![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
Kami berencana berjalan hingga sejauh 10 Km dari tempat perkemahan menuju ke kota terdekat. Lumayan jauh...
Selama perjalanan kami juga sedikit bercerita. Meli yang kembali ceria sekarang sedang menempel pada Zena. Dia sangat menyukai Zena dari awal. Sejujurnya aku tidak iri atau semacamnya, hanya saja sedikit... disayangkan?
Karena aku yang terlihat kesepian, dia menarik bajuku lalu bertanya.
"Kota apa yang kita tuju, papa?"
"Hm? Ah... Namanya Yahoo. Kota itu terkenal dengan makanannya yang bernama 'Puding'. Walaupun itu yang aku dengar dari orang lain."
Ucapku.
Orang lain itu adalah paman Kai. Kebetulan sebelum penyerangan terjadi aku bertemu dengannya. Dia memberiku informasi bahwa dia akan pergi ke kota Yahoo sebagai pedagang lalu akan kembali ke kota Yuma setelah beberapa minggu. Dia menceritakan bahwa makanan bernama 'puding' membuatnya tertarik, jadi dia memutuskan untuk pergi ke kota itu.
"Puding? Makanan seperti apa itu?"
Meli yang tertarik dengan kata 'puding' kemudian dengan penasaran bertanya.
"Hm.... Aku dengar makanan itu terbuat dari susu dan telur.... Lalu ketika sudah matang akan menjadi kenyal.."
Ucap Sera yang mendengarnya.
"Tepat sekali! Makanan ini manis dan kenyal, mungkin Meli akan suka."
Aku kemudian menambah jawaban Sera yang menjelaskan. Sebenarnya aku sudah sering memakan puding di duniaku sebelumnya.
"Hm... Papa sudah sering memakannya?"
"Eh? Ah... Hm.. Dulu Pernah di buatkan oleh nenek sih..."
Karena aku menyebut ibuku, berarti aku haru menyebut nenek bukan?
"Eh... Begitukah..."
Nina sedikit kecewa karena mengetahui bahwa ibuku bisa membuatnya. Sebenarnya ibuku berasal dari kota Yahoo, dan Ayahku berasal dari Yuma. Saat itu mereka menyelesaikan misi bersama dan akhirnya mereka menikah.
"Hm.. Puding ya... Aku pernah mendengarnya dari ibuku.."
Zena menanggapinya.
"Puding... Meli tidak sabar memakannya!"
Sambil melompat kegirangan. Dia menjadi lebih bersemangat...
Tidak seperti sebelumnya, perjalanan ini di dampingi prajurit dari ibukota yang juga ikut menuju kota itu.
Karena hari sudah mulai gelap, kami semua mendirikan tenda. Semua orang memikirkan kata 'Puding' saat mendirikan tenda. Ah... Apakah mereka semua penasaran ya...
Di dunia ini, pertama kalinya mendengar kata puding dari ibuku. Aku terkejut bahwa puding telah ditemukan di dunia ini. Selanjutnya aku akan menunggu sesuatu seperti mie, atau nasi.
Sejak pertama aku berumur 5 tahun, Aku diberitahu bahwa banyak makanan yang tercipta berkat monster monster, tetapi tidak satupun dari mereka terdapat nasi, ataupun mie. Aku mengharapkannya walaupun puding telah ditemukan.
"Baunya wangi..."
Meli mengendus bau masakan Zena dari jauh lalu mendekat. Hari ini pun kami memasak sup dengan campuran daging sebagai pelengkap.
Di dunia ini juga terdapat sayuran seperti tomat, sawi, kubis, lobak, wortel, terong, bayam, dan slada. Beberapa bumbu seperti lada, garam, gula, jahe, kunyit, ketumbar, bawang putih, bawang merah, dan Kemiri. Bumbu ini sangat mirip dengan yang ada di bumi jadi itu memudahkan aku untuk membuat beberapa hidangan.
"Meli sudah lapar..."
Dia kemudian mengusap perutnya.
"Tunggu sebentar lagi, oke?"
"Baik!"
Dia kemudian duduk di sebelahku lalu menyandarkan kepalanya.
"Meli mengantuk...."
"...."
__ADS_1
Aku melihatnya yang terlihat kelelahan, lalu mengelus kepalanya dengan lembut.
Wajahnya membuat senyuman bahagia saat tanganku mengacak-acak rambutnya itu. Perlahan dia memejamkan matanya.
"Makanan siap... Ups.."
Seketika dia menutup mulutnya ketika dia berbalik menghadapku.
"Ah, Mungkin aku akan menyiapkan untuk Meli nanti..."
Lanjutnya yang kemudian menyiapkan 2 mangkuk untukku. Dia kemudian memberikannya kepada ku dan dia duduk di sebelahku.
"Rasanya seperti sedang mengalami bencana dan dipaksa untuk berjalan..."
Ucapnya sambil menghadap ke langit. Begitulah yang dirasakan, seakan semuanya hancur.
"Sepertinya akan menjadi sesuatu yang merepotkan."
Sambungku. Aku kemudian mulai memakan sup itu dengan perlahan disusul Zena yang juga ikut memakannya.
Sambil meratapi matahari terbenam kami memakan sup hangat ditemani dengan suara ramai dari sekitar kami sebagai pelengkap.
.
.
.
Keesokan harinya, kami semua membereskan tenda dan bersiap untuk berangkat. Semalam kami hanya tidur dan prajurit berjaga. Para warga yang telah selesai dengan sarapannya kemudian melipat tenda mereka dan bersiap untuk perjalanan. Sepertinya ini akan menjadi perjalanan yang panjang.
"Pagi Luke."
Ucap Zena seperti biasanya ketika aku keluar dari tenda. Biasanya sebelum seluruh orang bangun dia akan bangun untuk menyiapkan makanan, lalu ketika aku keluar dari tenda dia akan menyapaku. Begitulah keseharian ku.
"Ah, pagi Zena. Hari ini juga bangun lebih awal?"
"Begitulah. Ada apa? Tidak biasanya bertanya seperti itu?"
Dia kemudian sedikit menoleh kearah ku yang sedang duduk.
Ucapku kepadanya. Semalam dia tidur lebih lama dariku, aku sedikit khawatir apakah dia tidur dengan tepat?
"Tidak perlu khawatir seperti itu, tidurku cukup kok."
Dia kemudian tersenyum setelah mengatakannya.
"Tapi..."
"Tidak apa kok, aku tidak memaksakan diri."
Lanjutnya.
Mencurigakan... Atau begitulah yang dikatakan dari hatiku.
"Hari ini dengan apa kita sarapan?"
"Ah, Aku memasak tumis daging. Apakah ada masukan?"
Dia kemudian bertanya kembali.
"Mungkin bisakah tambahkan kacang? Akan enak jika dicampur dengan kacang."
Ucapku. Karena di dunia ini tidak ada yang namanya kacang panjang, mari tambahkan kacang tanah. Apakah akan jadi enak ya...?
"Kacang? Hm... Aku tidak memilikinya... Ada yang lain?"
"Benar juga... Ah, kalau bisa tambahkan sedikit kubis dan wortel. Itu akan menjadi kombinasi yang enak."
"Kubis dan wortel... Aku ada bahannya tapi apakah enak?"
Dia dengan ragu mengambil bahan tersebut dan mengirisnya. Aku pernah melihatnya di internet, bumbunya juga simpel, mungkin akan enak jika dimakan pagi hari.
__ADS_1
"Hm... Entahlah, aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan.. Tapi sepertinya akan cocok."
Ucapku yang kemudian berdiri mendekat ke arah Zena yang sedang mengiris.
"Aku yakin, kalau Zena yang memasak pasti akan enak."
Lalu memeluknya dari belakang. Menyentuhkan kedua tanganku di perutnya dan meletakkan kepalaku di bahunya.
"Hm... Kalau Luke bilang begitu maka, aku akan turuti."
Dia kemudian segera memotongnya tanpa ragu dan memasukkannya ke dalam tumisan daging. Aku lalu memasukkan bawang putih dan menumis hingga baunya harum.
"Hm.. Jadi bawang putih yang menyebabkan bau harum..."
Zena bergumam pada dirinya sendiri.
"Begitulah."
Aku menjawab gumaman nya.
"Eh!? Aku mengucapkan terlalu kencang..."
"Haha, tidak masalah."
Aku kemudian mengelus kepalanya dengan lembut sambil tertawa.
Hari yang damai... Aku suka hari ini. Tidak ada gangguan sedikitpun entah dari monster, ataupun dari bandit. Orang-orang masih tertidur hanya beberapa yang terbangun. Beberapa prajurit yang berjaga mencari aroma harum ini sehingga mereka tampak bersemangat untuk mencari tahunya.
"Bau ini... Sangat harum dan enak..."
Salah satu prajurit mendekat ke arahku yang sedang mengelus kepala Zena.
"Hey, apakah kamu yang memasaknya?"
Lanjutnya bertanya kepadaku sambil menunjuk tumisan yang telah matang itu.
"Hm? Aku dan istriku yang memasaknya, ada apa?"
"Tidak, bisakah aku meminta tolong kepada kalian?"
Dia kembali bertanya dan tampak pandangan memohon.
"Hm.. Aku tidak keberatan, apa yang bisa kami bantu?"
Aku menyanggupi permohonannya.
"Benarkah!? Aku ingin kalian berdua memasakkan sebuah masakan untuk para prajurit, tentu saja kami yang menyediakan bahannya."
Hm... jadi dia ingin semua temannya di buatkan makanan...
"Baiklah, kalau begitu..."
"Tunggu sebentar."
Seseorang menyela.
"Tidak bisakah memasakkan kami semua yang ada disini?"
"Eh!? Aku tidak memiliki bahannya, jika tidak keberatan.."
"Bahannya kami yang menyediakan, jadi tolonglah!"
"Uh..."
Aku kemudian memalingkan pandanganku ke Zena dengan tatapan bimbang.
"Kenapa tidak?"
Ucapnya dengan senyum kecil.
"Uh... Baiklah aku terima. Aku akan segera membuat jadi cepat siapkan bahannya."
__ADS_1
Yang kemudian aku menghembuskan nafasku.
Continue...