Re [Life] : Incarnation

Re [Life] : Incarnation
Mimpi dan Pedang Hitam


__ADS_3

Meli kemudian masuk ke dalam tenda dan keluar membawa sebuah buku tebal. Judul buku tersebut bertuliskan "Kisah Pendekar Pedang". Bukunya tidak terlalu tebal tetapi cukup untuk diceritakan. Sekitar 60 halaman tebalnya.


"Papa! Bacakan Meli cerita ini."


Sambil mengucapkannya dia menyerahkan buku itu kepadaku.


"Hm? oh, baiklah."


Aku menerimanya dan kemudian dia duduk di pangkuan Zena.


"Kalau begitu aku mulai..."


Sambil mengucapkannya aku membuka buku tersebut dari halaman pertama.


"Suatu hari hiduplah seorang anak yang miskin, dia merupakan anak yang selalu di bully oleh teman temannya. Dia hanyalah seorang anak dari keluarga miskin yang bahkan makan pun tidak bisa. Suatu hari ketika ia sudah berumur 17 tahun, dia berencana keluar dari desa untuk mencari pekerjaan lain. Walaupun dia diejek oleh beberapa anak lainnya dia tetap tegar dengan tujuannya dan tetap berangkat. Sebelumnya dia diberikan sebuah uang dari orang tuannya, itu adalah uang sisa mereka berdua. Dia menerimanya dengan ikhlas dan membawanya. Sesampainya di kota...."


"Papa.. Apa yang terjadi pada orang tuanya?"


Meli memotong saat aku belum sempat berbicara.


"Orang tuanya mungkin di rumah sambil berdoa loh."


Zena kemudian menanggapi pertanyaan itu dan mengelus kepala Meli.


"Hm...? Aku mengerti, kalau begitu lanjutkan!"


"Baiklah..."


Sesuai perkataan Meli aku melanjutkan cerita itu.


"Dia kemudian diterima menjadi seorang petualang. Karena dia tidak memiliki pedang, dia akhirnya mencari pedang di pasar. Saat dia sedang melihat kanan dan kiri, dia melihat sebuah pedang hitam berkarat. Dia tertarik dan membelinya. Sesampainya di penginapan, dia merawat pedang hitam itu. "Hey, apa kamu yang merawat ku?" Ucap Sang pedang hitam, awalnya dia terkejut saat selesai membersihkan pedang itu. Namun karena tidak merasakan bahaya dia menjawabnya dengan "Ya". Pedang itu kemudian bersinar. Karat di pedang itu menghilang dan jadilah pedang hitam yang tampak seperti baru. Pedang itu berkata "Aku adalah pedang ajaib yang berkarat. Tapi sekarang aku adalah pedang hitam yang baru, aku akan menuruti segala perintah mu.". Dia sangat senang dengan itu dan kemudian memulai quest pertamanya dengan sukses."


"..."


Aku berhenti bercerita karena Meli telah tertidur. Akhirnya, aku menggendongnya masuk ke dalam tenda.


"Tidurnya sangat lelap."


Ucap Zena yang ikut masuk ke dalam tenda lalu duduk di sebelah Meli yang tertidur.


"Yah, bagaimana pun dia masih kecil mungkin dia lelah dengan semua ini."


Aku kemudian duduk di samping Zena yang sedang memandangi wajah tidur Meli.


"Mau tidur?"


Aku kemudian bertanya kepada Zena yang tampak seperti kelelahan.


"Terima kasih, tapi aku harus tetap menjaga mataku terbuka."


"Nanti kamu kelelahan, sudahlah. Para prajurit yang akan menjagamu, besok kita akan pindah ke tempat yang lebih aman bukan?"


"Ya... Baiklah, aku akan istirahat. Selamat malam."


Setelah berhasil membujuk Zena, Aku kemudian ikut membaringkan tubuhku di samping Zena yang sudah berbaring mendahuluiku.

__ADS_1


"Hey, bagaimana ini akan berakhir ya?"


Zena kemudian membaringkan badannya menghadap aku.


"Entahlah...."


Sambil mengehelakan nafasku aku menjawabnya.


Sepertinya akan menjadi sangat menyusahkan.


Tidak lama kemudian Zena mulai terlelap dan tertidur. Aku kemudian menghadap ke arahnya lalu sedikit mengelus pipinya.


"Selamat malam..."


Mataku mulai tertutup secara perlahan. Dan secara perlahan pandangan menjadi hitam.


.


.


.


.


Setelah membuka mataku perlahan aku melihat sebuah ruangan gelap dengan batas tak terlihat. Seperti jurang tanpa akhir dan aku berdiri seperti mengambang. Anehnya aku seperti menginjakkan kakiku di tanah. Aku dapat berjalan dengan normal seperti biasa.


Terlihat sekilas sebuah pedang dengan warna ungu gelap yang hampir menyerupai hitam tepat 10 langkah kedepan dari diriku.


Pedang? Adalah kata dalam benakku. Aku tidak percaya bahwa ada pedang di ruangan kosong seperti ini.


Aku berjalan maju kedepan sebesar 10 langkah. Pedang itu tampak seperti berdiri seperti diriku yang mengambang ini.


Sambil mengatakannya dalam hati aku membulatkan tekad ku untuk mencabutnya.


Memejamkan mata dan menenangkan hati. Lalu dengan sekuat tenaga, aku mencabut pedang itu.


Oh! Berhasil!


Mataku sedikit berkilauan saat berhasil mencabutnya. Tampak bangga seperti orang normal yang mendapatkan sesuatu yang baru dari hasil kerja kerasnya.


Aku kemudian mengayunkan pedang itu seperti pedangku sendiri. Seperti dugaan ku! Pedang ini sangat ringan!


Dalam benakku suaraku bersuka ria menyambut pedang itu. Tetapi saat aku ingin mengembalikan pedang itu....


.


.


.


.


"...Ke. Luke. Luke..."


Seseorang memanggilku. Karena itu aku seketika membuka mataku. Seketika aku melonjak dan langsung duduk. Tangan kananku memegang dahi ku tampak seperti sesuatu yang sulit barusan menimpa.

__ADS_1


"Ada apa Luke? Apakah ada yang sakit? Jika ada biar aku obati."


Aku secara tidak sengaja menggelengkan kepalaku lalu melihat sekitarku.


Di dalam tenda? Adalah apa yang dikatakan pikiranku. Sambil meraba tangan kiri ku yang masih berada di bawah, aku sedikit berpikir.


Aku berada di tenda? Sejak kapan? Mimpi?


Tanganku menyentuh sesuatu yang panjang seperti sarung pedang.


Pedang?


Wajahku menjadi sedikit aneh.


"Apa ada yang salah? Luke? Beritahu aku jika ada yang mengganjal pikiranmu."


Zena mulai khawatir karena sikapku yang aneh di pagi hari.


Tunggu! Pagi!?


Aku kemudian menggelengkan kepalaku. Karena aku merasakan sebuah sarung pedang dari tangan kiri ku, aku mengangkatnya dengan perlahan.


Sebuah pedang ungu yang mirip hitam. Pedang yang ada di mimpi itu. Warnanya sama dan bentuknya sama. dengan sarung kain berwarna hitam.


Pedang hitam!?


"Hey, Luke, sejak kapan kamu punya pedang hitam itu?"


Zena yang melihatnya bertanya kepadaku.


"Entahlah? Aku juga tidak ingat memiliki pedang ini. Aku seperti pernah melihatnya..."


"Pernah melihatnya?"


"Ya... Mungkin?"


Aku menjawabnya dengan ragu karena aku memang pernah melihatnya. Tetapi dimana!?


"Yah, sudahlah, mari kita persiapan. Para warga sudah bersiap akan pindah sebelum pasukan bantuan milik musuh datang."


Zena kemudian kembali membereskan pakaian kami semua ke dalam magic back. Lalu melipat tenda dengan hati-hati. Meli tertidur di punggungku dengan pulas.


Setelah selesai, kami berjalan mengikuti kawanan warga yang lain. sebenarnya karena tidak tega melihat Meli yang kelelahan terbangun kami berdua membiarkan Meli tertidur di punggungku.


"Ugh..."


Banyak darah bercucuran dimana-mana. Pertarungan melawan makhluk iblis sudah selesai, makhluk iblis itu telah dikalahkan oleh prajurit, dan kini mereka sedang tengah berusaha menyembuhkan luka mereka sembari menunggu pasukan musuh lainnya datang.


Kami para warga dan petualang peringkat kecil hanya diperbolehkan untuk mengungsi.


"Tahanlah sebentar."


Aku mengucapkannya sambil menggenggam tangannya dengan erat. Matanya telah ketakutan dengan warna yang berada dimana-mana. Dia tampak kelelahan menahannya dan terjatuh.


"Oi, kamu tidak apa-apa, kan!?"

__ADS_1


Aku panik lalu dengan cepat menarik tangannya.


Continue....


__ADS_2