
Mujeng bangkit dari kursi nya, dia berjalan memutari meja dan mendekati Xianlie. Dengan tatapan begitu memohon, dia bersujut pada Xianlie sehingga membuat mereka semua menjadi terkejut bukan main. Terutama Xianlie, dia tidak nyaman dengan hal itu, ini adalah perbuatan baku yang sulit untuk diterima.
"Ayah, apa yang kau lakukan." Gegas Qian'gu, berniat ingin membantu Mujeng bangkit dari sujut nya.
"Tetap diam disana, pangeran." Titah Mujeng masih dalam keadaan bersujut.
Qian'gu menghentikan langkah nya, dan terdiam ditempat. Dia menatap memohon pada Xianlie, "Adik, kakak mohon.. tolong jangan berbuat seperti ini." Mohon Qian'gu.
Xianlie tetap diam, dia memandang Mujeng yang terus bersujut pada nya.
"Tidak perduli mau sejauh apa harga diri ku jatuh, aku akan tetap melakukan nya untuk mu." Ucap Mujeng masih tetap kekeh dengan niat nya.
"Cerai kan Pemaisuri Mine!" Cetus Xianlie sehingga membuat Qian'gu membesar kan kedua kolopak mata nya.
"Adik apa yang kau katakan." Tegas Qian'gu begitu lantang.
"Xianlie putri ku, akan kah kau tau apa yang kau katakan itu?" Tanya Mujeng bingung masih dalam keadaan bersujud.
"Kenapa tidak! dia juga alasan kau menghukum mati diri ku! Kau bisa membuat peperangan pada Kaisar Bouchun tapi mengapa tidak dengan istri mu?"Ucap Xianlie penuh nada menyindir.
"Tapi, ibu sudah mengakui kesalahan nya. Dia benar-benar menyesal dan mengasing kan diri nya di kuil istana selama satu tahun." Ucap Qian'gu masih membela sang ibu tiri.
"Benarkah! tapi kuil Istana sangat mewah, bahkan memiliki banyak sekali pelayan dan pemandian herbal. Apakah itu bisa disebut dengan mengasingkan dan penyesalan?" Ucap Xianlie memegang dagu nya seolah sedang mengingat-ingat keadaan dalam kuil istana.
Qian'gu diam seribu bahasa, dia terlihat sedang bertarung dengan pikiran dan kata hati nya. Dia benar-benar berubah 99% setelah berhadapan dengan Xianlie.
"Baiklah, kaisar sekarang bangkit lah, tidak pantas berprilaku seperti ini."Suruh Xianlie, kenyataan nya dia sangat tidak nyaman dan kesal dengan tingkah Mujeng.
"Tapi..." Ucap Mujeng masih mencoba untuk membantah.
"Bangunlah." Suruh Xianlie kembali.
Mujeng bangkit dari sujut nya dan kembali berdiri menghadap Xianlie yang sedang duduk tenang dengan kepala di tumpu oleh tangan.
__ADS_1
"Pulanglah, aku masih menolak untuk ikut dengan mu." Suruh Xianlie dengan nada malasnya.
"Nak, apa yang harus ayah lakukan agar bisa membuat mu percaya jika ayah benar-benar menyesal." Lirih Mujeng enggan ingin pergi.
"Tidak ada! semua orang yang ada disini tahu, jika ini adalah rumah ku. Aku bukan lagi darah daging mu, dan kau tidak memiliki hak lagi atas diri ku." Jawab Xianlie begitu santai.
Dia berdiri dari kursi nya, lalu berjalan keluar disusul oleh Rijin dibelakang nya. Mujeng melihat lekat pada Xianlie yang sudah menjauh darisana, dia kembali duduk pada kursi dengan ekspresi frustasi dan kecewa.
Dia sangat tahu jika diri nya begitu egois dan picik, namun dia tidak akan berhenti sebelum mendapat kata maaf dari Xianlie.
Dia membulat kan tekat didalam hati untuk mencari lebih jauh tentang masalah 5 tahun yang lalu, namun dia masih belum memutus kan untuk pulang dan akan terus menunggu sampai Xianlie keluar dan memaaf kan diri nya.
...- tiga jam berjalan begitu cepat -...
Kerajaan ANMING begitu kosong dari penghuni nya, dan kini tinggal Mujeng yang sedang berlutut didepan istana selama 3 jam tanpa istirahat sedetik pun! Para Prajurit dan Qian'gu terlihat begitu mengkhawatirkan kan Mujeng yang masih kekeh untuk berlutut dan memohon, mereka berulang-ulang kali memujuk sang kaisar namun tidak mendapat respon sama sekali.
Sementara itu, Xianlie sedang duduk begitu tenang di dalam bangunan utama kerajaan. Dia tidak memperdulikan laporan-laporan prajurit yang mengabar kan jika Mujeng sedang berprilaku bodoh sekarang.
"Aku tidak perduli." Ucap Xianlie begitu cuek dan bersikap acuh pada hal yang dilakukan oleh Mujeng diluar sana.
"Nona" panggil Rijin lagi dengan nada memohon.
"Rijin, jangan memaksa ku! tidak ada yang menyuruh nya datang dan berlutut disana! Lakukan saja apa yang dia mau, aku tidak perduli." Tolak Xianlie lagi.
"Lalu, apakah kau akan mempersalah kan jika aku berlutut sepanjang hari tanpa satu pun perintah dari mu?" Tanya Rijin.
"Rijin ayolah, jangan memulai nya lagi." Ucap Xianlie masih berusaha mengelak.
Rijin memaling kan wajah nya, dia menghela nafas berat.
"Aku memiliki satu rencana, kalian hanya cukup mengerti saja dan tunggu pergerakan ku. Jangan ikut lebih jauh lagi dalam masalah ini." Suruh Xianlie lagi tanpa mau menerima penolakan.
"Adik, apakah kau akan pergi pulang kesana?" Tanya Eng ragu.
__ADS_1
"Kemungkinan kecil, iya." Jawab Xianlie.
Tertores senyum mengembang dibibir Eng, dia sangat senang dengan jawaban Xianlie
"Kemungkinan kecil? kalau begitu, adik tidak akan ikut mereka bukan?" Bisik bati Eng senang.
...- satu jam berlalu -...
Hujan turun begitu lebat, Mujeng sedang berlutut dengan kondisi yang sudah basah kuyup dan menggigil. Qian'gu sudah berusaha untuk memberi peneduh pada Mujeng namun Mujeng justru menolak nya begitu saja.
"Ayah aku mohon, jangan seperti ini." Pinta Qian'gu.
Mujeng masih tidak menjawab dengan pandangan kosong mengarah ke bawah. Rintik hujan terdengar begitu jelas ditelinga nya. Tak terasa air mata menetes dan menyatu pada tetesan air hujan.
Qian'gu sangat tidak tahan melihat hal itu, dia berjalan menuju pintu ruang utama dengan langkah yang kesal. Dia hendak ingin membuka pintu itu, namun pintu tiba-tiba bergerak dan terbuka dengan lebar. Perlahan memperlihat kan Xianlie yang keluar dengan payung besar nya, dia berhenti sejenak dan melirik Qian'gu dengan ujung mata nya.
"Keras kepala!" Singkat Xianlie kemudian kembali berjalan menuju Mujeng.
Qian'gu hanya diam, melihat sang adik dari belakang.Tatapan kesal, sayang, rasa bersalah, bercampur aduk menjadi satu.
"Aku tahu kau masih perduli pada ayah." Gumam Qian'gu.
Mujeng masih setia menunduk begitu melas di bawah deraian hujan itu, namun perlahan tetesan hujan menghilang dari atas kepala nya. Dia mengangkat pandangan dan melihat sesosok gadis yang sedang memberi nya peneduhan, senyuman terlihat begitu indah di wajah nya. Dengan cepat dia bangkit dan memeluk Xianlie dengan sangat erat.
"Nak, ayah tau jika kau akan keluar menemui ayah." Ucap Mujeng begitu senang.
Xianlie hanya diam tanpa membalas pelukan Mujeng.
"Maaf, maaf, ayah benar-benar meminta maaf pada mu." Ucap nya lagi, yang kali ini berderaian air mata.
-And-
...BAGIAN 44 TELAH SELESAI, SEE YOU AGAIN...
__ADS_1