Re [Life] : Incarnation

Re [Life] : Incarnation
Kesenangan dan Pria Misterius yang Membawa Bencana


__ADS_3

Setelah mendengarnya, aku segera keluar dari guild dan menuju ke rumah Zena. Sekarang ini mungkin mereka sedang membuat kue. Berlari melewati pasukan kota yang sedang berbaris bersiap untuk perang.


*Jdaar!!!


"Zena! Kita harus cepat bereskan barang-barang kita!"


Sambil terengah-engah, aku berteriak.


"Oh, Luke. Ada apa? Kenapa kamu terlihat tergesa-gesa?"


Dia berusaha menenangkanku lalu menyuruhku duduk. Aku mengatur nafasku kembali lalu mulai berbicara.


"Aku dengar dari guild, akan ada serangan besar ke kota ini. Para petualang dan penjaga kota sudah bersiap. Dan mereka akan sampai malam ini. Kita harus segera berpindah, bawa Meli, dan semua perlengkapan."


"Eh!? Penyerangan!? Lagi!?"


Dia terkejut dan menutup mulutnya. Wajahnya tampak pasrah. Seakan dia tidak percaya apa yang akan terjadi.


Aku kemudian mendekatkan wajahku ke wajah nya dan dengan tenang, menyentuhkan bibir kami berdua. Walaupun dia sedikit terkejut, dia akhirnya menjadi tenang. Setelah sedikit lama berciuman, aku melepaskannya dan berbisik.


"Tenanglah, aku disini."


Lalu memeluknya.


Dia tampak lebih tenang dari sebelumnya dan kemudian menjadi sedikit santai. Tubuhnya mengendur dan membalas pelukanku.


Selama beberapa menit dia menikmatinya, dan lalu melepaskannya.


"Kalau kamu bilang begitu, apa boleh buat."


Dia kembali membuat senyum tulus dan berbalik ke dalam. Walaupun rumah ini penuh dengan kenangan, kami tidka bisa melindunginya karena nyawa kami lebih penting.


...****************...


Setelah beberapa persiapan, kami kemudian berangkat. Zena dan Meli berpegangan tangan seolah mereka sedang pergi bertamasya. Angin sejuk membawa hawa dingin pada kulit dan cuaca menjadi berawan. Awan gelap mulai menyelimuti matahari hingga cahayanya tidak dapat menembusnya.


Suasana menjadi mencekam, walaupun Zena dan Meli menikmati dunianya sendiri.


Sambil berjalan Meli berkata.


"Kapan lagi kita akan bertamasya lagi?"


"Mungkin, kapan-kapan?"


Zena menjawabnya dengan Ragu.


Beberapa percakapan antara aku, Zena, dan Meli terus berputar. Biasanya Meli yang akan membuka topiknya, entah itu tentang sihir, Makhluk iblis, atau yang lainnya.


"Papa, apakah makhluk iblis akan menyerang?"


"Ya, begitulah."


"Meli ingin melihat lebih dekat!"


Dia melompat dengan senang sambil masih bergandengan tangan dengan Zena.


"Tidak, itu berbahaya loh."


Zena mengucapkannya dengan tenang.


"Eh.... Berbahaya bagaimana mama?"


"Jika serangan itu tidak sengaja meluncur ke Meli bagaimana? Mama dan papa pasti khawatir loh."


"Meli harus bisa menghindarinya!"

__ADS_1


Walaupun dia sempat kecewa, mendengar jawaban Zena mungkin membuatnya kembali ceria.


"Wah! Kita sudah sampai!"


Meli berteriak ketika sebuah gerbang besar terlihat. Dia dengan tergesa-gesa menarik tangan Zena yang masih digandengnya.


Terdengar dari jauh, penjaga meneriakkan suara.


"Oii!"


Mereka masuk tanpa membayar....


Aku kemudian berlari ke arah penjaga dan membayar biaya masuknya.


"Maafkan mereka, ini biaya masuknya."


"Hah... Anak kecil memang merepotkan yah.. Baiklah, aku maafkan."


Dia kemudian memaafkan tindakan mereka berdua dan menerima harga masuknya.


Ketika aku melihat, mereka sudah duduk di dekat sebuah kedai sambil membawa roti bakar. Meli memakannya dengan lahap sementara Zena membawa rotinya sambil mengelap sisa roti yang menempel pada pipi Meli.


"Hm!!"


Dia mengunyahnya dengan bahagia...


Aku mendekat lalu duduk di sebelah Zena yang tengah membersihkan sisa roti di pipinya.


"Oh, jadi kalian melihat roti dan langsung berlari kesini ya..."


"Hm!"


Meli mengangguk sambil mengunyah. Matanya disipitkan seolah dia menikmatinya.


"Aku tidak habis.."


"Hm? Aku tidak lapar sih... Baiklah, akan aku makan."


Aku menerimanya dan memakannya. Sementara itu, Zena membersihkan muka Meli yang penuh dengan roti yang menempel. Bahkan tangannya belepotan.


"Setidaknya bersihkan tanganmu sendiri, ini."


Zena memberikan sebuah sapu tangan kepada Meli. Dia kemudian menerima saputangan itu dan membersihkan tangannya.


"Setelah ini kita akan kemana?"


Meli bertanya sambil mengembalikan sapu tangannya kepada Zena.


"Mungkin kita akan ke penginapan?"


Aku kemudian menyela percakapan mereka sambil membersihkan tanganku.


"Oh! Penginapan! Oke, Meli akan membantu!"


Dia segera meraih tangan Zena dan berlari sambil menggandengnya.


"Anak itu..."


Aku menghela nafas lelah karena tidak diberi istirahat. Setidaknya aku dapat duduk.


Aku segera menyusul mereka berdua yang dengan santainya berlari. Aku harus memperingatkan mereka berdua....


...****************...


Sementara itu, di sisi lain kota. Tampak seorang mencurigakan memakai jubah hitam berjalan di jalanan yang ramai. Dia tampak menakutkan. Banyak orang orang yang menghindarinya.

__ADS_1


"Oh... Kota yang jelek...."


Ucapnya lalu tertawa seperti seorang yang licik. Terkadang dia juga membuat masalah pada orang orang disekitarnya. Seperti merusak stand dari salah satu kedai di pasar itu.


"Hm... Menjijikan.."


Dia kemudian pergi setelah menghancurkan beberapa stand.


"Oi! Kamu!! Jangan membuat ribut di kota!"


Seorang petualang menegurnya. Sang misterius menatapnya dengan rendah. Karena tatapan itu, sang petualang tak sanggup menahan emosinya dan berbalik menyerangnya.


"Brengsekk! Matilah!!"


Tepat sebelum Bilah mengenainya, dia tersenyum. Matanya tak terlihat karena tertutup jubahnya.


"Ap-!?"


Tepat sebelum petualang itu menoleh, sebuah bilah pisau kecil hampir mengenai lehernya. Dia tidak sempat menyelesaikan kata-katanya.


Beberapa orang di sekitarnya bergumam dan saling berbicara satu sama lain. "Oi, barusan itu apa?", atau "Dia seorang penyihir?", sebagian berkata "Apakah itu sihir baru?", Serta "Sihirnya merepotkan...". Orang-orang menjadi takut akan itu.


"Hoho... Sepertinya akan mengasikkan..."


Dia kemudian menyentuhkan ujung pisaunya ke leher pemuda itu. Darah mengalir walaupun tidak terlalu dalam. Pemuda itu telah menjadi kaku karena takut untuk bergerak sedikitpun. Keringat dingin bercucuran.


"Hm.. Darah segar ini... Aroma yang enak.."


Ucapnya sambil terlihat seperti ingin menjilatinya. "Menjijikkan." adalah apa yang orang-orang katakan. Beberapa menit kemudian, sepasang penjaga datang.


"Oi! Kamu yang di sana! Apa yang kamu lakukan!?"


"Itu berbahaya untuk melakukannya di dalam kota! Jika kamu memiliki masalah dengan dia, lakukan di luar kota!"


Dua orang dari pasukan prajurit mendatangi kerumunan itu.


"Ah.. Ahh... Merepotkan.."


Dia kemudian mencabut pisaunya dan segera berjalan normal.


"Tunggu! Kamu telah membuat masalah, ikut kami!"


Sang prajurit kemudian menangkapnya dan memaksanya. Sang misterius, karena misinya adalah mencapai alun-alun untuk menghancurkan kota, tidak berhasil. Dia kemudian mengamuk.


"Lepaskan!!"


Dia berhasil melepaskan dirinya dan berlari menuju alun-alun Kota.


"Tcih!"


Karena prajurit lainnya datang, dia berhenti. Dia telah terkepung dengan dua prajurit di depannya dan dua lagi dibelakangnya. Dia kemudian mengambil pisau dengan motif aneh dan mengangkatnya.


"Oi! Apa yang kamu lakukan!?"


Para prajurit terkejut karena perilaku anehnya. Dia kemudian mengucapkan kata-kata dengan lantang.


"Demi tuanku, Raja iblis sejati!! Aku mengorbankan tubuhku demi tuanku!! Lakukanlah perintahnya dan hancurkan kota ini!!"


Seketika setelah mengucapkannya, dia menancapkan pisau itu ke perutnya sendiri. Darah mengalir dengan deras, dan awan hitam menutupi tubuhnya.


"Ap-!? Dia!?"


Para prajurit tercengang melihat itu. Mereka semua hanya terdiam melihat itu. namun sebuah awan hitam muncul dan dari dalamnya sebuah Makhluk iblis keluar.


"Makhluk iblis!?"

__ADS_1


Para prajurit kemudian berjaga. Salah satu dari mereka berlari mencari bantuan, dan yang satunya lagi bertugas mengevakuasi. Kini tersisa 2 prajurit di sana. Makhluk iblis itu berbadan besar, dengan wajah seperti kadal dan memiliki tanduk domba di kepalanya. Ekor kerbau di belakangnya berwarna hitam gelap. Mata merahnya menyala dari dalam awan gelap.


Continue...


__ADS_2