Re [Life] : Incarnation

Re [Life] : Incarnation
Persiapan dan Masakan


__ADS_3

Malam itu aku tertidur dengan memangku kepala Zena. Paman Url menjaga kami dari serangan aneh dan dari serangan orang jahat. Di malam hening ditemani api, aku tertidur.


.


.


.


.


"Hm...?"


Aku terbangun. Langit telah menjadi biru. Zena yang menghilang dari pangkuan dan pedang yang masih di punggungku.


"Hmngg.....!"


Aku meregangkan punggungku yang lelah karena tidur dengan posisi duduk. Setelah meregangkan punggungku aku menengok kanan dan kiri. Desa telah ramai dengan aktifitas jual beli. Beberapa pedagang juga berkumpul dan warga desa saling menawar barang yang ingin dijualnya kepada pedagang atau sebaliknya.


"Pagi sayang."


ucap Zena yang muncul dari samping. Dia membawa 2 gelas minuman yang masih hangat lalu memberikannya kepadaku.


"Hm? Apa ini?"


Ucapku bertanya yang lalu kembali duduk di batang kayu semalam.


"Hm... Aku bertanya kepada warga desa dan mereka bilang bahwa ini adalah rebusan akar Groot yang dicampur susu sapi."


"Oh."


Aku kemudian meminumnya.


Groot adalah monster yang mirip pohon tetapi akarnya bisa bergerak dengan sendirinya dan menyerang siapa pun yang berada di dekatnya. Monster tanaman itu juga bisa dijadikan obat seperti merebus akarnya dan meminum air hasil rebusan itu. Katanya khasiatnya bisa melenturkan otot hingga menambah stamina. Groot sendiri merupakan monster sekaligus bahan obat. Harga bahan dari monster tersebut tidak terlalu mahal dan tidak terlalu sulit menemukannya. Karena monster ini akan mati ketika kalian memotong salah satu akarnya.


"Oh... Ini sangat enak!"


Dengan beberapa teguk minuman habis. Oh, sepertinya efeknya langsung bekerja.


"Benar bukan? Aku diberi oleh ibu yang memiliki runah dekat sini."


"Oh, bisakah kita membelinya lagi?"


Ucapku kepada Zena yang masih meminumnya dengan perlahan.


"Uhm, kita bisa membelinya. Lagipula semalam paman Url memberikan sebagian uangnya kepadaku."


"Hah?"


Aku membuat wajah bingung.


"Berapa yang ia dapat dari memburu vampire di desa itu?"


Lanjutku.


"Uhm... Sekitar lima belas koin Perak....?"


"Lalu kita diberi berapa?"


"Uhm... lima koin perak."

__ADS_1


Lanjut Zena yang masih menikmati minuman miliknya.


"Hm.... Harga akar Groot sekitar tiga koin bronze... Baiklah, mari kita beli tiga."


Ucapku yang lalu menaruh gelas kayu itu di dekat kayu yang telah hangus terbakar karena api.


"Ya, mari kembalikan gelas itu ke pemiliknya dahulu setelah itu kita akan membelinya!"


Dan setelah itu kami menuju sebuah rumah kecil dimana mereka memberi kami minuman ini. Bahkan hingga memberi makanan kepada kami secara cuma-cuma. Walaupun kami mencoba menolak, perut kami tidak bisa membohongi dan akhirnya kami menghabiskannya.


Setelah menghabiskannya kami berpamitan dan berterima kasih kepada ibu itu lalu segera bertemu paman Url untuk menyampaikan rasa terima kasihku kepada kepala desa. Ngomong-ngomong tentang desa ini, semua penduduknya adalah beastman. Untuk beberapa pedagang mereka tidak seluruhnya merupakan demi-human namun manusia juga ada. Kami menanyakan beberapa pedagang untuk mencari pedagang yang satu arah dengan kami menuju desa Halm. Tentu saja tidak lupa membeli akar Groot untuk Meli.


Keberangkatan akan dilakukan besok, jadi setelah mendapatkan pedagang yang menuju ke arah desa Halm aku langsung mengajukan permintaan dengan biaya 2 koin silver. Karena pedagang itu setuju, aku memberikan koin silver tersebut di awal dan mengatakan untuk menunggu kami bersiap. Itu juga merupakan biaya potongan harga karena aku dan Zena bisa bertarung melawan monster sehingga menjadikan sebuah keuntungan. Disamping mendapat perlindungan dan tidak perlu membayar penjagaan itu, aku dan Zena mendapat tumpangan dengan harga yang murah.


Setelah beberapa saat, kami menuju guild pemburu vampir dan menjual beberapa barang yang aku temukan saat itu. Sebelum meninggalkan desa vampire itu, aku mengumpulkan beberapa material seperti inti dari vampire rakyat yang sebagian besar dibunuh oleh paman Url. Dari beberapa inti rakyat vampire aku mendapatkan 16 koin bronze.


"Hwamph......"


Aku menguap dan duduk kembali di tempat awal.


"Pasti melelahkan, bukan?"


Zena bertanya kepadaku ketika aku selesai menguap.


"Yah, setidaknya kita berusaha mencari bahan yang kita perlukan. Lagipula akar Groot juga bisa bertahan agak lama... Itu akan pas untuk kompensasi kita meninggalkan Meli sendirian..."


"Ah... Benar juga ya... Aku rindu beberapa pengganggu yang selalu berisik. Ahahahaha"


Zena tertawa setelah ucapanya itu.


"Oi, oi, oi. Tapi sebenarnya memang begitulah situasinya, tapi jika memang iri silahkan peluk aku sepuasnya, walaupun ketika kita sudah berada di dekat penginapan....."


Ucapku sedikit malu.


Zena yang tadinya tertawa kemudian terdiam malu.


Keadaan menjadi canggung, Kami berdua terdiam karena kehilangan topik pembicaraan.


"Oh! Kalian berdua!"


Ucapan tersebut berasal dari belakangku.


"Oh, Paman!"


Paman Url kembali kepada kami.


"Sedang bersantai kah?"


Dengan nada polos paman Url masuk ke pembicaraan dan duduk di dekatku.


"Ya. Lalu apa yang membawamu ke sini paman?"


"Oh, aku hanya mampir dan membawa beberapa buruan yang aku dapat dari perburuan tadi."


Ucapnya sambil menunjukkan daging yang telah dibersihkan kepada kami.


"Oh, akan di apakan daging itu?"


Ucapku.

__ADS_1


"Oh, aku ingin membaginya bersama kalian!"


Paman Url yang dengan semangat memberikannya kepada Zena. apa dia merasa tidak enak pada kami? adalah apa yang kupikirkan.


"Ah? Anu...?"


Zena yang bingung segera bertanya.


"Uhm... bila perlu bisakah kamu memasakkannya?"


Ucap paman Url yang sepertinya pasrah akan memberikannya kepada siapa karena tidak pandai memasak. Sambil menatapnya dingin aku berpikir, paman satu ini memanfaatkan kebaikan hati Zena!


"A-apa?"


Paman Url yang merasakan tatapan dingin dariku sedikit bertanya.


"Oh, Uhm... Kalau begitu akan aku siapkan bahan-bahannya."


Dengan sigap dia mengambil daging itu dan berjalan menuju lapangan terbuka, dengan beberapa peralatan dapur dan meja yang pernah kubuat. Kemudian dia mengambil pisau yang dibeli siang tadi dan mengiris dagingnya dengan rapi. Setelah dipotong Zena segera meletakkan sebuah batu besar dengan tempat untuk meletakkan kayu bakar lalu dengan bantuanku menyalakan api. Seperti tungku manual, tentu saja batunya telah dibersihkan dan dimanfaatkan menjadi alas untuk memanggang.


"Hm...."


Zena sedikit berpikir lalu dia melihat beberapa rumput yang tumbuh di dekatnya. seketika dia melihatnya dan memangkasnya.


Dia lalu mengendusnya dan dengan cepat memintaku mencucinya dengan sihir air. Setelah bersih dia segera memotongnya kecil-kecil. Dengan garam yang dibawa paman Url dia kemudian mengkombinasikan daun tersebut dengan garam. Daging dipanggang ke batu yang sudah panas, tentu saja diberi sedikit minyak yang didapat dari tumbuhan di sekitar. Itu terjadi ketika aku tidak sengaja melihat tumbuhan dengan getah seperti pelumas yang ternyata aman untuk dikonsumsi. Lalu setelah memasukkannya sedikit lebih lama Zena menaburkan daun tadi beserta garamnya masuk.


Bau yang harum muncul, walaupun tidak terlalu kuat. Beberapa saat kemudian Zena mengeluarkan bahan seperti umbi-umbian. Aku pikir itu bawang putih. Dia lalu mengirisnya hingga halus lalu menaburkannya. Bau harum semakin kuat dan mengundang warga yang kelaparan. Mereka datang berhuyung-huyung seolah mereka sudah tidak dapat menahan rasa ingin tahunya.


"Uh..."


Zena yang sedang memasak merasa tidak enak karena hanya memiliki daging yang cukup untuk 3 orang.


"Hm... Istrimu jago memasak ya. Hahahaha jadi iri!"


Ucap paman Url yang melihat sekitarnya berdekatan.


"Ahahaha, yah..."


Aku hanya sedikit tertawa. Aku yakin dia hanya iri!


"Hei nona! Bisakah kamu membuatkan kami semua?"


Seorang warga bertanya kepada Zena.


"Hey, ayo buatkan kami yang seperti itu!"


"Apa saja bumbunya?"


"Nona cantik yang pandai memasak!"


Atau sebagainya. Kata-kata itu membuat Zena pusing.


"Ah, maaf semuanya, biar aku berikan resepnya, untuk bahannya mudah dicari kok."


Aku menyela mereka semua.


"Oh! Yang benar saja anak muda!"


Ucap salah satu beastman berteriak kepadaku.

__ADS_1


Dan akhirnya aku menggantikan menulis resep untuk semua orang karena Zena memiliki kelemahan ketika banyak orang bertanya kepadanya. Malam ini berakhir damai, para warga yang mengetahuinya segera mengikuti resepnya dan cara masaknya. Paman Url, aku dan Zena menikmati makanannya. Akhirnya aku dan Zena tertidur sementara Paman Url berjaga. Api unggun yang menyala sedikit menghangatkan kami bertiga. Aku mendapat giliran berjaga kedua.


Continue.....


__ADS_2