Re [Life] : Incarnation

Re [Life] : Incarnation
Keberangkatan dan Ucapan Selamat Tinggal


__ADS_3

"Uahm..."


Aku terbangun lalu menguap sambil melihat sekelilingku.


"Hari ini aku harus berangkat ke kota, ya?"


Ucapku yang menyadari hari sudah pagi. Aku segera keluar dari kamarku, menuju ruang makan.


"Pagi ibu."


"Pagi nak, sarapan mu sudah siap loh."


"Ayah dimana? Apakah sudah berangkat?"


"Ayah berangkat sedikit lebih awal dari biasanya, ada apa nak?"


Sepertinya aku akan menghiraukan ayah dan segera bersiap siap.


"Tidak ada, hanya sedikit penasaran saja kok bu."


"Kalau begitu segera dimakan sarapan mu nak, Lalu bersiaplah untuk berangkat."


"Baik..."


Sambil menjawabnya dengan malas aku segera duduk di meja. Seperti biasa ya... Kentang rebus dengan sayuran hijau.


"Ibu akan mencuci beberapa pakaian, jadi makanlah dengan tenang ya."


"Baiklah..."


Setelah mendengar jawabanku, ibu langsung keluar untuk mencuci.


Untuk mencuci, orang di desa ini hanya memanfaatkan air sungai. Tidak ada alat elektronik seperti di bumi.


"Huft... Aku sedikit kesepian...."


ucapku sambil menghela nafas.


"Apalagi makanan ini seperti biasanya ya...."


Gumam ku sambil memakan Kentang tersebut. Rasanya sedikit hambar karena hanya diberi garam sedikit, setidaknya aku harus bersyukur dapat makan.


Ngomong-ngomong, satu-satunya penghasilan desa ini adalah kentang. Walaupun harga jualnya tidak mahal. Untuk harga kentang adalah 1 koin perak. Tentang uang di dunia ini terdapat 4 uang logam, berikut adalah daftar uang logam tersebut :


1 koin emas besar \= 5 koin emas,


1 koin emas \= 10 koin perak,


1 koin perak \= 10 koin bronze,


1 koin bronze \= 5 koin copper, dan


1 koin copper adalah yang terendah.


Aku diberi senjata oleh ayahku, sebuah pedang Mithril. Walaupun sudah sedikit tua, tetapi tampak mahal. Untuk uang, aku diberi 8 koin bronze dan 17 koin silver. Menurutku memang sedikit, tetapi kata ibu itu cukup untuk menginap selama 10 hari ditambah dengan makanan.


"Uh... Sepertinya perutku tidak sanggup lagi memakan kentang rebus ini..."


Sambil menaruh kembali sebuah sendok, aku kemudian menaruh piring itu ke sebuah ember. Ibu akan mengurus itu nanti bukan?


"Sekarang saatnya bersiap."

__ADS_1


Ucapku sambil kembali ke kamarku untuk memakai pakaian yang tampak sedikit lebih bagus. Pakaian petualang milik Ayah, sedikit lusuh tetapi masih terlihat masih layak untuk dipakai.


"Yosh! Aku siap sekarang!"


Sambil menyeringai kearah cermin kecil, aku berbicara kepada diriku sendiri.


Ngomong ngomong tentang logam, ada beberapa logam di dunia ini.


Dari yang termahal dan langka adalah Mithril, biasanya dipakai oleh seorang raja, bangsawan, Petualang rank atas, Pahlawan, atau pedagang kaya. Untuk pedang mitrhil ayahku, tentu saja ayahku adalah petualang kelas atas. Lalu yang kedua adalah orichalcum. biasa dipakai untuk perisai dan armor. Karena teksturnya yang sangat keras, sangat cocok digunakan pada perisai dan armor.


yang ketiga emas, biasanya dipakai sebagai hiasan pada tubuh seperti gelang, anting, kalung, atau pernak pernik, atau jika dia adalah seorang yang kaya, mereka akan menggabungkan emas itu pada pedang, tongkat sihir atau sesuatu yang lain seperti lambang keluarga atau hanya hiasan.


Yang keempat adalah besi magis, besi yang bisa menyerap energi sihir hingga batas tertentu. bisa digunakan sebagai penyimpanan sihir, lalu bisa dikeluarkan saat penggunanya membutuhkan energi sihir atau kehabisan sihir. Dan yang kelima, besi. Seperti namanya hanya besi biasa, dipakai sebagai pedang, ujung tombak, bilah pisau, atau pada ujung panah.


"Hm... Sepertinya sudah semuanya siap."


Sambil mengangkat tasku yang ringan aku berjalan keluar kamar.


Tas ku adalah item sihir yang aku buat diam diam saat sendirian. Tas itu aku beri sihir bernama [Storage] yang dapat menyimpan semua barang. kekuatan ini aku dapatkan dari game WWO. walaupun begitu masih banyak teknik pedang yang bisa aku gunakan.


"Apakah sudah siap? Ayah dan Ibu akan mengantarkan mu sampai jalan keluar desa loh." ucap Ibu.


"Oh iya bu, ayah juga sudah berada di dekat sana kan?"


Sambil menjawabnya, aku kemudian menaruh tasku untuk mengambil gelas kayu. mengisinya dengan air lalu meminumnya.


"Ya, ayah sedang menunggumu sambil membantu paman Kai menyiapkan kereta dagangnya."


"Begitu kah..."


Aku kembali memakai tas ku setelah menaruh gelas kayu itu pada meja.


"Kalau begitu aku akan ke sana."


Sambil terlihat khawatir dia melambaikan tangannya, dan kemudian aku keluar dari rumah.


"Huft..."


"Ada apa dengan tampang kerepotan itu?"


"Uwah!?"


Aku sangat terkejut oi!! dasar Nina bodoh!


"Sejak kapan kamu sampai di sini!? Aku terkejut oi! Bisakah sedikit lebih lembut saat menyapa!? Dasar Nina bodoh!"


"Sejak saat kamu menghela nafas mu, lagipula kamu seharusnya bersemangat karena akan pergi ke kota bukan?"


Kau ini, sangat pintar mengalihkan topik... setidaknya perbaiki sikapmu oi!


Nina adalah teman masa kecilku. Walaupun begitu sifatnya selalu menjengkelkan. Dia cantik, tapi aku tidak menyukainya. Bukan berarti aku membencinya, tetapi sifatnya yang menjengkelkan itu yang aku benci. Rambutnya berwarna ungu muda, dengan mata biru tua. umurnya 1 tahun lebih tua dariku, tingginya sama denganku. Dia manusia.


"Aku sangat kerepotan tahu.. Belum lagi biaya hidup yang harus aku pikir... Merepotkan..."


"Kamu ini sama sekali tidak berubah ya... Selalu saja mengeluhkan hal kecil. Yah sifat pemalas mu itu lebih menonjol."


"Benar! Aku memang sedikit pemalas! Aku akan menghindari hal-hal yang merepotkan!"


"ahahaha."


"Kenapa kamu tertawa! woi, ini tidak lucu sama sekali!"

__ADS_1


Huft... memang menyulitkan berurusan dengannya.


Ciri fisikku sama seperti di game, Rambut hitam, dengan mata kanan berwarna merah dan mata kiri berwarna biru.


"Yah, terserah kau saja. Kalau begitu aku akan menuju depan Gerbang desa."


Sambil menghiraukan Nina yang tertawa, aku berjalan melewatinya.


"Tunggu Luke, aku ingin berbicara denganmu."


Dia menghentikan tawanya dan berubah ke mode serius.


"hm? Ada apa?"


Aku menghentikan langkahku lalu berbalik ke arah Nina.


"Seringlah mampir ke desa saat sudah sukses ya."


ucapnya sambil tersenyum.


"Aku tahu... tentu saja, lagipula ini kampung halamanku bukan?"


Aku mengucapkannya dengan santai.


"Ahaha... Tidak aku sangka akan menanggapinya dengan serius, aku kira kamu tidak akan serius loh."


"Menjengkelkan."


Aku mengucapkannya dengan nada datar, Lalu dia mendekat.


"Ayolah, kamu ini selalu saja dingin, ahaha."


"huft... Kau ini..."


Aku dengan keras memukul kepalanya menggunakan tanganku.


*plak!


"Aw... Sakit.... Jangan marah dong... ayolah, Luke. Aku bercanda jadi maafkan aku, ya? Aku akan mengantarmu ke sana."


"Hm. Aku maafkan. Ayo cepat pergi, semua sudah menunggu." ucapku.


...****************...


Setelah kejadian itu, akhirnya aku sampai pada depan gerbang desa. Semua warga desa termasuk teman-teman masa kecilku menunggu kami berangkat.


"Hati hati di jalan ya..."


Ibu mengucapkan kata itu lalu memberikan sebuah bungkusan. Makanan?


"Ya, jaga diri ya, lalu untuk ayah, jangan memaksakan diri untuk bekerja jika lelah."


"Ayo berangkat Luke!"


Paman Kai berteriak kepadaku.


"baik! aku datang! Kalau begitu semuanya! aku berangkat!"


Aku melambaikan tanganku sebentar lalu berbalik menuju kereta kuda paman Kai. Kami pun berangkat, semua warga desa melambaikan tangannya lalu berteriak "Sampai jumpa Luke!" secara serentak. Hatiku sedikit tersentuh. Air mata sedikit keluar dari mata.


"Ya ampun... mereka ini..."

__ADS_1


Sambil mengelap air mata yang keluar tanpa sebab, aku mengatakannya.


continue....


__ADS_2