REINKARNASI XIANLIE

REINKARNASI XIANLIE
Bab 2 : Chapter 36 : AWAL


__ADS_3

...- 36 -...


Saat ini, kekaisaran ANMING sedang gempar dengan dipenuhi para bangsawan beserta antek-antek nya.


Semua bangsawan yang sudah sampai di depan gerbang kerajaan ANMING, kini turun dengan terburu-buru karena dekrit kekaisaran. Mereka semua kini telah bergumpul didepan kerajaan ANMING, dengan sangat ricuh dan riyuh menunggu pengumuman yang begitu mendadak.


Sedang kan pemaisuri Dianne, pangeran Bo eng beserta para antek-antek nya itu sedang berdiri di altar kekuasaan dengan tampang yang begitu memelas dan sangat mengibakan. Air mata begitu deras keluar dari bola mata Dianne, dia tidak henti histeris dan menangis di pelukan sang putra


"Ibu pemaisuri, iklas kan lah kepergian ayahanda. Biarkan dia tenang di alam sana." Ucap Bo eng agak keras sehingga semua nya mungkin bisa mendengar ucapan nya. Semua orang yang hadir kini menjadi riyuh dan tidak menyangka jika kaisar mereka yang begitu agung, kini telah meninggal. Semua orang berbisik dan bersimpat pada Dianne dan Bo eng karena mereka telah menjadi seorang janda dan anak yatim.


"Wah aku tidak menyangka, kasihan sekali pemaisuri. Selama ini dia begitu setia pada kaisar, aku jadi kasihan pada nya."


"Tidak ada guna nya kita bersimpati, memang nya simpati kita bisa menghidup kan kaisar kembali."


"Apakah Pangeran mahkota kini yang akan memimpin?"


"Kalau aku, seperti nya tidak menyetujui. Pangeran masih terlalu labil dan tingkatan energi nya saja baru menyampai ranah prajurit awal. Bagaimana dia akan melindungi kekaisaran yang amat teramat besar ini?."


Mereka semua berbisik dan tak jarang ada yang mencibir. Dianne dan Bo eng sedang menatap begitu licik, mereka datang pada kepala hakim dan mendesak kepala hakim agar bisa mengumum kan sesuatu yang penting pada seluruh bangsawan yang hadir.

__ADS_1


Wajah kepala hakim terlihat sangat getir dan enggan ingin mematuhi, namun apalah daya dia hanya seorang bawahan sementara orang yang mendesak adalah seorang pemaisuri dan pangeran mahkota. Dia maju dengan langkah lirih, lalu mengangkat pandangan yang awal nya sendu kini berubah menjadi garang.


"AKU, KEPALA HAKIM KEKAISARAN ANMING YANG SUDAH MENJABAT SELAMA 20 TAHUN LAMA NYA KINI MENGUMUMKAN SECARA RESMI JIKA PANGERAN BO ENG AKAN MENDUDUKI....


"TUNGGU... "Henti Eng dengan suara lantang dan memacu kuda mendekat ke arah altar kekuasaan. Hawa energi nya sangat terasa mengerikan, dia turun dari kuda nya dan berjalan membawa nampan yang berisikan kepala milik Bouchun.


Semua orang melihat pada nya, mereka begitu heran dengan sosok gagah bertopeng yang sudah berani menghentikan pembicaraan kepala hakim. Sementara itu, Bo eng sedang menggeram dengan rahang yang mengepit dan mata menyipit. Tangan nya mengepal begitu kesal karena pria di depan nya itu sangat berani menghalangi rencana nya.


Eng berjalan menaiki altar dengan posisi kepala lurus kedepan melihat ke arah Bo eng yang sudah kesal di ujung kepala. Tanpa memperdulikan Bo eng dan Dianne lagi, Eng kini berputar menghadap pada ratusan bangsawan dan segera membuka penutup merah di nampan besar itu.


SLAHNGG


Kain terbuka dan melayang ke udara, semua orang shock dan menutup mulut mereka. Ada yang histeris dan ada yang tak mampu melihat potongan kepala itu. Dianne dan Bo eng saling pandang dan mengangguk bersamaan.


Bo eng menggeram karena tidak satu pun dari mereka mematuhi perkataan diri nya. "sialan, rupanya para budak dan bajingan ini telah berada dalam satu kubu yang sama. siapa sangka, sangat memalukan." Maki nya seolah kecewa dan menutupi kepanikan yang melanda.


"Beginikah sikap kalian terhadap pangeran mahkota!! apa kalian melupakan batasan nya, hah?" Maki Dianne kesal. Dia mengambil cangkir perak yang berada di nampan dari seorang pelayan, lalu melempar nampan itu kearah salah satu prajurit.


PRANGKKKK

__ADS_1


"Apakah kau tuli! cepat tangkap dia, dasar budak rendahan tidak tahu diri." Maki Dianne lagi. Namun lagi-lagi diri nya tidak diperdulikan, sangat memalukan bukan! disaat diri sendiri menganggap jika diri ini begitu tinggi, namun malah dipatah kan oleh realita yang begitu menyakitkan dan memalukan jika di ingat. Realita telah menunjukan betapa rendah nya hidup disaat hidup merasa jika dia selalu berada diatas puncak.


Eng, memberikan nampan itu kepada salah satu kasim menengah, dan kasim itu mau tak mau harus mengambil nampan tersebut, walau pun tangan bergegar dan darah seolah naik tensi tinggi.


Eng, menghadap pada kepala hakim. Kepala hakim melihat Eng dengan begitu segan dan menunduk. "Apakah kau mengenali ku?" Tanya Eng dengan nada datar, "Tidak tuan, saya tidak mengenali tuan." Jawab nya lancar walau terlihat sedang gugup. "Baiklah" Singkat Eng, kembali berputar dan menghadap pada ratusan bangsawan yang sedang hadir melihat drama itu.


"Sialan, apa yang sebenarnya yang akan kau lakukan hah! jangan membuat ulah dan segera turun lah dari altar kekuasaan ku?." Maki nya kepada Eng. "maaf?, kepala hakim, sekarang aku bertanya pada mu. milik siapakah seharus nya aktar kekuasaan ini?." Tanya Eng terdengar menuntut pertanyaan mutlak. "Ak-aku, huh... sesuai pengetahuan yang selama ini aku pelajari, kekuasaan altar hanya bisa dimiliki oleh seorang pemimpin suatu kekaisaran." Ucap kepala hakim sedikit pelan, tidak mau menoleh pada Bo eng dan Dianne. "Apakah dia adalah seorang kaisar?." Tanya Eng kembali. "Belum."


"Ya memang belum.... tapi nanti pasti, aku akan resmi menjadi seorang kaisar." Tegas Bo eng hendak ingin mengeluarkan pedang dari sarung nya. Namun, Dianne kembali menghentikan agar sang putra tidak berbuat gegabah. "Aku sangat suka dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi, dari mu. Tapi maaf, lagi-lagi aku mengucap kan jika kekuasaan altar ini hanya milik seorang pemimpin, dan bukan milik seorang PECUNDANG SEPERTI MU." Ucap Eng begitu datar, dengan menekan kalimat akhir.


"Omong kosong. Suatu pemberontakan yang sangat besar... berani sekali rakyat rendahan seperti mu mencibir anggota kerajaan, kau bosan hidup!" Teriak pemaisuri Dianne kesal.


Semua orang sangat menikmati drama didepan mereka, bahkan ada yang mencibir dan mengolok-olok sikap pelik dari Dianne. Apakah mereka tidak tahu malu? itulah pertanyaan yang sekarang di lontar kan para bangsawan.


"Sialan, ini seperti drama yang ada di komik dewi lukis. ternyata ini nyata."


"Mereka tidak tahu malu."


"Aku tidak suka pangeran Bo eng itu! dia terlalu picik untuk menjadi seorang raja!"

__ADS_1


- and -


...BAGIAN 36 TELAH SELESAI, SILAH KAN TINGGAL KAN JEJAK...


__ADS_2