
Xianlie menapak disebuah koridor yang terletak ditaman kerajaan kuantong, dia berjalan menelusuri jalan panjang itu sembari menjatuhkan pandangan kearah bunga-bunga yang bermekaran tersirat paparan rembulan.
Ekspresi datar itu seolah sudah menyatu pada wajah cantik nya.
Mungkin dengan diri nya berjalan-jalan ditaman bisa membuat pikiran nya lebih terbuka, dia lihat kearah rembulan penuh diatas langit dan tersirat kesedihan dimata nya.
"Besok adalah waktu yang tepat untuk menunjukan semua kebenaran yang selama ini tidak diketahui. Bersiaplah Xianlie, siapkan dirimu dan hatimu." Ucap nya pelan mengayunkan tangan mencoba meraih bulan
Netra nya menangkap langsung cahaya rembulan yang terang, dan perlahan terpejam menghilangkan pemandangan di depan nya.
...****************...
Hari esok yang dinanti akhir nya tiba. Xianlie berjalan menuju aula keistanaan dengan ditemani dua pelayan setia nya. Senyuman manis nan indah itu dia tunjukan disepanjang langkah.
Para pelayan yang berpapasan segera menepi setelah melihat Xianlie melewati jalan yang mereka lewati.
Xianlie masuk kedalam aula yang sudah terdapat para anggota kerajaan yang dimana mereka sudah duduk di tahta masing-masing.
Qian'gu berdiri setelah melihat kedatangan Xianlie, dan tak lupa dengan sebuah buku ditangan nya.
"Adik," Panggil Qian'gu.
Xianlie menoleh, begitu juga dengan Xianmin dan Mine. Mereka terlihat tidak senang ketika Qian'gu mulai akrab dengan anak pungut seperti Xianlie ini. Mereka memandang tajam kearah Xianlie.
"Bisakah kau tetap berada dikursimu? Aku ingin menyampaikan sesuatu pada kalian semua yang ada disini." Ucap Xianlie
Qian'gu memiliki sedikit kekecewaan dihatinya, dia duduk kembali ditahta pangeran mahkota.
"Apa itu nak? apa yang akan kau sampaikan pada kami semua?" Tanya Mujeng tersenyum.
Xianlie hanya diam memandang satu persatu dari mereka, dia melihat pada kedua pelayan nya dan memberi kode agar kedua pelayan nya keluar dari ruangan ini.
Mereka berdua segera keluar dari ruangan, dan menutup pintu kembali. Xianlie kembali memfokuskan pandangan pada yang lain nya.
Xianmin melihat tidak suka pada Xianlie, dia membuang pandangan nya kelain arah begitu kasar seolah tak ingin memberi muka pada Xianlie.
Sedangkan Mine, dia terus berkutat dengan pikiran nya untuk menyusun skenario agar menjatuhkan Xianlie dari tahta putri utama.
"Aku hanya ingin menyampaikan jika aku lupa memberi hadiah yang sudah aku bawa untuk kalian, dan sekarang aku memiliki waktu untuk memberikan hadiah itu." Ujar Xianlie beserta senyum nya.
__ADS_1
Cih!
Xianmin dan Mine tersenyum sinis meremeh kan hadiah yang dimaksut oleh Xianlie ini. Hanya hadiah kampungan dan rendahan'pikir Mine malas untuk melihat. Dia memandangi kuku kuku nya yang sudah tertata dengan rapi oleh hiasan.
"Benarkah? hadiah apa itu nak?" Tanya Mujeng.
"Hanya hadiah sederhana saja." Jawab Xianlie mulai mengeluarkan sesuatu dari balik lengan baju nya. Bukan sulap maupun sihir, tapi ini adalah kuasa ruang lain.
Dia mengeluarkan sebuah gelang berlian merah dengan sebuah energi putih didalam nya. Xianmin dan Mine tercengang, mereka melihat batu itu dengan mata berbinar. Sesekali Mine melihat sang putri yang sedang melihat rakus kearah gelang tersebut, Mine kesal karena jika Xianmin menginginkan gelang itu maka diri nya tidak akan mendapat bagian.
"Gelang ini akan aku berikan pada Xianmin, karena Xianmin yang memiliki kulit putih sangat cocok memakai batu berlian bewarna merah." Tukas Xianlie memandang gelang berlian itu lalu menyodorkan gelang pada Xianmin.
Xianmin tersenyum sinis, ego nya menaik setelah Xianlie memuji kulit milik nya. Dia merampas gelang itu dari tangan Xianlie dan mulai memandang gelang itu dengan rakus.
"Gelang ini memang seharusnya ditakdirkan untukku, bagaimana bisa kau yang menemukan nya." Tukas Xianmin dengan senyuman sinis.
"Nak jaga omongan mu." Tegur Mujeng.
Xianmin tidak mendengarkan, dia terus memandang gelang itu lalu memakai nya.
Mine terlihat tidak senang, dia memandang kesal pada Xianlie. "Lalu dimana bagian ku? kau tidak lupa kan?" Ujar Mine beserta wajah kesal nya.
Xianlie mendengus dan mulai mengeluarkan satu pasang kalung batu energi alam kualitas tinggi.
Lagi dan lagi mata dua beranak itu bersinar setelah melihat kalung tersebut. Dengan cepat Mine maju dan merampas kalung itu dari tangan Xianlie.
Perlakuan nya tak luput dari sorot mata Mujeng dan Qian'gu, mereka menepuk jidat karena ketamakan dari ibu dan anak didepan mereka.
Xianlie hanya diam memandang datar kearah Xianmin yang sibuk dengan gelang merah nya itu. Terukir senyuman tipis dibibir nya.
Dia kembali mengeluarkan sebuah hadiah yang sangat beharga sekali, hadiah itu adalah sebuah pedang bulu naga merah yang akan dia hadiahkan untuk Qian'gu.
"Pedang ini adalah milik mu, ambillah." Ujar Xianlie menyodorkan pedang itu kearah Qian'gu.
Qian'gu mengambilnya dengan ragu-ragu sambil melihat dengan pandangan yang begitu kagum. Baru kali ini dalam hidupnya melihat pedang seindah ini, dia begitu terpikat.
"Terimakasih adik," Ujar Qian'gu tersenyum.
Xianlie hanya menanggapi dengan senyuman tipis, dia kembali melihat pada sang ayah yang sudah menanti apa hadiah yang akan diberikan putrinya kepada dirinya.
__ADS_1
"Ayah, kau baru saja mengalami sebuah penyakit yang datang tiba-tiba. Demi mengatasi jika ada orang yang memberi obat bius dan minyak mayat___"
UHUK UHUK UHUK
Belum sempat Xianlie melanjutkan ucapannya, dia kembali dikejutkan dengan suara batuk dari Xianmin dan Mine.
Xianmin dan Mine memandang Shock kearah Xianlie yang baru saja mengatakan obat bius dan minyak mayat.
"Ada apa Xianmim? permaisuri? kalian butuh minum?" Tanya Xianlie masih dalam raut datar dan tidak perduli seolah-olah apa yang baru saja dia katakan adalah sebuah basa-basi belaka.
Xianmin menyeka mulut nya sambil membesarkan mata tidak percaya. Wajah nya pucat pasi seolah mengalami darah rendah.
"Dari mana kau tahu jika ada obat bius dan minyak mayat yang diberikan pada khaisar?" Tanya Mine mendesak dengan panik.
Pandangan Xianlie, Mujeng dan Qian'gu mengarah pada kedua nya yang sedang berprilaku begitu aneh.
Qian'gu meremas jari-jemari nya, pandangan nya tertuju antara lantai yang bersanding dengan kedua kaki nya.
Apakah ibu dan adik benar-benar bertanggung jawab atas semua masalah yang terjadi? tapi mengapa mereka melakukan itu? mengapa mereka tega berbuat keji dan bahkan membohongiku? berpura-pura baik dihadapan ku, sehingga membuatku nyaman lalu berada disisi mereka. Apakah aku sudah berprilaku tidak adil pada adik Xianlie selama ini? aku selalu menyalahkan nya atas apa yang dia katakan.
Mujeng melihat khawatir pada Xianmin yang sedang terbatuk tiada henti, dia mengambil air yang berada dimeja kecil disamping tahta nya lalu memberikan air itu pada Xianmin.
"Minumlah nak," Suruh Mujeng saat Xianmin mengambil cangkir itu dari tangan nya.
"Terima kasih ayah," Ucap Xianmin lalu meminum air tersebut.
Mujeng melihat pada Mine, dia mengerti betul keheranan yang sedang di rasakan oleh Mine. "Putri utama baru saja mendapati obat bius dengan dosis tinggi dan minyak mayat didalam obat yang aku minum. Kemungkinan ada seseorang yang memasukan obat itu kedalam obat yang dibawa oleh putri kedua." Jelas Mujeng menjawab kebingungan Mine.
Xianmin semakin membesarkan mata nya, wajah nya semakin pucat.
Gelagat nya tidak lepas dari pandangan Qian'gu. Qian'gu memandang tajam kearah Xianmin dan mulai merasakan jika firasat buruk nya tentang Xianmin itu benar ada nya. Ayolah... Qian'gu tidak bodoh dalam mengamati gelagat seseorang, tapi kali ini dia mau tidak percaya karena orang yang dia curigai adalah adik dan ibu kesayangan nya.
"Jangan khawatir, aku sudah membawa air kehidupan untuk ayah,, sehingga benda sampah seperti itu tidak akan berfungsi." Ujar Xianlie penuh penekenan.
Sialan! mengapa gadis ini bisa mentedeksi obat bius dan minyak mayat yang aku berikan? siapa dia sebenar nya?!!!
Benak Xianmin.
...BAGIAN 70 TELAH SELESIA, SEE YOU...
__ADS_1