
Sejak kejadian malam itu, Xianlie menjadi pribadi yang keras kepala dan selalu membangkang.
Dia menjadi lebih liar dan agresif pada orang-orang yang semena-mena pada nya.
Terlihat dia sedang menyiksa seorang prajurit yang telah berani mengabaikan perintah dari nya.
dia mengambil belati lalu menyayat kulit wajah pria itu dengan belati.
Betapa kejam perbuatan nya, namun itu adalah bayaran yang sudah seharus nya diterima oleh budak yang tidak patuh.
Prajurit itu tanpa henti meminta ampun dengan Xianlie, namun Xianlie berprilaku acuh dan tetap melanjutkan prilaku kejam nya.
Dia beralih mempermainkan bagian dada prajurit itu, dan kemudian sedikit menekan ujung mata belati yang begitu tajam.
"Ti-tidak..." Ucap si prajurit dengan lirih.
"Apa yang tidak?......" Tanya Xianlie mengejek dengan seringaian sinis.
"Jangan salah sangka pada diri ku, dengan diri ku yang polos dan diam bukan bearti aku akan membiarkan sikap ini.."Sambung Xianlie dengan nada mengintimidasi dan mencekram kuat dagu prajurit tersebut.
"Ak-aku mohon... tolong ampuni aku tuan putri, aku mengaku salah terhadap si-sikap yang begitu lancang." Mohon sang prajurit dengan suara gagu nya.
Ck, ck, ck... Xianlie berdecak begitu prihatin dengan wajah sengaja dibuat melas.
"Aku tidak perduli." Cicit nya dengan nada mengejek.
Tak lama diri nya sibuk dengan sebuah permainan yang seru, kini dia merasakan dua aura manusia yang membuat nya berprilaku seperti sekarang ini.
Dia semakin menajam kan pandangan nya, dan mempererat cengkraman tangan pada si prajurit.
Jauh mata memandang terlihat Mujeng dan Xianmin sedang berjalan berdua dengan masing-masing ekspresi yang begitu bahagia.
Xianlie sangat jijik melihat wajah tertawa dari dua orang didepan nya, sangkin kesal nya dia mencekik prajurit yang kehilangan dayanya itu.
"Akhhhh" Lirih prajurit tersebut hampir kehabisan nafas nya.
Mujeng dan Xianmin menoleh pada arah suara kecil yang mereka dengar, Xianmin memberikan reaksi yang cukup terkejut dan memegang dadanya.
"Ya ampun, kakak sedang apa. Di-dia sedang menyiksa seorang prajurit." Ucap Xianmin Shock dan sekali-kali dia melirik pada Mujeng.
Mujeng meremas jari-jemari nya, wajah yang suram dan kusut.
"Anak ini selalu mencari masalah!" Batin Mujeng geram.
Mereka berdua hendak menghampiri Xianlie, Xianlie tidak memperdulikan, dia masih tetap sibuk dengan mainan nya.
"Hentikan sikap kekanak-kanakan itu! ini keseratus prajurit yang telah kau habisi." Sambar Mujeng sudah gatal ingin mengomeli Xianlie.
"Cih, dia menghitung nya." Batin Xianlie tersenyum kecut.
__ADS_1
"Hanya seratuskan?, Kenapa tidak tambah lagi!"
SRUAKKK.. Prajurit itu terkapar setelah Xianlie menyayat leher nya sehingga Trakea pada leher putus dan tidak bisa lagi menghantarkan oksigen pada paru-paru.
Perlahan pria itu kekurangan nafas dan wajah nya menjadi biru ke unguan.
Darah terus saja menyembur tanpa henti, karena pembuluh darah yang pecah pada bagian nadi yang terletak pada leher terputus.
"Mencari masalah sendiri, sangat bodoh!" Maki Xianmin tersenyum kemenangan.
"Kakak, ka-kau sangat kejam." Protes Xianmin menutup mulut nya dengan shock.
Xianlie diam dengan wajah tanpa ekspresi
"............."
"KAU SANGAT PEMBANGKANG, JIKA KAU TERUS MEMBUNUH PRAJURIT SEPERTI INI AKU TIDAK AKAN SEGAN-SEGAN MENGHUKUM MU!!" Pekik Mujeng murka dengan kelakuan Xianlie
"Aku tidak perduli, semakin kau melarang semakin aku suka untuk menghabisi orang!" Jawab Xianlie begitu dingin tanpa sebuah kehangatan di dalam nada bicara nya.
Mujeng diam mematung, mata tajam itu perlahan menjadi layu dan kehilangan semangat.
Hati nya begitu lemah saat mendengar perkataan Xianlie.
Dia melihat pada punggung Xianlie yang hampir menjauh dari sana, "Kau membangkang ku, lagi?" Lirih nya sehingga Xianlie menghentikan tapak dengan terpaksa.
Hati nya sangat sakit dan perih, dia menunduk layu dengan pandangan yang kosong, "kau yang telah mendorong ku, hingga menjadi seperti ini!" Ucap nya lirih.
Mujeng mengangkat pandangan nya, dia menatap dalam pada Xianlie. Semakin dalam dia melihat, semakin sesak dada nya.
"Kakak, bagaimana kau bisa berkata seperti itu pada ayah! Lagian ayah benar, kau sudah membuat kesalahan dan kau harus dihukum sebagai penebusan kesalahan mu ini!" Nasehat Xianmin terdengar begitu memuakan di telinga Xianlie.
"Hukum? itu tidak berlaku pada ku!" Ucap nya menanggapi perkataan Xianmin.
"Katakan pada ayahmu, untuk tidak bersusah-susah menghitung setiap orang yang sudah aku bunuh!" Sambung nya lagi, begitu dingin dan tajam sehingga bisa menusuk dada Mujeng dan menampar wajah Mujeng.
"Kakak, kau.." Lirih Xianmin hendak ingin bicara, namun dipotong oleh Mujeng.
"Jangan menyusah kan dirimu, biarkan dia!" Suruh Mujeng pelan dengan suara sedikit serak.
"Kena kau! ayah sudah kehilangan rasa suka pada mu! hanya tersisa 1% saja."
"Dia sangat prustasi, aku sudah mengabaikan nya sangat lama. biar kan dia membunuh beberapa prajurit lagi, itu akan membuat hati nya tenang."
Langkah lugas dan wajah yang datar, Xianlie sangat ingin meninggalkan tempat itu dan menjauh sangat jauh.
Bagaimana bisa diri nya seperti ini?!' pertanyaan itu selalu berputar di kepala nya.
Pertanyaan itu sama seperti pertanyaan Mujeng sebelum nya, begitu naif dan munafik!
__ADS_1
Jari-jari nya mengepal erat, mata nya kosong di seling-seling perjalanan nya.
Dia ingin keluar namun keadaan tidak bisa menghantar kan nya.
"Aku butuh pengakuan, bukan kebebasan!" Gumam nya.
...[ke esokan hari nya]...
Di kediaman persik, dimana kediaman itu adalah milik permaisuri ibu dari Xianlie.
Xianlie sedang duduk bersantai di kursi sambil membersihkan belati yang sudah ditutupi darah baru.
Disamping nya ada gujing dan jungsi yang sedang bermain catur, mereka terlihat begitu serius.
"Kau curang, seharus nya ini bisa satu langkah saja! mana bisa sampai empat langkah! huh." Protes Gujing emosi pada Jungsi.
"Bermain saja lah, aku tidak perduli." Jawab Jungsi tanpa rasa bersalah.
Gujing begitu jengkel sampai-sampai diri nya menjatuh kan semua bidak catur itu.
"Ck, apa lagi." Kesal Jungsi.
"Aku tidak mau bermain dengan mu, kau curang." Seru Gujing ngambek pada Jungsi.
Sesekali Xianlie melirik pada mereka, mereka terus berkelahi seperti anak kecil.
"Keluar!" Usir Xianlie dengan nada datar begitu dingin.
Mereka berdua seketika berhenti lalu dengan cepat keluar dari sana, Xianlie memijat kening yang begitu pusing.
"Seperti anak kecil." Gumam nya.
Sementara itu, Gujing dan Jungsi sedang duduk dibawah pohon persik dengan buah yang hampir matang.
Mereka terdiam cukup lama, sampai akhir nya salah satu memecah keheningan.
"Dia menjadi orang yang berbeda." Gumam Gujing.
Jungsi melirik, dia membenarkan apa yang dikatakan Gujing.
Sudah sejauh ini, sikap Xianlie ini lah yang semakin membuat mereka berdua takut.
Begitu dingin, tidak kenal ampun, dan egois.
"Aku sudah mengaktif kan racun api itu, sebentar lagi... dia akan tersiksa!"
_AND_
...BAGIAN 52 TELAH SELESAI, SEE YOU...
__ADS_1