Re [Life] : Incarnation

Re [Life] : Incarnation
Sebut Saja Rawa Kematian


__ADS_3

Ketika aku berpikir tanpa melihat suasana, tanganku yang sedang mengelus rambut Zena terhenti. Dan sebuah tangan menyentuhnya.


"Hm? Oh, kamu sudah bangun?"


Aku mengucapkannya sambil melihat dia yang menyentuh tanganku.


"Hm?"


Dia kemudian duduk dan melihat sekitarnya.


"Ada apa?"


Aku bertanya kepada Zena yang sepertinya sedang kebingungan.


"Tidak.. Kita.. Dimana?"


Ucapnya.


"Yah... Aku tidak tahu dimana.. Bukankah tadi kamu sudah bertanya?"


"Aku terlalu lelah hingga tidak mendengarnya. Hehe."


Sambil membuat wajah mengejek dia tersenyum.


"Hah... Baiklah, pertama, kita akan cari sesuatu yang bisa dimakan."


Ucapku. Hm?


Dia terus menatapku dengan tatapan memohon.


"Apa?"


Aku yang kebingungan bertanya.


"Tidak."


Dia dengan tersenyum menjawabnya. Dia kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya untun membantuku berdiri.


"..."


Aku menerimanya dan berdiri. Dengan cepat dia menyilangkan tangannya dan menempel padaku.


"Ouh, jadi ini yang dimaksud dengan tatapan tadi..?"


Ucapku.


"Hehe."


Jawabnya singkat. Dia kemudian berjalan dengan perlahan mengikuti langkah kakiku. Ketika tidak berada di dekat Meli dia akan bersikap manja seperti ini, ketika meli berada di dekatnya dia akan merubah kepribadiannya menjadi sedikit dewasa. Hah.. Memang dia ini sanagt hebat ya... Atau apakah ini yang dimaksud dengan insting ibu?


"Hey, Luke. Sedang memikirkan apa?"


Ucapnya yang melihatku terlihat sedang berpikir.


"Hm? Ah, tentang kekaisaran yang menyerang kerajaan."


"Ada apa dengan kekaisaran?"


Dia bertanya seolah dia tidak tahu.

__ADS_1


"Aku dengar soal rumor jika di kekaisaran seluruh demi human akan menjadi budak... Dan jika menurutku, mereka hanya ingin mencari tambahan budak untuk masukan... Atau mungkin untuk sang kaisar sendiri...?"


"Ouh... Tentang itu... Aku juga banyak mendengar rumor tentang kekaisaran yang sepertinya mereka kekurangan lahan untuk menambah aset pasar budak."


"Hah... Jika kita membahas kekaisaran sangat banyak rumor jelek yang menyebar tentang kekaisaran.. Aku jadi kasihan dengan mereka yang menjadi budak di sana..."


Setidaknya aku dan Zena tidak tertangkap oleh mereka..


"Ngomong-ngomong, aku sedikit khawatir dengan Meli... Apa dia baik-baik saja ya..?"


"Hah? Memangnya kamu menitipkannya pada siapa?"


"Eh? Tidak, bukan begitu. Aku hanya khawatir apakah dia mencari kita atau tidak..."


"Hah... Baiklah, aku akan memafkanmu..."


Aku mengelus kepalanya dengan lembut.


"Ah, hari akan segera gelap, kita harus mencari sesuatu untuk dimakan..."


Zena menyela.


"Ah! Maaf aku lupa..."


Dengan segera kami berdua mencari tempat untuk berlindung di malam hari. Sebelumnya kami berburu. Anehnya, tidak ada monster di hutan ini. Karena itu, tidak prrlu berlama-lama kami mengambil 2 rusa dan membawanya setelah di hilangkan darahnya.


Api unggun menyala, Daging yang telah di potong menjadi bagian kecil sedang dibakar. Tanpa menggunakan apapun, rasanya hambar.


"Ha.. Setidaknya ini dapat menghilangka rasa laparku..."


Ucapku. Kami juga menemukan beberapa sumber air. Sekarang ini kami menetap di dekat sumber air itu. Sore itu setelah berburu, Zena dengan cepat mengajakku mandi bersama di sungai, karena badanku juga lengket karena berkeringat, aku menerimanya.


Setelah itu, kami makan malam dan pada saat itu juga, Zena mendekat dan tertidur di bahuku. Seperti pada saat itu yah... Yang akhirnya aku ikut tertidur dengan kepalaku yang ikut menyandar pada kepalanya.


Pagi berikutnya, aku terbangun lebih dahulu daripada Zena. Situasi masih smaa seperti kemarin, hanya ada beberapa hewan dan tidak ada monster sama sekali di daerah ini. Itu bukan berarti kami akan melepaskan kewaspadaan kami.


"Hmng..."


Zena meregangkan ototnya yang kaku karena tertidur secara duduk. Sedangkan aku memanggang daging semalam yang sepertinya masi segar berkat es dan daun yang aku ambil untuk melindunginya dari hewan pemakan daging dan supaya daging tidak tercium oleh predator.


"Bisakah kita mandi bersama lagi?"


Ucapnya.


"Hm? Aku sedang membakar sarapan.. Woah!!"


Seketika tanganku ditarik menuju sungai.


"Sudah aku bilang aku akan membuat sarapannya dulu..."


Dengan cepat melepas bajunya dan segera masuk ke sungai.


"Brrrrr! Dingin!"


Ucapnya.


"....Hah...."


Aku menghela nafas dan bergabung dengannya dan mandi. Setelah beberapa menit, aku segera memakai bajuku dan kembali ke api unggun. Zena masih mandi jadi biarkan saja.

__ADS_1


Beberapa saat menunggu, daging siap disantap. Karena kemungkinan Zena masi lama, aku menunggunya agar tidak panas dan meletakkannya ke daun yang digunakan untuk piring. Aku mendekatkannya ke api unggun tetapi tidak terlalu dekat sehingga tidak terbakar.


"Aku selesai!"


Dengan cepat dia datang mendekat kearahku dan duduk di sampingku. Aku memberikan daging yang telah matang tadi kepadanya dan dia menerimanya lalu memakannya. Tidak ada rasanya seperti kemarin.


Beberapa waktu kami menunggu untuk mengobrol sebentar dan lalu melanjutkan perjalanan kami menuju arah yang acak. Sementara itu, medan berganti menjadi sebuah rawa. Rawa yang dipenuhi berbagai tulang belulang, air yang berwarna coklat dengan asap sedikit hijau, dan kabut yang menyelimuti rawa itu. Pohon di sekitarnya sedikit menyeramkan dan tidak memiliki daun. Cahaya tidak masuk menembus kabut.


"Ouh... Baunya busuk..."


Zena dengan cepat menutup hidungnya rapat-rapat. Matanya sedikit berkaca-kaca akibat bau yang menyengat itu. Aku juga menutup hidungku, hanya mengandalkan mulut untuk bernafas.


"Baunya sangat menyengat..."


Atau mungkin sebaliknya.


"Zena! Ikuti aku!"


Dengan segera aku menariktangannya dan keluar dari rawa itu.


"Huft.. Huft.. Ada apa Luke?"


Zena yang terkejut bertanya.


"Huft.. Huft.. Huft.. Rawa itu... Beracun..."


Ucapku sambil terengah-engah.


"Hah!?"


Zena terkejut. Dia seolah hampir saja menghirupnya terlalu banyak.


"Begitulah yang aku rasakan dari firasatku.."


"Hm...."


Zena merenung sedikit berpikir.


"Ah! Mungkin tulang itu adalah sisa hewan yang mati menghirup udaranya?"


Ucap Zena.


"Mungkin? Tapi apa yang membuat gas air itu menjadi beracun?"


Itulah pertanyaan yang muncul di benakku.


"Entahlah? Bagaimanapun juga kita harus melewatinya bukan? Atau kita harus mengambil jalan memutar?"


Aku kemudian sedikit berpikir. Jika memang kita berada di benua lain, ini mungkin masi memiliki jalan pulang. Tetapi Jika ini adalah dunia yang lain lagi maka, kabar terburuknya kami tidak akan bisa pulang dan bertemu Meli.


"Baiklah, mari kita coba kalan memutar."


Aku dengan yakin mengucapkannya tanpa memikirkan pemikiran tadi. Dengan percaya diri terus mengikuti kata hati. Kami berjalan memutar dari rawa itu, walaupun begitu, sepertinya airnya pun juga beracun. Dilihat dari manapun, Tanaman disekitarnya mati karena kering dan bukan karena membusuk. Itu berarti mereka mematikan langsung akar hingga daunnya dan menyisakan batangnya.


Walaupun sedikit mengerikan berjalan berdekatan dengan daerah rawa kematian, setidaknya radiasi racunnya tidak menggapai kami. Dengan terus berjalan dan mengandalkan hewan untuk diburu kami melangkah menuju sebuah padang rumput yang luas. Banyak Domba di sekitar padang rumput itu seperti sedang memakan rumput dan beberapa berlarian meminum air dari genangan kecil.


Benar-benar tidak ada monster? Pikir kami berdua. Karena terdapat hewan, kami berburu sejenak untuk makan siang. Tentu saja tanpa garam. Hambar.


Continue...

__ADS_1


__ADS_2