REINKARNASI XIANLIE

REINKARNASI XIANLIE
Bab 2 : Chapter 37 : TAHTA BARU


__ADS_3

...- 37 -...


"BERHENTILAH BERCEMOOH DASAR RAKYAT SIALAN! SADAR DIRI, SIAPA KALIAN SEHINGGA BERANI BERBICARA BURUK TENTANG KELUARGA KERAJAAN."Maki Dianne garang.


Mereka diam seribu bahasa, tidak berani berbicara dan mengangkat pandangan. Siapa sangka, jika mereka masih takut dan segan terhadap pemaisuri yang sudah menjanda ini. Eng tersenyum memiring dan kembali melihat pada Bo eng, dia melipat kedua tangan nya didada dan bersikap jika orang didepan nya adalah rendahan.


"siapa sangka jika adik laki-laki tiri ku ini sudah tumbuh begitu besar." Cetus nya santai tanpa beban dinada bicara nya.


Bo eng mundur kebelakang dengan sikap yang begitu waspada. semua orang yang berada disana terkejut dan kebingungan dengan maksut Eng sebenar nya. "Apa maksut mu." Desak Dianne. "ya, tidak dipungkiri jika semua orang akan terkejut dengan perkataan ini. Tapi sangat disayang kan, bahwa yang sedang berdiri di depan mu ini adalah seorang pangeran tirani yang delapan tahun silam tertidur karena kutukan Bouchun." Ucap Eng cepat dengan emosi yang tidak teratur. Nada bicara nya terdengar dominan.


CTARRRRR


Dianne jatuh terkesimpuh dilantai, dengan pandangan tidak percaya dan begitu kosong. bagaimana bisa, sedangkan pengingat nya diri nya sudah meminta bantuan... ya bantuan.


"Pangeran.. kau kah itu." lirih kepala hakim.


"TIDAK! BAGAIMANA BISA! Dia, dia tidak akan bisa keluar karena segel dari bukit bua susu sangat lah kuat."


GLEK


"Pangeran apa yang kau katakan! berhentilah mengacau." Tegas Dianne mempelototi Bo eng.


Tidak disangka, dua ibu dan anak ini berada di kubu yang sama. Semua orang benar-benar menampar jidat mereka karena rencana yang sangat buruk dan begitu kejam. Eng hanya bisa tertawa getir dan duduk di tempat altar penguasa, dia melihat pada kepala hakim. "Lakukan tugas mu." Titah nya begitu mutlak.


"Baik pangeran." Jawab nya begitu patuh.


"Tidak, tidak, tidak, ini tidak boleh terjadi! aku adalah seorang pangeran mahkota, jadi aku lah yang berhak menduduki tahta ini." Pekik Bo eng tidak terima lalu dengan usaha keras dia mencoba untuk menyerang Eng.


"Matilah kau dasar pengerat." Pekik nya lagi mengunus kan pedang cahaya kearah Eng sedang terduduk.

__ADS_1


KEDBRAKKKK


PRANKKKK


BRUAPPP


"uhuk uhuk uhuk." Bo eng terpental cukup jauh dengan darah yang sudah mengalir deras dari mulut nya. Dia memegangi perut nya dan kembali memuntah kan seteguk darah segar.


"Putraku..."pekik Dianne berlari menghampiri putra nya.


"Jangan salah kan aku menjadi kejam, jika aku tidak menjadi seorang raja maka aku tidak akan bisa mempertahan kan adik ku, disis ku. ini salah ku dan kecerobohan ku," bisik hati Eng terduduk begitu santai dengan mengangkat kaki dan pandangan yang sangat datar.


Dianne menghampiri putra nya, dia memeluk Bo eng dengan sangat erat.


"Tidak ibu, ini tidak bisa dibiarkan." Pekik nya lagi, tersenggat-sengat


"Shuttt! diam, jika kau ingin lebih lama hidup di istana dengan bergelimang harta. Ikuti instruksi ku, kita biarkan dia untuk naik tahta baru kita akan memikir kan rencana agar bisa mengguling kan diri nya." Bisik Dianne begitu sinis.


"Percaya lah pada ibu." Bisik Dianne berusaha meyakin kan Bo eng.


Sementara itu, Eng dan kepala hakim saling memandang dan mengangguk secara bersamaan.


"DENGAN INI KUNYATAKAN, DI HADAPAN 200 BANGSAWAN SEBAGAI SAKSI NYATA, DENGAN SAKSI MATAHARI DAN DEWI BUNGA LOTUS, AKU, KEPALA HAKIM AGUNG KEKAISARAN ANMING MENYATAKAN BAHWA PANGERAN ENG AKAN MENDUDUKI TAHTA KERAJAAN, DAN AKAN MENJADI KETURUNAN KE 33 NAGA BIRU." Dekrit nya, yang begitu mutlak tanpa penolakan.


"SALAM HORMAT KAMI YANG MULIA." Semua nya memberi hormat dan berlutut begitu segan. Suara mereka terdengar menggema sehingga siapa saja yang mendengar kan, pasti akan merinding dan takjub.


Eng hanya diam dengan prilaku yang begitu santai sambil duduk dengan sikap yang terbilang kurang sopan bagi seorang anggota kerajaan.


Bo eng begitu marah dengan rahang yang kokoh sedang menggerigit kesal. Mata nya memerah menatap Eng yang sedang duduk begitu mengejek diri nya. Dia benar-benar sedang kehilangan muka, dan ego nya sedang dijatuh kan. Sangat malang!

__ADS_1


...- kota pasar -...


Serangga sedang berjalan menelusuri pasar kota yang terlihat sepi tanpa satupun warung yang terbuka. Dia memanyun kan bibir nya karena tidak bisa menemukan toko penjual jajanan, padahal diri nya telah membawa koin yang banyak.


"Sangat menyebal kan! tidak ada teman, tidak ada jajanan, tidak ada siapapun disini! Dimana semua orang, apakah mereka sudah begitu kaya sehingga tidak membuka toko mereka kembali." Kesal Serangga menendangi kerikil-kerikil kecil yang menghalangi jalan nya.


"Kakak, aku merindukan mu. Dimana kau, kak." Seru nya begitu parau, berjalan dengan lesu.


Dia terus berjalan dengan pandangan yang terus tertuju ke arah bawah. Namun tanpa disadari, kening nya telah menabrak sebuah perut seseorang pria yang mengenakan pakaian putih. Perlahan diri nya mengangkat pandangan pada pria didepan nya tersebut.


"Hay anak nakal, lama tidak berjumpa." Ucap pria itu begitu sinis. Hey seperti nya Serangga mengenali pria didepan nya itu! Mata serangga membesar, dia semakin mundur kebelakang dengn sikap yang sangat hati-hati.


"Jangan dekati aku! Kita tidak memiliki hubungan lagi, aku bukan lah anak ayah mu!." Pekik Serangga kesal. Ternyata, pria didepan nya adalah tuan muda ke dua dari kediaman ing. Sang pria itu memicing dan mengerut kan kening nya.


Dia membungkuk dan kemudian mencekram kerah baju milik Serangga secara kasar. "Diam kau anak haram! jangan keras kepala, sekarang cepat ikut aku pulang dan menghadap pada ayah." Ucap nya pelan begitu mengintimidasi bagi anak 5 tahun seperti Serangga.


"Dia bukan lah ayah ku! Kami tidak memiliki hubungan darah, jangan paksa aku." Pekik Serangga begitu berani dan ingin melawan manusia yang selama ini telah menindas nya.


PLAKKK


"Au." Rintih Serangga kesakitan terjatuh ketanah dengan memegangi pipi kanan nya. Terasa begitu sakit seperti sebuah aliran listrik yang beransur-ansur menghilang dan timbul rasa panas yang begitu perih. Kuping nya berdengung, sementara tidak bisa mendengar apa pun.


"Tidak penting kau tidak memiliki hubungan darah atau tidak! Intinya kau adalah budak bangsawan ing. Budak harus tetap menjadi seorang budak." Tegas nya menyentak lalu mencekik leher Serangga.


"Ap-apa ya-ng ka-u la-ku-kan." Ucap Serangga gagu karena di saluran pernapasan nya kemungkinan besar hanya memiliki lubang sebesar lubang jarum saja. Dia benar-benar tidak bisa bernapas dan menampar-nampar tangan pria itu meminta untuk dilepas kan.


"Ayah tidak perduli jika kau hidup atau pun mati! Yang dia butuh kan hanyalah raga mu saja! matilah kau anak Jalan* tidak berguna." Maki nya lagi, benar-benar menggila.


- AND -

__ADS_1


...BAGIAN 27 TELAH SELESAI, SILAH KAN TINGGAL KAN JEJAK...


__ADS_2