
...- 40 -...
Xianlie menapak cukup keras dengan sebuah pedang panjang ditangan nya. Dia menatap seluruh isi yang ada disana. "Keluar!" Titah nya mutlak. Mereka memperhatikan pergerakan Eng, sampai saat Eng memberi tanda dengan mengangguk kan kepala, mereka baru keluar dan meninggal kan ruangan tersebut.
"Adik...
Belum sempat Eng berucap, ucapan nya harus terpotong karena Xianlie menodong sebuah pedang pada leher jenjang milik nya.
SLASHHHH
Eng menegang, tubuh nya kaku tidak berani bergerak. "Kau menghianati ku?" Tanya Xianlie dengan nada tidak bersahabat.
"Menurut mu?" Singkat Eng tanpa mau menjelaskan panjang kali lebar.
Xianlie menarik pedang nya kembali, lalu memasukan pedang itu pada sarung nya. Dia kembali menjatuh kan pandangan kearah Eng, dengan pandangan tanpa kepercayaan sedikit pun.
"Apa yang terjadi? Kau memberi tahu pada semua nya, jika kau adalah pangeran tirani?" Tanya Xianli.
Eng diam sejenak.
"Jawab." Ucap Xianlie kembali.
"Benar! Tapi, bukan akulah yang telah membunuh pria itu, melainkan pangeran Qian'gu lah yang telah membunuh nya." Jelas Eng.
Xianlie mengerut kan kening nya, dia menghela nafas yang cukup keras. "Hanya itu? apakah tidak ada yang kau sembunyikan dari ku?" Tanya Xianlie kembali
Eng terdiam, lalu dia melepas topeng yang seharian melekat di wajah nya. Dia menjatuh kan topeng itu tanpa sebuah kehormatan. "Mereka sudah tahu, jika kau adalah sang putri yang lima tahun silam di eksekusi mati di kerajaan KUANTONG." Jelas nya lagi dengan suara yang parau.
Xianlie terdiam, pedang ditangan nya terlepas dari genggaman yang layu itu.
BRUAKKK
Pandangan nya terlihat seolah sulit mempercayai perkataan yang baru saja dia dengar.
__ADS_1
"Omong kosong apa ini." Ucap Xianlie parau, "Eng, sekarang aku tahu... apa perbedaan polos dan bodoh itu... ternyata kedua nya tidak ada perbedaan, kau begitu bodoh dan gegabah! Kau sudah gila! kau menghianati kepercayaan ku!" Pekik Xianlie kesal.
"Balas dendam tidak akan membuat hidup mu jauh lebih bahagia! Sekarang kau adalah adik ku! Tidak ada salah dengan pembalasan dendam manusia, tapi rencana balas dendam yang kau rencana kan itu salah! Buat mereka menyesal karena telah menyia-nyia kan mu, bukan nya ingin membunuh dan menjadi monster yang sesungguh nya!" Ucap Eng meninggikan oktaf suara nya. Tanpa sadar air mata menetes begitu saja.
"Diam... kau tidak tahu apapun..." Pekik Xianlie mencoba mencari pembelaan atas rencana nya.
"Justru karena itu... aku tidak mengetahui apapun tentang masalah hidup mu, tapi apakah kau tidak akan pernah berpikir apakah Rijin akan terluka karena ini?" Ucap Eng. Mata Xianlie kembali berpokus setelah Eng menyebut nama seorang yang paling penting bagi Xianlie saat ini.
"Dia tidak tahu jika kau adalah gadis yang berbeda, apakah dia tidak akan terluka?" Ucap Eng kembali.
"Apa maksut mu.. aku masih sama! aku adalah nona nya, tuan putri nya, kesayangan nya." Ucap Xianlie tidak terima.
"Benarkah! bukan kah adik ku sudah meninggal pada saat tersesat di hutan belantaran itu?" Tanya, Eng.
"Benar! Tapi... tapi aku masih adik mu, aku adalah nona milik Rijin, aku kesayangan nya!" Ucap Xianlie menunjuk-nunjuk dada nya.
"Kalau begitu, mengapa kau ingin membalas dendam yang tidak penting? kau sudah memiliki kehidupan yang baru! Aku, Rijin, Ceon, sangat sayang pada mu. Kami keluarga mu." Ucap Eng kembali, berusaha meyakin kan Xianlie. Xianlie hanya diam, dengan bertarung dengan pemikiran nya sendiri.
"......"
"......"
"Kau bermaksut mengancam ku kan! Kau menjadikan Rijin sebagai landasan ancaman mu itu kan?" Ucap Xianlie masih tidak terima.
"Kau pikir saja, sendiri." Ucap Eng benar-benar lelah menjelaskan. Sampai mulut nya berbusa pun, Xianlie tidak akan mendengarkan ucapan nya. "Aku hanya ingin kau bahagia dan aku hanya mengharap kan hal baik yang akan kau jalani... biarkan diri ku egois, yang terpenting aku bisa melihat mu hidup bahagia." Lanjut nya lagi, begitu pelan sambil menunduk memandangi lantai ruangan.
Xianlie mengepal kan tangan nya, dia begitu kesal lalu berbalik badan berniat meninggal kan ruangan itu. Namun baru saja maju tiga langkah, dia kembali berhenti dan memaling kan wajah ke arah belakang. "Terserah apa yang kau lakukan! Inti nya, balas dendam akan terus berlanjut." Ucap nya begitu tajam dengan aura pekat yang dia keluarkan.
Dia kembali berjalan dan menuju pada pintu megah didepan nya. Belum jejak tangan itu menyentuh pintu, Eng kembali berteriak sehingga Xianlie memaku sejenak."Dengar... kau adalah adik ku, selama nya akan selalu begitu..." Teriak Eng.
"Ck! persetan dengan omongan mu!" Gumam Xianlie.
Kedua tangan nya memegang gagang pintu, lalu secara bersamaan segera membuka pintu tersebut. Cahaya nampak begitu terang sampai Xianlie menutup mata nya sejenak. Dia membuka mata nya, samar-samar dia melihat sesosok wanita yang sama sekali tidak asing bagi nya. Xianlie membuka lebar-lebar kelopak mata nya, dia terpaku dan bibir nya sulit untuk terangkat.
__ADS_1
Terlihat Rijin sedang berdiri berhadapan dengan Xianlie, dia menunduk dengan raut wajah yang begitu layu dan sendu. "Benarkah!" Ucap nya sangat parau.
"Rijin... sejak kapan kau berada disini?"Tanya Xianlie begitu hati-hati.
Rijin mengangkat pandangan nya, mata yang awal nya di penuh kasih sayang terhadap Xianlie, kini berubah penuh akan kekecewaan. Hati nya begitu sesak, sangat sulit untuk mengekspresikan hal tersebut. Namun dilubuk hati yang paling terdalam, dia sangat menyayangi sesosok yang sedang berdiri dihadapan nya. Jiwa nya, raga nya, dia sangat suka itu.
"Mengapa... tidak ada sedikit pun niat mu, untuk jujur pada ku? Aku tidak membenci mu, aku hanya kecewa. Kalau saja kau memberi tahu lebih awal, mungkin kekecewaan ini tidak akan sebesar ini!" Ucap nya, mengutarakan keluh-kesah pada Xianlie.
"Apa maksut mu? Ak-aku tidak mengerti." Ucap Xianlie berusaha mengelak.
"Aku sudah mendengar semua nya. Nona, mungkin sangat sulit bagi ku untuk menerima semua ini. Tapi... aku mohon pada mu, hentikan rencana balas dendam mu. Aku mohon." Ucap nya begitu lembut, dengan mata yang tak mampu menahan lagi genangan air yang membanjiri. Dia meraih tangan Xianlie lalu menggenggam nya dengan erat. "Demi aku.." Ucap nya lagi.
"Bahkan kau sama dengan nya... kau tidak mengerti aku!" Ucap Xianlie, menunjuk Eng yang sedang berdiri dibelakang diri nya.
Eng terdiam tidak berani berkomentar, dia menunggu dan membiarkan Xianlie menghangat sejenak. Jika saja Xianlie mendengar diri nya berbicara, itu sama saja semakin menyulut api pada dedaunan kering.
"benar, kami memiliki tujuan yang sama, yaitu ingin melihat mu bahagia. Kau ingin aku memaafkan mu? maka turuti perkataan ku, jangan membalas dendam lagi!" Ucap Rijin tanpa sengaja menaikan oktaf suara nya.
Xianlie menciut, dia melihat pada Rijin. Dia semakin menatap dalam bola mata Rijin, "Mana bisa, seperti itu." Lirih nya.
"Pasti bisa!"Omel nya lagi
"Lalu apa tujuan ku hidup dua kali didunia ini, jika tidak membalas dendam pada mereka? Hidup ku akan sia-sia! "Protes Xianlie.
"Sia-sia? kau menganggap hidup bersama ku, hanya sia-sia bagi mu?" Tanya Rijin kesal.
"Tidak, aku tidak berbicara seperti itu. Aku, aku hanya... "
"Maka ikuti kata-kata ku, jangan merencanakan hal buruk yang akan menjerumuskan diri mu kedalam lubang hitam! Dendam tidak beguna, akan tetapi hukum karma lah yang berguna." Ucap Rijin.
Xianlie mematung, dia terus saja berperang dengan pemikiran nya. Otak dan hati nya masing-masing memiliki jalan yang berbeda. Semua orang tahu, yang mana harus di ikuti dan yang mana tidak. Xianlie menggigit bibir bawah nya, mau menangis pun begitu sulit.
"Rijin adalah jalan ninja ku." Batin, eng tersenyum didalam hati.
__ADS_1
...BAGIAN 40 TELAH SELESAI, SEE YOU AGAIN ...