
Disaat gerbang utama itu terbuka, timbul hembusan angin yang sudah berbaur dengan bau dedaunan. Angin itu menerpa masing-masing orang yang sedang berhadapan, begitu canggung. Para pasukan KUANTONG, berlari masuk kedalam gerbang lalu berdiri serentak di belakang Xianlie, Rijin, dan Eng.
Tatapan Xianlie begitu penuh kebencian yang tidak bisa diutarakan. Mujeng melihat dua gadis didepan nya, dia ragu, dia begitu ragu untuk menyapa. Dia melihat tatapan dari Rijin, begitu penuh ketakutan dan rasa khawatir yang tulus, sementara Xianlie, dia melihat sebuah tatapan mengutuk yang bisa dia rasakan.
"Aku sudah pernah bilang sebelum nya, jika aku tidak akan pernah menyerah kan adik ku bukan!" Eng mulai buka suara, menujukan ucapan nya pada Qian'gu.
PROK PROK PRK
Qian'gu bertepuk tangan dengan raut wajah meremeh.
"Siapa yang kau akui sebagai adik mu! kau lupa ya? apakah aku perlu mengingat kan diri mu lagi!" Ucap nya tajam.
"Sial! andai saja aku tidak salah bicara pada waktu itu!" Sesal Eng.
Keadaan tempat itu begitu mencekam, Mujeng diam seribu bahasa menunduk dengan rasa malu. Xianlie sangat bingung ingin mengatakan apa, namun Rijin menyadari kebingungan Xianlie lalu meraih tangan Xianlie dan menggenggam nya dengan erat. Xianlie tersenyum kecil, lalu mengumpul kan keberanian nya dan menghilangkan rasa takut yang melanda.
Dia mulai mengambil nafas dalam lalu membuang nya perlahan.
"Aku adalah putri bungsu dari mendiang permaisuri utama, ingin menanyakan maksut kedatangan yang mulia ke kerajaan kami yang begitu kecil ini! Bisakah yang mulia mengatakan nya?" Ucap Xianlie terlihat tidak sedikit pun menurunkan rasa sopan.
Para prajurit yang hadir disana dibuat terkejut dengan pernyataan Xianlie. Mereka saling berbisik dan melihat Xianlie begitu tidak percaya. Mendengar keributan itu, Xianlie Menoleh kebelakang dan tersenyum begitu manis, "Benar... aku adalah putri bungsu mendiang permaisuri alates, putri dari kerajaan barat bua susu. Senang bisa berjumpa dengan kalian." Sapa Xianlie begitu manis.
Semua nya terdegun, baru pertama mereka mendapat senyuman yang begitu manis itu dari Xianlie. "Hey, aku tidak pernah berpikir jika putri yang dirumor kan sampah akan kuat seperti ini." Bisik salah satu prajurit dengan menganga tidak percaya. "Diam, dia adalah jendral kita! jangan salah sangka dengan senyuman nya tadi, dua jam lagi lihat lah dia pasti akan kembali dingin pada kita." Sahut satu nya, menegur rekan nya karena berucap tidak sopan tentang Xianlie.
"Nona... " Panggil Rijin khawatir.
Xianlie mengangguk pada Rijin, maksut memberi rasa tenang pada nya.
"Kembali pada pertanyaan awal, apa maksut kalian datang kemari!" Sambung Xianlie berusaha mempertahan kan senyum tegar nya.
"Xianlie..." Panggil Mujeng dengan lirih.
"Ya.. ada apa kau memanggil ku?" Tanya Xianlie sangat sopan.
Mujeng tersenyum, hati nya sangat gembira karena benar jika gadis didepan nya ini adalah sang putri yang sudah bebas dari segel pengikat jiwa. Dia melangkah maju, merentangkan tangan ingin memeluk sang putri
__ADS_1
"Berhenti! jangan maju satu langkah pun!" Suruh Eng begitu tegas dan datar. Baru saja melangkah, kini Mujeng mau tidak mau harus menghentikan langkah nya.
Eng maju kedepan lalu berjalan miring dan menutupi tubuh mungil Xianlie dengan tubuh nya yang kekar. Tatapan mata memicing dia tujukan pada Mujeng. "Aku adalah kaisar disini! mana rasa hormat mu itu?" Tegas Eng.
"Pangeran tirani.. tolong jangan ikut campur tentang masalah ini!" Tegas Qian'gu tidak kalah datar nya
"Maaf? mengapa aku tidak boleh ikut campur! Xianlie adalah adik ku, lantas apa alasan nya sehingga aku tidak boleh ikut campur? apalagi orang yang akan memeluk adik ku adalah orang asing" Ucap nya penuh penekanan.
Xianlie menghela nafas berat, dia melihat kearah Qian'gu yang sedang menatap Eng penuh kutukan. "Qian'gu! Aku yakin kau masih memiliki otak! Jadi pikirkan lah, apakah masalah ini layak dipertonton kan kepada masyarakat atau tidak!" Tutur Xianlie begitu tenang.
Begitu sakit hati itu, disaat sang adik yang dia sayangi memanggil nya, hanya dengan sebutan nama langsung. Perih yang dia rasa tidak akan mungkin mengalah kan rasa perih Xianlie selama ini, itu lah sekarang yang dipikir kan oleh nya.
Mujeng dan Qian'gu saling pandang, lalu mengangguk setuju. "Baiklah," Singkat Mujeng.
...- Ruang pertemuan jamu -...
Terlihat disana, ada 20 kursi di sebuah meja panjang yang kokoh. Mereka saling duduk berjauhan, masih belum bicara satu pun. Sampai ada salah satu yang berdehem, memecah keheningan.
"Jangan banyak basa-basi, apa mau mu!" Tanya Eng tidak santai.
"Xianlie, percayalah ayah sudah mencari peti jiwa mu, tapi..."Ucap Mujeng berusaha meyakin kan.
"Picik sekali." Bisik hati Xianlie.
"Tidak! kau masih putri ku, kau harus pulang bersama ku." Desak Mujeng.
"Oh ya, kau masih menganggap ku putri! Tapi apakah kau bisa membuat ku lupa dengan kejadian 5 tahun yang lalu! mulut itu, mulut yang pernah mengatai ku monster, yang telah memerintah seluruh kekaisaran untuk membenci ku! dan tangan itu, tangan yang sudah memukuli ku beratus-ratus kali dan memenggal leher ku! aku masih ingat begitu jelas!" Ucap Xianlie dingin, begitu kosong dan penuh kebencian.
Mujeng menunduk lesu, jantung nya berdegup kencang mengingat jika dia sudah begitu kejam pada putri nya. Hanya satu kata dari seorang pengacau, dia sudah percaya akan hal itu, dan bahkan tega untuk memenggal putri nya sendiri.
"Maaf." Ucap Mujeng getir.
"Apa kata maaf cukup untuk membuat ku lupa!" Balas Xianlie mengangkat alis nya pada Mujeng.
Mereka berdua terus berbicara tanpa di ikut campuri orang sekitar nya. Rijin, Eng dan Qian'gu, memilih untuk berdiam tanpa membalas omong pada kedua orang yang sedang bertanya dan menjawab.
__ADS_1
"Bouchun lah yang telah mempropokasi ku! setelah ayah mengetahui itu, ayah benar-benar marah dan berusaha untuk menghancurkan kekaisaran ANMING. Ayah benar-benar menyesal karena telah mempercayai Bouchun." Sesal nya begitu tulus dan memohon pengampunan.
"Ck, ck, ck! Berhenti menyalah kan orang lain, renungi masalah mu. Semua orang bisa mengatakan apa pun dan bisa untuk mempropokasi manusia, namun manusia pasti bisa membedakan mana yang harus dikuti dan mana yang tidak. Terkecuali hati manusia itu memang sudah terlahir busuk!" Ucap Eng dengan nada menyindir.
"Diam! kau tau apa?" Tegas Qian'gu.
"Kau yang diam! Seharus nya kau sadar, adik ku pernah berkata jika kau adalah satu-satu nya orang yang baik pada nya, tapi mengapa kau tidak sadar jika orang disekitar mu telah berprilaku tidak adil pada nya?" Pekik Eng menunjuk kesal kearah Qian'gu.
"Maaf? kau mengatakan jika ibu ku adalah orang jahat?" Tanya Qian'gu tidak terima, dia memanas mendengar rujukan Eng yang sedikit mengarah pada pemaisuri Mine.
"Aku tidak menyebut nama ibu mu! kau lah yang telah menyebut nya."
Mereka semakin memanas, Xianlie hanya diam menikmati peraduan mulut itu. Dia tersenyum kecil melihat tingkah kedua kakak nya yang mirip seperti anak kecil berusia 3 tahun.
"Nona, bagaimana ini?" Tanya Rijin sedikit berbisik.
Xianlie menyadari kekhawatiran Rijin, dia mengambil nafas dalam lalu membuang perlahan. Dia melihat pada Eng lalu memegang pergelangan tangan Eng.
"Kakak, sudah." Ucap Xianlie bergeleng pada Eng, sementara Eng dia melihat Xianlie lalu dengan terpaksa berhenti pada sifat kekanak kanak nya dan kembali duduk.
Qian'gu memicing pada Eng, dia melihat kearah tangan Eng yang sedang dipegang oleh Xianlie, hati nya sangat iri melihat kedekatan itu. "dia bahkan memanggil dengan sebutan kakak." Bisik hati Qian'gu, cemburu.
Pandangan Xianlie kembali pada Mujeng yang sedang berdiam dengan tatapan yang kosong. Dia berusaha memahami dan mengerti, namun begitu sulit dan berujung sesak didada nya.
"Lalu apa mau, mu?" Tanya Xianlie pada Mujeng.
Mujeng mengangkat pandangan nya, "Pulang lah, ayah sangat menyesal. Ayah mohon pada mu, ayah akan menerima semua hukuman yang kau berikan pada ayah." Ucap mujeng memohon.
"Seperti biasa... penyesalan akan datang di akhir." Lirih Xianlie, mengurut pelipis mata nya. Begitu pusing, dan kesal.
"Kau tau, jika ini adalah rumah ku sekarang. Kakak dan Rijin adalah keluarga ku, aku tidak akan bisa meninggal kan mereka. Maaf kali ini kau harus pulang dengan tangan kosong, aku tidak bisa ikut dengan mu." Jelas Xianlie berusaha mengelak, dan mencari alasan.
Rijin melihat Xianlie dengan tatapan bangga, terutama Eng, dia terlihat bahagia setelah mengetahui jika diri nya adalah orang yang penting bagi Xianlie. Dia dengan cepat melihat kearah Qian'gu.
"Kau dengar! Aku adakah keluarga nya sekarang," Ucap Eng menyombong kan.
__ADS_1
-and-
...BAGIAN 43 TELAH SELESAI, SILAHKAN TINGGAL KAN JEJAK...