
Eng menatap tajam kearah para pemberontak yang mungkin sudah tercabit-cabit oleh srigala yang kelaparan, tak terbesit sedikitpun kasihan dinetra nya itu.
"Ayo kembali," Ujar nya mengajak para bawahan untuk pulang kembali menuju kerajaan.
Para penduduk memberi hormat pada khaisar mereka. menunduk begitu hormat sampai bersujut ketanah. Agak berlebihan, namun entah mengapa dan siapa yang menetapkan,, mereka akan bersujut setiap kali melihat Khaisar.
Eng pergi tanpa memperdulikan lagi, dia menaiki tandu yang sedang ditopang oleh 8 prajurit. Aura nya semakin terpancar sebagai khaisar, entah mengapa tapi itu lah kenyataan nya,, dia terlihat lebih berwibawa.
Tak lama sesampai nya di kerajaan, Eng memilih untuk berjalan didalam gerbang kerajaan nya dengan ditemani para kasim, pelayan, dan prajurit. Ada yang memegang semacam payung, ah entah apalah itu.
Dari jauh mata memandang terlihat Meiling yang sedang berjalan bersama ayah nya Fenglei. Meiling menunjukan senyuman terbaiknya saat sebelum Eng menoleh pada nya.
Mereka berdua mendekat kearah Eng dan mulai menunduk hormat.
"Salam khaisar Tirani." Ujar mereka berdua menundukan kepala.
Eng menimbulkan senyuman tipis dibibir nya, "salam untuk kalian juga," Balas Eng.
"Aku pergi dulu ya. Masih banyak pekerjaan yang harus aku urus." Ucap Eng lagi tersenyum pada kedua nya.
Meiling dan Fenglei benar-benar bingung harus berbuat apa lagi, selain menyapa Khaisar lalu apa lagi yang akan mereka lakukan selanjut nya? apa yang akan mereka kata kan? Mereka benar-benar tidak tahu sekarang.
Eng dan anak buah nya sudah mulai berjalan, namun lagi dan lagi... perkataan Meiling membuat langkah Eng kembali terhenti.
"Khaisar," Panggil Meiling cepat dengan nada terburu-buru.
Eng menoleh, "Ada apa lagi Meiling?" Tanya Eng dengan senyum jengkel nya. Apakah kalian tahu seperti apa senyum jengkel itu? antara ingin tersenyum antara tidak, lebih jelasnya lagi jika senyuman itu palsu bercampur kekesalan.
"Itu.. anu, apakah aku boleh melayani mu. Ah maksut ku, apakah aku bisa bersama mu?" Celetuk Meiling dari mulut nya langsung.
Semua orang terkejut mendengar pernyataan Meiling. Para bawahan Eng benar-benar tidak menyukai itu, mereka memandang tajam kearah Meiling saat ini.
__ADS_1
"Meiling apa yang kau katakan!" Hardik Fenglei pada putri nya itu.
Meiling mulai tersadar dengan apa yang dia katakan, dia membekap mulut nya sendiri.
Astaga, tamat riwayat ku.
Meiling membantin melihat meminta tolong pada sang ayah. dia sudah menaruh harapan jika sang ayah akan membantu nya kali ini.
"Khaisar, ampuni putri saya. Dia mungkin hanya sedang melantur karena beberapa hari yang lalu, dia mengalami demam yang lumayan tinggi." Ujar Fenglei membela putri nya itu dengan menunduk serendah-rendah nya.
Eng mengerutkan kening, dia melihat pada kasim nya. Sang kasim sudah tentu mengerti, dia dengan segera maju mendekat kearah Fenglei.
"Maaf tuan Fenglei, saat ini khaisar Tirani memiliki jadwal yang sangat padat. Urusi putri mu ini terlebih dahulu, karena kami akan pergi sekarang." Ujar sang kasim dengan tegas sambil mengarahkan pandangan tajam kearah Meiling.
"Ba-baiklah. Meiling cepat minta maaf pada Khaisar." Aghh apa-apaan Fenglei ini! bukankah tadi, kasim menyuruhnya untuk menghentikan Meiling berbicara karena itu akan semakin menghambat langkah Khaisar. Namum dia masih menyuruh putri nya untuk meminta maaf pada Khaisar.
Tentu saja Meiling tidak akan melewati kesempatan ini, dia bersujut ketanah dengan tangan keatas membenturkan kening nya pada tanah.
Seharusnya khaisar tidak akan bisa lepas dari pesonaku. dia akan terpikat.
Batin meiling sambil tersenyum sinis
Eng memandang Meiling dengan datar, dia memberi kode pada kasim untuk terus melanjutkan langkah nya. Mereka benar-benar melangkah pergi dari sana tanpa memperdulikan lagi dua ayah dan anak ini!
"Khaisar...
"Aku mohon pada mu jendral Fenglei, jangan halangi langkah Khaisar lagi. Atau tidak aku akan memberi hukuman berat pada mu." Sambar Kasim yang melayani Eng dengan tajam.
Fenglei diam menciut tidak berani berbicara lagi, karena dia tahu jika kedudukan diri nya dengan kasim sang khaisar pasti akan jauh lebih tinggi kedudukan Kasim milik sang Khaisar. Dia menunduk melihat pada Meiling yang tak henti bersujut.
Mereka meneruskan perjalanan mereka tanpa memperdulikan kedua orang ini lagi. Meiling mengangkat pandangan menatap begitu kesal pada kasim yang memarahi ayah nya tadi.
__ADS_1
"Kasim sialan! awas saja, jika aku sudah resmi menjadi permaisuri, aku akan membunuhmu!" Tukas Meiling kesal menggenggam jari jemari nya.
Eng terus melangkah sampai sorot pandang nya menangkap dua sosok manusia, timbul senyum dibibirnya.
Dua sosok itu adalah Rijin dan Serangga, mereka bermain kejar-kejaran dengan ditemani para pelayan dibelakang mereka.
"Ceon, Rijin" Panggil Eng tersenyum tanpa berlama-lama segera berjalan menghampiri mereka berdua.
Meiling mengeratkan gigi nya, dia memandang penuh dendam pada Rijin. Timbul rasa sakit dihati nya, mengapa dia tidak bisa mendapat perhatian sama percis yang dilakukan Khaisar terhadap Rijin?
"Kenapa wanita itu tinggal diistana? Meiling, kau tidak boleh kalah,, jika kau membiarkan wanita itu maka posisi yang selama ini kau idamkan akan hancur lebur." Bisik Fenglei memberi dorongan pada sang putri untuk bertindak.
"Dia adalah kakak dari jendral besar, tentu saja dia akan dengan mudah tinggal disini. Tapi kau jangan khawatir ayah, selama ada aku dia tidak akan bisa merebut perhatian Khaisar." Jawab Meiling. Tertoreh senyum jahat diwajah nya, dia meremas baju dengan gigi yang masih mengerigit.
Sementara itu, orang yang ingin dia singkir kan justru sedang tersenyum melihat kedatangan Eng.
Rijin menunduk memberi salam, "Apa kabar Kaisar?" Tanya Rijin menunduk sebentar lalu memandang Eng kembali.
Dia tidak berprilaku rendah lagi, semenjak Xianlie menyadarkan posisi nya saat ini. Dia mulai belajar bersikap anggun dan menghargai posisi nya, dia tidak akan bersujut atau pun membungkuk pada siapapum selain Xianlie. Itu tekat nya.
"Kabarku baik. Apa yang sedang kalian mainkan? apakah aku boleh bergabung?" Tanya Eng tersenyum gembira lalu mengarahkan pandangan pada Ceon.
"Ah kesini lah Ceon, aku akan menggendong mu." Ujar Eng merentangkan tangan ingin mengendong Ceon.
Justru saja Ceon akan mau digendong oleh Eng, karena punggung Eng sangatlah nyaman. Eng adalah orang favorit ketiga milik nya selain Rijin dan Xianlie. Rijin tetap utama'pikir Ceon.
"Kami hanya mengisi waktu dengan bermain kejar-kejaran. Ceon mengatakan jika dia sedang bosan, maka dari itu aku mengajak nya bermain." Ujar Rijin tersenyum hangat sambil melihat Ceon yang sedang menempelkan kepala nya pada dada bidang milik Eng.
"Haiya.. Ceon sedang bosanya? lalu apakah kalian berdua sudah makan? jika belum mari kita makan bersama didalam." Ajak Eng pada kedua nya.
Setelah memikirkan nya, Rijin menyetujui ajakan Eng. Mereka segera masuk kedalam istana. Terlihat seperti keluarga yang bahagia. Andai saja.
__ADS_1
...BAGIAN 68 TELAH SELESAI, SEE YOU LATER...