sekali lagi aku terbukul pada perutku. Terpental jauh tapi dengan kondisi yang kacau, aku tak dapat lagi mempertahankan kuda kudaku dan kini telah terkapar dengan pedang hitam yang terjatuh jauh dariku. Kesadaranku kembali dan semua rasa sakit kembali.
"Uhug!"
Bau darah segar ini.. Sepertinya ini akhirnya... Ketika aku berkata demikian, sosok yang familiar kembali.
"...."
Dia hanya terdiam dan menangkis serangan jendral itu.
"Hah!?"
Sang jendral yang tengah di mode kekuatan pun terpaksa mundur karena serangannya yang tidak mempan.
"Tch! Satu orang pengganggu datang lagi."
Ah... Apa yang harus kulakukan? Tidak ada yang bisa aku lindungi, aku gagal...
"Hei bocah, aku tau kamu sedang berduka, setidaknya, pergilah dari sini. Buruanku menghilang dan tampaknya mereka mengetahuinya."
Ucap Satou kepadaku.
"Keh! Siapa yang kau maksud?"
Ucap sang jendral yang mendengar ucapan Satou.
"Ha... Kroco satu ini menggonggong seperti anjing yang tidak dapat melawan."
"Hah!? Apa katamu!?"
__ADS_1
Sang jendral yang terprovokasi menyerang tanpa pandang bulu. Namun, semua serangan itu sama sekali tidak berefek.
"Dasar monster." Gumamku.
"Lemah."
Ketika itu juga Satou menangkap tangan sang jendral lalu merapalkan sebuah sihir tanpa mantra.
*Bdum!
Tangannya meledak dan sang jendral terpental kebelakang.
"Guhak—!?"
Dia menabrak sebuah tembok dengan keras dan lalu jatuh dengan beberapa tulang yang patah.
"Da—dasar monster!"
Ucapnya setelah itu dia berdiri dengan posisi badan yang tak dapat lagi tegap.
"Woi jendral sialan!"
Itu adalah kata kata pertama yang dia ucapkan pada jendral itu.
"Kau sepertinya tau nama 'Leon' bukan? Beritahu aku kemana dia pergi?"
Sang jendral menyeringai dan kemudian berkata, "Bila kuberitahu? Bisakah kau mundur dan tidak melawanku?"
"Hmph, mengampuni sebuah kroco bukanlah kesenanganku, kau pikir aku akan sebaik itu? Ahahaha bahkan jika kau tidak memberitahuku aku akan menyiksamu dengan sihir milikku!"
Sudah kuduga makhluk ini, eksistensi ini, dia memang memiliki aura [Demon lord], tapi kenapa dia bisa mengendalikan semua amarahnya..?
"Oi, oi, bukankah itu terlalu kejam? Wahai makhluk kuat?"
"Kuhahaha! Apa kau berusaha membujukku? Setelah mengacau balaukan seluruh kerajaan ini? Semua rencanaku hancur karena serangan ini, kau tau?"
"Walau sebenarnya kau hanya ingin melindungi makhluk lemah itu?"
Ucapnya memprovokasi.
"Ha? Makhluk lemah itu? tidak peduli dengan dia, aku hanya ingin tahu dimana buruanku bernama 'Leon' itu. Tidakkah kau tau?"
"Dasar makhluk keji.. Tidak, aku tidak akan menjawab!"
"Ha... Baiklah itu pilihanmu."
Seketika itu juga, Satou menunjuk jendral itu menggunakan jari telunjuknya dan seketika mana disekitar berkumpul hingga membentuk sebuah bola hitam kecil yang kemudian melesat dengan sangat cepat menembus jantung jendral. Seketika itu juga jendral itu mati, dan seluruh pasukan kekaisaran mundur.
"...."
Dia menoleh dan menatap dengan tatapan iba. Lalu mendekat dan berkata.
"Ada sebuah dungeon yang dapat menjawab seluruh pertanyaanmu tentang sihir. Itu yang kudengar dari seseorang."
Yang kemudian dia sendiri bergerak menjauh.
__ADS_1
"A—apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku akan mencari seseorang bernama Leon, sisanya aku akan mencari tahu caraku untuk pulang keduniaku.
Yang kemudian dia menghilang dengan sihir teleport miliknya. Ah... Entah apa yang harus kulakukan...
Aku tergeletak lesu dan sedih, karena kepergian Zena yang entah bagaimana aku sendiri pun sangat terpukul karenanya. Seperti pepatah 'Datang akan pergi, Lewat kan berlalu' namun walaupun aku berusaha melupakannya, aku tak dapat melakukan itu... Dungeon?
"...."
Dalam keheningan aku berpikir.
Dungeon.. Sihir yang dapat menghidupkan... Sesuatu yang dapat mengembalikan milikku... Semua itu...
Sebuah angan angan yang mustahil baru saja dipatahkan dan walaupun itu legenda, mari kita cari dan sedikit berusaha. Tunggu aku Zena!
.
.
.
.
Aku dibawa menuju istana dan disitu aku bertemu raja. Oh, jadi dia raja yang memerintah era ini.
"Leluhur tinggi! Hamba ini adalah keturunan anda yang saat ini memimpin... Ada sesuatu—"
"Ya, Pohon dunianya."
"Oh! Ini akan jadi lebih cepat."
Dia kemudian berdiri.
"Ya, tidak ada waktu, aku juga merasakan kehadiran demon yang amat kuat berdiri di depanku. Aku tidak mengerti mengapa dia membantuku tapi lebih baik waspada."
"Baik Leluhur agung! Kalian dengar itu? Perkuat pengawasan!"
Sesaat setelah itu bunyi ledakan terdengar, prajurit berkata bahwa pasukan kekaisaran menyerang dan telah mengepung. Ah ini gawat, pohon dunianya.. Seketika itu juga hawa keberadaan seorang demon kembali terasa. Aura ini.. Dia ada di sekitar sini, apa yang sebenarnya dia cari?
Dan sesaat setelah itu sebuah kekuatan mahabesar tertuang dan seketika itu juga pasukan kekaisaran mundur. Lagi lagi si demon itu membantu kita, apa yang dia mau?
Dan ketika itu juga prajurit melaporkan bahwa ada 1 korban elf dengan rambut biru. Ah itu pasti mama... Aku tidak tahu harus berkata apa kepada papa... Aku juga seharusnya mengorbankan diriku untuk pohon dunia ini...
Dikatakan bahwa pohon dunia harus menerima korban untuk kembali subur dan ketika seorang leluhur mengorbankan dirinya, maka pohon dunia tidak perlu merenggut banyak nyawa.
'Ah papa, mungkin aku juga akan meninggalkanmu sendiri setelah sekian lama hidup... Dengan nama 'Meli' yang diberikan papa dan mama... Kini identitasku telah diketahui dan demi kerajaan ini aku perlu berkorban. Maafkan aku... Jangan marah padaku atau pada negeri ini, cukup ikhlaskan aku jika memang tak bisa, aku hanya bisa berkata melalui surat yang kutulis ini... Maaf papa, aku mencintaimu! Mama juga!' mungkin adalah kata terakhirku.
Setelah menulis surat nan panjang, sang raja meminta untuk mengirimkannya dan aku dipersiapkan untuk berkorban.
"Demi kedamaian dunia, dan demi keselamatan warga elf. Aku Meliana bersumpah! Ambilah diriku untuk melindungi dunia ini!"
Dan dengan itu cahaya cerah mengambil nyawaku, ah.. Semoga tidak ada yang merindukanku kali ini... Kan? Papa? Kamu tidak akan menyerah untuk mama bukan? Tolong, lakukan yang terbaik untuk mencari apa yang ingin kamu lakukan.
__ADS_1
Continue...