
Beberapa menit berjalan, akhir nya Xianlie datang dengan nampan yang berisikan dua gelas teh dan sepiring kudapan manis. Dia meletakan isi dari nampan itu, lalu satu persatu dia letakan begitu rapi di atas meja.
Dia duduk di hadapan Rijin, lalu menyodor kan segelas teh pada Rijin. "Minum lah, ini akan membuat penat mu hilang" Suruh Xianlie.
Rijin tersenyum, lalu mengambil segelas teh itu dan hendak menyesap nya. Setelah merasakan itu, mata Rijin terbuka lebar dengan begitu takjub.
"Nona, ini sangat enak." Puji nya pada Xianlie. Nampak nya dia sangat mengagumi cita rasa teh itu.
"lotus itu berasal dari kerajaan barat bua susu, tentu saja memiliki citarasa yang begitu nikmat."Jelas nya tersenyum lalu ikut menyesap teh itu.
"Nona, seperti apa bukit bua susu itu?" Tanya Rijin sangat penasaran, entah apa yang membuat nya menjadi penasaran terhadap bukit itu.
Xianlie mengalihkan pandangan nya pada Rijin, "Hmm, itu adalah alam berbeda dari alam kita. udara, budaya, kekuatan, sangat berbeda sekali." Jelas Xianlie, mengambil sebiji kacang macadamia gula, lalu memasukan nya kedalam mulut dan mengunyah nya.
"Berbeda? seperti apa perbedaan nya?" Tanya Rijin masih penasaran akan hal itu.
"Bagaimana cara menjelaskan nya?" Bisik hati Xianlie bingung.
"Begini, bukit bua susu itu adalah gelaran untuk kerajaan barat yang sangat berkuasa. Disana adalah tempat bagi para orang kuat, bahkan hampir semua dari penduduk di sana menguasai energi alam. Jadi itu lah yang membedakan alam kita dan alam bukit bua susu."Jelas Xianlie panjang kali lebar kepada Rijin.
"tidak perlu terlalu banyak menjelas kan pada Rijin," bisik hati Xianlie.
Rijin mengangguk mengerti dengan tangan menyanggah dagu. "pantas saja, tidak heran jika permaisuri Alates sangat kuat." Ucap Rijin pelan.
Xianlie memiring kan kepala nya, "Kau tau, sekuat apakah pemaisuri itu?" Tanya Xianlie penasaran.
"Ah tidak nona, sebenarnya tidak sekuat diri mu, tapi permaisuri begitu kuat sehingga membuat kaisar cemburu dan...
"Dan apa?" Tanya Xianlie, menanyakan ucapan Rijin yang terputus.
"Membunuh nya dengan alasan selingkuh." Lanjut Rijin lagi dengan suara parau.
Xianlie menggerigit kan gigi, "untung saja dia sudah mati! cih, begitu hina sekali." Maki Xianlie terbawa kesal.
Mereka terus berbincang-bincang lalu memutus kan untuk beristirahat dikamar mereka masing-masing.
Di dalam kamar, Xianlie sedang terbaring telentang dengan pandangan mengarah pada langit-langit rumah. Dia mengangkat tangan nya lalu membentuk jari melebar, dari celah-celah jari itu, dia melihat remang-remang sebuah langit berwarna merah padam, dia mengangkat alis nya lalu menurun kan kembali tangan nya.
__ADS_1
"Merah sekali! apakah kekuatan ku ini hanya mengarah pada yang? Mengapa aku tidak bisa memiliki yin, jika terus begini aku tidak bisa mengendalikan kekuatan ku." Keluh nya, karena diri nya sama sekali tidak bisa menguasai yin melain kan hanya bisa menguasai (yang).
"Gujing, Jungsi... cepat lah kembali, kalian adalah yin milik ku. kalian begitu tega meninggal kan ku!" Keluh nya lagi, menutup mata dengan tangan.
"Aku sudah berusaha mendorong diri sampai sejauh ini, tapi tidak ada perubahan apapun." Ucap nya nyaris berbisik, dan kemudian dengan sayu mata nya perlahan tertutup....digantikan mimpi yang begitu indah namun tidak lah nyata.
Singkat cerita
Malam hari, berganti subuh yang sangat cerah. Terlihat Rijin yang baru saja keluar dari dapur kediaman dan hendak menuju ke arah ruangan kamar Xianlie, langkah yang begitu Tenang dengan ekspresi wajah bahagia.
Hampir sampai, dia tersenyum melihat pintu kamar yang masih belum terbuka. Dia melangkah maju lalu mengetuk pintu itu
tok tok tok
Suara nya terdengar keras, efek pukulan pegangan pintu bulat yang berada di gagang pintu kediaman.
"Nona, apakah kau sudah bangun?" Teriak Rijin bertanya pada Xianlie.
Belum ada jawaban, Rijin menempel kan telinga nya pada pintu itu. "Nona, aku masuk ya." Teriak nya lagi.
Dia membuka pintu sambil mendumel tidak jelas, "Nona, padahal ini sudah mau terang loh." Gumam nya.
Langkah nya tertuju pada ranjang tidur yang terdapat seorang gadis, masih tertidur begitu lelap menikmati mimpi yang sangat indah. Rijin Berdecak pinggang, lalu tersenyum begitu maklum.
"Nona.. ayo bangun." Panggil nya menyuruh Xianlie bangun.
Xianlie tidak menjawab, lalu Rijin menaiki ranjang yang begitu lebar itu lalu melompat-lompat diatas ranjang
"Nona.. ayo bangun.. ayo..." Ucap nya dengan berteriak, sengaja dia lakukan agar Xianlie terganggu.
Xianlie bergerak sedikit, dia menggeliat karena terganggu guncangan pada ranjang tidur nya.
"Gempa..." Gumam nya masih dengan pandangan samar-samar.
"Hey nona, tidak ada gempa disini." Ucap Rijin lagi dengan mengejek, masih terus melompat-lompat seperti anak kecil.
Masih dalam keadaan setengah sadar, Xianlie melihat Rijin yang sedang melompat-lompat bagai se ekor kera. Xianlie menggeliat meregangkan urat-urat tubuh nya, dia menguap melepas sendawa malam yang diserap oleh tubuh.
__ADS_1
"Rijin, biar kan aku tidur 1 jam lagi. aku sangat mengantuk." Rengek Xianlie.
"Nona, tidak baik bagi seorang gadis bangun terlalu siang." Tolak Rijin.
"Hey siang apa nya, ini masih subuh." Rengek Xianlie lagi yang masih saja terbaring lalu menutupi diri nya dengan kain yang tebal.
"Hiss nona... aku ingin pergi ke toko, sudah 2 hari aku tidak melihat toko milik ku." Ucap Rijin, lalu menarik selimut milik Xianlie.
Wajah Xianlie terekspos dari balik selimut itu, dia membuka mata nya kemudian duduk di ranjang.
"Huammm... baik lah." Ucap nya begitu pasrah.
...- kembali pada pertengahan kota -...
Keadaan begitu ramai, banyak nya dari penduduk sedang merayakan kedudukan baru untuk kaisar masa kini di kekaisaran ANMING. Semua orang merayakan begitu bahagia, para prajurit pawai di jalan-jalan menunjukan atraksi-atraksi seru yang dipertontonkan pada masyarakat.
Kini hanya ada era baru, hukum baru, dan kepemimpinan baru di kekaisaran ANMING. Pajak dihapuskan, semua batasan kesetaraan dihapus sehingga para penduduk dengan bebas berpergian keseluruh penjuru kekaisaran ANMING.
Terlihat disana, disebuah ruang kerja, Eng sedang duduk di depan meja yang dipenuhi banyak sekali buku diatas nya. Dia membuka satu persatu buku itu, sampai pandangan nya tak sengaja beralih pada pintu yang sedikit terbuka.
Cahaya sedikit mengintip, lalu memperlihat kan kaki seorang anak kecil lalu masuk kedalam sana.
"Ceon, ada apa?" Tanya Eng begitu senang melihat Serangga.
Serangga maju, mendekat kearah Eng.
"Kak, berapa lama lagi aku tinggal disini? Aku merindukan kakak Rijin dan kakak datar, dimana mereka?" Keluh Serangga sudah muak tinggal di kerajaan yang menurut nya sangat membosan kan.
Eng tersenyum menunduk, dia mengangkat pandangan nya lagi. dia bangun dari kursi nya, lalu berjalan menghampiri Serangga.
Dia berjongkok lalu menoel hidung serangga,
"Bersabar lah, kakak Xianlie dan kakak Rijin tidak akan mungkin meninggal kan mu sendirian." Ucap nya begitu lembut.
- and -
...BAGIAN 46 TELAH SELESAI, SEE YOU...
__ADS_1