![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
Setelah meminumkannya Zena dengan lega menghela nafasnya. Apakah dia sekhawatir itu?
"Huft.."
"Zena, habiskan dulu makananmu, Biarkan Meli makan sendiri."
Shion memberitahu Zena yang sedang meniup sup milik Meli dan berusaha menyuapinya.
"Tidak apa kok."
Zena hanya tersenyum dan tetap melanjutkannya.
"Biar aku saja yang menyuapinya, Kamu makanlah dahulu."
"Baiklah..."
Zena menjawabnya dengan kecewa lalu memakannya.
"Kamu bisa menyuapinya lagi besok loh?"
"Baiklah, aku mengerti."
Shion memberi sedikit penghiburan kepada Zena yang sedikit bersedih. Kami semua akhirnya selesai makan, Meli sedang ditemani tidur oleh Stella, Heis dan Shion sedang bermesraan di dekat api unggun.
"Zena, pakailah ini."
Aku menyerahkan sebuah baju kepada Zena.
"Hm? Ah.. Terima kasih."
"Tidak, karena bajumu sudah sobek jadi aku memberikan cadangan baju ini."
Dia menerimanya dengan hangat lalu segera menuju kedalam goa untuk berganti pakaian.
Shion kemudian segera menuju ke arah Zena untuk berbicara sesuatu. Heis mendekat ke arahku.
"Luke, anak itu... Jangan-jangan kalian sudah melakukannya?"
"Tidak, aku menemukannya saat berusaha mencari tempat aman."
"Hm.. Lalu Zena itu.. pacarmu?"
Pertanyaan itu membuatku merasa sedikit terganggu. Aku mungkin tidak menyadari perasaan itu karena di kehidupan sebelumnya aku tidak memiliki pacar bahkan aku tidak pernah merasakan cinta.
"Entahlah.."
Aku menjawabnya dengan acak untuk menghindari topik itu.
"Begitu ya..."
Tampaknya Heis salah paham dengan ucapanku. Mungkin dia menganggap ku benar-benar pacarnya. Aku tidak mempedulikan pikirannya saat ini. Yang aku pikirkan adalah untuk segera mengakhiri pertempuran ini secepatnya.
"Kalau begitu aku akan segera tidur."
Dia kemudian berdiri dari sebelahku dan mendekat ke arah Stella dan Meli yang sudah tertidur. Shion juga kemudian menyusul Heis dan segera tidur.
"Ah... Suasana yang tenang.."
Aku mengucapkannya dengan mendesah lega.
"Ah... Jadi bagaiman penampilanku?"
Aku segera memalingkan wajahku dan melihat ke arah suara dari belakangku.
"Oh..."
"Apakah tidak bagus?"
"Itu sangat bagus.."
__ADS_1
Dia kemudian tersipu karena ucapanku. Dia terlihat menawan dengan cahaya malam yang redup...
"Ah! Maafkan aku.."
"Tidak kok, lagipula memang benar pakaian itu cocok untukmu."
"Ehehe..."
Dia dengan senang menerima pujian ku.
"Zena, aku akan kembali ke pertempuran itu sebelum lebih banyak lagi korban yang bertambah."
"Ah... Aku akan ikut!"
"Tenanglah, aku tidak akan lama. Aku janji."
"Kalau begitu... Janji loh, jangan terlalu lama, oke?"
"Aku janji."
Aku melakukan janji kelingking dengan Zena dibawah sinar bulan.
"Kalau begitu aku akan berangkat, mataku akan baik baik saja jadi tenanglah."
"Ah... Baiklah..."
Aku berbalik membelakangi Zena dan segera berjalan kedalam gelapnya hutan. Setelah jauh dari goa, aku segera hinggap pada pohon satu ke pohon lain hingga menuju kota Yuma.
Kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya, hanya asap hitam yang mengepul dari beberapa rumah. Api sudah mulai padam, Para warga yang memberontak telah menyerah dan sekarang mereka akan melarikan diri.
"Hup."
Aku turun melalu pohon dan masuk lewat gerbang utama kota Yuma. Beberapa warga melarikan diri dari kejaran prajurit kota, beberapa juga mencegat mereka melukai warga yang ingin keluar dengan senjata seadanya.
"Hyatt!"
*Swoosh!
"Cih! Hyattt!"
*Swosh! *Swooosh!!
Dia terus menebasku dengan acak. Armornya sudah penuh dengan darah, wajahnya sangat berminyak, dan Banyak goresan di armor besinya.
"Hyaaattt! Heit!"
*Swoosh! *Swoosh!
Dia terus mengayunkan pedangnya dengan acak. Aku terus menghindarinya, lalu dengan cepat membuat prajurit itu pingsan.
*Brak! *Clank!
Suara besi terjatuh, kini 1 prajurit telah pingsan, dan yang lainnya tampak biasa saja dan terus melawan para warga.
Tanpa suara aku menebas semua prajurit dan segera bersembunyi dari para warga untuk menyembunyikan identitas ku.
"Huh... Aman.."
"Hai."
"Wah!!"
"Ahaha... Sudah lama ya?"
"Nina? Kenapa kamu di sini?"
Dia Nina yang sedang memakai baju hitam. Dia tampak baru saja tiba di sini.
"Kamu tahu? Aku sekarang ini dalam tugas untuk mengamati kondisi di kota ini loh?"
__ADS_1
"Eh? Jangan-jangan kamu ini juga mengenal Yu dan Sera!?"
"Oh, mereka, aku kenal kok."
Dia menjawabnya seperti biasa dengan senyuman di wajahnya.
"Hah.. Kamu ini tidak berubah ya..."
"Tentu, lagipula kamu juga tidak berubah."
"Aku tahu. Jadi, bagaimana kamu akan melaporkannya?"
Dia kemudian sedikit berpikir. Sejak awal dia memiliki kemampuan untuk menghilangkan hawa keberadaannya sendiri. Bakat ini biasanya akan cocok untuk menjadi Ninja atau assassin. Walaupun menjengkelkan tapi dia bisa menjadi anak buah mata-mata kerajaan itu sesuatu yang liar biasa.
"Mungkin aku akan memberi tahu mu sedikit informasi."
"Hm?"
Aku menanggapinya dengan penasaran.
"Pasukan kerajaan akan dikirim untuk membantu para warga di sini, jadi tolong berjuanglah untuk mengurangi korban sebelum bantuan datang ok?"
"Seperti biasanya, kah? perintah yang merepotkan."
"Ahaha... Maafkan aku tapi aku memang hanya bisa membuatmu repot. Kalau begitu sampai jumpa."
Dia seketika menghilang dalam kegelapan. Aku menghela nafasku dan kemudian segera naik ke atas rumah yang memiliki 2 tingkat lalu mencoba melihat suasana kota.
"Hanya daerah ini yang diserang, kah....?"
Aku melihat sebagian kota terlihat damai, bahkan tidaka da asap dari sana. Sepertinya bangsawan itu hanya ingin menghancurkan kawasan ini, karena banyak dari warga yang tinggal di sini kebanyakan adalah korban dari bangsawan itu.
"Hah... Merepotkan... Aku akan mulai dari sudut yang ramai."
Aku kemudian bergerak ke sudut yang sedang berperang. Walaupun dari jauh tampak tenang, sebenarnya dari dekat sedang terjadi pertempuran.
"Hwoo!!"
"Hyat!!!"
"Sei!"
Para warga berteriak dengan semangat berapi api. Kebanyakan dari mereka laki-laki dan petualang. anak-anak, dan wanita sudah diungsikan. Sekarang ini seperti sebuah pemberontakan dan bukan perang.
"Hm... Akan merepotkan jika identitas ku diketahui."
Aku kemudian mengeluarkan sebuah syal panjang berwarna merah untuk menutupi mulutku.
"Ok, dengan ini aku akan meluncur. Hap."
Aku melompat dari atas gedung dan jatuh menindih salah satu prajurit hingga terjatuh. Para warga bahkan prajurit terkejut dengan kedatanganku.
"Siapa kamu! Hajar juga dia!"
"Hwoooo!"
Para prajurit dengan membabi buta menyerang ku. Para warga segera maju. Namun aku mencegahnya dengan menebas semua prajurit yang menyerang. Pemandangan tidak menyenangkan terlihat. Kepala prajurit beserta armor kepala mereka melayang. Darah bercucuran lalu jatuh ke tanah.
Para warga ketakutan, Aku menyisakan satu prajurit yang berada di belakang mereka. Dia juga tampak ngeri dengan kejadian itu. Dengan cepat dia berlari menjauh.
"Kita menang! ayo kita maju!"
"Terima kasih nak, kamu menyelamatkan kami. Kami akan melanjutkan pemberontakan ini, apa yang akan kamu lakukan nak?"
Seorang pria tua berbicara kepadaku yang dengan santai menyarungkan pedangku yang penuh dengan darah.
"Aku hanya diberi perintah oleh kerajaan untuk menghentikan semua ini. Jangan berterima kasih kepadaku. Raja telah memberi perintah, dan pasukan kerajaan akan sampai secepatnya. Kalian semua cepatlah mundur, biar aku yang mengurus mereka."
Aku mengucapkannya dengan nada dingin. Aku juga berbohong tentang perintah dari kerajaan. Setidaknya aku akan menghentikan mereka.
__ADS_1
Continue...