![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
"Tidak ada pilihan lain!"
Ucapnya di atas singgasananya. Dia Telah marah karena prajurit terkuatnya, orc lord telah mati.
"Apakah anda memiliki rencana tuan?"
Ucap sang penasihat di samping singgasananya.
"Sudah aku duga ini akan terjadi."
Dia tiba-tiba menyeringai dan membuat sang penasihat sedikit mundur.
"A-ad-ada apa, tuanku?"
Dia menjadi sedikit menjaga jaraknya. Kemudian dari atas singgasananya dia berdiri dan mengambil pedangnya.
"Tuanku?"
Sang penasihat terus mengucapkannya sambil mengeluarkan keringat dingin. Sambil membawa pedang dia mendekat ke arah penasihat.
"Tu-tunggu, Anda pasti bercanda, bukan!?"
Penasihat itu mundur hingga dia tidak dapat mundur karena sebuah kayu menghalanginya.
"Sangat bagus untuk tidak lari."
Ucapnya yang kemudian membuka sarung pedangnya.
"Tu-tungg—"
*Slurb...
Pedang menusuk melalui perut sang penasihat. Ujung pedangnya yang menembus perut menjadi berwarna sedikit kemerahan. Darah mengalir melalui bilah pedang yang melewati perut penasihat.
Kemudian dia menarik pedangnya dengan perlahan. Sang penasihat sedikit demi sedikit menahan rasa sakit itu. Dia kemudian terjatuh dengan lutut sebagai tumpuan. Pandangannya menunduk melihat kebawah. Darah pada perutnya terus mengalir deras.
"Sudah berakhir—"
Dia kemudian terjatuh lemas dengan banyak darah yang masih mengalir.
"Tcih, pada akhirnya mereka tidak berguna."
Sambil mendengus kesal dia mengucapkannya. Pada saat itu juga dia membantai seluruh makhluk iblis di markasnya tanpa menyisakan seorang pun.
"Akan aku hadapi mereka sendirian."
Sambil terkekeh senang dia menghentakkan pedangnya kembali untuk menghilangkan noda darah pada pedangnya.
.
.
.
.
Aku membuka mataku. Terasa seperti berada di paha yang aku kenal. Punggungku sedikit panas tetapi kepalaku tidak menyentuh tanah. Masih terlihat langit berwarna biru dengan sebuah tubuh yang menghalangi datangnya sinar. Rambut birunya terurai, pandangannya menatap kepadaku.
Seketika pandangan kami berdua bertemu. Dia kemudian mengelus pipiku dengan lembut. Dia membuka mulutnya.
"Apa yang kamu lakukan hingga membuat tubuhmu sendiri tidak bisa digerakkan?"
Ucapnya yang lalu bergantian mengelus rambutku dengan tenang.
"Kamu yang bilang sendiri bukan? Jangan bertindak gegabah."
Lanjutnya yang kemudian menundukkan kepalanya hingga wajahnya terlihat jelas, dan kemudian kembali menegakkan kepalanya.
"Mou, jangan membuatku cemas dengan hanya diam dong, jawab pertanyaan ku."
"I-i-imut..?"
Aku kemudian mengedipkan mataku 2 kali.
"Jangan menjawabnya seolah kamu tidak dengar dong.. Mou..."
"Ah... Maafkan aku..."
Aku kemudian segera bangun dari pangkuan Zena dan duduk. Sambil melihat suasana sekitar aku kemudian bertanya.
"Berapa lama aku tertidur?"
"Hm? Mungkin sekitar 1 menit? Aku tidak tahu tepatnya."
Dia kemudian berdiri sambil membersihkan pakaiannya dari debu.
__ADS_1
"Lalu, apa yang terjadi setelah itu?"
Lanjutku kemudian berdiri.
"Para prajurit bersorak, Nina bangun dari pingsannya dan terkejut, dia kemudian diseret oleh Yu bersama Sera kembali bersama prajurit."
"... Kalau begitu ayo kita kembali."
ucapku yang kemudian menyarungkan kedua pedang ku yang tergeletak karena terjatuh saat aku pingsan.
.
.
.
.
Ini Yuni, dulu aku adalah seorang ibu rumah tangga, tetapi sekarang aku menjadi pengasuh anak?
...****************...
Saat ini aku dan Meli sedang bersembunyi dari orang menakutkan yang datang entah darimana asalnya. Para prajurit bahkan belum kembali. Orang itu telah mengamuk hingga beberapa orang terbunuh. Dia terkikik senang saat melakukan kegiatannya.
"Ahaha!! Sangat menyenangkan!! Bunuh! Bunuh! Bunuh!"
Sambil menusukkan pisaunya berulang kali dia mengucapkannya. Wajahnya tersenyum seram dan terlihat belum puas hanya dengan satu. Para warga yang panik segera berlarian. Suasana telah menjadi ricuh.
*sreeet! *srett!
Darah terciprat dimana-mana seiring dengan cepatnya tusukan. Terkadang dia melempar pisaunya dan mengambilnya kembali. Karena banyak adegan yang tidak perlu untuk dilihat anak yang masih polos ini, aku menutupi matanya dengan rapat dengan memeluknya dengan erat dari belakang.
Tanganku bergetar ketakutan. Tanganku berkeringat, keringat dingin terus keluar, hatiku tidak tenang. Aku harus melindungi anak ini! Setidaknya kali ini! Aku tidak akan gagal! Begitulah ucapku dalam hati. Tetapi nyatanya aku tetaplah manusia yang takut akan kematian, tanganku tetap bergetar karena takut yang berlebih.
Di situasi ini, bagaimana aku seharusnya? Kejadian waktu itu. Suamiku dan anakku terbunuh karena aku yang tidak bisa melawan. Akibatnya membuatku terpuruk dan menjadi prajurit, aku terus berusaha hingga akhirnya aku diterima. Setidaknya untuk kali ini! Aku tidak akan melihat adegan yang sama!
Aku menguatkan hatiku, lalu berdiri dengan membawa pedang di paha kiri ku. Aku kemudian menoleh ke Meli yang melihatku. Seketika itu juga aku mengingat bayangan anakku yang tengah duduk di pojok kamarnya. Aku mengelus kepalanya dengan lembut.
"Tetaplah disini dan jadilah anak baik. Tetap tutup matamu, jika aku tidak segera kembali, tolong jangan keluar dari sini, oke?"
"Kak Yuni ingin kemana?"
Melihatku seperti ingin pergi dia mengucapkannya dengan mata sedikit berkaca-kaca.
"Hanya mencari udara segar kok."
Seketika itu juga aku keluar, Meli yang menuruti kata-kataku tetap berdiam sambil menutup kedua matanya dengan rapat dan menutupkan telinganya rapat-rapat dengan tangannya.
.
.
.
Aku dan Zena berjalan bersama melalui lebatnya hutan untuk menuju kembali. Ah.. Suasana yang tenang ditemani angin yang sejuk...
"Terlihat menikmati ya..."
Ucap Zena.
"Yah... Sudah lama tidak merasakan suasana ini... Jadi sedikit rindu dengan rumah..."
Aku membalas perkataan Zena dengan pandanganku menghadap ke langit.
Seperti biasa, aku telah mengganti mode bernafas ninja ke mode bernafas normal. Sangat melelahkan... Tapi sepertinya batas penggunaan ku semakin lama dibandingkan waktu itu. Sedikit demi sedikit ternyata berhasil juga ya...
.
.
.
"Berhenti di sana! Kau penjahat!"
Begitulah ucapku sambil menodongkan pedangku ke arahnya seolah mengancamnya.
"Hah..? Seorang wanita, kah...?"
Ucapnya sambil melihatku dengan cermat.
"Apa yang kamu lihat! Cepat berhentilah!"
Aku mengalihkan topiknya tetapi dia tetap memperhatikanku. Walaupun dia berhenti menusukkan pisaunya itu sih..
"Hm... Dadanya kurang ya... Pahanya juga lumayan... Perutnya sangat hebat... Hm.. Akan aku jadikan pelayan malam ku saja mungkin...?"
__ADS_1
"Tcih! Dasar mesum! Akan aku bunuh!"
Aku dengan segera berlari dan menebaskan pedangku. Menghilang!?
"Oopss, berbahaya.."
Ucapnya yang berdiri di atas bilah pedangku dengan sepatu hitam sebagai alasnya. Terlalu ringan!
"Tcih!"
Saat itu juga aku kembali mengayunkan pedangku tetapi dia dengan segera melompat dan berputar di udara lalu mendarat dengan ringan di atas tanah.
"Sepertinya kamu sudah pernah melahirkan ya..? Berarti kamu bukan lagi seorang perawan...?"
"Diamlah!!"
Aku kembali berlari sambil menebaskan pedangku.
"Oopss... Sepertinya sudah tidak berguna ya..."
Lagi...!?
Lagi-lagi dia menghindarinya. Lalu dengan cepat menghilang dalam satu kedipan mata. Seketika wajahnya dan wajahku berhadapan. Dia kemudian menyeringai lalu dengan mudah menusukkan pisaunya ke perutku.
*Sleeb.....
"Akh!!"
Sebuah suara kesakitan aku teriakkan. Tangannya telah menahan ku agar tidak dapat mundur. Sial!! Dia sangat cepat!
Darah terus mencucur. Pandanganku mulai menjadi buram, tubuhku kemudian semakin lemas. Aku hampir menjatuhkan diriku karena banyak kekurangan darah. Tanpa aku sadari darah terus mengucur deras dari tusukan itu. Ah.. Sepertinya ini sudah berakhir...
Ketika aku ingin mengakhiri hidupku aku teringat sebuah kata-kata. Ya.. Kata-kata itu adalah..
"Namanya Meliana, kami memanggilnya Meli."
"Heh... Meliana, kah? Nama yang imut."
"Benarkan."
Aku teringat saat seseorang mengucapkannya dengan senyuman bangga lalu mengelus kepala anak itu bersama denganku.
Lalu kembalilah sebuah ingatan tentang ucapan seorang lelaki.
"Dia itu memiliki darah elf loh."
"Eh!?"
"Memang jika dilihat seperti ras manusia tetapi, dia itu lebih cenderung seperti ibunya loh."
Sebuah ingatan dimana lelaki itu terlihat puas dengan ucapannya sendiri. Terakhir, ingatan yang berhubungan dengan anak itu muncul.
"Yuni! Aku percayakan anak ini kepadamu! Aku dan *@#_ akan segera kembali!"
Dengan segera dia melompat sambil menggendong perempuan disampingnya.. Ah.. Aku iri...
Kemudian anak itu berkata memuji lelaki itu.
Seketika aku kembali ke diriku kembali. Anak itu...
"Hm... Tekad mu kuat juga ya...?"
Dia kemudian segera melepaskan pisau itu. Tetapi dengan sekuat tenaga, aku berusaha untuk tetap berdiri walaupun darah tetap mengucur.
Sial!! Aku kehabisan waktu!
Dengan cepat aku mengangkat pedangku dengan sekuat tenaga lalu menebasnya secara acak.
*Slash!!
Aku tanpa sengaja mengakhiri hidupnya. Kepalanya terpotong karena tebasan acak ku. Ah.. Aku ingat nama anak itu.. Meli, kah..? Sekali lagi aku katakan, itu nama yang imut....
Setelah berhasil memotongnya, aku dengan sekuat tenaga berbalik lalu membuang pedangku dan berjalan ke arah persembunyian Meli dengan pincang. Benar.. Aku dipercayai oleh orang tuanya... Namanya Luke dan Zena.. Aku harus memastikan Meli aman...
Aku membuka sebuah tirai tenda. Di pojok tenda itu, seorang anak terduduk seperti ketakutan. Ah.. Posisi itu membuatku teringat kembali...
Itu membuatku tenang... Dia sudah aman ya...? Sekarang jika aku akan mengakhiri hidupku maka ini adalah akhirnya...
Aku kemudian melemaskan seluruh badanku dan terjatuh. Ah... Jadi seperti ini kah mati... Selanjutnya akan bagaimana ya...?
"Kak Yuni...! Kak Yuni... Ka...."
Ah.. dia memanggil namaku.. Suaranya bergema ya.. Didalam kegelapan abadi ini... Dingin... Badanku tidak bisa bergerak...
Aku harap dia mengikhlaskan aku....
__ADS_1
Continue...