
...Chapter 23...
Dibawah langit yang sudah mulai menguning, Xianlie dan Eng berjalan di sebuah pemungkiman yang biasa Xianlie lewati. Eng memandangi wajah datar Xianlie begitu memicing.
"Adik, kau hanya diam saja. bisakah kau menjelaskan nya pada ku?." Tanya Eng dengan sedikit urgen
"Dua kekaisaran besar yang kau telah ketahui, mereka mengalami bentrok dan tak sejalan lagi. Aku kurang tau pasti mengenai akar masalah nya. Namun ini adalah kesempatan bagus untuk ku, agar membalas dendam." Jelas nya pada, Eng.
Eng, mengurut pelipis mata nya dan mendesah begitu berat. Yang dia ketahui, dua kerajaan ini dulu nya bersahabat baik dan tak saling senggol satu sama lain. Tapi mengapa sekarang malah menjadi seperti sekarang?
"Aku hanya tertidur dari dunia, selama 8 tahun. Tapi sudah banyak sekali perubahan yang ada pada dunia ini. Jika saja aku tertidur jauh diatas itu, entah berapa banyak lagi perubahan yang akan terjadi." Keluh nya lagi sambil melihat kearah Xianlie, yang sedari tadi tidak terlihat senyuman diwajah nya.
"Pakai topeng mu. Permainan akan segera di mulai." Suruh Xianlie begitu mutlak.
Tanpa mengucap kan sepatah kata lagi, Eng mulai memasang pelindung wajah nya. Dia mengikuti langkah kaki Xianlie yang bisa dibilang cukup cepat itu. Tak lama mereka berjalan, terdengar suara ribut kerumunan para pria sedang menghakimi sesuatu. Pekikan dan cibiran yang mereka berikan pada seorang makhluk itu terdengar sangat menusuk tanpa perlindungan. Perlahan jalan menuju kerumunan itu terbuka begitu lebar sehingga memperlihat kan sesosok, ah tidak tapi seorang pria yang sedang di pukuli habis habisan oleh para pria disana.
Nampak nya dia tidak memiliki perlindungan sedikit pun pada diri nya. Dan bisa nya dia mencari masalah pada penduduk disaat dia tak membekali diri sendiri, dengan energi jiwa yang memadai. Penduduk di kekaisaran ANMING ini, digadang - gadangi tidak memiliki belas kasih atau bahasa kasar nya, mereka benci dengan kebaikan.
Bereka tidak mengenal belas kasih disaat kekaisaran ini melakukan sistem wajib militer untuk semua penduduk. mau pun itu pria, wanita, pria tua, dan wanita tua sekali pun. Hal itu sudah membuat mereka merasa jika tahta yang paling tinggi yang harus dihormati adalah seorang yang memiliki energi jiwa dan seorang bangsawan.
Pria yang berada di tengah kerumunan itu terlihat begitu memprihatinkan. Muka nya babak belur akibat terkenanya hantaman benda tumpul.
Eng dan Xianlie hanya mengamati dari kejauhan. Eng terlihat gusar dan hati nya menggatal ingin menolong pria tersebut. Namun tangan kecil dan putih mulus adik nya, lagi - lagi menghentikan langkah, diri nya.
Eng memiringkan wajah nya menuntut sebuah alasan, sang adik menghentikan langkah nya. Xianlie menggeleng dengan ekspresi datar lalu memaling kan pandangan itu pada si pria asing.
__ADS_1
"Jangan terlalu percaya terhadap orang asing." Tutur nya terdengar begitu penuh racun.
Eng, tak mendengarkan, dua kali dia membantah peringatan dari sang adik. Xianlie sangat kesal jika ada seorang yang sudah diberi fakta tapi malah menolak. Eng, melepas tangan nya dari genggaman Xianlie, dia menggeleng maksut menolak dugaan yang dilontar kan Xianlie pada pria asing tersebut.
"Adik, ini masalah rasa kemanusiaan. Dia hampir mati digebuki oleh para pengacau itu! Bukan maksut diri kakak tidak memdengar kan mu, adik." Elak, Eng, masih keras kepala dan tak mendengarkan.
Xianlie tersenyum simpul, lalu dia melipat kedua tangan nya dan memperhatikan, Eng, begitu prihatin. "Mengapa kau terlalu naif, kakak." Bisik hati nya penuh penekanan.
"Baik lah, aku tidak akan menghalangi. Lakukan seperti yang ingin kau lakukan." Kata nya dengan pasrah dan membiarkan sang kakak ingin berprilaku apa.
Eng, mengangguk dan berjalan menghampiri kerumunan itu. Gagah sekali langkah itu berjalan menuju kerumanan disana.
"Hahaha, pecundang seperti diri mu ini mengapa berada disini? Jilat lah induk kaki ku...anjing seperti mu sudah harus melakukan hal ini."maki salah satu pria berkepala botak dan berbadan kurus kering. Nada bicara nya sangat sombong, seperti dia sudah mengenal para dewa untuk menyanjung hidup nya.
Sebuah tangan putih dan kekar memegang bahu pria yang pertama kali berbicara. Tangan kekar itu meremas bahu sang pengacau sehingga pengacau itu mendesah kesakitan. Perlahan pandangan semua nya menuju pada si pemilik tangan.
Perlahan memperlihatkan, Eng, dengan topeng nya sedang berdiri menghadap sang pria botak. Aneh nya, walau wajah nya tertutup oleh topeng, namun masih terasa begitu kuat tekanan mengintimidasi dari diri nya.
"Hay." Sapa, Eng, dengan nada yang begitu bersahabat.
"Ck, siapa orang asing ini?" protes pria botak itu.
"Apa yang terjadi? mengapa kalian menghakimi pria ini? apakah dia sudah membuat kesalah pada kalian?." Tanya, Eng, menuntut jawaban.
"Mengapa pria asing ini tiba tiba menanyakan urusan kami? hmm kau terlihat begitu rapi, apakah kau seorang bangsawan?." Tanya pria berambut plontos dengan begitu menyelidik
__ADS_1
Yang lain nya juga mulai melihat kearah, Eng, pandangan mereka perlahan menurun tat kala menunggu jawaban dari, Eng.
"Bisa dikatakan seperti itu." Jawab Eng.
Mereka benar benar menurun kan pandangan mereka. Sangat mengheran kan disaat telinga itu mulai mendengar kata bangsawan, mereka tak berani lalu terdiam bak seorang tikus yang jatuh di lubang ular.
Eng, awal nya tak menyangka jika ini akan berjalan dengan mudah, tanpa ada nya kekerasan. Dia tersenyum dari balik topeng nya.
"Kami hanya sedang mengajari orang asing ini. Dia sudah membuat kekacauan dan memancing amarah kami." Si botak itu melontarkan sebuah alasan yang terdengar cukup mempercayakan.
"T-tidak... Aku hanya meminta agar kali-an tidak semena pada ku. Itu saja." Protes pria asing itu, lalu berdiri dengan menampali perut nya. "Aku sama sekali tidak mengharap kan perlakuan kasar dari kalian." Lanjut nya lagi penuh sarkatis yang hanya bisa dirasakan satu orang.
Orang itu adalah, Xianlie, dia sedang mendengarkan perbincangan itu menggunakan mata galaksi milik nya. Senyum sinis timbul dibibir kecil nya itu.
"Sangat licik!" Gumam nya penuh akan racun.
"Permainan apa lagi yang akan dimainkan? Aku sudah siap menjadi salah satu bagian nya. Tidak akan ada yang menduga jika aku adalah maniak dalam sebuah permainan." Sinis nya memandang tajam pria asing yang sedang berdiri dengan wajah angkuh memandang pria botak yang baru saja menghakimi diri nya.
Pria itu menunjukan sikap berani, disaat ada seorang yang diyakinkan akan melindungi nya.
"Kalian lah yang tak pantas berada disini!" Pekik nya begitu kesal seolah rasa kesal nya sudah lama terpendan di hati nya itu.
...BAGIAN 23 TELAH BERAKHIR, SEE YOU AGAIN...
...JANGAN LUPA DI LIKE YA, SUPAYA AUTHOR MAKIN SEMANGAT BUAT UPDATE...
__ADS_1