REINKARNASI XIANLIE

REINKARNASI XIANLIE
Bab 2 : chapter 41 : PERGERAKAN KEKAISARAN, KUANTONG.


__ADS_3

Beralih pada kekaisaran KUANTONG, yang kali ini sedang dipenuhi banyak sekali prajurit berlalu lintas di pusat kota menuju perbatasan ANMING. para prajurit sedang memacu kuda mereka masing-masing, dipimpin oleh Mujeng yang sudah 4 tahun silam tidak pernah keluar dari istana milik nya.


Betapa gagah diri nya memacu kuda memimpin rombongan prajurit di belakang nya. Wajah nya terlihat begitu cerah dan bahagia, namun tidak dipungkiri jika terdapat kekhawatiran yang melanda, mengingat jika diri nya lah penyebab sang putri meninggal pada 5 tahun silam.


Kekaisaran ANMING dan kekaisaran KUANTONG, sebetul nya memiliki jarak yang lumayan berdekatan tidak seperti kerajaan lain nya yang harus menyebrangi lautan terlebih dahulu baru bisa sampai. Dengan menaiki kuda, dalam kurung waktu selama 2 jam perjalanan, mereka akan sampai keperbatasan antara kekaisaran ANMING dan KUANTONG.


...- kekaisaran KUANTONG -...


Terlihat sangat anggun, Xianmin, duduk di bangku taman di depan kediaman yang begitu luas dan mewah.


Terdapat pula sang pelayan dan kasim yang setia selalu menemani. Xianmin melihat pada kolam teratai yang terdapat 2 angsa yang sedang berenang dan bermain, dia meraih secangkir teh yang cukup lama dia anggurkan lalu menyesap nya dengan sangat nikmat.


"Kasim, apakah kau tau dimana ayah ku saat ini."


Tanya Xianmin, tanpa menoleh pada sang kasim. Kasim itu mengangkat pandangan nya, mata nya terlihat sedikit tidak menyukai Xianmin. "Saya yang mulia putri.Terakhir, pada saat saya menyuruh pelayan untuk menghidang kan teh, tanpa sengaja saya melihat rombongan prajurit kelas atas bersiap-siap untuk pergi dengan menunggangi kuda mereka. Lalu saya melihat yang mulia khaisar keluar dari ruangan nya dengan menggunakan armor perang, dan menaiki kuda. Selepas itu, saya tidak mengetahui nya lagi." Jelas kasim itu panjang kali lebar, kepada Xianmin.


Xianmin mengerut kan kening nya, dia meletakan cangkir teh pada meja. "Ayah pergi keluar istana? Sudah 4 tahun terkhir ini dia tidak pernah menjejakan kaki keluar dari istana." Gumam Xianmin bingung.


"Lalu, apakah ibu tahu?" Tanya, nya lagi."Pemaisuri Mine, sedang tidak berada di istana. Beliau sedang pergi ke acara amal, dan kemungkinan akan pulang kembali besok." Jawab salah satu dari ke empat pelayan, kepada Xianmin.


Xianmin menghela nafas, dia memijat pelan kening nya. "Apakah kalian sudah menyerah kan obat rutin pada ayah?" Tanya Xianmin lagi. Para pelayan terdiam sejenak, dengan saling memandang satu sama lain. "Saya tuan putri, beliau sudah satu pekan tidak pernah meminum obat yang biasa nya dibawakan oleh pelayan tuan. Pemaisuri bahkan sudah secara pribadi telah mengantar kan obat tersebut." Jawab salah satu pelayan, kecil.

__ADS_1


"Apa... " Ucap Xianmin seolah tidak terima dan kesal, mengapa sang ayah tidak lagi meminum obat tersebut. Semua bawahan yang berada disana dengan segera menciut tidak berani bersuara apalagi mengangkat pandangan mereka. "Sial! mengapa ayah tidak lagi meminum obat itu! ini masalah yang sangat besar!" Bisik hati Xianmin begitu kesal.


"Baiklah, selepas ini bawakan akar teratai racun keruangan ku." Perintah diri nya pada para pelayan itu. "Tapi tuan putri.." Ucap salah satu nya yang enggan mematuhi. "Kau berucap (tapi) kepada ku? Kalian hanya para budak yang bekerja pada ku sekarang! turuti semua perintah ku, atau tidak kembali saja pada pasar gelap, tempat dimana kalian dijual pertama kali." Ucap Xianmin sinis, dengan menyiram teh pada pelayan yang berani membantah diri nya.


Pelayan itu terjatuh karena merasakan panas nya air teh yang disiram kan pada wajah nya. Ke empat pelayan lain nya hanya bisa melihat teman mereka dengan tatapan sendu dan prihatin. Sementara pelayan yang baru saja disiram, sedang meringis kesakitan namun berusaha untuk diam dan tidak menangis.


"Pergi laksanakan perintah ku!" Titah nya berteriak pada para pelayan nya.


"Baik tuan putri." Jawab mereka serempak, lalu berjalan mundur dan berbalik meninggal kan taman kediaman. Sementara sang kasim memilih untuk tetap tinggal, dengan setia pula berdiri disamping Xianmin.


Singkat cerita....


"Ada apa sebenar nya?, mengapa tiba-tiba kekaisaran KUANTONG menerobos paksa pertahanan negri kita?" Ujar salah satu prajurit, berdiskusi terhadap teman sebelah nya. "Entah lah, lebih baik jalani saja tugas ini, dari pada jendral besar akan menghukum kita nanti." Balas prajurit lain nya.


Masing-masing dari mereka sedang berjaga dengan perlatan yang sangat lengkap. Untuk ukuran berjaga di depan gerbang yang berada di Zona aman ini tentu nya tidak terlalu dibutuh kan.


Sementara itu, Eng sedang memantau pergerakan pasukan Mujeng lewat spirit lalat yang sudah dia kirim pada 3 jam yang lalu. Dia terlihat begitu gugup melihat sosok Mujeng yang mampu membuat nya segan walau hanya melihat pada bola pantau energi. Terlihat pula, Xianlie dan Rijin yang sedang duduk dengan nyaman di sofa samping tempat Eng duduk.


Rijin terlihat begitu anggun saat duduk disana, pergerakan nya terlihat seperti tuan putri bangsawan. Sementara Xianlie, dia sedang duduk dengan kaki terangkat pada meja, lalu tidak lupa sebuah belati yang selalu saja dia main kan ditangan nya.


SLASHHH

__ADS_1


BRUKKK


Dia melempar belati itu kepada Eng, dan hampir saja belati itu mengenai wajah Eng lalu tertancap pada dinding ruangan. Rijin sangat terkejut dengan prilaku Xianlie, dia menutup mulut nya menggunakan tangan. "Nona... " lirih nya pelan, sambil melirik kearah Xianlie yang sedang menatap tajam ke arah Eng.


"Waw, adik kau ingin membunuh ku!" Ucap Eng mengelus dada nya. Tidak dipungkiri jika jantung nya sedang bedetak begitu hebat karena terkejut dan tidak membaca jika sebuah belati tajam baru saja melintas seujung kuku dari hidung nya yang mancung.


"Jika saja kau tidak memberi tahu nya, ini tidak akan terjadi! mereka tidak akan tadang dan menjemput ku secara paksa!" Omel Xianlie menunjuk-nunjuk, Eng.


"Ya mau bagaimana lagi, lidah ku sudah terlanjur berucap." Ucap Eng, sungguh merasa tidak bersalah.


"Kaisar, maaf jika sebelum nya jika aku bersikap lancang, akan tetapi hal yang kau lakukan menurut ku itu tidak benar sama sekali. Kau sudah mengerah kan banyak sekali prajurit untuk melindungi nona, akan tetapi kau lupa jika hal itu kau lah yang telah menyebab kan nya. ahh maaf jika ucapan ku begitu lancang didengar." Ucap Rijin tak sedikit pun menurun kan hormat.


Eng terdiam sambil merenungi perkataan Rijin, sementara Xianlie dia duduk kembali dengan wajah yang begitu masam, seolah begitu kesal dengan tingkah polos sang kakak.


Tidak, dia tidak polos tapi bodoh!.......


"Benar kah, kalau dipikir-pikir aku memang salah dalam hal ini." Ucap Eng menggaruk kepala nya, dengan ekspresi wajah yang begitu polos.


Xianlie menampar pelan kening nya, sementara Rijin dia hanya bisa tersenyum kecut mendengar pengakuan Eng yang sangat terlambat ini. "Ya ampun... mengapa aku memiliki kakak yang sangat bodoh ini......" teriak Xianlie prustasi.


...BAGIAN 41 TELAH SELESAI, SEE YOU AGAIN...

__ADS_1


__ADS_2