Re [Life] : Incarnation

Re [Life] : Incarnation
Desa Sumber Penghasilan dan Sesuatu yang Janggal?


__ADS_3

Setelah sedikit berjalan selama beberapa hari, tampaknya sebuah pagar kayu kecil terlihat. Tempatnya seperti tempat peternakan. Di dekatnya terlihat beberapa orang sedang beraktifitas namun ketika melihat rombongan kami datang mereka menghentikan aktifitas mereka dan segera berjalan menuju gerbang desa.


Benar, ini bukanlah kota Yahoo, tetapi ini adalah sumber penghasilan kota itu. Desa yang menjual seluruh produk seperti susu, daging, keju, telur, bahkan kulit.


"Permisi, ada apakah hingga prajurit kerajaan datang ke desa kami hingga banyak orang?"


Dengan ditemani warga lainnya, sepertinya dia adalah kepala desa di sini. Wajahnya sedikit lebih muda dari yang aku pikirkan.


"Saat ini kami sedang tidak bisa menjelaskannya, aku akan menjelaskannya di dalam. Oleh karena itu, ijinkan mereka semua beristirahat di luar desa."


Kepala desa itu kemudian menengok ke arah perempuan yang tampaknya seumuran dengannya lalu mengangguk kecil.


"Kami semua tidak masalah, Kami semua menerima kalian, silahkan buat tenda di depan gerbang ini."


Dia kemudian menjulurkan tangannya dan sang kapten meresponnya dengan segera berjabat tangan.


"Kalian dengar!? Manfaatkan waktu! Cepat dirikan, lalu kami akan membagi daging buruan!"


Ucap sang kapten setelah berbalik.


"Hm.... Aku, master, dan Sera akan kembali ke kerajaan dan melaporkan kejadian ini."


Dia kemudian berpamitan denganku lalu menuju ke Yu yang tengah melapor ke kapten.


Aku kemudian berbalik dan mencari tempat.


"Kalau begitu, ayo cari tempat yang sedikit lebar."


Yang kemudian berjalan melalu keramaian ini. Ah.. Terlalu ramai hingga suasana ketenangan khas pedesaan nya jadi hilang ucapku dalam hati sedikit kecewa.


Seperti biasanya, Meli selalu menempel pada Zena. Dia menggandeng tangannya dengan erat sambil berjalan dengan pandangan tampak bingung.


"Ada apa Meli?"


Melihat tindakan Meli, Zena bertanya. Dia kemudian menggelengkan kepalanya seakan berkata "Tidak, tidak ada apapun." Lalu kembali berjalan.


"Oh. Ketemu."


Ucapku lalu menunjuk lokasi itu.


"Hm? Bukankah itu terlalu jauh dari pengawasan?"


"Tidak ada yang perlu dicemaskan. Tempat ini sempurna. Ketenangannya, anginnya, suasananya, bahkan ini akan menjadi tempat yang hening."


Sambil menghiraukan ucapan Zena aku segera mendirikan tenda itu.


"Oops? Aku akan membantu."


Zena kemudian memegang tiang yang akan terjatuh dengan lihai.


"Ah, terima kasih."


Ucapku. Sementara itu, Meli menjadi waspada akan sekitarnya. Pandangannya ketakutan seperti sesuatu yang menakutkan sedang menunggu waktu untuk menyerang.


"Meli? Ada apa? Dari tadi sikapmu selalu waspada."


Zena yang telah selesai membangun tenda bersamaku mendekat ke Meli.


Dia kembali menggeleng, dan duduk terdiam sambil mengawasi sekitarnya.


Zena berbalik dan menatapku. Wajahnya tampak gelisah, tatapannya memohon kepadaku secara dalam.


"Huft..."


Sambil menghela nafas aku mendekat dan duduk di sebelah Meli, sedangkan setelah selesai dengan tenda, Zena lalu menyiapkan makan siang.


"Ada apa Meli?"


Aku bertanya kepadanya. Dia menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


"Apakah ada sesuatu yang aneh?"

__ADS_1


Dia kemudian sedikit mengangguk.


"Apa yang aneh?"


Dia kemudian memeluk pinggangku dengan erat dari samping.


"Atmosfer sihirnya sedikit aneh...."


Ucapnya dengan nada kecil ketika memelukku dengan erat.


Atmosfer? Lapisan sihir yang berada di udara?


"Bagaimana anehnya?"


Aku kemudian bertanya. Karena aku tidak dapat merasakan energi sihir dengan baik jika tidak ada pengguna yang sengaja menyebarkan sihirnya.


"Energi sihirnya sedikit gelap, lalu rasanya seperti sihir ini diciptakan untuk monster...."


Ucapnya.


"Monster? Maksudmu untuk perkembangbiakan monster?"


Dia mengangguk.


Apa yang sebenarnya terjadi?


"Zena, kemarilah."


Ucapku. Dia kemudian berhenti memasak dan menghampiriku yang memanggilnya.


"Ada apa?"


"Coba rasakan energi sihir di sini?"


"Kenapa bertanya?"


Setelah mengucapkannya dia kemudian mengaktifkan sihir khusus yang dimiliki rasnya. Sihir ilusi menghilang, telinga elf terlihat dan angin berhembus sedikit lebih kencang di sekitarnya.


"Eh? Kenapa...?"


"Ada apa?"


Aku bertanya.


"Seharusnya aku bisa merasakannya..."


Dia kemudian mengaktifkannya kembali.


"Eh... Aku tidak merasakan sihir apapun di sini.."


"Eh? Maksudmu sihir di sini tidak dapat di deteksi?"


Bahkan untuk ras elf yang merupakan karakteristiknya tidak dapat merasakannya.


"Mustahil ya.."


Aku bergumam pada diriku.


"Apakah ada sesuatu?"


Dia bertanya saat melihat Meli memelukku.


"Hm? Ah, kata Meli sihir di daerah sekitar sini adalah makanan monster?"


Aku sedikit ragu dan kalimatku menjadi kalimat tanya.


"Kenapa bertanya?"


Dia sedikit bingung dengan ucapanku.


"Hm... Begitulah yang dia katakan. Aku kurang paham apa yang dia maksud jadi..."

__ADS_1


Zena sedikit menghela nafasnya.


"Kalau begitu aku akan melanjutkan memasak."


Dia berbalik dan menuju tempat memasak.


Energi sihir yang sedikit gelap? Bukankah sihir itu tidak dapat dilihat? Apa warna sihir?


Pikiranku terlalu fokus sehingga aku tidak menyadari bahwa Nina kembali.


"Ya, Sedang apa kalian?"


Sambil muncul tiba tiba di depanku.


"Hm? Ah, Nina. Tidak ada yang khusus. Lalu?"


Aku membalas Nina yang hendak membuatku terkejut.


"Ah, tidak seru... Aku gagal membuatmu terkejut..."


Dia kemudian sedikit mengecilkan suaranya.


"Oh, Meli. Apa yang terjadi?"


Nina yang melihat Meli kemudian bertanya. Meli hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya. Melihat respon Meli dia menjadi kebingungan.


"Ada apa dengannya?"


Dia kemudian bertanya kepadaku. Aku sedikit melirik kearahnya lalu berkata.


"Katanya dia merasakan energi sihir yang aneh di sekitar sini. Aku tidak tahu detailnya tetapi itu yang dia katakan."


"Hm..? Energi sihir? Eh!? Bukanya itu sihir khusus yang hanya dimiliki ras tertentu seperti elf!?"


Hm.. Benar juga dia belum tahu ya...


"Ah, tolong rahasiakan ini."


Aku menghapus sihir mirage. Penampilan Zena berubah dan dia terkejut karena sihir mirage dibatalkan.


"Hya!?"


Dia dengan cepat menutupi kedua telinganya yang berubah menjadi telinga elf.


"Eh!?"


Sementara Nina kebingungan.


"Mwu.. Aku sedang memasak, tolong jangan lakukan itu dong..."


Dia mendekat dan menggembungkan pipinya. Kedua tangannya menutupi telinganya.


"Dan begitulah."


Ucapku lalu melafalkan sihir itu kembali.


"Kenapa tiba-tiba?"


Ucapnya.


"Eh, ah, soal itu Nina hanya ingin tahu."


Sebenarnya yang mengetahui identitas Zena hanya ada beberapa orang. Yu, Sera, Yuni, Meli, lalu petugas medis waktu itu. Ah.. Aku sangat berterima kasih karena memperingatkan itu.. Dan dengan ini Nina menjadi tambahan.


"Hm.. Sekali lagi, senang bertemu denganmu."


Sambil mengambil kedua tangannya membentuk huruf V di dekat pipinya.


Meli yang mendengar Zena didekat situ, segera menengok dari pelukanku.


"Kya!!!"

__ADS_1


Tiba-tiba, suara perempuan berteriak dari dalam desa. Nina segera menghilang. Sedangkan aku dan Zena hanya terdiam melihatnya dari jauh.


Continue.....


__ADS_2