
Keadaan kekaisaran kuantong sedang ramai sekarang, semuanya hendak akan menghantar kepergian Xianlie menuju kekaisaran anming.
Termasuk Qian'gu, dia sedang berdiri didepan Xianlie begitu lesu. Tidak ada semangat pada dirinya setelah mengetahui jika Xianlie akan pulang kembali ke kekaisaran anming.
Mau melarang juga mustahil dia lakukan, dia tidak akan berani melakukan hal itu.
Xianlie mulai menunduk memberi salam untuk semuanya, disertai kedua pelayan yang tepat ada dibelakang Xianlie.
"Salam untuk semuanya. Aku pergi dulu, sangat diharapkan bisa berjumpa lagi." Ucap Xianlie disertai senyum tipisnya.
Semua orang yang berada didepannya, membalas menunduk.
Termasuk Mujeng dan Qian'gu, terpancar kesedihan pada diri mereka. Namun mereka berusaha menutupi itu dengan senyuman. Mujeng maju mendekat pada Xianlie, dia memeluk putrinya itu dihadapan seluruh bawahan mau pun para pelayan secara langsung.
"Jaga kesehatan." Pesannya pada Xianlie.
"Ya, ayah. Xianlie tidak akan mungkin melupakan kesehatan Xianlie." Jawab Xianlie dengan suasana canggung. Bagaimana tidak canggung, mujeng saja memeluk dirinya didepan puluhan orang. Dan sekarang para pelayan saling berbisik.
Xianlie cukup lama menikmati pelukan hangat sang ayah, dia berdiam sejenak dan sempat untuk memejam kan mata.
"Kaisar dan putri utama terlihat sangat manis. Walau pun putri utama adalah anak angkat, tapi kaisar sangat menyayangi putri utama."
"Wah aku iri melihat kedekatan keduanya. Andai saja aku bisa menikah dan menjadi istri kaisar. Siapa yang tidak mau jadi istri kaisar? Dia sangat tampan dan tubuhnya atletis, uhh sungguh menggoda."
"Putri utama adalah seorang anak angkat, tak disangka jika kaisar akan begitu menyayanginya. jika begitu, aku harus berusaha agar putri utama mau memberikan wajah. Aku harus berdiri dibelakangnya, seperti kedua pelayan itu!"
"Aku iri, seharusnya akulah yang ada dipelukan kaisar saat ini!"
Para pelayan berbisik dengan heboh, membicarakan tentang yang tak seharusnya dibicarakan oleh seorang pelayan seperti mereka. Bisikan mereka itu tidak jauh dari status anak angkat, sang kaisar yaitu putri utama. Tak jarang ada yang memuji dan ada yang menjelekan. Mereka sangat iri pada putri utama yang mereka bicarakan itu!
Sudah dikatakan, jika para penduduk maupun pelayan dikekaisaran Kuantong memiliki karakter yang licik dan juga pendengki. Maka dari itu, Xianlie sangat tidak menyukai para pelayan yang ada dikekaisaran kuantong ini.
Mujeng melepaskan pelukannya, dia memandang Xianlie dengan lekat. Begitu juga Xianlie, entah sudah berapa lama terlewatkan diri nya tidak lagi akur pada sang ayah. Kalau diingat-ingat itu sudah terjadi pada saat Xianlie berumur 4 tahun, pada saat dirinya bermain ditaman bunga. Jika diingat-ingat lagi, itu akan terasa sangat menyakitkan.
__ADS_1
"Dalam satu pekan ini kau harus mengunjungi ayah!" Perintah Mujeng, dan itu mutlak.
"Hem ya aku tahu. jaga kesehatan, jangan lupa untuk meminum obat yang sudah Xianlie racik." Jawab Xianlie, tidak lupa dia mengingatkan pada sang ayah jika dirinya sudah meracik obat untuk ayahnya.
"Baiklah, ayah akan meminumnya." Mujeng menjawab dengan senyum kecutnya.
Xianlie kembali mengarah pada Qian'gu yanv sudah lama terdiam. Xianlie maju, dan tiba-tiba memeluk tubuh atletis milik sang kakak.
Para pelayan dan yang lainnya cukup terkejut melihat kelancang Xianlie. Ya bagi mereka itu adalah suatu kelancangan!!
Qian'gu tertegun dan terdiam sampai saatnya dia membalas memeluk sang adik. Dia peluk Xianlie dengan erat seolah tak ingin melepaskan.
"Jaga dirimu. Sering-seringlah mengirim Surat pada kakak." Bisik Qian'gu.
"Hem, pasti itu akan aku lakukan." Xianlie membalas berbisik dan melepaskan pelukannya. Dia lihat sang kakak dan menunjukan senyuman lebar pada kakak nya itu.
"Aku pergi dulu." Pamitnya pada semua orang yang ada didepannya.
...****************...
Kedua pelayan Xianlie begitu terkejut menyaksikan hal itu, akan tetapi mereka lebih memilih bungkam dan tidak mau menunjukan reaksi yang berlebihan.
Xianlie mengambil kertas itu dari kaki sang gagak, dan kemudian mengikat kembali sebuah kertas yang dia tulis sendiri.
"Pergilah." Suruhnya pada sang gagak.
Gagak itu terbang kembali dengan membawa kertas yang sudah diikatkan Xianlie pada kakinya.
Xianlie membuka kertas itu, dan mulai membaca.
Kota sudah siap. Kami sudah membangun kota yang lebih indah. Kami mengharapkan Tuan akan mengunjungi kota kita ini, dan banyak sekali hal yang ingin kami sampaikan pada Tuan.
Secarik senyuman timbul dibibir bungil Xianlie. Dia menyimpan kertas itu kedalam saku bajunya.
__ADS_1
Tidak disangka, jika mereka masih menganggap jika aku ini laki-laki.
Xianlie terkekeh dalam hati, jika mengingat dirinya menyamar sebagai laki-laki dan Rijinlah yang menyamar menjadi istrinya.
Perjalanan sudah berlangsung selama satu jam lamanya, sedangkan Xianlie dia lebih memilih untuk tidur sembari menunggu perjalanan sampai. Walaupun mereka sudah beberapa kali berhenti, untuk sekedar mengistirahatkan kuda yang menyeret beratnya kereta yang ditumpang Xianlie dan kedua pelayannya.
"Nona apakah anda tidak ingin berhenti? Lihatlah, kita sekarang sedang berada di pasar perbatasan." Tawar salah dua pelayan Xianlie.
Xianlie menjawab tanpa membuka mata, "Tidak usah, lagi pula sama saja barang yang mereka jual dengan barang yang ada dipasar kota anming. Tidak ada perbedaannya." Tolak Xianlie.
"Baik nona."
...****************...
Sementara itu, dikekaisaran Anming. Terlihat Rijin sedang berjalan ditaman kekaisaran dengan ditemani oleh beberapa pelayannya.
Dia menikmati pemandangan itu, dia pegang bunga dan dia petik dengan lembut.
"Wah, tak disangka jika kakak dari jendral besar ini yang tidak tahu malu, masih tinggal dikekaisaran! Sangat tidak tahu aturan!" Tiba-tiba saja, Meiling muncul melemparkan segelintir cacian kepada Rijin.
Rijin menoleh pada Meiling dan hanya bisa tersenyum kecut menanggapi sindiran pedas yang terlontar untuknya.
"Maaf nona meiling, tapi sebelumnya aku sama sekali tidak tahu dimana letak kesalahanku? Mungkin kau harus intropeksi diri sendiri, sebelum mencibir seseorang dengan omongan pedasmu itu!!!" Jawab menohok Rijin pada wanita arogan didepannya itu.
"Kau....
"Maaf lagi nona Meiling, aku menyarankan padamu untuk hengkang dari sini. Hanya sekedar pemberitahuan, jika aku adalah seorang pengadu. Aku bisa saja mengadukan ini pada adikku agar posisi jendral ayahmu bisa dicabut!!!!"
GLEKK
Lagi dan lagi, Rijin membalas dengan jawaban pedasnya. Dia menggunakan Xianlie sebagai tamengnya untuk menghadapi wanita seperti Meiling.
Gigi Meiling menggerigit, dia memandang mengutuk pada Rijin. Jujur saja, Rijin lebih menyebalkan bagi nya dari pada Xianlie. Ingin sekali dia untuk menyerang wanita didepannya, akan tetapi dia tidak bisa karena terhalang oleh status.
__ADS_1
Huft! Bahkan status Rijin saja jauh lebih tinggi darinya yang sudah menjadi bangsawan dari semenjak lahir. Dia tidak bisa berkutik, jika dia membuat masalah dengan cara menyerang Rijin, maka dipastikan jendral besar akan memburu semua sanak keluarganya untuk dihabisi.
...BAGIAN 76 TELAH USAI, SEE YOU AGAIN...