![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
"Uh... Perangnya sudah dimulai..."
Zena yang telah pulih kini melihat ke dalam asap hitam itu. Terlihat makhluk iblis dengan kepala kadal dan tanduk di kepalanya.
Setelah sedikit melihat peperangan itu, kami bertiga kemudian berjalan mencari tenda yang kosong untuk kami tinggali.
"Sepertinya banyak rakyat dan bangsawan disini."
Ucapku sambil melihat situasi sekitar. Meli dan Zena bergandengan tangan dan berjalan di sampingku.
"ah! Ada satu!"
Meli kemudian menunjuk sebuah tenda kosong yang berada tepat di depanku.
"Uwahhh!!"
Setelah menunjuknya dia kemudian menarik tangan Zena yang masih digandengnya menuju ke tenda kosong itu.
Sebuah tenda besar berwarna hijau gelap dengan tambahan 1 jendela terbuat dari kain. Di dalamnya hanya beralaskan tanah.
"Sepertinya kita harus menyiapkan alasnya..."
Kami bertiga menyiapkan tenda itu. Mulai dari alas, menata tas, dan juga menata beberapa tempat yang layak untuk tidur. Tenda ini terbuat kain yang telah diberi sihir anti air. Aku tidak tahu sihir apa tetapi yang jelas sihir itu sangat membantu saat hujan.
"Huwah...."
Ucap Meli yang kemudian mengelap keringat di dahinya menggunakan lengannya.
"Sangat sibuk ya?"
Sambil mengatakannya Zena menepuk kepala Meli.
"Oh."
Seorang prajurit datang mendekat ke tenda kami lalu memberikan sebuah daging.
"Ini, bagilah kepada anggota keluargamu."
Sang prajurit memberikannya kepadaku lalu berbalik kembali ke arah pagar yang telah dipasang agar tidak ada warga yang berlarian di pagar itu.
Beberapa warga dan bangsawan diberikan daging yang sama dengan milik kami. Tetapi untuk bangsawan mereka hanya menyuruh maid atau sebas mereka yang memasaknya. Seluruh pengungsi juga diberi daging itu oleh prajurit hingga bantuan dari ibukota datang.
"Uwah.... Daging segar..!!"
Meli dengan girang berputar seperti seorang atlit balet.
__ADS_1
"Harus diapakan ini?"
Aku kemudian bertanya kepada Zena yang tengah melihatku membawa sebuah daging yang dibungkus menggunakan daun. Sepertinya kami akan berpindah lagi dari sini...
"Serahkan saja kepadaku. Akan aku buatkan sesuatu yang enak!"
Sambil mengacungkan dua jarinya di dekat matanya dia kemudian mengambil daging itu. Sementara itu Meli mengikuti gaya Zena seperti seorang anak kecil yang polos.
Walaupun orang-orang melihat perilaku Zena yang kekanak-kanakan mereka malah lebih fokus kepada Meli yang mengikuti tingkah Zena. Di pandangan orang-orang mungkin seperti anak yang mengikuti tingkah ibunya.
"Aku akan membantu."
Aku kemudian menyusun kayu bakar dari magic bag ku dan menyusun beberapa kerikil dipinggir susunan itu.
"Hm?"
Meli kemudian berjongkok dekat api unggun yang belum menyala itu sambil menyentuhnya menggunakan telunjuknya.
"Meli, jangan dekat-dekat dengan itu dulu. Itu akan dinyalakan nanti."
Ucap Zena yang tengah mengiris daging itu dengan alas sebuah batu yang datar dekat tenda. Untuk air, kami menggunakan sihir sehari-hari milik Zena, dan untuk api menggunakan sihir ku.
"Baik!"
Meli kemudian menjawab perkataan Zena dan kembali berdiri lalu berjalan mendekat ke arah Zena yang tengah memotong daging.
Setelah mengucapkannya, Kayu yang berada di tengah kerikil itu terbakar. Sihir [Fire] adalah versi singkat dari [fireball]. Sihir ini hanya akan menyala ketika di dekat benda yang mudah terbakar seperti kayu. Untuk [fireball] sihir ini dapat keluar ketika kita mengucapkan mantra nya.
Contohnya ketika kita menyerang seseorang menggunakan [fire] maka api hanya akan merambat melalui pakaian lalu membakar orang itu, tetapi untuk [fireball] mereka akan terkena bola api yang terbang dari arah sang pengguna dan akan membuat luka yang lebih parah walaupun akan langsung lenyap. Efeknya tidak akan bertahan seperti kita menyembur api, hanya sekali pakai.
"Huft... Oke, apinya siap!"
Setelah sedikit menghela nafasku kemudian berteriak kepada Zena yang juga telah selesai memotong daging daging itu.
"Ah, Sepertinya kita butuh sesuatu."
Zena kemudian masuk kedalam tenda dan keluar membawa beberapa bumbu dan tusuk sate. Dia kemudian mengolesi daging itu dengan sebuah bubuk hitam dan putih lalu memberinya garam.
"Uwah..."
Mata Meli yang melihatnya dari dekat berkilauan seakan itu sangat enak. Air liurnya telah keluar tanpa sengaja dan sepertinya dia tampak ingin memakannya.
"Lalu.. Uth..."
Dia kemudian menusukkan beberapa daging ke tusuk sate itu. Setelah itu mendekat ke arahku yang berada di samping api unggun lalu menaruh sate daging tersebut di pinggir api unggun.
__ADS_1
Setelah menaruh sate tersebut, dia kemudian duduk di sebelahku. Meli yang melihatnya berlari lalu duduk di pangkuan Zena. Orang-orang disekitar tidak peduli dengan pemandangan ini, mereka hanya menatap pada daging bakar itu...
"Hey, kenapa mereka semua menatap daging milik kita?"
Bisik Zena yang duduk dan menyandarkan Kepalanya ke bahuku. Meli hanya menyandarkan punggungnya ke tubuh Zena dan dengan senang memejamkan matanya. Sepertinya dia mengantuk.
"Entahlah..."
Aku menjawab bisikan Zena dengan santai lalu kembali menyandarkan kepalaku ke kepalanya. Setelah itu Mata aku pejamkan.
Seseorang datang menghampiri kami bertiga lalu berkata.
"Permisi... Apakah kalian bisa memberi sedikit bumbu pada kami?"
Karena kejutan itu, aku kemudian segera membuka mataku dan melihat pada arah datangnya suara. Orang itu terlihat kurus, matanya terus melihat pada daging hasil buatan Zena.
"Ah, ini. Silahkan."
Zena kemudian memberikan bumbu itu kepadanya lalu kembali duduk dengan senyum tulus. Apakah mereka berasal dari desa kumuh? Pikirku.
"Terima kasih banyak. Aku akan mengambilnya."
Dia kemudian berbalik setelah mengucapkan terima kasih lalu berlari ke arah tenda di depan kami dengan senang.
"Kondisinya terlalu memprihatinkan..."
Zena kemudian mengelus kepala Meli dengan posisi badannya menyandar ke badanku.
"Beginilah kondisinya."
Aku menenangkannya lalu merangkul bahunya. Sejak saat itu korban terus meni prajurit dan petualang yang kembali dengan darah di sekujur tubuhnya.
...****************...
Hari menjelang sore. Daging yang dipanggang sejak siang tadi telah matang. Meli terbangun bersamaan dengan Zena yang mengerang. Aku kembali membuka mataku karena aku tertidur.
"Hmng....?"
Zena kemudian mulai bangkit dari ku dan duduk tegak. Sementara aku mengusap mataku, Meli terbangun. Bau masakan tercium. Karena kami tertidur selama 2 jam perut kami telah menahannya jadi kami langsung memakan daging itu. Walaupun tidak terlalu mengenyangkan.
Bumbunya sangat enak.. Lada hitam dan garamnya meresap, Untuk tekstur luarnya Zena menambahkan sedikit tepung? Aku tidak tahu apa itu.
"Wahhh... Enak!"
Meli menjilat bibirnya lalu kembali memakannya. Zena hanya tersenyum melihat pujian Meli.
__ADS_1
Setelah memakannya kami tetap di luar ditemani hangatnya api unggun. Sambil menunggu matahari terbenam.
Continue...