
...- 29 -...
...- Satu pekan berlalu -...
Xianlie menghabiskan waktu nya dengan berlatih dan berlatih. Dengan usaha yang begitu keras pula, dia meningkat kan bakat analisis persenjataan.
Sedang kan Rijin, dia memilih untuk melanjutkan pembukaan toko pakaian nya. Tokonya sangat berkembang dan banyak diminati oleh semua kalangan. Kala itu dia sedang duduk diruangan penyimpanan bahan-bahan pakaian, terlihat juga beberapa wanita pekerja yang sedang menjahit hasil rancangan Rijin.
Tak lupa pula, Rijin mengarah kan mereka untuk melakukan hal yang terbaik yang harus dilakukan.
Dimulai dari, bagaimana harus menjahit, serapi apakah, dan sedetail apakah aksesoris yang ditambahkan.
"Jangan lupa untuk memasok satin ke toko, dan jangan lupa untuk mengirim beberapa pakaian pada anak-anak panti. mengerti?." Suruh Rijin pada pekerja wanita yang terlihat cukup imut itu.
"Baiklah, nona." Singkat nya begitu sopan, lalu pergi menjalan kan tugas dari atasan nya.
Rijin menghela nafas ringan, lalu terus melihat pada sekumpulan wanita penjahit.
Dia keluar dari ruangan itu, dan menuju pada ruang tunggu. Disana dia melihat seorang pria sedang membelakangi diri nya, menghadap pada jendela kaca. Rijin tersenyum canggung dan menghampiri pria itu.
"Ha-halo pangeran, senang melihat anda ingin meluang kan waktu datang ke toko saya." Sapa, Rijin sedikit kaku lalu menggaruk tengkuk nya.
Eng, menoleh pada Rijin lalu melepas topeng yang setia menempel pada wajah nya. Perlahan memperlihat wajah yang tampan, sedang tersenyum begitu manis.
"Selamat pagi, Rijin. Wah kau begitu mengenali ku, padahal kita sudah satu pekan tidak bertemu" Sapa nya pada Rijin.
"Pagi pangeran, apa kabar mu? sudah satu pekan kau tidak ada kabar." Tanya Rijin tersenyum malu, lalu menunduk tak berani manatap.
"Sedang ada urusan," Elak nya. "Dan sekarang aku berada dihadapan mu, apakah kau senang." Lanjut nya lagi, terdengar begitu menggoda
"A-apa yang pa-pangeran katakan, Sa-saya mana berani untuk merindukan pangeran!" Bantah Rijin begitu cepat dengan mata sedikit melotot. Dia terlihat begitu malu, terhadap perkataan, Eng.
"Rijin... Rijin... aku tidak bilang jika kau merindukan ku, tapi kau sudah membongkar fakta jika kau memang sedang merindukan ku." Ucap Eng, Begitu penuh racun penjebak asmara.
Terlihat begitu jelas rona diwajah Rijin, apalagi dia bersikap sangat kaku dan malu-malu.
__ADS_1
"Mana ada, Aku-aku tidak merindukan mu." Ucap Rijin parau, menunduk kebawah.
"Sudah lah, lupakan saja. Aku hanya bercanda." Ucap Eng terkekeh melihat tingkah konyol Rijin.
Eng, berjalan menuju sofa, lalu duduk disana.
Mata nya kembali memandang kearah Rijin. "Aku sengaja kemari, karena tidak ingin pulang kerumah dan mengganggu latihan adik. Dia terlihat begitu serius, dan tidak bisa diganggu." Kata nya sedikit lesu dan tidak bersemangat.
"Karena aku sudah salah pada nya, aku tidak bisa menerima dia sepenuh nya. Dan sekarang aku sadar jika aku sudah salah bersikap seperti itu pada adik."
Bisik hati Eng, penuh akan penyesalan.
Rijin melihat, Eng, lekat dan bingung mengapa dia tidak bersemangat saat membahas sang adik. Rijin kemudian duduk di sofa agak berjauhan dari Eng.
"Nona memang seperti itu, tapi dia sangat manis. Saat dalam waktu berlatih, sesekali diri nya menyempatkan waktu untuk beristirahat dan membuat kan diri ku sarapan. Dia sangat tangguh, padahal umur nya saja baru menginjak 15 tahun." Ucap Rijin memuji Xianlie dengan tulus. "Apa kau tau, dia bahkan sesekali menyebut kan nama mu disaat makan malam berlangsung," Lanjut nya lagi.
"Benar kah? Ap-apa yang dia tanyakan." Tanya, Eng, sangat cepat seolah mendesak Rijin agar menjawab secepat nya. Dia tanpa sadar memegang pergelangan tangan Rijin
"Ah maaf kan aku, aku tidak sengaja." Ucap nya meminta maaf karena telah sadar berprilaku tidak pantas.
Terukir senyuman puas diwajah Eng, Dia terlihat begitu tidak percaya dan menerka nerka.
"Adik tidak marah pada ku, dia masih menerima diri ku. a-aku harus segera pulang dan meminta maaf pada nya."
Bisik hati, Eng.
"Terimakasih Rijin, untuk masa 11 tahun dan masa sekarang. Kau sudah menjaga adik ku dengan sangat baik." Ucap nya begitu tulus.
"Walaupun sudah hilang, tapi tumbuh satu untuk menggantikan."
"Tidak pantas pangeran berterima kasih pada ku, itu memang sudah menjadi tugas dan keharusan yang aku lakukan. Aku sudah menganggap nona sebagai adik kandung ku."
Eng melihat Rijin dengan begitu dalam. Dia memandangi ukiran senyum di bibir Rijin, lalu membalas tersenyum tak kalah manis nya.
"Cantik."
__ADS_1
"Ha, apa kata pangeran tadi?." Tanya Rijin bingung
"Kau terlihat cantik." Ucap nya sekali lagi.
Pipi, Rijin merona dan menunduk begitu malu. "Terima kasih pangeran." Ucap nya.
Bruakkkkk
Tiba-tiba saja terdengar suara ribut-ribut dari arah luar. Rijin dan Eng kebingungan dan saling pandang
"Apa itu."
"Aku tidak tahu, ayo kita lihat."
Baik lah."
...- di ruang pajangan pakaian -...
"Enak saja kau! Aku ingin membeli pakaian ini mengapa tidak boleh?." Sentak seorang wanita yang terlihat seperti seorang bangsawan, dia menggantung plakat di pinggang Rok milik nya.
"Maaf kan saya, tapi itu memang sudah menjadi peraturan disini. Tidak ada yang boleh membeli pakaian utama yang tergantung cukup lama di pajangan kaca. Ini adalah pakaian sakral toko kami." Jelas si pekerja
"Hahhhh aku tidak mau tau, aku memerluka model ini untuk pesta nanti malam. Memang nya siapa yang berani melarang ku! Aku adalah nona dari kediaman lu, dan kasta ku lebih tinggi dari mu." Bentak nya pada si pekerja
"Tapi ini memang aturan nya, kau harus bekerja sama dan tidak boleh egois." Ucap si pekerja masih berani untuk menjawab
Tak lama keluar Rijin dan Eng, mereka berjalan mendekati keributan itu.
"Ada apa ini?" Tanya Rijin
Mata mereka menuju pada kedatangan Rijin dan Eng, Si pekerja menunduk pada Rijin.
"Nona, ada yang ingin membeli pakaian utama di pajangan kaca. Saya tidak ingin menjual karena nona bilang ini sudah menjadi aturan." Jelas pekerja itu ragu.
"Sudah semesti nya tidak boleh di jual. Maaf nona, ini memang sudah aturan di toko saya. Jika anda berkenan silah kan cari toko lain saja." Ucap Rijin mengusir secara halus
__ADS_1
...BAGIAN 29 TELAH SELESAI, SILAH TINGGAL KAN JEJAK...