
...đź“–selamat menikmatiđź“–...
Kali ini, Xianlie sedang berjalan memasuki kediaman nya. Pemandangan itu, pemandangan yang sungguh membuat diri nya rindu. Walau pun sudah banyak sekali perubahan disana, namun Xianlie masih tetap senang karena bisa masuk kedalam kediaman yang sudah menjadi saksi bisu perjalanan hari-hari nya dulu.
Langkah demi langkah, dia sedikit memelan kan nya. Dia lihat dari kejauhan sebuah rumah dengan ukuran tidak terlalu kecil mau pun tidak terlalu besar, terlukis senyuman yang indah di wajah nya.
"Kediaman ini..." Belum sempat dia menyelesai kan ucapan nya, terasa seseorang yang sedang mendekat dari arah belakang. Dia lirik dengan sorot mata tajam, dan dia lihat seseorang wanita paruh baya sedang mendekat ke arah nya, beserta beberapa pelayan.
Xianlie membalikan tubuh, dia memandang lurus melihat wanita paruh baya yang sedang melihat remeh diri nya.
"Jadi kau gadis yang di maksut oleh pemaisuri?" Tanya wanita paruh baya itu dengan nada tidak sopan.
Xianlie memicing, dia memperhatikan wanita itu dari atas hingga bawah.
Siapa ini? aku tidak mengenal nya?
"Kau siapa?" Tanya Xianlie menyelidik.
Dengan sombong wanita itu tersenyum, lalu berdehem, "Hem aku adalah ibu bung, aku adalah guru tata krama di istana kuantong." Jawab nya dengan angkuh.
"Lalu?" Tanya Xianlie lagi dengan tidak peduli
"Kau! tentu saja aku akan mendesiplin kan diri mu! Kau ini seorang anak angkat, jadi perlu untuk mu belajar cara tata krama," Ucap nya lagi dengan angkuh
"Baiklah, aku akan belajar." Xianlie berbicara dengan patuh, namun dia menunjukan senyuman yang penuh akan arti.
"Bagus lah, kau harus sadar diri! besok akan ada putri dan pangeran dari beberapa kerajaan akan datang ke istana kuantong! jadi kau harus belajar sekarang, aku tidak mau nanti kau akan mempermalukan kerajaan Kuantong!" ucap ibu bung dengan sinis lalu di iringi dengan suara tawa dari beberapa pelayan.
Xianlie menghela nafas, "Ayo, mau belajar dimana?" Ucap Xianlie datar. Raut nya sama sekali tidak bisa diartikan, dia melihat ibu bung dengan pandangan mengambang. entah apakah dia marah atau senang, tidak ada orang yang tau.
__ADS_1
**
Disebuah gajebo besar yang terletak didekat taman istana, Xianlie dan ibu bung beserta para pelayan itu sedang berada disana.
Para pelayan nampak mempersiap kan beberapa buku, sebuah teh di teko beserta satu cangkir, alat jahit, dan alat musik.
Mereka mempersiap kan semua nya, sedang kan Xianlie dia sedang duduk mengamati dengan pandangan yang begitu malas.
Dia lirik ibu bung yang sedang berdiri dan memerintah pelayan, dia tunjukan sunggingan di wajah nya.
Dia menghampiri ibu bung dan berhenti tepat di depan ibu bung, ibu bung nampak heran melihat diri nya tiba-tiba mendekat dan menunjukan sunggingan.
"Tolong bimbingan nya," Ucap nya menunduk begitu sopan, lalu disela-sela dia munduk dia masih sempat membuat seringaian sinis.
Ibu bung cukup terkejut melihat sikap yang ditunjukan oleh Xianlie, dia cukup tersentuh namun dia teringat perintah Mine yang menyuruh nya untuk memberat kan Xianlie, Perlahan-lahan wajah nya datar dan tidak memperdulikan Xianlie yang sedang menunduk sopan.
Ibu bung malah pergi begitu saja, lalu berpura-pura untuk memerintah pelayan lagi.
"Pengikut Mine ini sungguh meresah kan," Gumam nya sinis.
Baiklah, ini akan memasuki tahap untuk tata cara meminum teh ala kebangsawanan. Xianlie sudah duduk di depan meja rendah yang terdapat satu teko teh dan dua cangkir.
Ibu bung juga duduk di depan Xianlie, mereka saling berhadapan. Ibu bung mulai menuangkan teh dari teko masuk kedalam gelas milik Xianlie, lalu dia serah kan gelas berisi teh itu pada Xianlie.
"Pegang teh ini, aku ingin tahu bagaimana cara kau memegang cangkir." Perintah nya pada Xianlie.
Tata krama macam apa ini? memang nya aku ini anak kecil!
"Hem baiklah," Jawab Xianlie begitu patuh sambil mengabil cangkir di meja tersebut.
Dia mengangkat cangkir namun tangan nya dia buat seperti tidak mampu atau bergetar. Perlahan-lahan dia angkat cangkir di depan ibu bung, dengan hati-hati lalu...
__ADS_1
Byurrrt
"Aghhhhhhh" Ibu bung melompat dari peradaban nya, karena terkena tumpahan teh panas dari cangkir Xianlie.
"Panas, panas, panas.. tolong aku.. akhh sialan" Ibu bung histeris.
"Ibu bung kau baik-baik saja?" para pelayan pergi menghampiri ibu bung dan membantu ibu bung membersihkan tumpahan teh di baju nya.
"apa yang kau lakukan? kau sengaja bukan menumpahkan teh itu?" Ucap salah satu pelayan dengan tajam.
"Apa yang harus aku jawab untuk pertanyaan mu itu, aku ini kan adalah anak angkat, aku belum tau tata cara memegang cangkir yang benar. jadi wajar saja jika aku membuat kesalahan dalam pelajaran pertama ku!" Balas Xianlie dengan merengut.
"Sialan gadis ini, apa kau tahu jika teh ini masih panas? kau ingin membunuh ku ya?" Murka ibu bung sambil membersih kan tumpahan teh di baju nya.
"Ohhh astaga, kau seharus nya menjaga ucapan mu. Aku ini adalah putri utama, yang bearti aku jauh lebih tinggi.... dari mu. Ibu bung, sudah menjadi tugas mu untuk mengajari tuan putri macam aku, kau jangan banyak mengeluh." Ucap Xianlie santai sambil mengelilingi ibu bung.
Ibu bung kesal, dia meremas jari jemari nya. Ada benar nya dengan perkataan Xianlie, dia tidak boleh bersikap lebih lancang lagi, jika tidak dia akan mendapat imbas buruk dari kelancangan nya.
Sialan, kenapa jadi seperti ini sih? permaisuri berkata jika gadis ini akan mudah untuk di hadapi. tapi sekarang mengapa aku yang terlihat memalukan! akhh akan ku bunuh gadis ini!
Ibu bung menatap jengkel pada Xianlie namun dia tidak bisa berbuat apapun lagi. Dada nya naik turun berusaha mengatur pernafasan.
"Bagaimana? apakah kau akan terus mengajari ku. ouh iya, aku ini jago menjahit loh." Ucap Xianlie lagi, ekspresi yang dia tunjukan ini seolah tidak berbuat kesalahan apapun, dia tersenyum pada ibu bung. sungguh menyebal kan, tentu saja ibu bung akan menganggap jika senyuman itu adalah penghinaan untuk nya.
"Pelajaran akan di dilanjut kan besok!" Kata ibu bung berlalu pergi tanpa mau menoleh lagi.
"Eh tapi kan tamu nya datang besok, kau yakin? hey ibu bung..." Xianlie berteriak dengan menjijit kan kaki nya lalu mengarah kan tangan ke mulut. "apakah kau tidak takut aku mengacau besok?" Sambung nya lagi.
"Seterah... aku tidak perduli!" Teriak ibu bung dari kejauhan dengan perasaan prustasi menghadapi murid seperti Xianlie.
"Hey dia marah, dasar ibu tua!" ejek Xianlie memanyun kan bibir nya.
__ADS_1
...BAGIAN 54 TELAH SELESAI, SEE YOU LATER...