Re [Life] : Incarnation

Re [Life] : Incarnation
Kepergian Seseorang yang Berharga Bagi Meli


__ADS_3

Ketika sudah dekat dengan perkemahan warga, aku mendengar isakan tangis. Terdengar jelas 50 meter kira-kira dari tempatku.


"Tangisan?"


Ucap Zena yang merespon suara itu.


"Aku juga mendengarnya..."


Jawabku. Kemudian aku mendongakkan kepalaku ke atas. Tidak ada yang salah dengan udara.


"Bau darah?"


Zena memotong pemikiran ku. Benar, Elf juga ahli dalam penciuman walaupun tidak sehebat demi-human Phanterian atau Warbeast.


"Darah?"


Aku kemudian secara reflek menarik tangan Zena dengan panik. Sial!! Semoga masih sempat!!


Karena terlalu lama menggandengnya, aku dengan segera menggendongnya.


"Kyah!"


Dia berteriak terkejut saat aku membopongnya dengan cepat. Sambil menghindari beberapa rintangan seperti ranting pohon dan dedaunan. Kami berdua sampai di perkemahan warga.


Banyak mayat berserakan. Bercak darah membekas pada tanah maupun tenda. Pemandangan ini...


"Ukh!"


Zena dengan segera melemas di gendonganku. Sial! Traumanya kambuh.


Trauma yang diderita Zena hanyalah saat melihat darah yang menggenang. Jika itu hanya menetes atau luka kecil maka itu tidak berpengaruh.


"Apa kamu baik-baik saja?"


Ucapku menanyainya.


"Aku baik-baik saja. Yang lebih penting—"


Memotong ucapan Zena, aku berjalan diantara warga yang menangis di dekat mayat. Lalu terlihat Seorang anak perempuan memegang tangan wanita yang tergeletak di tanah. Perutnya terluka, dan mengalami pendarahan. Rambutnya terkena darah sehingga sulit dikenali, tetapi wajahnya masih dapat dikenali.


Terlihat dari dekat Air mata mengalir. Aku menurunkan Zena perlahan dan kemudian membuatnya duduk sambil menutupi matanya. Yuni...?


Di dekat mayatnya terdapat kepala seseorang yang telah tertebas. Ada apa sebenarnya saat kami pergi..?


"Papa... Mama.... Aku takut..."


Dia berdiri lalu menuju ke arah Zena yang terduduk lemah yang kemudian memeluk Zena seperti anak kecil yang sangat ketakutan. Tangannya gemetar dan berkeringat.


Ah.. Seandainya aku tidak lama.. adalah apa yang aku pikirkan. Sambil berjongkok di dekat mayatnya, aku kemudian menepuk kedua tanganku dan berkata.


"Semoga tenang di sana... Maafkan aku..."


Sambil memejamkan mataku.


Satu hari setelah kepergian Yuni, Meli masih saja terlihat sedih. Matanya terlihat tidak termotivasi. Mungkin dia memang menganggapnya seorang kakak?


"Ada apa Meli?"


Ucap Zena yang sedikit khawatir.


Mayat Yuni dan warga yang lainnya dikuburkan di pinggir sungai dekat perkemahan. Aku menggunakan pedang Yuni sebagai tanda penghormatan dan menaruhnya di atas kuburnya. Saat hari itu juga Meli tetap memandangi kuburnya hingga beberapa jam.


"Tidak, tidak ada apa-apa."


Ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalau ada sesuatu maka bilang kepada mama, ok?"


"Baik..."


Dia kemudian menjawabnya. Hari ini kami kembali melanjutkan perjalanan bersama para prajurit. Tentu saja Yu, Sera, dan Nina juga bersama kami. Sepertinya Sera sedikit kasihan kepada Meli. Dia kemudian mendekat dan memegang kepalanya dengan halus lalu mulai berbicara.

__ADS_1


"Biarlah dia pergi, nanti kalau tidak bisa pergi dengan tenang bagaimana coba?"


Ucapnya tanpa memikirkan perasaan Meli. Dia itu... Tidak pandai melihat suasananya....


"..."


Meli terus diam sambil menghiraukan kata-kata yang diucapkan oleh Sera. Dia terus menundukkan kepalanya agar wajahnya tidak terlihat oleh siapa pun.


"Ya ampun perempuan itu.."


Aku mendengar suara kesal dari Yu dan menarik kembali Sera. Dia memarahinya dengan suara pelan. Nina yang melihat itu kemudian mendekat.


"Tersenyumlah."


Ucapnya sambil berjalan dengan kedua tangannya di sembunyikan di belakang tubuhnya.


"Hm?"


Meli yang terkejut kemudian mendongak ke arah Nina yang tidak melihatnya.


"Tersenyumlah seperti biasa. Jika kamu terus begini maka dia tidak akan memaafkanmu loh. Karena itu juga membuat mereka berdua khawatir, makanya tersenyumlah."


Dia kemudian menarik pipi Meli untuk membuat senyum secara paksa.


"Aw... Sakit! Kak Nwna!! Swkit! Hwntwikwan..."


Aku mendengar beberapa keluhan dari Meli yang berusaha melepas cubitan Nina.


"Makanya dengarkan aku dan tersenyumlah, aku aka melepasnya jika kamu berhenti memikirkannya."


Ucapnya sambil menutup matanya.


"Bwaiklwah.... Mweli awkan twrsenywum..."


"Begitu lebih baik."


Mendengar jawaban itu Nina melepaskannya. Pipi Meli yang merah karena dicubitnya kemudian dielusnya oleh dia sambil sedikit kesakitan.


Karena sesuatu entah kenapa dia kembali sedikit ceria dari sebelumnya. Yah.. Nina memang hebat kalau alasan mengganggu...


Sejak saat itu, papa dan mama selalu bersama. Tidak adil! Meli juga menginginkannya! Dan akhirnya, hari itu tiba.


"Hey, mama, cara membuat kue itu bagaimana?"


Ucapku yang mengambil sebuah mangkuk dari atas meja.


"Caranya mudah loh."


Dengan mengucapkannya, mama segera membawa beberapa telur lalu memecahkannya. Dia mengaduk telur itu dengan sebuah alat.


"Meli juga ingin mencobanya!"


Aku mengangkat kedua tanganku. Wah... Sangat menyenangkan!


Mama memberikannya kepadaku dan aku mulai diajari cara mengaduknya. Oh! Jadi begini caranya...


"Wah.. Meli belajar dengan cepat ya."


"Meli hebat, bukan?"


"Meli sangat hebat."


Mama mengucapkannya dengan tersenyum bangga. Mwehehe! Meli yang hebat ini tidak akan kalah dengan mama!


Aku kemudian mengaduknya sendiri, sementara mama membuka pintu untuk papa yang tergesa-gesa. Mou! Kue nya belum jadi padahal...


Karena aku penasaran apa yang mereka katakan, aku sedikit mengintip dan mendengar percakapan mereka.


"Makhluk iblis akan menyerang!?"


Mendengar itu mama langsung lemas. Makhluk iblis? Terdengar imut. Tetapi kenapa mama dan papa panik? Meli tidak mengerti.

__ADS_1


Setelah percakapan itu, papa dan mama memutuskan untuk mengungsi ke kota. Pada saat itu aku dan mama langsung berlari masuk tanpa membayar. Itu akan ditanggung oleh papa jadi, Meli akan membeli roti itu!


Ketika aku sudah membelinya, aku memakannya bersama mama. Dia terus memperhatikanku. Aku imut bukan?


Aku terus melahapnya hingga tanpa aku sadari, papa telah mendekat dan berkata.


"Oh, jadi kalian melihat roti dan langsung berlari kesini ya..."


Aku hanya menjawabnya dengan mengangguk. Mama berhenti memakannya. Loh? Ada apa mama? Tidak enak?


"Aku tidak habis..."


Atau itu yang aku dengar sambil memberikannya kepada papa. Aku tidak mendengar ucapan papa saat menjawabnya. Aku tidak peduli, mungkin mama sudah kenyang.


Setelah selesai makan dan mengembalikan sapu tangan, aku segera menarik kembali tangan mama dengan semangat. Aku ingin berkeliling melihat kota ini!


"Hoiii!! Itu berbahaya!!


Tetapi saat aku dan mama sedang berjalan, tiba-tiba seseorang berteriak. bangunan di dekatku dan mama runtuh. Wah!? Aku dan mama bisa terluka!!


Aku memejamkan mataku karena ketakutan. Eh? Tidak sakit?


Seketika aku mendengar seseorang berteriak memanggil nama mama.


"Kalian tidak apa!?"


Uuu.... Mama terluka karena aku....


"Uhuk... Uhuk... Uhuk..."


Dia dengan segera menyangga mama.


"Maafkan aku... Karena Meli mama terluka..."


Aku benar-benar menyesal... Maafkan aku...


"Papa tidak marah, hanya saja jangan bertindak seperti ini, oke?"


Ucapnya lalu tersenyum.


Hwaaaa Papa sangat baik!! Aku tidak bisa berhenti menangis!


"Hwaaa! Papa!!"


Aku kemudian memeluknya. Setelah beberapa saat seseorang menolong kami. Kami kemudian dibawa ke suatu tempat dimana banyak tenda di sana. Banyak anak kecil yang tampak kelaparan. Ada apa dengan mereka!? Seram!!


Aku akan menjaga mama! Siapa pun itu tidak penting! itulah komitmenku, tetapi kenyataannya terlalu seram.. Aku harus bersembunyi dibelakang papa yang menyangga mama yang sedang terluka.


Setelah disembuhkan, katanya kami akan berjalan lagi ke tempat yang lebih jauh. Di sana, papa memutuskan untuk berpisah sedikit lebih jauh dari mereka. Sebuah pohon besar!


Anginnya benar-benar sejuk... Ah... Aku mengantuk... Mataku jadi berat... Untuk sesaat aku akan tertidur.


Beberapa saat kemudian, aku merasakan anginnya terasa semakin deras.


"Hmng.. Papa... Kenapa anginnya bertiup sangat kencang? Dan lagi kenapa banyak suara kaki?"


Ah.. Sangat mengganggu, ada apa sebenarnya?


"Oh, jangan menoleh ke belakang oke?"


Papa sangat khawatir... Sebenarnya apa yang terjadi selama aku tertidur?


"Memangnya kenapa..?"


"Ah, itu..."


"Kita sedang dikejar oleh pasukan jahat, mereka sangat menyeramkan jadi jangan menoleh, ok?"


Pasukan jahat!? Uwah... menyeramkan!!


Pada akhirnya kami bergabung ke rombongan warga dan papa memberitahu semuanya.

__ADS_1


Continue....


__ADS_2