
BRUKKK
"Yang mulia, maaf jika saya lancang. Para pasukan musuh telah menerobos benteng kedua kekaisaran. Mereka berhasil melumpuh pasukan khusus yang telah mulia kerahkan." Ucap sang jendral muda, begitu panik menerobos masuk kedalam ruang utama kerajaan.
Eng, mengangkat pandangan nya, dia melihat pada sang jendral muda itu.
Terasa hawa dingin dan ekspresi datar yang keluarkan oleh Xianlie membuat sang jendral muda berkesimpuh kelantai. Xianlie hanya diam, lalu menarik kembali energi nya itu, "sial! jantung ku serasa ingin lepas. jendral sialan ini bisa kah membuka pintu dengan sedikit lembut." Bisik hati Xianlie kesal, memaki-maki jendral didepan nya.
Dia melihat pada Rijin, yang sedang memegangi dada nya karena merasa sesak akibat energi pekat yang dikeluarkan Xianlie. Dia mengeluarkan raut wajah bersalah, dan kemudian mengangkat tangan dan memurus punggung Rijin. "Kau baik-baik saja? maaf, aku kelepasan." Ujar nya penuh akan penyesalan. "Tidak apa." Ucap Rijin tersenyum manis, seolah tidak terjadi apapun.
Eng, tersenyum kecut begitu canggung. Sebetul nya, dia juga sempat merasa sesak namun hanya berdiam diri agar harga diri nya tidak jatuh dihadapan sang adik. "Ya dewi lotus... aku sulit bernafas." Rengek nya dalam hati, namun masih dengan ekspresi biasa saja.
Xianlie kembali melirik pada Eng, lalu tersenyum kecil. "Kau tidak apa kan?" Tanya Xianlie. "Ten-ten, tentu saja aku baik-baik saja." Jawab Eng gagu lalu membenarkan kerah baju yang serasa begitu sesak dan panas.
Xianlie, lagi-lagi tersenyum tanpa sadar. "Baiklah, jendral muda... terima kasih atas info yang kau berikan. Sekarang kau bisa pergi dan kembali menjalan kan tugas mu." Suruh Xianlie, kembali pada sikap awal. "Ba, baik jendral besar." Ucap nya sangat patuh lalu berdiri dengan lirih dan segera meninggal kan ruangan tersebut.
"Ehemm... apa rencana mu sekarang." Tanya Eng.
"Tidak ada." Singkat Xianlie.
__ADS_1
Eng memanyun kan bibir nya, dia memicing. "masa tidak ada satu pun, rencana!" Ucap nya lagi. "Kau berniat ingin ikut mereka ya." Lanjut nya, menuntut jawaban. "Boleh juga, ide mu tidak buruk jika dipikir-pikir." Ujar Xianlie, seolah sedang berpikir dan menyukai ide ,Eng. "Hey ini bukan ide! tapi pertanyaan." Kesal Eng berdiri mengebrak meja. "Maaf? kau baru saja mengebrak meja pada ku!" Ujar Xianlie tajam, melotot kan mata nya. Eng tersadar, dia menciut dan duduk kembali. "Mana ada.." Elak nya, menoleh kearah lain.
Rijin hanya bisa tersenyum canggung, tanpa mau ikut campur dengan masalah dua beradik ini. Sedang kan Xianlie, dia memilih untuk berbaring di pangkuan Rijin. "Aku sangat lelah." Ujar Xianlie parau, pada Rijin. "Istirahat lah, sebentar." Ujar Rijin tersenyum, memurus pucuk kepala Xianlie.
"Walaupun, jiwa ini bukan lagi milik tuan putri.. tapi aku sudah menganggap jika kau adalah tuan putri ku. Berkat kau, raga ini tetap utuh dan akan selalu berada disisi ku. Aku menyayangi raga ini, dan jiwa mu. sosok diri mu membuat ku lupa, bahwa ada kesedihan didunia ini."
Bisik hati rijin.
Xianlie tersenyum kecil, dengan terus memejam kan mata nya. Dipikiran nya selalu berputar, tentang jalan kedepan yang akan dia ambil, terdapat sedikit kejanggalan dihati nya jika diri nya kembali bertemu dengan seseok ayah yang telah membuat diri nya meninggal. "Rijin" Panggil Xianlie pelan. "Hmm, ada apa?" Tanya Rijin begitu lembut. "Menurut mu, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Xianlie meminta saran, pada Rijin.
"Ikuti kata hati mu, terserah dimana pun kau menuju, aku akan selalu ikut dengan mu, nona." Jawab Rijin.
"Seperti, mau mu." Jawab Eng menanggapi. Lalu ikut berdiri dan memasang topeng nya kembali.
Mereka berdua hendak ingin melangkah keluar, namun suara Rijin menghentikan langkah kedua nya. "Nona... boleh kan aku ikut? Jangan menolak." Ucap Rijin memohon.
Xianlie melirik Eng, lalu mengembalikan pandangan nya pada Rijin." Baiklah, tapi kau harus selalu berjalan dibelakang ku. tidak boleh kemana pun!" Suruh Xianlie. "Janji." Singkat Rijin tersenyum, lalu mereka bertiga berjalan bersamaan menuju keluar gerbang yang kali ini sudah ramai akan suara pedang beradu.
Langkah mereka tidak luput dari pandangan semua orang yang berada di istana. Semua orang memberi hormat pada ketiga nya.
__ADS_1
"Meskipun, aku tidak tahu apa penyebab perkelahian ini. Tapi aku doa kan, supaya kaisar baru kita bisa membawa kemakmuran di negri kita." Ucap seorang pelayan wanita, paruh baya. mereka sangat bangga pada sesosok kaisar baru mereka, entah mengapa tapi perasaan itu mereka rasakan setelah melihat keagungan yang di keluarkan oleh, Eng.
Xianlie : keagungan apa! dia adalah manusia konyol yang pernah aku temui!"
...- di depan gerbang kerajaan -...
Para prajurit dari dua kekaisaran besar ini sekarang sedang bersitegang dan beradu pedang mereka masing-masing. Sementara, Mujeng dan jendral besar nya, yaitu Qian'gu, sedang berusaha menerobos benteng pertahanan kerajaan ANMING yang begitu padat dan kuat. Tidak mudah membuka paksa gerbang itu, mereka telah berusaha mengeluarkan energi mereka, namun mereka lupa jika besi bua susu tidak akan berfungsi pada kekuatan apapun. Besi bua susu, adalah besi energi alam langit yang berasal dari bukit bua susu, besi ini berfungsi seperti penyegel sebuah energi, maka dari itu benteng kerajaan ANMING sama sekali tidak terpengaruh pada energi besar yang dikeluarkan Mujeng dan Qian'gu.
Pada episode sebelum nya, tentu kita sudah banyak benjumpai kata (bua susu) ini. Bukit bua susu adalah sebuah bukit tempat dimana alam lain berada. Bukit ini akan berperan nanti dalam masa depan Xianlie, dan akan mumbuat semua nya berubah dalam sekejab mata.
Kembali pada cerita...
Mujeng terus berusaha, namun usaha nya terus gagal dan berulang-ulang terus-menerus sampai ada niatan dalam hati nya ingin berhenti. "Ayah... adik berada didalam! kita tidak boleh menyerah." Teriak Qian'gu. Mujeng melihat Qian'gu dengan tatapan sendu, "mungkinkah, dia tidak ingin bertemu dengan ku!" Ucap Mujeng parau dengan suara sedikit serak. Jika dipikir-pikir, mujeng ini adalah sesosok yang begitu munafik! dia penyebab nya, namun dia berprilaku jika dia lah sesosok yang begitu dilukai!
Qian'gu terdiam, dia memandangi gerbang yang sedikit bergerak dan bergetar. Perlahan dia mundur, dan pergerakan nya disadari oleh Mujeng, Mujeng ikut mundur dan melihat pada gerbang yang perlahan sedang terbuka.
"Gerbang nya terbuka... bersiap lah." Gumam Mujeng pelan, berusaha mempersiap kan diri.
...BAGIAN 42 TELAH SELESAI, SEE YOU AGAIN...
__ADS_1