![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
Semalam setelah kejadian itu, sekarang ini kami sudah berada di dalam kamar penginapan. Sebelumnya saat sebelum tidur, Zena sempat menangis untuk beberapa saat.
"Pagi Zena. Sudah lebih baik?"
"Ya..."
Dia menjawabnya dengan mata sedikit lelah. Dia seperti seorang yang pasrah.
"Biarlah yang lalu berlalu. Aku akan memasangkan sihir penyamaran, lalu segeralah sarapan."
"..."
Dia hanya terdiam sambil melihatku dengan tatapan aneh. Matanya mulai berkaca-kaca lagi.
"Ada apa? Matamu mulai berkaca-kaca lagi loh?"
"..."
Dia mendekat kearahku yang sudah berdiri di dekat ranjang dan memeluk perutku. Dengan posisi duduk dia memeluk erat perutku.
"Ada apa?"
"..."
Pipinya mulai basah karena air matanya yang tidak terbendung.
"Huh... Aku tahu memang berat, jangan menyerah disini, oke?"
Aku mengatakannya sambil mengelus kepala Zena. Dia menenggelamkan wajahnya ke perutku, lalu mengangguk.
"Nah, kalau begitu aku akan memberikan mantra penyamaran lagi hari ini."
Dia melepasnya dengan perlahan lalu mengangguk.
"[Mirage]."
Seketika Wajahnya menjadi berbeda tergantung dari bayangan sang pemantra. Aku membayangkan seorang wanita dengan kucir ponytail di belakang.
"Yosh, Kalau begitu ayo kita segera sarapan."
Dia hanya menjawabnya dengan mengangguk.
Mungkin dia sangat terkejut dengan ucapan prajurit itu semalam. Karena dia melawannya saat itu untuk melindungi dirinya, jadi bisa dibilang Kurt anak Broyce itu yang salah. Aku hanya bisa mengerti perasaan hancur yang dideritanya.
...****************...
"Kami berdua pesan 2 air putih dan 2 porsi Breate!"
Aku mengucapkannya dari tempat duduk yang tidak jauh dari Pemilik bar malam itu. Karena letaknya yang dekat dan makanannya yang enak kami berdua memutuskan untuk kembali makan di sini seperti malam tadi.
"Oh! Oke! Tunggu sebentar ya!"
__ADS_1
Sambil berteriak, dia masuk ke dalam sebuah ruangan yang tertutup kain. Ada seorang perempuan di dalannya sedang memasak. Sepertinya itu orang tua dari pemilik penginapan itu.
Aku kembali menyandarkan kepalaku ke tanganku seperti seorang pemalas di pagi hari. Zena menundukkan kepalanya dan menyembunyikan kedua tangannya di bawah meja. Dia benar benar sedih ya...?
"Silahkan dinikmati."
Sambil memberikannya kepada kami 2 nampan berisi pesanan kami.
Setelah itu kami segera memakannya dengan perlahan. Breate adalah makanan olahan kentang yang diberi campuran daging sapi. Biasanya hanya di rebus hingga matang lalu di sajikan bersama sayur dan biasanya diatasnya akan diberi saus Kaner.
Saus Kaner adalah Saus yang terbuat dari biji bunga bernama Aguila. Bunga ini banyak tumbuh di sekitar danau. Warna bunga ini bermacam macam. Mulai dari yang biru, ungu, pink, merah, hijau, dan lainnya. Rasa saus Kaner sendiri seperti saus kacang, tetapi dengan sensasi gurih yang menyatu dengan Breate.
"Hey, kalian dengar? Katanya malam ini akan ada penyerangan dari pihak pemerintah, Beberapa rakyat akan melawannya. Ini seperti perang saudara bukan?"
"Aku juga dengar, bahwa Broyce mulai bertindak untuk menyingkirkan semua yang menentangnya."
"Itu kejam, tidak bisakah mereka sedikit lebih baik, kita sudah muak menyembunyikan semua perbuatan mereka."
Aku mendengar sedikit gosip dari beberapa petualang wanita. Broyce sudah bertindak ya..? Apakah mereka menyewa tentara bayaran untuk menjadi pihaknya?
Sepertinya akan ada sesuatu malam ini.
Sambil memikirkannya aku sedikit berbisik kepada Zena.
"Malam nanti kita akan berjaga."
Dia mendengarnya tanpa ekspresi. Mukanya telah muram karena dia tidak tahu fakta bahwa Kurt anak Broyce yang merupakan bangsawan adalah penggila seks. Beberapa rakyat menjadi korban bahkan anak-anak tidak terkecuali.
Maka dari itu, pihak kerajaan mengutus mata-mata untuk memantau apa yang terjadi pada kota ini. Dan aku adalah orang yang tidak sengaja tersangkut oleh kejadian merepotkan ini.
Sekarang ini kami sudah berada di hutan dekat tembok timur kota. Sangat lembab sehingga banyak hewan sihir berada di sini. Walaupun begitu Zena tetap saja muram, dia masih memikirkannya... Dia itu sangat sulit melupakan sesuatu.
"Hm.."
Sambil menggumamkan kata tidak jelas, aku mencari cari sebuah tanaman dari quest yang aku pilih.
Quest yang aku pilih adalah mencari tanaman herbal. Tanaman itu bernama Red Rose. Biasa dibuat untuk ramuan penyembuh luka. Tanaman ini berbentuk bunga kecil dan bisanya tumbuh dengan liar.
Walaupun Zena hanya menunggu dan duduk di salah satu pohin dengan ekspresi muram, aku tetap menghiraukannya dan terus mencarinya. Hanya mencari 5 ok?
"Dan ini yang terakhir..."
Aku mencabutnya bersama dengan akarnya, lalu memasukkannya ke sebuah kantung. Tanaman ini tidak berduri, bahkan sangat harum. Setelah mengumpulkan semuanya, kami berdua kembali ke guild dan menyerahkan tanaman itu. Setidaknya masih lama untuk bisa naik ke rank D seperti Zena.
Kami berjalan menyelusuri jalanan. Suasananya sangat sepi walaupun masih sore. Para penjaga juga sepertinya telah menghilang sejak terakhir kami keluar gerbang.
"Ini aneh.."
Aku mengucapkannya tanpa ragu dengan berbisik. Zena hanya mendengarkannya.
...****************...
__ADS_1
Kami sampai di depan Penginapan tempat kami menginap. Pemilik penginapan sepertinya sedang gelisah tentang sesuatu, bahkan bar di samping penginapan tutup. Aku penasaran tentang beberapa hal-hal yang aneh itu dan memutuskan untuk bertanya.
"Permisi."
Dia tampak terkejut dengan sapaanku.
"Y-Ya! Ada apa? Apakah ada yang salah?"
"Uhm.. aku hanya penasaran tapi... kenapa kamu panik begitu?"
"Tidak! Tidak ada... Kota sepi karena nanti malam akan ada pertempuran antara prajurit yang mendukung bangsawan brengsek itu dan yang tidak, sedangkan beberapa warga memilih untuk mengungsi, sisanya akan ikut dalam penyerangan."
Akan ada lautan darah malam ini. Apakah dia tidak menyembunyikan sesuatu?
"Apakah ada lagi?"
"Tidak, hanya beberapa petualang yang juga ikut, itu saja."
"Benarkah?"
"Ya."
Dia tampak meyakinkan tapi aku harus tetap waspada, kalau kalau dia adalah tentara sewaan bangsawan itu.
Setelah sedikit curiga kepada pemilik penginapan, kami segera kembali ke kamar yang kami berdua sewa.
"Hari-hari yang melelahkan.."
Sambil menenggelamkan tubuhku ke ranjang. Zena hanya duduk di kursi menghadap kearah pintu.
"Huh...."
Aku segera beranjak mendekat kearah Zena yang masih tidak menampakkan senyumannya. Segera setelah sampai, aku mencubit pipinya dan menariknya.
"Ahw.... Shwakit! Aw... Apa yang kwamwu lwakukawn..."
Sambil mengucapkan kata-kata tidak jelas, Dia mengerang kesakitan.
"Tersenyumlah. Aku akan melindungi mu jadi tersenyumlah. Ini hanya permintaan egois ku."
"Awawa..."
Aku melepaskan cubitan ku, dia segera menepuk pipinya setelah aku mencubitnya. Pipinya menjadi merah, dan matanya berkaca-kaca kembali. Akhirnya dia menangis sambil memelukku seperti anak kecil yang bertemu kembali dengan orang tuanya setelah beberapa lama.
...****************...
Malam harinya, Aku terjaga akibat para warga yang sedang berkumpul sambil membawa obor. Derap langkah terdengar dengan bunyi besi yang mengiringi suara derap itu. Para prajurit melangkah dengan baris yang rapi lengkap dengan armor mereka.
"Jadi ini yang ditakutkan oleh pemilik penginapan.."
Ucapku sambil bergumam. Zena melihat gerombolan orang-orang yang berkerumun lewat jendela yang tertutup. Dia tampak khawatir, karena dia, warga sampai harus berperang melawan prajurit dan tentara bayaran milik bangsawan itu.
__ADS_1
Tampaknya, tempat peperangan ini terjadi tepat di depan penginapan tempat kami menginap. Resikonya adalah penginapan ini hancur rata atau hanya akan terkena serangan. Setidaknya aku akan menghindar dengan mengamankan Zena sebelum efek sihirnya hilang.
Continue...