Re [Life] : Incarnation

Re [Life] : Incarnation
Peperangan dan Seorang Anak


__ADS_3

"Sial... mereka datang terlalu cepat!'


Sambil mengucapkannya, aku berlari dengan memegangi tangan Zena yang aku tarik.


Beberapa saat sebelumnya, Mereka sudah mulai saling membunuh satu sama lain. Tentu saja Prajurit bangsawan dan Tentara bayaran bangsawan itu lebih unggul dibandingkan para warga yang menyerang secara sukarelawan. Karena Prajurit biasa di gunakan untuk berperang atau menghadapi pemberontakan seperti ini, mereka jauh lebih kuat.


Beberapa warga Berteriak dengan semangat berapi-api, dan saat itu aku pun segera berlari dengan menarik tangan Zena dengan cepat dan berusaha keluar dari penginapan.


Zena terlihat panik karena gerakan tiba-tiba yang langsung dengan cepat meraih tangannya.


"Jika seperti ini, kota ini akan hancur..."


"Bukan saatnya untuk merenungkan ini! Selamatkan nyawamu!"


"..."


Sambil dengan pasrah mengucapkannya. Matanya sudah sayu karena semua ini. Dia tidak tahu berbuat apa sekarang ini. Aku hanya bisa menariknya dengan paksa. Perang ini akan berakhir lebih cepat dari dugaan karena kekurangan anggota sukarelawan.


*Brak!!


Aku mendobrak pintu keluar belakang penginapan ini dengan paksa dan akhirnya terbuka. Tidak lupa tas dan pedangku aku bawa.


"Hah... Hah... Aku... Terlalu lelah untuk berlari...."


Aku terengah-engah karena berlarian mencari jalan keluar di penginapan itu. Zena juga terengah-engah, keringat bercucuran di tubuhnya. Kakinya sedikit bergetar.


"Apa boleh buat!"


Aku berlari dan menggendong layaknya seorang putri dan segera meloncat ke atas rumah yang berada tidak jauh di belakang penginapan. Seluruh kota terlihat kacau, dan asap api terlihat dimana mana.


Aku mengganti mode bernafas biasa, menjadi mode bernafas ninja yang aku pelajari dari game juga. Mode bernafas biasa adalah saat player tidak melakukan pertarungan dan biasanya damage akan lebih kecil, stamina juga akan boros untuk seorang swordman. Mode bernafas ninja adalah sebuah teknik dasar dalam swordman.


Mode bernafas ninja dapat meningkatkan damage, dan mempertahankan stamina sedikit lebih lama. Ini juga merupakan skill pasif dari swordman sendiri.


"Hap."


Aku menghinggap di atas atap rumah kosong. Kondisinya sekarang sangatlah buruk. Beberapa rumah terbakar, beberapa hancur, dan sebagian pohon tumbang karena beberapa serangan sihir juga dikerahkan. Sedangkan rumah milik bangsawan itu dijaga ketat oleh beberapa prajurit dan tentara bayaran.


"Aku harap mereka akan segera dituntaskan begitu perang selesai."


"Apakah ada cara untuk menghentikan semua ini?"


"Ada, tapi mungkin akan sangat sulit diterima..."


Kali ini Zena mulai angkat bicara setelah melihat suasana kota yang telah menjadi lautan api. Beberapa mayat milik Prajurit dan warga telah bercampur. Darah bercucuran dimana-mana. Suasananya sudah berubah.


"Sial!"


Aku mengucapkannya dengan sangat kesal. Disaat itu, munculah 2 orang menggunakan jubah.


"Oh, Aku kira kamu akan ikut dalam penyerangan ini."


"Tidak mungkin Luke akan ikut bukan?"


Sepasang manusia, tidak mereka adalah Yu dan Sera yang kebetulan melihat diriku di atas sini.


"Aku tidak akan ikut dalam perang gegabah ini."


Ucapku yang masih menggendong Zena yang masih dalam gendongan putri.


"Benar juga ya..."


"Aku bilang apa, kan?"


Sambil mengucapkannya Sera sang kesatria membalasnya.


"Lalu, apa yang akan kalian lakukan?"


Aku bertanya kepada keduanya yang sedang sedikit bertengkar dengan pembicaraannya.


"Kami akan segera mengeksekusi umum keluarga itu."

__ADS_1


"Mereka telah melanggar dan mempermalukan kerajaan, dengan ini kami diberi perintah untuk segera mengeksekusi mereka."


Duo mata-mata kerajaan itu mengatakannya dengan penuh kebijakan.


"Uhm.. Apakah tidak ada tindakan lain selain mengeksekusi?"


Zena berbicara untuk kedua kalinya di dalam pelukanku.


"Tidak, itu adalah perintah mutlak dan harus dilaksanakan."


Sera dengan tegas mengucapkannya.


"Maaf.. Tapi tidak bisa. Aku telah di perintahkan untuk mengikutinya jadi walaupun aku tidak mau aku harus melaksanakannya."


Yu dengan lembut menjelaskannya.


"Oh.."


Pandangannya terlihat menyerah, lalu mulai meringkuk dalam gendongan putriku. Tangannya menggenggam pakaianku dan pipinya mulai memerah. Air mata menetes melalui pipinya lalu berkata.


"Apa boleh buat bukan? Itu salahku..."


"Tidak, bukan salahmu kok."


Aku membujuknya supaya dia tidak berniat menyakiti dirinya sendiri. Selama beberapa hari ini, aku mengerti bahwa Zena sangat peduli dengan sekitarnya, dia juga rajin seperti perempuan pada umumnya. Tetapi di samping itu, dia itu sangat mudah menyerah.


"Ara... lihat siapa yang dipelukan kecil itu."


Sang kesatria Sera bersuara melihat reaksi Zena yang dengan emosi yang sedih melampiaskannya kepadaku.


"Sera, Sudahlah jangan banyak menggodanya. Kalau begitu Luke, kuserahkan Zena kepadamu. Tolong jaga dia dan jangan sampai tertangkap seorang dari suruhan atau bangsawan itu sendiri. Kami akan segera menemui mereka dan mengancam mereka."


Sambil mengucapkannya wujudnya menghilang seperti bayangan dan disusul dengan hilangnya kesatria Sera.


"Sepertinya aku akan membawamu ke tempat yang sedikit aman."


Aku mengucapkannya dengan tenang lalu segera melompat dari atap rumah satu ke atap rumah lain.


selama perjalanan Aku hanya bisa melihat beberapa orang yang terkena serangan. Entah itu tertusuk, tangannya yang tertebas lalu lepas, dan lain lain.


"Pemandangan yang mengerikan.."


Zena mengucapkannya dengan perasaan sedih. Bahkan dia enggan untuk melihatnya.


Aku berhenti sementara untuk beristirahat dan menarik nafasku. Pandanganku teralih kepada seorang anak yang ketakutan. Di depannya seorang tentara bayaran menegang sebuah pedang yang besar hendak menebasnya.


"Cih! Sial!"


Aku segera menuju ke arahnya dan menendangnya. Mata kiri ku sedikit tergores oleh ujung pedangnya. Untungnya hanya kelopak mataku terkena, Darah mengucur dengan deras.


"Kuh!"


Aku menurunkan Zena dari gendongan dan kemudian mengeluarkan pedangku dengan mata kiri tertutup.


Aku memegang pedangku dengan dua tangan. Sang tentara bayaran itu menyeringai melihat efek sihir penyamaran Zena hilang.


"Hyatt!"


Pencuri bayaran tadi segera dengan acak menyerang ku. Aku dengan mudah menghentikannya. Menghiraukan rasa sakitku aku menahannya dengan nafas ninja.


*Clink!


Sebuah bunyi karena hantaman yang besar datang. Aku dapat melihat Zena yang dengan gemetar memegang sebuah lance di pinggangnya.


"Tcih! Kamu dapat menghentikannya walaupun sedang terluka ya? kalau begitu..."


Dia mundur dari serangannya tadi dan membuat kuda kuda aneh dengan pedang yang dipegang terbalik menghadap belakang seperti membawa kunai.


"...Matilah!"


Dia meluncur dengan gerakan secepat mungkin.

__ADS_1


*Dash!! *Slash!


Aku dengan reflex menghindarinya dan hanya menggores pipi kananku. Darah segar mengalir sekali lagi untuk kedua kalinya. Dia dengan tanggap mundur ke posisi awal dia menyerang.


"Sial! Kamu lincah juga ternyata. Hmph! Aku akan mengulur waktu!!"


*Dash!! *Ctank!


Dia kembali meluncur. Aku tanpa berkata-kata menangkisnya kembali. Dia kembali mundur ke posisi awal dan memperbaiki kuda kudanya.


"Sial! Dia dapat membaca gerakan ku."


Dia berteriak dengan kesal lalu segera memegangnya seperti seorang yang mengikuti dojo.


"Matilah!"


Sambil berteriak, dia berlari lebih lambat dari sebelumnya.


"Lambat..."


*Dash!


Dengan cepat aku menebas kepalanya dengan ringan. Kepalanya segera terpental.


"Ha.. Hah.. Ha.."


Aku kembali mengatur nafasku lalu menutup luka pada mataku.


"Sial.. Sangat sakit..."


Aku kemudian berbalik dengan mata kiri yang aku tutup dengan tanganku. Tanganku menjadi penuh dengan darah, pedangku juga menjadi memiliki banyak noda darah.


"Luke!"


Zena dengan khawatir berlari kearah ku. Dia merobek sedikit bajunya pada bagian perutnya laku mengikatnya kepada mata kiri ku.


"Aku sudah menahan darahnya agar tidak keluar."


"Terima kasih.. sekarang sudah lebih baik."


Aku kemudian segera menyipratkan noda darah di pedangku ke tanah lalu kembali menyarungkannya.


"Ah... Kakak-kakak sekalian... Terima kasih telah menyelamatkanku.."


Sang anak itu mengucapkannya dengan sedikit gemetar. Mungkin dilihat dari sisinya seperti sepasang kekasih yang saling menjaga satu sama lain. Tetapi bukan, dia hanya takut karena melihat kejadian itu.


"Hm.?"


Aku mengintip bagian belakang Zena. Seorang anak perempuan yang imut sedang berterima kasih!


Rambut Kuningnya tertutup debu dan berantakan. Matanya bulat dengan warna biru.


"...!?"


Matanya mulai berkaca kaca dan menangis layaknya anak seusianya.


"Huwah!! Ibu dan ayah!!"


Dia mengucapkan seolah orang tuanya telah terpisah dengannya. Seketika Zena dan aku menjadi lebih panik dari sebelumnya mendengar seorang anak kecil menangis.


"Ah! Ayah dan ibumu dimana?"


"..."


Dia dengan lembut menunjuk 2 mayat kekasih yang sepertinya sudah lama. Darahnya sudah mengering oleh tanah.


"Uh.."


Zena dengan lembut memeluknya. Aku hanya bisa pasrah melihat pemandangan itu. Dan dengan itu aku membawanya bersamaku dan Zena.


Continue...

__ADS_1


__ADS_2