![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
Setelah berhasil melewati gerbang, kami harus memutar untuk sampai ke rumah Zena.
"Uwah.... Papa! Lihat padang rumput itu! Sangat luas..."
Meli yang dengan gembira memeluk kepalaku dari atas kepala ku.
"Anginnya sejuk..."
Aku membalas ucapan Meli.
Sepertinya ini kedua kalinya dia keluar dari kota. Dia jadi tampak senang melihat berbagai tumbuhan hijau tanpa halangan tembok. Matanya berbinar seolah dia penasaran apa yang ada di dunia ini. Zena hanya menatap Meli dengan senyuman hangat.
Selama kami berjalan, Meli tampak senang. Dia menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk melihat sekitarnya. Ada beberapa sapi liar dan kambing liar di padang rumput itu. Beberapa pedagang juga terkadang lewat walau hanya satu atau dua bersama beberapa pengawal.
"Akan tetapi, sinar matahari pada siang ini tidak terlalu panas berkat angin yang bertiup kencang ini ya..."
"Begitulah, aku sangat suka dengan kesejukan ini.."
Zena membalas ucapan ku. Rambutnya yang biru terurai karena angin. Rumput dan pohon bergoyang terkena angin. Beberapa serangga dan burung lewat di udara.
"Sepertinya kita akan sedikit berburu untuk makan nanti."
Sambil mengucapkannya, aku menurunkan Meli yang berada di atas pundak ku dan mengambil pedang yang berada di pinggang.
...****************...
"Wah... Hebat! Papa hebat!"
Meli melihat 2 ekor sapi liar yang telah mati tertusuk pedangku.
"Papa hebat, kan?"
Zena menanggapinya dengan bangga. Sepertinya dia memang benar benar serius ingin menikah denganku. Aku akan memikirkannya nanti.
Aku kemudian sedikit menjauh untuk menghilangkan darah sapi liar itu.
"Hm!"
Meli menganggukkan kepalanya lalu menengok ke arah Zena.
"Aku ingin jadi seperti papa yang kuat!"
"Ahaha.. Mama menantikannya loh."
Sementara aku membersihkan darah binatang hasil buruanku, mereka berdua berbicara tentang ku, walaupun tidak terlalu dengar dari sini.
"Ini yang terakhir, lalu tinggal di bungkus."
Aku bergumam pada diriku sendiri sambil memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu aku kembali dimana Meli dan Zena menunggu.
"Aku kembali."
Aku mengucapkan kata itu setelah mendekat ke arah mereka berdua.
"Aku sudah selesai dengan daging sapi liar, ayo kita lanjutkan."
"hm!"
Meli dengan semangat mengangguk lalu dengan cepat menggandengkan tangan Zena lalu segera menariknya.
"O-oh..."
Walaupun Zena terkejut, dia kemudian dengan tenang mengikuti Meli berlari. Senyuman terukir kembali.
"Hm... Mereka tampak akrab yah..."
Aku mendesah lega, lalu menyusul mereka dari belakang.
...****************...
__ADS_1
Di dekat dinding kastil, tepat dibelakang ada sebuah rumah kecil di pinggir jurang. Walaupun tampak dipinggir, Rumah itu memiliki jarak beberapa meter dari jurang itu. Posisi pintu rumah itu menghadap ke arah jurang. Memiliki halaman dengan pagar yang membatasinya.
"Papa! Lihat! Rumah terlihat!"
Meli menunjuk rumah itu lalu melepaskan tangannya dari genggaman Zena.
"Oh, boleh juga rumah ini. Sepertinya akan tenang di sini..."
Aku mengucapkannya.
"Mungkin tidak seperti rumah yang besar tapi ini cukup untuk keseharian."
Dia mengucapkannya dengan tenang.
Ditemani Angin yang bertiup lembut, sebuah rumah yang damai telah di dapat. Aku akan berterima kasih dengan orang tua Zena yang membelikan rumah ini, atau mungkin ini hasil tabungannya?
"Papa, mama, ayo kita masuk!"
Meli yang sudah tidak sabar menarik tangan kami berdua yang sedang menatap rumah itu.
"Iya, iya."
Aku mengangguk pelan dan menurutinya bersama Zena.
Kami bertiga berjalan mendekati rumah itu. Taman didepan rumahnya ditumbuhi oleh bunga. Di terasnya terdapat dua pasang kursi dan satu meja membatasi mereka.
"Wah...."
Mata meli berbinar karena pemandangan ini. Walaupun jurangnya menakutkan, tapi dia menghiraukannya.
"Bahkan sudah ada perabotannya."
Gumam Ku sambil melihat sekeliling halaman.
*Kreek....
Pintu berbunyi saat dibuka. Murni dengan kayu Walaupun begitu kayu-kayu ini berumur sangat tua. Kacanya bahkan tidak buram sedikitpun.
"Ya, semua ini dilindungi oleh sihir [Protection]."
"Begitu ya... Siapa yang menggunakannya?"
"Ah, ayahku dan ibuku. Mereka memiliki mana yang besar jadi mereka membuatnya untuk rumah ini."
Zena sedikit murung mengucapkannya.
Sihir [Protection] adalah sihir yang melindungi benda dari debu dan kotoran. Biasanya sihir ini digunakan untuk pakaian agar tidak kotor. Sihir ini dapat diaktifkan dnegan menyebut nama sihir itu. Penggunaan sihir ini sangat membutuhkan banyak mana, walaupun hanya berguna untuk melindungi dari debu dan kotoran.
"Hm? Ada apa? Kenapa kamu terlihat murung?"
"Tidak, tidak apa-apa."
Dia kemudian menyembunyikan wajah murungnya dnegan senyuman yang kembali. Dia juga segera menuju ke dapur dengan membawa daging hasil tangkapan ku tadi.
"Papa, ayo kita main di halaman sebentar."
Meli mengucapkannya setelah Zena pergi ke dapur.
"Ah, papa ingin menanam pohon di halaman, bisakah Meli membantu?"
"Hm? Pohon? Kalau begitu meli akan membantu!"
Dia dengan semangat melompat lalu keluar melewati pintu menuju ke halaman.
"Zena! Jika mencari ku aku berada di halaman!"
Aku mengucapkannya dari ruang tamu dan segera keluar menuju halaman.
"Ayo papa!"
__ADS_1
Meli yang sudah di halaman segera duduk di atas tanah yang berumput itu.
"Aku datang."
Aku segera mendekat ke arahnya lalu mengeluarkan alat bertani seperti cangkul, sekop, pupuk, dan biji bijian.
"Wah... Banyak."
Meli memandangi semua peralatan itu.
"Ah, pertama-tama, Papa akan buat sebuah kolam untuk sedikit hiasan."
Aku kemudian menggali tanahnya seperti membuat sebuah cekungan. Kemudian aku menata beberapa batu halus di pinggirannya.
"Wah... Batunya indah."
Meli melihat batu batu itu tertata di pinggir kolam itu. Tapi aku menghiraukannya.
"Dengan begini tinggal kita isi dengan air."
"Wah.. Meli ingin punya beberapa ikan!"
"Nanti kita tangkap ikannya."
Ucapku sambil sedikit mengacak-acak rambut meli.
Mata kiri ku sudah sembuh sejak saat itu, bekas lukannya pun hilang karena efek sihir [High Heal] yang merupakan mantra penyembuh tingkat tinggi yang hanya dimiliki oleh seorang priest. Priest itu adalah teman Zena. Dia merupakan Rabbitman yang memiliki telinga kelinci.
"Papa, Bagaimana kita mengisi airnya?"
Meli kemudian melihat ke arahku sambil terlihat penasaran.
"Mudah saja sih, tapi sepertinya akan lama jika menggunakan sihir."
"Jadi?"
Meli memiringkan kepalanya dan menaruh telunjuknya di dekat pipinya.
Jika menggunakan sihir [Water Shock] maka akan memakan waktu setidaknya dua menit. Tapi mananya akan cepat habis jadi tidak disarankan. Jika menggunakan selang air.... Kita Coba saja.
Aku meninggalkan Meli yang masih penasaran ke arah sebuah sumur di dekat jendela kamar. Lalu kemudian membuat sebuah pipa menuju ke bawah, dan memompanya dengan sihir angin yang memompa air itu masuk kedalam pipa dan naik keluar. Aku mengarahkannya ke kolam itu hingga penuh.
"Wah... Kolamnya terisi dengan air!"
"Jadi begitulah."
Aku mendesah lega ketika eksperimen ku berhasil.
Tidak lama setelah air terisi, aku mematikan sihir anginku dari dalam pipa dan kemudian melepas pasangan pasangan pipa lalu menyimpannya di dekat sumur.
"Kolam sudah jadi."
"Tinggal tangkap ikan dan kita punya ikan!"
Meli mengucapkannya dengan melompat kegirangan.
Beberapa kelinci hutan masuk lewat celah pagar kayu, dan kemudian minum dari kolam itu. Akhirnya Meli bermain dengan kelinci itu dan aku duduk di teras untuk beristirahat.
"Ini, aku membuatkan teh untukmu."
Zena muncul dari balik tembok melewati pintu, membawa sebuah nampan berisi tiga gelas di atasnya. Dua cangkir teh panas, dan satu gelas susu. Dari mana dia mendapat susu?
"Ah, terima kasih."
Aku kemudian menerimanya. Dia menaruh nampannya di atas meja dan duduk di kursi samping meja itu.
"Dia sangat senang ya.."
"Hm? Ya... begitulah."
__ADS_1
Dia kenudian meminum teh miliknya dan menyandarkan punggungnya dengan santai dan rileks. Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya itu dan meminum teh buatannya.
Continue...