REINKARNASI XIANLIE

REINKARNASI XIANLIE
Bab 4 : Chapter 75 : Memutuskan untuk pulang.


__ADS_3

PRANKKK


SLAHHHH


BOOMMM


Disebuah lapangan latihan, Xianlie berlatih dengan begitu serius sampai-sampai semua yang ada disekitar menjadi hancur lebur.


Tatapan mata tajam bak elang tak pernah tanggal dari netra matanya. Keringat sudah membasahi baju latihannya itu, entah apa penyebab Xianlie sampai seperti sekarang.


Disamping, tak jauh dari Xianlie,, Qian'gu melihat dengan tatapan bersalahnya dan terus menunduk dengan malu. Tidak lupa sebuah buku ditangannya tersebut.


Perlahan dia mendekat, mengangkat pandangan pada Xianlie. Menggerakan bibir yang begitu susah untuknya.


"A-a-adik." Panggilnya gagu.


Xianlie melihat dengan sudut matanya, dia berputar dan mengarahkan tendangan kearah Qian'gu sehingga mengambang tepat didepan kakaknya itu.


Qian'gu memejamkan mata menunggu tendangan sang adik mendarat keperutnya, akan tetapi dia tidak bisa merasakan apapun. Dia membuka mata perlahan namun pasti, dan melihat sang adik dari samar-samar matanya.


Terlihat Xianlie masih mengambangkan kaki didepan Qian'gu sehingga netra Qian'gu terbuka dengan lebar. Namun dia tidak bisa berkutik, dia mematung ditempatnya.


"Aku sangat membenci orang yang mengganggu latihan ku!" Ucapnya tajam melihat datar sang kakak.


"Ka-kakak hanya, kakak hanya ingin menyerahkan ini padamu." Ucap Qian'gu gagu menyodorkan sebuah buku yang lumayan tebal pada Xianlie.


Xianlie melihat pada buku itu, "Apa ini?" Tanya Xianlie.


"Ini surat permohonan maaf yang kakak tulis untukmu, kakak sudah menambah 200 halaman lagi." Jawab Qian'gu menunduk.


Xianlie memicing, dia melihat sebuah lingkaran hitam yang terdapat disekitar kelopak mata kakaknya.


Xianlie menurunkan kaki, dan mendengus kesal.


Aku baru ingat pernah menyuruhnya untuk menulis surat permohonan maaf sebanyak dua ratus halaman. Tak disangka jika kakak menganggap serius perkataanku.


Batin Xianlie menyeka keringat di kening dengan punggung tangannya.


"Baiklah," Ucap Xianlie mengambil buku tersebut dari tangan Qian'gu.


"Tapi ini tidaklah cukup. Kau harus melakukan sesuatu lagi supaya aku cepat memaafkanmu." Tutur Xianlie berbalik badan sambil membuka lembar demi lembar dibuku itu.


Ini tertata dengan rapi.


Batin Xianlie tertegun melihat tulisan Qian'gu yang tertata begitu rapi.


Qian'gu terhentak, hukuman apa lagi akan Xianlie beri padanya supaya Xianlie mau memaafkan dirinya. Dengan ragu dia bertanya.


"Apa yang harus kakak lakukan?" Tanyanya sedikit tidak bersemangat.

__ADS_1


Yang terpenting, adik mau memaafkanku.


Batin Qian'gu kembali menunduk, menunggu jawaban yang akan Xianlie berikan padanya.


"Istirahatlah dikamarmu dan tidur. Hanya itu hukumannya, cepat pergilah." Jawab Xianlie namun tidak berpaling dari setiap lembar buku ditangannya.


Qian'gu menoleh dengan cepat, perlahan sebuah senyuman terukir dibibir tipis pria tampan itu. Dia memandang Xianlie dengan tatapan bearti.


"Hem baiklah, kakak akan istirahat untukmu. Kakak pergi dulu adik." Ucap Qian'gu semangat lalu tak lengah dia maju dan mencium pipi sang adik dengan sekilas.


Muach


Tercetak begitu rapi.


Xianlie tertegun dan mematung. Dia melihat pada kakaknya dengan pupil membesar.


"Terima kasih adik." Ucap Qian'gu lalu berlari menjauh dari Xianlie, takut jika Xianlie akan mengamuk padanya nanti.


Xianlie masih mematung melihat pada sang kakak yang sudah menjauh.


Namun perlahan-lahan, sebuah senyuman tipis terukir dibibir manisnya. Dia memegang pipinya itu, yang baru saja dikecup manja oleh Qian'gu.


"Tidak buruk." Ucapnya pelan sambil tersenyum.


...----------------...


Rakyat di seluruh kekaisaran kuantong sudah sepenuhnya tahu tentang esksekusi yang diterima oleh sang permaisuri yang selama ini sudah sering menindas para rakyat kelas rendah.


Berita ini cukup menggemparkan. Seluruh kekaisaran masih membincangkan kabar panas ini di kota-kota besar kekaisaran kuantong.


Mereka bahkan sangat menyesal karena sempat salah paham dengan berita yang mengatakan jika mendiang putri mahkotalah yang telah bersalah.


Namun apa lagi yang bisa diperbuat? Nasi sudah menjadi bubur, dan itu semua sudah tidak bisa dikembalikan seperti semula.


"Sudahlah, menyesal saja tidak akan ada gunanya. Putri mahkota sudah mendapatkan keadilannya sendiri. Permaisuri jahat itu sudah dieksekusi. Mungkin mendiang akan tenang diatas sana." Ucap salah satu penduduk kekaisaran membicarakan kabar eksekusi tersebut


UHUK UHUK UHUK


Disebuah gajebo, Xianlie terbatuk-batuk sambil duduk dengan dipijat oleh kedua pelayannya.


"Tuan putri, mengapa kau batuk-batuk seperti ini. Pasti kau makan yang manis-manis ya!" Tuding salah satu pelayan nya sembari menuang air dari teko kedalam gelas.


"Tidak ada, aku hanya tersedak dengan air liurku sendiri." Bantah Xianlie.


Dia mengambil secangkir air putih yang disodorkan oleh pelayannya lalu meminumnya segera.


Sekali tegukan, air didalam cangkir habis tanpa sisa. Xianlie menyerahkan gelas itu kembali pada pelayannya.


"Bersiaplah, kita akan pulang kembali di kekaisaran Anming." Suruh Xianlie.

__ADS_1


Dua pelayan itu saling melihat dengan wajah kebingungan.


"Baiklah, nona." Jawab dua pelayan itu begitu patuh meski mereka kebingungan sekalipun.


Mereka berjalan menuju kediaman milik Xianlie. Sementara Xianlie, dia melamun dengan bersandar di tiang-tiang gajebo megah itu. Pikirannya melang-lang buana memikirkan semua yang sudah terjadi.


Semua dendamnya sudah terbalaskan, lalu apa tujuan dirinya hidup didunia ini? Dia bingung dan berusaha untuk terus mencari jawaban dari pertanyaan nya.


"Orang-orang yang sayang padaku."


Ya! sebuah jawaban tiba-tiba saja terbesit dipikirannya.


"Rijin, aku akan segera datang untuk berjumpamu." Lanjutnya sambil menyunggingkan senyuman diwajahnya.


***


Di kediaman matahari, Xianlie sedang terbaring dipangkuan sang ayah. Mujeng dengan candu memainkan setiap helai rambut sang putri yang sedang tergerai itu.


"Ayah," Panggil Xianlie.


"Hemm, ada apa nak?" Tanya Mujeng.


Xianlie bangun dan duduk menghadap ayahnya, dia memegang tangan ayah nya itu dengan kedua tangan kecilnya.


"Ayah, aku akan pulang ke kekaisaran Anming." Ucap Xianlie dengan hati-hati pada ayahnya.


Senyuman memudar dari wajah Mujeng, dia menekuk wajahnya dan menarik tangan dari genggaman sang putri.


"Kenapa?" Tanya mujeng menunduk sedih, namun berusaha menyembunyikan kesedihannya itu.


Xianlie mengintip wajah sang ayah yang sedang menunduk, "Ayah, aku tidak akan lama. Aku akan sering-sering menginap di kekaisaran kuantong. Aku berjanji, aku harus pulang karena ada satu keluarga lagi yang harus aku kunjungi dan aku lihat." Tutur Xianlie berusaha memegang pipi sang ayah dengan kedua belah tangannya sehingga wajah Mujeng melihat pada Xianlie.


"Hem ya, ayah mengerti. Pergilah nak, tapi jangan lupa untuk mengunjungi ayah." Jawab Mujeng yang akhirnya menyetujui jika Xianlie akan pulang ke kekaisaran ANMING.


"Pasti! Aku akan sering-sering mengunjungi ayah. Ayah tenang saja, aku tidak akan lupa." Jawab Xianlie tersenyum dan pada akhirnya kembali terbaring dipangkuan sang ayah kembali.


...****************...


Segerombolan prajurit berjalan kearah kuil, membawa dua peti ditangan mereka.


Mereka tepat meletakan dua peti itu didepan pendeta dan membuka penutup peti tersebut.


Mata dari pendeta itu terbuka dengan lebar, begitu melihat siapa yang ada didalam peti tersebut.


"In-ini." Lirih Pendeta melihat pada para prajurit.


"Ya pendeta, mereka bunuh diri dengan meminum sebuah racun." ucap salah satu prajurit mengangguk menjawab kebingungan dari pendeta didepannya.


Terjawab sudah, dua manusia dengan tubuh bengkak yang sudah menghitam hangus bagai terbakar oleh api itu, tergeletak tidak berdaya didalam peti.

__ADS_1


...BAGIAN 75 TELAH USAI, SEE YOU AGAIN...


__ADS_2